
"B-Betapa luar biasanya."
Untuk kecepatan naik level Carla yang mengerikan, sepertinya itu akan berlaku juga untuk seseorang pria bersayap disampingku.
"Saya sudah kembali Tuan, dan ini adalah hasil dari perburuan pertama."
Nama: Lucfier
Ras: Iblis
Usia: ??? tahun
Jenis Kelamin: Laki-Laki
Pekerjaan: Penasehat
Level: 100
Status:
HP [C] | MP [D] | Pertahanan Fisik [E] | Daya Tahan Sihir [F] | Kecepatan [C] | Kelincahan [C] | Serangan Fisik [C] | Serangan Sihir [F] Kecerdasan [S]
Skill:
● Menyamar: Membuatmu ahli dalam misi penyusupan.
● Merekut: Bisa merekrut bawahan.
● Pengamatan: Kemampuan istimewa, mata yang bisa menggali informasi rahasia seseorang hanya dengan melihat lawan bicaranya.
---
"Ke-Kenapa bisa menjadi seperti itu?!"
Mataku sudah melebar sekarang!
Itu bahkan sudah terlalu sangat-sangat mengerikan!
Aku masih bisa menggangap Carla yang wajar mencapai level setinggi itu mungkin karena kekuatan pukulannya, tapi untuk Lucfier yang diketahui cukup buruk tentang serangan fisik.
"Ah, tuan ... Itu karena aku bisa terbang."
"Jadi kau mengalahkan para monster dari atas?"
Ini akan menjadi sesuatu yang baru.
Maksudku kau bisa terbang sementara lawan tidak.
Tebak apa yang terjadi ketika itu terjadi?
Tentu, yang pertama adalah keunggulan.
Tidak bisa ditepis lagi fakta bahwa Lucfier mungkin bisa menebas semua lawan setelah menurunkan ketinggian terbangnya untuk posisi menyerang lalu kembali ke atas untuk melakukan ancang-ancang, dan terus mengulanginya sampai mencapai level itu dan tidak memberikan lawan kesempatan untuk membalas.
Memang membingungkan pada awalnya untuk mempercayai ini.
Tapi kurasa, memiliki sayap ternyata seberguna ini?
"Aku juga ingin satu ..."
Ketika aku mengatakannya, Lucfier dengan senyuman iblisnya memainkan kacamata sebelum, "Kita bisa membuatnya satu di rumah sakit. Aku bisa membuat Eve membuatkan dua pasang sayap buatan untuk anda gunakan, Tua--"
"Tidak ... Tidak perlu ..." Aku menolak itu montah-mentah.
Aku tidak ingin dipasangi tubuh aneh setelahnya.
Dan, aku memang harus bersyukur dengan apa yang aku miliki sekarang dan tidak meminta lebih.
"Ngomong-ngomong semuanya, bukankah ada masalah yang perlu kita katakan kepada Tuan?"
Rokie yang berbicara begitu segera membuat perhatianku tertuju pada semua orang.
"Masalah katamu, huh?" (Lein)
Kali ini ada apa lagi, aku melihat mereka berdua, maksudku Lucfier dan Rokie terlihat gemetaran.
"Aisha akan ......... dengan orang itu." (Rokie)
"Apa?!" (Lein)
Carla yang berada di sampingku, mundur beberapa langkah setelah melihat perubahan dalam ekspresi wajahku.
Itu kemudian diikuti Rokie yang merinding dengan lutut lemas.
Namun, hanya Lucfier yang terlihat bisa bertahan setelah semua yang terjadi.
"Ya Tuanku, kurasa melihat kemampuan istimewa yang dimiliki oleh Aisha, aku yakin itulah yang menjadi alasan dia melakukan ini."
Sekarang, tanganku sudah sangat mengepal sampai itu mengeluarkan KRAK! yang menyakitkan.
Namun aku masih bisa menahan rasa sakit itu dibandingkan melihat Aisha yang dinodai.
"Aku akan pergi sebentar ..."
"Tuan akan pergi?!" (Cara)
"Bolehkah aku ikut, Tuan?" (Layla)
Aku menatap mereka tajam sebelum menggelengkan kepala.
"Tidak, aku akan kembali sebentar lagi setelah ..."
Setelah itu, terdengar suara berisik di dalam hutan disusul oleh sebuah pohon yang tumbang.
Rokie yang sudah merinding sebelumnya menjadi sangat-sangat takut melihat itu, begitupun dengan Carla dan Layla yang terlihat khawatir, tapi itu sepertinya tidak berlaku untuk Lucfier.
"Kalian tahu, ini akan membuat Tuan naik level dengan sendirinya."
"Kenapa kau bisa berfikiran seperti itu, Lucfier?"
Carla merasa membiarkan aku yang terbawa emosi mungkin terlihat buruk pada awalnya, namun itu bisa menjadi cerita lain setelah aku memutuskan melampiaskan semuanya kepada monster.
"Dengan kata lain, kekuatan Tuan yang bercampur emosi akan meningkat dengan sendirinya. Meskipun lawan dia adalah seekor beruang dengan level tiga ratusan, namun karena perasaan dia yang ingin menjadi lebih kuat dan membalaskan dendam, beruang mungkin bisa dikalahkan melalui kerja keras."
"Heh, aku tidak tahu bisa menjadi seperti ini. Kupikir aku bisa membiarkan amarahku menguasai diriku untuk beberapa waktu mulai dari sekarang."
Sambil tertawa, Carla mengatakannya dan membuat perubahan ekspresi wajah pada Lucfier
"Jika itu kau, aku yakin bukan monster yang menjadi sasaran pelampiasanmu, melainkan sesuatu yang berada disekitarmu, seperti kastil."
Lucfier sepertinya tidak membantah hal tersebut, namun Carla justru terlihat kesal.
"Tunggu semuanya, aku ... Aku akan ..."
"Oh, anak baru, apakah kau berniat pergi sendirian untuk berburu?"
Carla melihat Layla yang tampak terburu-buru memasuki hutan.
"Aku tidak ..." (Layla)
"Ide yang bagus, bagaimana tentang membentuk party untuk mengalahkan satu monster kuat? Karena, selain bisa meningkatkan level secara massal, aku yakin item yang di dapat akan menjadi sesuatu yang berharga untuk Tuan." (Lucfier)
"Oke, kita ambil rencana itu." (Carla)
"Tu-tunggu semuanya!" (Layla)
Lucfier dan Carla yang tidak mendengarkan perkataan Layla langsung menyeret gadis itu memasuki hutan.
Sementara, "Aku sekarang sendirian, ya?"
"Hmmm? Bukankah ada kami disini?"
Vargha yang berada di samping menoleh ke arah Rokie dengan sedikit kebingungan, sementara dwarf itu justru terlihat agak ketakutan sekarang.