The Ultimate Principality System

The Ultimate Principality System
Chapter 20 - Pangeran Yang Membangun Rumah



"Yah ... Ummm ... Kami memang tidak keberatan jika kalian mau menampung kami. Tapi, sungguh? Apa yang Tuan harapkan dari orang tua ini?"


Aku menoleh ke kerumunan orang-orang itu.


Jika aku tidak salah melihat, kebanyakan dari mereka memang sudah lanjut usia dan tua.


Memang, ada beberapa anak-anak dan pemuda dalam barisan, tapi itu hanya berjumlah kurang lebih sepuluh.


"Aku memiliki rencana untuk kalian. Mungkin ini akan menjadi cukup sulit, tapi bagaimana dengan membantu kami membangun sebuah desa lagi?" Yah, aku juga berniat untuk mencari lokasi lain.


Kau tahu, menurutku orang tua lebih berpengalaman dalam hal apapun. Dan, aku menghormati mereka.


Jika semuanya setuju, maka aku akan mulai melakukan pencarian dan memilih lokasi yang cocok.


"Tunggu, bagaimana dengan hutan itu?"


Jika tidak salah, tempat pertama dimana aku di teleportasi.


"Hahaha ... Seperti yang aku duga. Tuanku memang hebat, anda sepertinya memilih lokasi yang tidak biasa." Lucfier tertawa ke arahku dengan bangga mengucapkan kalimat memuji.


Tapi, aku justru menangkap maksud lain.


"Apakah ini buruk? Ah, iya. Mereka dipenuhi oleh monster."


"Justru itulah yang menjadi keunggulan kita yang menginginkan desa tersembunyi di awal. Dengan sumber daya hutan ini, lalu monster-monster yang menghuninya, itu akan membuat siapapun tidak pernah menyangka ada yang membangun rumah disana."


Aku mulai memahami maksud Lucfier sekarang.


"Jadi, kita mulai?"


"Ya, seperti itulah." Lucfier kemudian melirik Dwarf yang berada di sampingku.


Aisha juga berada tidak jauh dariku, dan kami kemudian memutuskan pergi ke lokasi dengan membawa puluhan orang.


Perjalanan kemudian memakan waktu selama beberapa waktu.


Dan, memang.


Seperti yang diharapkan ketika memasuki wilayah berbahaya, setidaknya ada beberapa binatang buas yang menggangu.


[+100 Emas] | [+2 Medali]


[+100 Emas] | [+2 Medali]


Aku mengalahkan serigala yang berniat menerkam seseorang di belakangku, jadi dengan pedang aku menebasnya menjadi dua potongan.


Orang-orang mulai memperhatikanku berbeda.


Melihat aku yang mengalahkan para serigala dengan begitu mudahnya membuat setidaknya beberapa memasang wajah kagum terhadapku.


"Tuan, tolong ajarkan aku gerakan itu!"


"Aku juga!"


Anak-anak kemudian mengerumuniku untuk meminta aku melakukan sesuatu, tapi aku menolak mereka dengan halus.


"Kalian tahu, aku tidak pandai dalam mengajar apapun." Aku kemudian menemukan beberapa diantara mereka memasang wajah kecewa. "Ah, ummm ... Tapi aku bisa memberikan kalian senjata?"


Tentu, itu bukan terbuat dari besi atau berwarna perak.


Mereka hanya kayu yang aku buat sedemikian rupa hingga menyerupai bentuk pedang dan tombak.


"Namamu adalah?"


"Aku Van."


"Namaku Otto."


"Saya Jefrey."


Oke, aku kemudian mengingat mereka sebagai calon prajurit di kerajaan pertamaku.


"Heheheh ..."


Aku menoleh ke samping untuk menemukan seseorang terlihat menikmati itu.


Bertanya-tanya, kenapa Lucfier selalu tertawa ketika aku melakukan sesuatu.


"Disini adalah tempatnya." Aku menunjukan lokasi tempat aku diteleportasi untuk pertama kali.


Yah, mereka memang dipenuhi banyak kenangan.


"Tuanku, kita akan membutuhkan uang sebanyak seratus ribu untuk bisa membangun beberapa rumah." Aku kemudian menganggukan kepala, dan menyerahkan gunungan emas dalam jumlah yang diminta kepada Rokie.


Kemudian, segera setelah aku melihat Dwarf itu mengambilnya. Sesuatu yang bercahaya muncul dan membuat itu lenyap sebelum disusul oleh goncangan pada bagian bawah.


"Wow, hebat!"


"Rumah yang muncul dari tanah?!"


Mataku juga tidak bisa berhenti berkedip untuk beberapa waktu itu.


Anak-anak mengatakan itu keluar dari tanah.


Tapi aku menggangap itu adalah bagian dari sihir. Maksudku, ada beberapa lingkaran bercahaya yang terlihat di tanah sebelum itu terjadi.


Nah, apakah ini yang disebut sebagai skill [Arsitek]?


"Mulai dari sekarang, ini adalah rumah baru kalian. Silahkan ditempati." Lucfier mengarahkan para penduduk yang masih mencerna situasi tersebut ke dalam desa yang kami bangun.


Ada setidaknya 9 rumah disana dan itu terlihat cukup untuk menampung sekitar 5 orang setiap rumah.


Jadi, aku bisa menyebut itu berhasil untuk pembangunan pertama.


"Apakah kau bisa membangun kastil untukku?" Rokie menggangukan kepala ketika aku menanyainya.


"Aku bisa membuatnya, tapi Tuan harus menyiapkan sebanyak satu juta emas untuk bisa membagunnya."


"Ah, tidak. Mungkin lain kali." Aku menyesali diriku yang mulai kehabisan uang sekarang.


Sementara, para penduduk terlihat sangat bersyukur dengan rumah baru mereka.


Aku melihat ke arah sekeliling untuk menemukan sesuatu yang kurang.


"Itu tidak ada pagarnya." Mungkin aku juga harus mempertimbangkan untuk membangunnya seperti tembok pelindung sekarang.


Itu demi pencegahan, kau tahu? Kita tidak akan pernah mengetahui apa saja yang akan menyerang desa jika itu tidak terlindungi dengan baik.


Jadi, dengan begitu dalam sejarah pangeran yang dianggap tidak berguna ini, dia berhasil membangun sebuah desa dan mendapatkan pengikut pertamanya.


Aku masih harus melakukan sesuatu, seperti mengurangi jumlah monster di wilayah tersebut.


Dan, bersama Aisha aku melakukannya.


Kurang lebih, ada sekitar puluhan serigala tewas dalam pembersihan tersebut. Beberapa orc, dan sekawanan Lizardman.


Dan kami mendapatkan cukup banyak uang untuk membangun satu rumah berukuran sedang sebagai pusat markas operasi kami.


[-50.000 Emas]


"Bukankah itu berarti aku tidak perlu menyewa penginapan lagi?"


Ya, itu akan menjadi sesuatu yang baru. Juga, karena ini adalah rumahku sekarang. Aku bisa sedikit melakukan beberapa penyesuaian.


"Ah, tidak. Aku sudah memiliki tempat tinggal sendiri. Saya tidak akan menggangu anda setiap malam." Lucfier mengatakannya sambil memperbaiki posisi kacamata daan sedikit tersenyum ke arahku.


"Aku juga, sepertinya saya akan membangun sebuah bengkel disana. Dan itu akan menjadi rumahku satu-satunya." Sungguh, apakah hanya aku dan Aisha yang tersisa sekarang?


Jadi, seperti itulah. Mereka menyerahkan rumah itu kepada kami dengan alasan, tidak ingin menggangu.


Tapi aku merasa itu sedikit membuat aku merasa egois dengan hanya memilikinya sendiri.


Aku kemudian memasuki rumah untuk memeriksanya.


Meskipun dua bawahan laki-lakiku mengatakan tidak tinggal disana.


Tapi tetap saja, keduanya akan selalu datang ke tempat ini untuk mendiskusikan sesuatu denganku.


Yah, aku anggap ini sebagai istana kecilku. Meskupun sesungguhnya itu hanya rumah berlantai dua.


Di bawah, aku menemukan ruang tamu yang besar.


"Aku bisa menggunakan ini sebagai tempat berkumpul."


Sementara, di bagian atas.


"Oh, ranjang ini lebih lebar daripada yang ada di penginapan." Plus, itu dilengkapi dengan jendela yang mengarah ke luar, meja dan satu kursi, lalu ada perabotan.


Ini akan menjadi kamarku mulai dari sekarang!