The Ultimate Principality System

The Ultimate Principality System
Chapter 31 - Mata-Mata



Sudut Pandang Ellen


Aku berlari sepanjang hari, tidak mengenal kata istirahat demi mencapai sebuah lokasi yang merupakan tujuanku melakukan misi ini.


Aku akhirnya sampai di ibu kota dengan susah payah.


Tuanku memang membiayaiku untuk melakukan misi ini, tapi aku menggunakan seluruh uang itu untuk membeli seragam pelayan dan dua belati.


Tentu, itu dibutuhkan untuk bisa menyamar di dalam istana kerajaan ini. Tapi, aku bertanya-tanya bukankah aku bisa mendapatkannya dengan mencuri?


Begitu pikiran itu terlintas dalam kepalaku, aku melakukannya.


Setelah memasuki istana yang megah dengan skill [Bersembunyi] ku, aku kemudian pergi ke sebuah kamar yang dipenuhi oleh puluhan lemari pakaian.


"Disini pasti tempatnya." Aku kemudian membuka satu per satu perabotan, dan ... Tentu, disana ada sesuatu yang aku cari.


Aku keluar kemudian dari dalam ruangan setelah memakai seragam maid.


Tiba di dalam sebuah koridor, kali ini tidak ada yang mencurigaiku. Itu pasti berkat pakaian ini.


Tapi, tetap saja.


Jika ada seseorang dengan pekerjaan pelayan yang menemukan ada wajah baru diantara rekan mereka, aku bisa dicurigai.


"Hei, kau nona! Ya, kamu!"


Aku mendengar seseorang memanggilku. Jadi aku dengan berhati-hati membalikan badan.


"Kami benar-benar membutuhkan bantuanmu disini, oke? Bisakah kau membantuku menyerahkan piring penuh makanan ini kepada seseorang yang mengurung diri di dalam kamar?"


Seorang pelayan perempuan memberikanku apa yang disebut sebagai makan siang.


Aku yang tidak mempunyai alasan untuk menolak menerima itu sambil menggangukan kepala.


"Terimakasih, kamu sangat membantuku! Tapi, ini pertama kalinya aku melihatmu di istana." Pelayan wanita tersebut terlihat memasang wajah kebingungan ketika melihat wajahku yang asing.


Oh, tentu itu akan terjadi. Pertanyaan ini, harus aku jawab dengan kalimat apa?


"Aku baru bekerja disini." (Ellen)


"Permisi?" Aku melihat dia memiringkan wajah. Tapi itu segera menjadi sebuah senyuman hangat. "Ah, iya! Tentu, akan ada banyak pelayan mulai dari sekarang. Ngomong-ngomong bisakah kita berteman?"


Gadis itu kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Samna ... Merupakan pelayan baru juga.


Dari informasi yang aku temukan, dia setidaknya baru bekerja disini selama satu bulan.


Aku menemukan gadis bernama Samna itu mulai mengulurkan tangan untuk menunggu respon balik dariku.


Tunggu, melihat aku yang dalam masa penyamaran. Tidak ada salahnya bukan memiliki seseorang yang bisa dimanfaatkan?


Aku kemudian menerima jabat tangan itu, sebelum dengan mulut ini memberikan sedikit senyuman kecil.


Apakah aku melakukannya dengan baik?


"Kita berteman sekarang ... N-Nona Ellen."


"Panggil Ellen saja. Dan aku akan memanggilmu Samna mulai dari sekarang, oke?"


"Wow, sungguh?!"


Aku tidak tahu. Tapi jika memanggil nama seseorang langsung tanpa ditambahkan "nona" atau "tuan", bukankah itu merupakan sesuatu yang wajar melakukannya dengan teman?


Yah, aku sekarang menggangap gadis ini sebagai salah-satu alat dalam rencana besar tuan.


Jadi, aku akan memanfaatkan dia untuk aku bisa mengetahui setiap detail terkecil istana sekalipun.


"Ahh, aku mengerti. Kamu menginginkan tur di istana bukan? Baiklah, kita akan melakukan itu sambil mengantarmu ke tempat seseorang yang membutuhkan ini."


Ngomong-ngomong aku belum tahu siapa yang merupakan pemilik dari makanan tersebut.


Dan, gadis itu juga terlihat cukup kesulitan.


Aku tahu pasti ada yang tidak beres dari pekerjaannya sebelumnya, untuk itulah ada kemungkinan dia menyerahkan itu kepadaku untuk lolos dari masalah.


Namun, aku segera melihatnya tersenyum bersalah, seolah-olah menyesali sesuatu.


"Ini adalah dapur ..."


***


"Itu adalah taman."


***


Aku mengingat baik-baik lokasi yang mungkin bisa aku gunakan untuk jalur pelarian dalam situasi terburuk.


Di taman itu, ada yang namanya tembok yang menjadi penghalang dengan sesuatu yang berada di luar.


Sementara, gudang adalah tempat menyimpan sesuatu yang disebut sebagai makanan.


Aku kemudian bertanya apakah aku bisa mendapatkan satu set senjata kualitas terbaik disini?


"Oke, tinggal yang kamar ini. Tolong bujuk dia untuk makan itu, ya? Teman terbaikku, Ellen."


Sanna kemudian mengarahkanku ke depan sebuah pintu yang sepertinya dijaga dengan ketat dan tidak lolos dari pengawasan apapun.


Setelah menggangukan kepala, Aku kemudian menemukan ada empat mata prajurit yang menatapku sebelum mereka membuka pintu untukku.


Dua pintu ganda besar itu mulai memperlihatkan wajah seseorang.


"Permisi, makananmu ..."


"Aku bilang tidak membutuhkannya ..."


***


Sudut pandang Ranee


Aku mengurung diri di dalam kamar.


Berita bahwa pernikahanku yang akan dilaksanakan sekitar 1 bulan lagi membuatku sangat-sangat depresi.


Maksudku, aku ini adalah tuan putri dari sebuah kerajaan lain. Bagaimana bisa pria jahat itu menikahkanku tanpa persetujuan ayahku.


Aku tahu, di rumah, ayah pasti sangat marah dengan ini. Dan, tentu itu akan menjadi pertempuran jika konflik semakin besar.


Aku kemudian mereungi semua itu, sampai sesuatu yang menyerupai sosok pelayan cantik yang sepertinya bukan manusia biasa, maksudku Elf berjalan mendatangiku setelah pintu terbuka.


"Permisi, makananmu ..."


"Aku bilang tidak membutuhkannya ..." Tanpa sadar aku mengatakannya dengan sangat kesal.


Aku memang mengatakan tidak perlu makan, tapi sebenarnya perutku menginginkan hal yang sebaliknya.


Sudah berhari-hari aku tidak mengisi perut ini dengan sesuatu.


Minuman, aku hanya minum air putih sedikit. Itupun ketika aku dalam situasi yang sangat membutuhkan cairan itu.


Tapi, kali ini aku akan bertahan dari siksaan pria itu.


Dia berkata akan membuat seseorang datang kepadanya melalui pernikahan itu. Tidak tahu siapa, aku kemudian menemukan kandidat yang cocok untuk itu.


"Mungkinkah pangeran ..." Ya, aku sebelumnya melihat dia menghilang secara ajaib dari istana.


Dengan mataku ini, dia seperti diteleportasi ke sebuah tempat yang tidak aku ketahui.


Sejak saat itu, aku kemudian melihat pria bernama Raz mulai khawatir akan sesuatu.


"Makananmu ..."


Sementara, aku yang masih memikirkan tentang itu menemukan gadis yang sama yang belum menyerah untuk membuatku menguyah satu potong daging hangat di atas piring.


"Sudah aku bilang ... Aku ... Emmmm, ummm!" Apa yang dia lakukan?!


Aku melihat dia mulai memasukan makanan ke mulutku secara paksa! Eh, tunggu! Apakah ada pelayan yang seperti ini?!


"Makan yang banyak, jangan merepotkanku dengan permainan ini." Aku bahkan bisa melihat wajah gadis elf itu yang seperti kesal akan sesuatu. Tapi dia tidak membiarkan mulutku ini untuk mengatakan sesuatu.


"Air ..." Aku tanpa sadar membutuhkan isi gelas yang dibawa oleh gadis itu.


Sejujurnya, aku benci untuk mengatakan bahwa diriku sangat-sangat menbutuhkannya setelah memasukan makanan dalam jumlah banyak, juga terlaku cepat juga.


Aku kemudian meminum itu sampai habis.


"Siapa kamu ..." Pelayan itu kemudian menanyakan itu kepadaku setelah menemukanku sudah layak untuk berbicara.


Tunggu, apa?!


"Kamu bahkan tidak mengetahui siapa yang kau layani?!" Itu akan menjadi masuk akal jika sebelumnya dia mengetahui identitasku dan berani melakukan hal yang kasar.


Tapi, gadis ini justru melakukannya kepada seseorang yang tidak dia kenali? Bagaimana jika aku mengatakan berasal dari sebuah keluarga kerajaan?


Kau tahu, ini mungkin akan memberikannya pelajaran sedikit.