The Ultimate Principality System

The Ultimate Principality System
Prolog 4



"Ya, kau benar ..." Aku menggangukan kepala.


Kira itu adalah pilihan terakhir dari kemungkinan terburuk yang aku dapat.


Maksudku, ide tentang melarikan diri lalu mengumpulkan sekutu sebanyak-banyaknya untuk membalaskan dendam, apakah itu akan bekerja dengan baik?


[Juga, aku akan memberikanmu dua puluh detik untuk pertarungan pembalasan, karena ini akan membutuhkan waktu untuk mengaktifkannya. Dan setelah itu berakhir, dengan teleportasi aku akan memindahkanmu, semacam mengeluarkanmu dari dalam pengepungan ini secara mendadak. Tapi ingat, kau tidak boleh mati pada saat itu belum terjadi.]


Aku menggangukan kepala. Sepertinya aku akan menggunakan kesempatan ini untuk menunjukan kepada mereka bahwa aku bukan pangeran yang bodoh lagi.


Yah, meskipun dia sudah berganti pemilik tubuh.


Aku bisa dibilang tetap adalah orang yang sama dimata mereka.


Membayangkan saja membuatku merasa senang.


Maksudku, dia akan melihat pangeran yang mereka sebut "bodoh" itu membalaskan dendam.


Aha! Dan untuk itulah aku mengambil pedangku dan menghunuskan ke manusia yang paling aku benci saat ini.


"Kau ... Dasar bodoh, kenapa tidak menyerah saja seperti sebelumnya?!" Raz tampak tidak puas dengan ini.


Prajuritnya itu yang berjumlah dua belas orang bahkan tidak mampu membuat aku merasa terintimidasi.


"Yang mulia, bagaimana dengan menghabisi orang ini saja? Bukankah itu akan menjadi lebih mudah?" Seorang prajurit mengusulkan ide itu tepat setelah dia menatapku agak lama.


Mendengar perbincangan mereka saja membuatku merasa keduanya sungguh berniat menghancurkan keluarga kerajaan ini.


"Tenang, kalian tidak perlu repot-repot untuk menghabisiku. Karena yang terpenting sekarang adalah ..." Aku rasa itu yang pertama ... .


"Satu!" Dhuak! Ada seseorang yang tumbang dalam hitungan yang pertama itu.


Aku melancarkan serangan yang begitu mendadak dan tidak terbaca oleh mereka.


Formasi pengepungan dua belas prajurit langsung menjadi berantakan hanya dalam waktu kurang dari beberapa detik.


Mereka yang setidaknya menggangapku hanya bertahan dan tidak menyerang adalah yang paling pertama menjadi sasaran pedangku.


"Dua!" Kali ini ada setidanya beberapa, menjadi ... Tiga, wow! Aku mendapatkannya, dan untuk serangan sembarangan yang menguras tenaga!


"Mundur ... Biar aku yang menghadapinya." Sebelum aku bisa melumpuhkan lebih banyak.


Ada seseorang yang kuat berdiri dihadapanku.


Dia memakai baju zirah berwarna perak, lalu dengan wajah yang tampak garang pula.


Sepertinya orang ini sangat ditakuti. Meskipun pada awalnya aku merasa dia bukan prajurit biasa.


"Namaku adalah Bazoar ... Dan, pangeran pasti tahu bukan, siapa aku dulunya?" Ha! Ha ... Agak lucu untuk mengatakannya, tapi aku sungguh tidak mengenalimu paman.


"Bagaimana jika aku lupa?" Hehe ... Aku menjawabnya demikian.


Tidak tahu bagaimana reaksinya setelah aku mengatakannya, itu sekarang dipenuhi oleh amarah dan dendam.


Tapi, wow! Tunggu dulu sobat, aku benar-benar tidak mengetahuinya. Mungkin di ingatan pangeran ini, kau adalah.


"Ah, kau adalah jenderal itu, bukan?"


Sungguh, aku tidak mengharapkan akan menjadi seperti ini.


Sepertinya aku juga mendapatkan sedikit memori ingatan dari pemilik tubuh ini sebelumnya.


[Ini sudah yang ke sepuluh ... Sembilan ...] Sementara sistem masih menghitung mundur.


Aku tidak ingin menunda-nunda untuk mengalahkan banyak orang.


"Baik, kau adalah lawanku sekarang!" Aku langsung menerima ajakan duelnya.


Itu mirip seperti, pertarungan lima detik. Tapi serius, baru selesai aku mengatakannya dia tiba-tiba muncul dihadapanku sambil memberikan sebuah tinju.


"Dasar le-" Pria itu berhenti berbicara, atau kalimatnya terpotong ketika aku melakukan sesuatu yang tidak pernah dia pikirkan.


"Jangan meremehkan kemarahan suami yang menginginkan istrinya kembali!" Aku yang menangkap serangan orang itu dengan satu tangan, membuat dia yang masih memproses kejadian tidak menemukan ada sesuatu yang mengincar bagian tubuhnya.


Dan, Dhuak! BAM! Pow! Aku memberikannya beberapa serangan di perut, dan itu membuatnya terpukul beberapa langkah.


Jadi aku menggunakan momen tersebut untuk menyapu seluruh ruangan dengan mataku ini dan dengan senyuman menyeringai aku menatap mata orang-orang disana.


Seolah-olah ini akan menjadi awal yang baru.


"Dengar kalian! Aku akan kembali tidak lama lagi! Berbahagialah karena kau masih bisa hidup dan menikmati hari-hari terakhirmu sekarang! Tapi ketahuilah, ajal kalian sudah dekat. Bagi yang meletakan senjata, aku akan mengampuni kalian. Dan, untuk yang bersikeras ingin melawanku, maka hadapilah aku yang akan kembali beberapa waktu lagi. Kau dengar itu, Raz?!!!"


Semua orang mematung dan berhenti bergerak setelahnya.


Hanya ada aku, dan belasan pengikut Raz disana.


Itu kemudian ditambah dengan kehadiran Tuan Putri Ranee dan beberapa pelayan yang dijumlahkan semuanya menjadi sekitar dua puluhan orang sekarang.


Perkataanku ini mungkin hanya dianggap sebagai omong kosong belaka, karena apa yang mereka yakini sekarang adalah aku yang akan segera ditangkap.


Yah, aku tidak terlalu mempermasalahkan ini.


Asalkan bisa membuat semuanya mendengarkan atau menggangap perkataanku sebagai ancaman, itu sudah cukup bagiku.


"Pangeran ..." Ranee menatapku kosong.


Dan, sebagai yang terakhir.


Aku memberikan senyumanku kepada istriku.


Aku ingin menyalahkan diriku karena meninggalkannya seperti ini.


Tapi aku tidak mempunyai pilihan lain selain melakukannya.


Sungguh, aku berharap dia bisa bertahan.


"Kau pikir bisa pergi setelah membual dengan bodoh seperti itu?!" (Raz) oh, kenapa pria tua ini masih tidak mempercayai perkataanku.


Sudahlah, semua itu akan terjadi tidak lama lagi. Dan ... Oh, sepertinya sudah dimulai.


"Oi! Yang benar saja?!"


"Apa itu!" Lingkaran sihir tepatnya.


Orang-orang sekarang memperhatikan yang ada di bawah kakiku.


Itu mirip seperti sesuatu berbentuk lingkaran yang bercahaya, dan menerangi.


Raz langsung berekspresi masam setelahnya.


Seolah mengetahui ini adalah pertanda buruk, dia langsung mengirim salah-satu anak buahnya atau lebih tepatnya ... Menyuruh mereka untuk menghentikan.


Tapi, semua sudah terlambat.


"Sampai jumpa!" Aku menghilang ketika semuanya berteriak, "Hiyaa!" atau, "jangan biarkan dia kabur." atau sejenisnya.


Yang pasti, kemunculan lingkaran sihir itu adalah yang paling mengejutkan mereka.


Penglihatan mataku kemudian berubah menjadi warna hitam.


Kosong, dan lagi. Mereka menjadi hampa selama beberapa detik.


Aku bertanya-tanya kepada diriku pada waktu itu. Kenapa harus melakukan cara pengecut seperti ini?


Yah, mungkin itu adalah yang terbaik. Maksudku, ini demi bisa membalaskan dan menghancurkan orang yang aku benci.


Meskipun baru pertama kali aku bertemu dengan pria bernama Raz tersebut.


Tapi fakta bahwa dia sudah berbuat hal yang tidak aku inginkan, seperti menyandera putri Ranee yang merupakan mantan istriku di kehidupan pertama adalah hal yang aku sangat-sangat tidak bisa dimaafkan olehku.


Untuk itulah, aku membuat janji itu kepada semua orang.


"Aku akan kembali lagi, Marissa ..." Dan setelah mengatakan itu, aku kemudian menutup mata.


Membayangkan betapa beruntungnya aku bisa melihat wajah istriku yang aku rindukan.


Tanpa kusadar semuanya menjadi yang tadinya adalah gelap, sekarang menjadi semakin terang.


Bersamaan dengan sebuah cahaya yang tiba-tiba muncul di atas.