
《Lein, mereka sudah sampai ... Apakah kau akan membawa mereka ke kastilmu?》 (Vargha)
《Ya, sepertinya aku akan meminta bantuan Beon sekali lagi》 (Lein)
Dan, seperti yang terjadi.
Lucfier dan rombongan memang berakhir di sungai yang sama tempat aku sebelumnya terdampar.
Namun kali ini sedikit berbeda karena ada sesuatu yang akan menggigit pakaian mereka.
"Awww ... Ikan-ikan ini!"
Carla menangkap satu piranha yang menggerogoti pakaiannya menggunakan tangan kosong, dan BOM!
Dia langsung membuat mereka meledak begitu saja tepat dihadapan Rokie yang menjadi terkejut.
Sementara keduanya sibuk dengan ikan-ikan tersebut, Lucfier yang sudah berjalan di tanah memutuskan untuk mengamati sekitar.
"Kalian semua, apakah tidak merasakan sesuatu yang aneh?" (Lucfier)
"Maksudmu dengan ular besar yang berada di belakangmu? Oh, maksudku ... Dia berniat memakanmu ..." (Carla)
"Apa?" (Lucfier)
Ketika Carla menunjuk ke satu arah, Lucfier segera melompat dan menghindari untuk dijadikan santapan makan siang sesuatu yang besar.
"Aku akan menggangap ini sebagai sambutan yang tidak ramah ..."
Lucfier yang tadinya mundur, segera mengambil pisau dari dalam pakaiannya dan mengarahkan itu ke ular yang menatapnya tajam.
"Aku ingin menanyakan ini kepada kalian? Apakah kau pantas menyebut dirimu sebagai bawahan yang berguna dengan level yang lemah seperti itu?" (Ular)
"Tunggu ..." Lucfier tidak membalasnya langsung, tapi memainkan kacamata kecilnya sebelum menemukan sesuatu. "Aku akan menggangap ini sebagai ujian."
"Woy, jangan melupakan kami!" (Carla)
Meskipun dengan susah payah keluar dari dalam air, Carla dan Rokie sudah berada di samping ular.
《Satu hal lagi, jangan sampai kau merepotkan mereka, Vargha》
Seperti sesuatu telah terjadi, ular hanya mematung beberapa saat sebelum menggerakan tubuhnya menuju pintu keluar gua.
"Ada apa?! Apakah dia berniat untuk kabur?" (Rokie)
"Tidak akan aku biarkan!" (Carla)
Beberapa pukulan mendarat tepat di ekor Vargha yang bergerak pergi, sebelum itu menjadi DHUAK! Setelah dia menyerang balik dan mendorong Carla sampai membentur tembok.
"Kalian bertiga, tetap diam sampai aku membawa kalian ke tempat seseorang." (Vargha)
"Tunggu dulu, apakah itu ke tempat Tuan?!"
Meskipun tadi terbentur, Carla menjadi yang berkomentar untuk pertama kalinya.
"Jika ini memang benar, jadi alasanmu mengatakan itu karena level kami yang jauh berada di atasmu, bukan?" (Lucfier)
"Ya, aku bermaksud untuk bermain-main dengan kalian. Tapi sepertinya orang itu sudah tidak sabaran melihat kalian." (Vargha)
Wajah Lucfier, Carla dan Rokie merah padam sekarang.
Mengabaikan itu, Beon segera mengangkut semuanya kecuali Lucfier.
"Maaf, sepertinya aku bisa terbang sendiri." (Lucfier)
"Kemampuan yang bagus, jadi kau memang adalah iblis sungguhan?" (Beon)
Lucfier menggangukan kepala.
***
Aku kemudian melihat dua orang terjatuh dari atas langit dan mengamati mereka dengan kedua bola mata sebelum itu menjadi, DHUAR!
Pendaratan pertama yang sempurna oleh Carla namun meretakan lantai halaman, lalu disusul BAM! Pendaratan lain yang merusak pepohonan.
"Tuanku!"
Carla langsung memelukku, aku menerima nya dan mengelus kepala gadis itu yang kemudian bola matanya mengeluarkan air.
"Aku ... Aku ..."
"Aku tahu ini pasti terasa seperti mimpi, bukan?"
Ya, memang begitulah kenyataannya.
Aku yang berhasil selamat dengan ajaib, lalu memiliki kesempatan untuk bertemu dengan mereka lagi.
"Tuanku, senang melihat anda baik-baik saja."
Lucfier tersenyum bangga ke arahku seolah-olah masih tidak melupakan tentang sesuatu yang ajaib tersebut.
Aku membalasnya dengan menggangukan kepala.
"Sepertinya kalian terlihat cukup kesulitan?"
Mengabaikan dia, aku melihat Rokie yang terlihat sedang berjuang untuk keluar dari dalam semak-semak.
"Ugh ... Itu tadi sungguh merepotkan. Lalu, emmm ... Tuanku, aku juga hadir."
Sepertinya hanya ada tiga dari total keseluruhan, aku pikir semuanya akan ikut.
Ngomong-ngomong, karena ini akan menjadi sebuah pembicaraan panjang, jadi aku mengundang mereka ke dalam rumah dan membawa ke tiganya ke ruang tamu.
"Aku akan memulai dari pertama, tentang alasanku yang berhasil bertahan kemungkinan adalah berkat sesuatu yang istimewa."
Yah, aku tidak berencana menjelaskannya karena Lucfier pasti sudah mengetahui tentang keberuntungan tingkat S ku itu.
"Lalu, Tuanku. Bagaimana cara anda membuat monster itu menjadi jinak?"
"Maksudmu Vargha?"
Dua bawahanku yang lain saling memandangi sebelum Layla meletakan sepiring penuh makanan di meja.
Aku hanya memberikan mereka penjelasan sederhana tentang "Kontrak" yang memungkinkan ku membuat Vargha menjadi semacam rekan atau bawahan ku.
"Ngomong-ngomong Tuanku, mengapa anda bisa berada di ..." (Lucfier)
"Kastil ini maksudmu?" (Lein)
Lucfier menggangukan kepala.
"Akan lama untuk menceritakan semuanya, tapi satu hal yang akan menjadi inti dari semua ini adalah ... Kastil ini sekarang akan menjadi markas ke dua kita setelah Reig City."
Tunggu, sepertinya aku perlu memberikannya nama juga, seperti Hiddenity mungkin terdengar cocok?
"Lalu, tentang ibu kota Tuanku." (Lucfier)
"Ya, apakah sudah ada perkembangan tentang proyek pusat peternakanku?" (Lein)
Aku menatap Lucfier yang terlihat agak ragu.
Kemudian, aku juga menemukan hal yang sama dari Carla, bahkan Rokie pun tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya ketika menatapku.
Ada apa dengan mereka?