The Ultimate Principality System

The Ultimate Principality System
Prolog 3



"Pangeran melarikan diri! Siapa saja, cepat umumkan ke seluruh-"


"Ah, hai paman ... Sepertinya orang yang kau cari itu baru saja berlari ke arah sana." Aku menunjuk ke satu arah, dan tanpa keraguan para prajurit berlari ke arah sana. "Dasar idiot, aku ada disini bodoh!"


Seolah-olah aku menikmati keributan ini, aku segera melangkah menuju lokasi yang paling atas. Ups ... Itu bahkan lebih sibuk dari perkiraanku. Setidaknya, dalam setiap satu menit aku akan bertemu dengan paling banyak dua prajurit.


"Eh? Apa? Bagaimana!"


"... Mm?"


Sepertinya ada yang sudah mengenaliku. Ketika aku berada di sebuah lorong yang megah, maksudku itu bukan tempat penjara lagi. Mirip seperti di dalam ruangan putih dan berkilauan. Aku rasa ini adalah istana kerajaan, tapi mengesampingkan soal itu.


"Bagaimana kau bisa-Ughh!"


"Oi, apa yang kau-Arghh!" Aku menusuk salah-satunya dengan pedang dan menampar pipi yang lainnya dengan tangan ini.


"Berisik, jika kau ingin tetap hidup beritahu aku dimana Putri Ranee berada!"


"Ah, pangeran yang bodoh ..." Prajurit itu tiba-tiba ketakutan ketika aku menyentuhkan ujung pedangku ke lehernya. Itu membuat darah sedikit keluar. Sebagai peringatan saja, aku mencoba membuat siapapun tidak menyebutku seperti itu lagi, karena yang sekarang adalah.


"Aku bukan pangeran yang sama lagi, hanya seseorang yang menginginkan istrinya kembali!" Dan dengan kalimat itu.


"Aku akan mengatakannya! Dia berada di jalan lurus sana, dan ya! Kau akan menemukan sebuah lorong yang akan menghubungkan ke kamar singgahsana!" Jadi begitu ya, aku rasa tempat disini tidak serumit yang aku dengar. Tapi tetap saja, aku memerlukan bukti tentang ini.


Aku langsung pergi ke tempat yang diberitahu oleh prajurit itu dan tidak sadar dia menyeringai. "Pangeran bodoh tetaplah bodoh. Memang kau akan bertemu dengan dia disana, tapi apakah kau pikir itu akan semudah itu?"


"Sedikit lagi ..." Dan, BRUK! Aku membuka dua pintu besar ganda yang sepertinya adalah kamar singgahsana. Tidak perlu ucapan, "Permisi." atau, "aku masuk." aku yang menggangap ini adalah rumahku langsung masuk dengan pedang yang sudah keluar dari sarung. Hah ... Itu membuatku terlihat seperti tuan rumah yang buruk.


"Pangeran!" Seperti terdengar sebuah suara. Tunggu, apakah dia adalah ...


"Merissa!" Gadis tepatnya, dihadapanku ada seorang gadis yang diikat tangannya, yang ditangani oleh beberapa orang. "Ah, maksudku Tuan Putri Ranne! Aku akan menyelamatkanmu!"


Dan dalam momen mata kami bertemu kembali. Satu ... Dua ... Dan ... Sreet! Bhuak! Dhug!


"Apa?!" Tubuhku seperti mati rasa. Tidak tahu kenapa, kaki ini seperti di tahan oleh sesuatu. Dan ketika aku menoleh ke samping, untuk menemukan seseorang sudah mengunci tanganku di belakang.


"Bwahahaha ... Kau tetaplah adalah pangeran yang bodoh." Ada seseorang dengan kumis datang memasuki ruangan.


Dia adalah seorang yang tua, mendekati usia 50 tahunan mungkin?


Ngomong-ngomong soal dia, aku tidak menemukan adanya sikap persahabatan atau sejenisnya.


Lalu dari penampilan, dia terlihat sangat berkelas karena setiap pakaian yang dikenakannya tampak mahal.


Atasan yang berwarna emas dan merah, lalu ... Oh, tunggu sebentar.


"Mahkota itu? Bukankah hanya raja yang memilikinya?" Aku tidak mengetahui ini buruk atau tidak.


Dan dari hal yang aku ketahui, hanya raja mungkin yang satu-satunya terlihat pantas memakai itu?


Sebagai petunjuk, mungkin aku bisa menyebut dia sebagai.


[Nama dia Raz ... Adalah musuh pangeran dan sekarang dirimu di dunia ini! Sementara dirimu adalah protagonis disini, dia adalah antagonis pertama dan merupakan musuh paling kejam.] Iya ... Aku rasa juga demikian.


Jadi dia adalah perdana menteri yang dimaksud bukan? Yang sudah membunuh ayah dari pangeran ini, yang sudah membuat istriku menangis pula!


"Kau bajingan brengsek! Penghianat negara, dan orang idiot!" Aku melemparkan setiap kata yang aku perlu.


Aku tidak membantah diriku yang dulu ini adalah pekerja kantoran, dan merasa tidak pantas menjadi raja di dunia ini.


Tapi suatu hal yang perlu aku perhatikan adalah, dia seperti tidak memiliki kemampuan itu.


Lihat saja, dari gaya dia berpenampilan. Itu terlihat sangat mencolok dan mewah.


Lalu, ekspresinya yang jahat ini. Menurutku, bukankah seseorang yang disebut sebagai pemimpin yang baik tentu pada umumnya memiliki ekspresi yang baik juga?


Aku tidak akan memberikan dia kesempatan untuk lari lagi. Karena aku sudah bertemu dengan sang perusak dan pembunuh ayahku ini!


"Matilah kau!!!" Huaaa! Aku yang memberontak sangat kuat berhasil meloloskan diri dari tangkapan pria berotot yang mematikan itu.


"Apa yang?!" Pria itu seolah-olah baru bertemu dengan seseorang yang berbeda tentu tidak menduga ini akan terjadi.


Dan sebagai akibatnya, aku mendaratkan tinju yang mengenai bagian kepalanya dulu, lalu disusul dari perut yang membuat sakit dan kaki.


"Sudah ... Cukup! Kau tidak akan bisa berbuat banyak lagi kepada raja baru kita." (Antek-antek antagonis)


"Pangeran!" Merissa ... Maksudku adalah Tuan putri Ranee terlihat panik dengan situasi tersebut.


Ah, tentu ... Sekarang aku dikerumuni oleh banyak orang bersenjata, dan sepertinya mereka adalah orang-orang tangguh yang merupakan pengawal dari prajurit pilihan orang ini.


"Ugh!"


"Agh!"


"Ngh!" Awww, sakit ... Sakit ... Jadi beginilah rasanya ketika kau diserbu lalu dikeroyok oleh rakyat sendiri?


Maksudku, mereka bahkan tidak memberikan aku waktu untuk bernafas.


Hanya mengandalkan jumlah, aku juga bisa begitu kok!


"Sekarang siapa yang bodoh, pangeran?" Ekspresi yang sebelumnya terkejut dari pria yang bernama Raz itu berubah menjadi kenikmatan tersendiri setelah berhasil membuatku babak belur, dipenuhi dengan luka lebam dan tersungkur ke lantai.


Jujur saja, aku sangat kesal memperlihatkan sisi lemahku pada orang-orang.


"Pangeran ... Kau ..." Jangan lagi, Ranee sangat-sangat terpukul melihat ini. Istriku yang manis itu, sekarang menangis melihatku yang disiksa ini?


"B-Betapa kejamnya ..." Ah, bodoh! Kurasa aku bisa menyebut diriku demikian.


Maksudku, apa ada yang cukup cerdas untuk memasuki ruang yang paling dijaga nomor satu tersebut dengan hanya membawa pedang tanpa persiapan?


Yup, itulah aku ... Tapi aku tidak menyesali tindakanku yang berusaha menyelamatkan seseorang yang aku cintai.


Perlahan, senyuman dendamku berubah menjadi hangat setelah mataku ini puas melihat istriku yang baik-baik saja.


Dia masih sama seperti dulu, hanya saja rambutnya agak pirang sekarang.


Meskipun demikian ... Aku akan tetap berusaha untuk mencintainya, jika aku memiliki kesempatan.


[Tentu kau memiliki kesempatan ... Untuk itulah kau memilikiku?] Apa? Dengan situasi yang sangat-sangat tidak menguntungkan ini, aku bisa melakukan apa? [Kau tahu, sebenarnya tidak harus sekarang kau menyelamatkan istrimu. Bisa besok atau beberapa tahun lagi.]


"Maksudmu?" Oh, begitu aku memikirkannya. Aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku yang membuat Ranee menderita selama itu.


[Tapi itu lebih baik daripada mati disini bukan?]