
"Apakah Tuan Lein sudah selesai?" Sistine melihatku yang baru saja keluar dari dalam gua.
Aku menggangukan kepala dengan halus, sambil memegangi bahuku yang agak ...
"Akh ..." Aku merasa sedikit sakit karena luka itu.
Disana, sebelumnya aku habis-habisan ketika bertarung dengan goblin sampai tidak menyadari bahwa persediaan dagingku habis.
Hasilnya, luka ini yang aku dapat.
Aku pikir diriku harus mencari serigala lagi dan mengambil dagingnya untuk dimakan dan menyembuhkan luka ini.
"Oh, tunggu ... Mungkin ini akan membantumu. Ah, maksudku, coba makan tanaman ini." Sistine mengatakannya sambil menunjukan sebuah tanaman kepadaku.
"Apa kau yakin itu bisa dimakan?" Aku tidak tahu, apakah dia sedang bermain-main atau tidak.
Tapi, dari sepengetahuanku, memang ada tanaman yang bisa menyembuhkan. Tapi aku tidak mengetahui nama atau jenisnya.
Jadi, aku ragu-ragu untuk menerima ini.
"Ah, tenang ... Aku menjamin ini bisa dimakan. Pekerjaanku selalu begini, mengumpulkan tanaman untuk diolah kemudian dijual."
"Tunggu, apakah itu adalah alasanmu bisa berada di hutan?" Sistine menggangukan kepala setelah aku mengatakan itu.
Ini menjadi masuk akal sekarang.
Tapi, satu hal yang membuatku aneh adalah, mengapa tidak ada yang mencegahnya kesini?
"Apakah kau sudah meminta izin kepada orang tua mu?"
"Aku ... Mmmm ..." Sistine terlihat bingung untuk menjawabnya. A-Masuk akal menggangap ini semacam "kabur dari rumah".
"Sudah ... Aku tidak akan bertanya lagi. Jadi, bisakah kau segera mengantarku ke kota?" Aku melihat Sistine yang menggangukan kepala sekarang.
Setelah memakan tanaman penyembuh yang diberikan oleh gadis itu. Entah kenapa itu terasa lebih baik.
Maksudku, itu memang tidak sehebat kekuatan penyembuhan daging serigala.
Tapi tetap saja, mereka bisa menyembuhkan dengan baik.
"Mulai dari sekarang, kita akan mengikuti jalan ini. Tidak jauh kok, hanya sekitar beberapa kilo meter." (Sistine)
Aku tidak tahu kenapa dia bisa bilang itu "tidak jauh". Mungkin karena aku belum terbiasa jalan dengan jarak seperti itu yang membuatku demikian.
Tapi, tetap saja ... Beberapa kilometer jika berjalan kaki, akan membutuhkan waktu berapa jam untuk bisa sampai?
Ketika aku mulai memikirkan itu. Sebuah rombongan kereta kuda dengan cepat melintasi bagian tengah jalan dengan beberapa prajurit berkuda mengikutinya dari belakang.
Aku hanya bisa kagum melihat itu. Rasanya seperti aku juga ingin naik, tapi aku juga tidak bisa memberhentikan pemilik kuda itu dengan tiba-tiba.
"Itu mungkin adalah pedagang dan pengawalnya." Atau, bagaimana jika itu adalah bangsawan yang lewat?
Maksudku, agak jarang aku melihat kereta yang seperti itu.
"Ngomong-ngomong Tuan Lein, apa yang terjadi dengan para goblin di dalam gua itu?" Aku menoleh ke samping ketika Sistine tiba-tiba membahas tentang itu.
"Ini mungkin akan menjadi cerita panjang." Tunggu, mungkin ini bisa membuatku mengisi waktu.
Nah, dengan Sistine yang ingin mendengarkan semuanya.
Aku memutuskan untuk menceritakannya sedikit tentang goblin yang berevolusi.
***
"Terimakasih Tuan Lein, kita akan mulai berpisah dari sini." Sistine menundukan kepala dengan hormat seolah-olah sedang melakukannya untuk raja.
Aku tidak terkejut dengan itu.
"Tunggu sebentar, bukankah kau tinggal di kota ini?"
"Aku berasal dari desa tidak jauh dari Kathalan. Jadi, Tuan Lein tidak perlu mengkhawatirkan tentang aku yang pulang sendiri."
Setelah perpisahan itu. Aku kemudian melihat Sistine mulai menghilang dari kejauhan.
Sementara itu, di depanku sekarang. Ada sebuah kota yang terletak tidak jauh dari tempatku berdiri.
Sekali lagi, aku merasa kagum melihat ini semua.
Bagiku, yang dulunya hanya melihat lingkunganku yang dipenuhi oleh rumah-rumah modern, tentu merasa pemandangan ini sangatlah langka.
Ini adalah dunia dengan memakai tema abad pertengahan, jadi itu membuatnya seolah-olah terlihat fantasi menurutku.
"Oi, ada apa dengan pakaianmu?" Dua prajurit menatapku waspada ketika aku sampai di depan sebuah gerbang.
Aku menoleh ke bawah.
Ah, tentu ini akan terjadi karena aku masih memakai pakaian tentara di kastil itu.
Sementara aku masih memikirkan tentang jawaban dari pertanyaan itu, prajurit lain mendatangiku dengan ekspresi serupa.
"Mungkinkah kau berasal dari tentara bayaran?" Aku dengan reflek menggangukan kepala ketika mendengar kalimat itu.
Aku tidak tahu apakah itu bisa membuatku keluar dari situasi ini.
"Kalian lihat, aku hanya seseorang yang kurang beruntung hari ini. Teman-temanku tewas di tangan monster ..." Sebagai pendukung, aku memperlihatkan noda darah Orc yang sebelumnya menempel di pakaianku. "Aku benci untuk mengatakannya, tapi hanya aku yang berhasil selamat dari insiden itu."
Para prajurit itu saling memandangi sebelum memperlihatkan rasa keterkejutan dari perkataanku.
"Seratus koin emas ... Aku akan anggap ini sebagai kunci masuk." Melihat keduanya masih ragu, aku mengatakan itu tepat di samping salah-satu prajurit.
"L-Lima koin emas?!"
"Ya, apakah ada masalah dengan itu?" Aku tidak berfikir itu kurang, tapi seharusnya itu bisa membuat mereka melakukan sesuatu untukku.
"Bagaimana?" Prajurit itu menatap rekannya disamping yang tidak lama kemudian menggangukan kepala. "Oke, sepakat! Silahkan masuk."
Aku menyeringai lebar sebelum pintu gerbang perlahan terbuka.
Melihatnya saja membuatku sangat ingin tertawa heran, tapi aku berusaha untuk menyembunyikannya.
Aku tidak menyangka akan ada prajurit seperti mereka di kota.
Maksudku, hanya dengan uang aku bisa membuat mereka tutup mulut tentang membiarkan orang misterius memasuki kota.
"Oh, iya. Apakah kalian bisa memberitahuku penginapan terdekat?" Aku menanyakan itu kepada dua prajurit yang kemudian menunjuk ke satu arah.
"Disana ada salah-satu yang paling aku rekomendasikan. Harganya murah, dan banyak yang menginap disana." Aku menggangukan kepala kemudian pergi dari sana dan mengikuti petunjuk prajurit.
Tiba di lokasi, aku melihat ada rumah berlantai dua yang sepertinya adalah penginapan yang dimaksud.
Aku kemudian masuk ke dalam.
Mata semua orang yang berada di dalam kemudian tertuju ke arahku untuk beberapa saat, kemudian kembali untuk melanjutkan perbincangan mereka.
Aku mendatangi tempat pemesanan.
Dan seperti kebanyakan penginapan, seseorang resepsionis kemudian menyambutku.
"Bisakah anda menyebutkan jenis kamar yang anda inginkan?" (Resepsionis)
"Satu kamar, untuk satu orang."