
Dan ketika aku pergi kesana.
Kondisi desa memang benar-benar memperihatinkan dengan sebagian besar bangunan terbakar lalu menjadi puing.
Tidak ada banyak yang bisa kau temukan selain puluhan warga yang terlihat pasrah.
Aku bahkan melihat, pada sepanjang jalan tertentu akan ada sedikit korban disana yang tubuhnya masih tergeletak di tanah, dia pasti tewas karena serangan naga.
Anehnya, tidak ada yang berusaha untuk menguburkannya.
Dan, mengapa semuanya seolah-olah bertahan disini bukannya pergi mengungsi.
"Ah, kamu ..."
"Lama tidak bertemu, apakah kau adalah Sistine?"
Ah, iya. Itu sudah lama sampai aku melihat seseorang anak dengan wajah yang aku kenali.
Gadis itu langsung memelukku dengan tiba-tiba dengan senyuman menghiasi pipinya.
"Akhirnya kita bertemu lagi, Tuan Lein! Aku tahu kamu akan datang dan menolongku!"
"Ah, tentu ..." Ya, seperti itulah.
Aku memang berencana membantu, tapi tidak menyangka ini adalah desa tempat tinggal Sistine dan keluarganya.
"Ayahku berada disana. Bagaimana dengan pergi ke rumahku untuk sebentar?" Sistine menunjuk ke satu rumah.
Sementara itu, aku kemudian menoleh ke samping untuk menemukan dua bawahanku, Aisha dan Lucfier menggangukan kepala.
"Jadi, siapa anak muda ini, Sistine?"
"Dia adalah pangeran ... Ayah!"
Wajah seorang laki-laki langsung menjadi pucat setelah mendengar itu keluar dari mulut putrinya.
"Eh? Ah, pangeran?! Maksudmu dia adalah seorang pangeran?!"
"Kalau tidak salah, nama dia adalah Lein!"
"Lein yang itu, iya?!"
Kenapa, aku merasa perbincangan antara ayah dan anak itu sedikit berlebihan.
Maksudku, apakah akan menjadi sesuatu yang mengejutkan jika tiba-tiba kamu mendapatkan kunjungan dari seseorang yang tidak biasa.
Oh, tentu ... Itu akan terjadi.
"Ya, itulah aku. Pangeran Lein dari Kerajaan ini. Senang bisa mengenalmu, tuan."
Aku kemudian berbicara untuk memperkenalkan diri dengan halus, dan tidak menyadari pria yang menjadi lawan bicaraku berdiri dengan lutut lemas sekarang.
***
"Aku masih tidak mempercayainya ... Bahwa Raja dibunuh setelah dia menyerahkan tahta ke tangan perdana menterinya." (Ayah Sistine)
"Apa maksudmu dengan raja yang dibunuh itu?" (Lein)
"Ya, kau tahu bukan? Beberapa waktu yang lalu ada pengumuman tentang pemerintahan yang diambil alih oleh seseorang. Nah, pada saat itulah aku mendengar kabar lain yaitu raja yang menyerahkan posisi itu dengan sukarela kepada bawahannya."
"Aku tidak pernah mendengar itu." Bahkan, seingatku tidak ada yang membicarakan itu setelahnya.
Atau, mungkin saja aku ketinggalan berita ini.
Tapi, mustahil! Bagaimana itu bisa terjadi.
Aisha kemudian mendekatiku untuk membisikan sesuatu, "Tuanku, pada waktu itu anda buru-buru menyeretku ke dalam kamar bahkan sebelum pembicara itu selesai mengumumkan semuanya."
"Apa?!" Itu terjadi?! Kesalahan kecil, ya!
Aku menggangukan kepala.
"Sepertinya orang itu memang jahat dan sangat licik!"
Tanganku tanpa sadar sudah mengepal dengan sendirinya, selain menyembunyikan fakta bahwa raja dibunuh dalam kudeta, dia bahkan bisa membuat berita palsu tentang raja yang menyerahkan tahta kepadanya?
"Bagaimana dengan nasib anda, pangeran? Ah, maksudku ... Yang Mulia!" (Ayah Sistine)
"Aku dipenjara disana, tapi setelahnya berhasil kabur."
Meskipun, aku tidak menjelaskan secara rinci tentang sistem yang menteleportasiku.
Tapi aku akan merasa terbantu jika dia percaya bahwa aku dengan ajaib bisa kabur pada waktu itu.
Aku kemudian menemukan ayah Sistine menatap putrinya sambil mengganguk antusias.
"Aku sebenarnya merasa berhutang sebelumnya karena kamu sudah menyelamatkan hidup putriku. Tapi untuk saat ini, bisakah anda dengan kebaikan anda membantu kami keluar dari situasi ini?"
Maksud dia tentang menyelamatkan desa, ya?
Aku bahkan sudah melihat pria tua ini berlutut dan menundukan kepala.
"Aku mohon, Tuan Lein. Bantu aku dan semua orang di sini." (Sistine)
Putrinya kemudian meniru apa yang dilakukan ayahnya.
Pada saat itulah, aku melihat ekspresi wajah yang akrab terpasang dari seseorang disampingku.
"Kalian sudah menemukan jawabannya. Tuanku memang akan membantu karena menggangap kalian adalah rakyatnya. Tapi, dia yang pada saat ini juga memerlukan bantuan untuk menjatuhkan seseorang." (Lucfier)
Dan dalam kalimat yang memiliki banyak maksud tersebut.
"Kami bersedia membantumu jika itu berarti desa ini diselamatkan." (Ayah Sistine)
"Tunggu, bukankah ada cara lain untuk bisa kabur dari situasi ini? Bagaimana dengan pindah ke kota ku?" (Lein)
"Apa Tuan Lein baru mengatakan memiliki kota?" (Sistine)
Aku menggangukan kepala.
"Ya, aku memilikinya satu. Dan sepertinya itu masih kekurangan penduduk." (Lein)
Lalu, aku menemukan wajah Sistine yang kali ini merasa terkejut karena perkataanku.
"Jika memang bisa seperti itu, bukankah kita bisa tinggal disana, ayah?" (Sistine)
"Ya, itu mungkin bisa saja terjadi." (Ayah Sistine)
Dan, diputuskanlah bahwa pada hari itu aku resmi kembali menampung sekitar delapan puluh penduduk desa yang mengungsi dari rumah mereka.
Ayah Sistine terlihat berwajah lega pada perbincangan itu.
Mungkin sesuatu yang aku lakukan ini sudah sangat membantu dia.
Tapi, sayangnya.
Sebelum itu bisa terjadi, aku kemudian mendengar sesuatu yang bersuara keras dari luar.
"Oh tidak, maafkan aku Tuan Lein. Sepertinya kita tidak akan bisa pergi sebelum Naga itu benar-benar disingkirkan." Ayah Sistine mengatakan itu dalam ketakutan.
Aku melihat ke luar jendela, sekarang itu terdapat cahaya terang disana dan itu sepertinya efek dari sebuah kebakaran.
"Aisha ..."
"Baik Tuanku, saya akan mengatasi dia dengan pedang ini."