The Ultimate Principality System

The Ultimate Principality System
Prolog





"Bagaimana keadaan dia, dokter?"


"Maafkan saya, Tuan. Kami benci untuk mengatakan ini, tapi, istri anda ... Nyonya Marissa meninggal karena kehabisan darah."


Oh, tentu ... Ini akan menjadi suatu hal yang membuat hidup seseorang berubah secara drastis.


Aku yang sekarang sangatlah tidak beruntung pada waktu itu.


Lihat, istriku yang baru saja kecelakaan ini tidak mendapatkan bantuan yang cepat ketika dia terlegetak di tanah dengan kondisi yang memperihatinkan beberapa jam yang lalu.


Orang-orang sibuk dengan ponsel pintar mereka, untuk membagikan kejadian itu ke media sosial.


Bahkan, dari yang aku dengar, hanya ada beberapa yang peduli, sementara belasan lainnya panik tidak jelas.


Ah, tidak ada gunanya menyesali ini.


Dan, tentu aku dan keluargaku membuat pemakaman untuk istriku beberapa hari setelah kejadian itu.


"Semoga kau bahagia disana, Marissa ..." Aku melihat ke arah sebuah jalan raya.


Disini ... Tepat di sebuah aspal yang terdapat garis putih ini, istriku ditabrak oleh sebuah truk.


Kejadiannya sangatlah sederhana.


Pengemudi yang mengantuk.


Setidaknya, karena kecerobohannya ini, dia membuat nyawa seseorang melayang.


Dan yang lebih membuatku tidak senang adalah, dia yang lari ketika pada saat kejadian.


Maksudku, ini adalah kasus tabrak lari.


Sampai saat ini, polisi masih mengejar pelaku.


Seandainya, seandainya aku bisa lebih cepat.


"Marissa ... Apakah kau mendengarku?" Aku kemudian menatap ke arah langit.


Mengingat kenanganku dengan istriku yang masih terbilang belia itu.


Maksudku, kami menikah pada usia aku yang sekitar dua puluh tujuh dan dia pada umur dua puluh lima.


Marissa adalah mantan teman kantorku dulunya.


Dan ... Tentu ini hanya tentang cinta antara para pekerja kantoran jika harus mengatakannya.


Tapi, sungguh? Bukankah ini terlalu cepat?


Aku bahkan bisa menghitung dengan jari ini.


Usia pernikahan kami bahkan baru satu bulan, atau kurang?


Aku ingat betul pada saat malam pertama kami.


Itu indah, tapi sekali lagi ... Aku tidak ingin berpaling dari kenyataan ini.


Dalam ketenangan, dan memori yang tiba-tiba muncul dari dalam pikiranku.


Sesuatu, lebih tepatnya, seseorang berjalan di sampingku untuk memasuki wilayah jalan raya tersebut.


Dia seperti masih berusia 16 tahunan kurasa. Ah, melihat seragamnya.


Aku tahu dia adalah anak-anak dari sekolah menengah itu.


Dan, tanpa kusadari aku sudah melupakan, atau lebih tepatnya tiba-tiba sangat lupa!


"Oi! Apa yang kau-"


Ah, tidak! Jangan lagi! Kali ini yang menjadi penabrak adalah, sebuah mobil bus.


Dan, TAP! TAP! TAP!


Kakiku melangkah dengan reflek begitupun dengan gadis itu yang mulai menemukan hal yang aneh.


Dalam hitungan ... Satu ... Dua ...


BOM!


DHUK!


***


"Apakah kau baik-baik saja?!"


"Oi! Ada yang kecelakaan!"


"Ambulan! Panggil ambulan, siapa saja ... Tolong!"


Aku melihat kerumunan orang panik.


Disana, mereka seperti mengerumuni sesuatu, dan ketika aku menemukan ada noda berwarna merah di bajuku.


"Ah, bukankah ini darah?" Dan ... Oh, yang benar saja.


Tentu aku tidak akan selamat setelah tertabrak oleh bus bukan?


Tamat sudah ... Kisah keluarga yang baru menikah ini, tewas karena kecelakaan yang tidak terduga.


Tunggu, aku bahkan belum mati? Mengapa pikiran itu terlintas begitu mudahnya?


Kurasa ... Masih ada waktu lagi untuk aku kemudian ... KRAK!


"Awww ..." Seperti ada sesuatu yang patah kurasa. "Apakah!"


Astaga, apakah ini yang namanya mengalami patah tulang?


Oh no, apa yang aku lakukan? Setelah aku pikir-pikir lagi, itu adalah tindakan yang nekat bukan?


Menyelamatkan seorang gadis, dan membuat nyawamu sendiri dalam bahaya. Apakah ini adalah tindakan yang tepat?


"Bagaimana menurutmu ... Marissa?" Aku menatap ke arah langit.


Dia pasti menyaksikan semua ini. Istriku ... Bagaimanapun juga, aku akan segera menyusul dia kesana. "Tunggu ... Tunggu aku ..."


"Tidak! Jangan meninggal Tuan!" Suara itu mengejutkanku selama beberapa detik sebelum mataku yang buram ini menangkap wajah seseorang yang aku kenali.


"Syukurlah kau baik-baik saja ..." Aku tidak tahu, tapi firasatku mengatakan ini adalah hal yang benar.


Maksudku, aku yang sebelumnya memang terlambat pada saat menyelamatkan istriku, tapi aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama dan membiarkan orang lain mengalami hal yang serupa denganku.


Itu mungkin akan menjadi hal terkonyol dalam kehidupanku.


Tapi ketahulah ... Aku yang sekarang, jika masih bisa bertahan, apakah akan menjadi terkenal dan masuk acara TV atau sejenisnya?


Bukankah tindakanku ini termasuk pahlawan?


"Sampai jumpa ... Aku sudah tidak sanggup lagi ..." Dan, gelap.


Mataku ini sudah dipenuhi dengan warna hitam.


Gelap dan hampa.


Tidak ada suara jeritan yang terdengar lagi.


Tidak ada yang namanya lampu kamera yang memotret lagi, tidak ada suara keributan dan ... Ah, sepertinya sudah berakhir.


"Aku akan segera ke tempatmu ... Istri-"


[Jangan dulu!] Hmmm? Seperti aku mendengar sebuah suara. [Apakah kamu menyesal? Atau sedih karena sudah menyelamatkan seorang gadis?]


"Aku hanya melakukan hal yang tidak ingin aku sesali." Itu benar, aku sudah tidak menyesal lagi karena hal ini.


[Bagus ... Apakah kamu menginginkan kesempatan ke dua, pahlawan?]


"Hmmm ... Tunggu, jika ini berarti aku masih bermimpi." Maksudku, kurasa akan menjadi aneh jika perbincangan ini bukan bagian dari mimpi. Ya, menurutku tidak mungkin aku bisa berbicara seperti ini dengan sesuatu yang tidak aku kenali ketika mendekati ajal, bukan? "Aku tidak tahu apa tujuanmu, tapi jika itu berarti bisa bertemu lagi dengan istriku ..."


[Marissa bukan? Ah, betapa indahnya cinta sejati.] Hm? Aku kemudian memejamkan mata. Itu benar, tanpa kusadari aku memang sangat mencintai dia. Untuk itulah aku menerima pernikahan ini dan menghadiahinya cincin sebagai bukti hubungan kami. [Baik, kau akan segera mendapatkannya, sobat!]


"Oh, ya?" Jika itu hanya tentang mimpi, tidak masalah bukan aku menjawabnya demikian. Dan ... Sepertinya ini akan segera berakh- ..."Hmmm?!" Apa yang terjadi? Tiba-tiba saja ... BOM! Sebuah cahaya putih yang membutakan mata. Maksudku, ah! Itu sangat menyilaukan, mengapa itu tiba-tiba muncul? Apakah ini yang namanya ...


[Benar ... Ingat perkataanku ini, kamu direinkarnasi dan akan menempati tubuh seseorang yang sepertinya cukup dibenci di dunia itu. Lalu, selamatkanlah istrimu yang disandera oleh orang jahat.] Tunggu, apa?!


"Bisa kau jelaskan lagi?" Aku tidak akan mengerti jika dia hanya mengatakan itu. Menyelamatkan istriku katamu? Apakah dia adalah. "Marissa? Apakah kau bilang dia direinkarnasi juga?!"


[Ya, seperti itulah. Pokoknya aku akan menjelaskan ketika kau sudah berada disana ... Jadi, apakah kita akan memulai ini sekarang?]