
Semua orang terkejut mendengar kata-kata kasar Han Aruna. Jika dia memang adalah Jang Xia Lu, itu artinya Jang Fang Lin memang adalah ayahnya bagaimanapun yang terjadi. Sehingga tidak mengakui Jang Fang Lin sebagai ayahnya adalah perbuatan yang tercela. Semua orang mulai berbisik-bisik kembali.
"Lu'er, ibu mohon kamu tidak memperlakukan ayahmu seperti itu. Ayahmu sangat menyayangimu." Ye Shi segera maju dengan wajahnya yang menyedihkan. Tampak seperti bahwa dia telah dianiaya dengan tidak adil.
"Heh! Sudah sebelas tahun berlalu ternyata kediaman Jang semakin buruk. Seorang selir berani memanggil dirinya sebagian nyonya rumah. Sungguh mengesankan." Han Aruna mencibir.
"Kamu kamu...!"
"Apa? Aku beritahu pada kalian. Aku memang Jang Xia Lu. Tapi itu adalah sebelum kalian semua mengusirku dari kediaman Jang sebelas tahun yang lalu. Saat ini, yang berdiri di depan anda bukanlah Jang Xia Lu. Gadis kecil itu telah tiada sejak ia keluar dari kediaman Jang dengan menyedihkan. Sebaliknya, yang berdiri di sini adalah Han Aruna. Nona Besar Klan Han." Ucap Han Aruna dengan sombong. Lalu tanpa memberi kesempatan bagi Jang Fang Lin untuk menyela, Han Aruna melanjutkan kalimatnya dengan sinis. "Jenderal Jang yang terhormat, apakah Jenderal lupa jika Jenderal sudah memutuskan hubungan ayah dan anak dengan putri anda yang bernama Jang Xia Lu saat itu? Kalau ingatan anda benar-benar telah memburuk, aku tidak keberatan mengingatkan anda kembali."
"Lu'er, ayah tahu ayah salah. Tapi ayah sangat emosi saat itu dan tidak dapat membedakan yang benar dan salah. Ayah mohon maafkan ketidaktahuan ayah."
"Oh... tidak bisa membedakan benar dan salah ya? Apa sekarang Jenderal Jang sudah bisa membedakannya?"
"Tentu saja. Ayah sudah tahu kesalahan ayah." Jang Fang Lin senang. Ia berharap putrinya ini mau memaafkannya. Lagipula sejak kecil jang Xia Lu melalui merindukan kasih sayangnya. Sekarang pasti masih sama.
"Ehehe. Kalau begitu apa kamu sudah mengetahui kebenaran dari kejadian sebelas tahun lalu yang membuat selir tercintamu ini bahkan tega melenyapkan bayi dalam kandungannya hanya untuk mengusirku?" Wajah Ye Shi terdistorsi. Ia bahkan sampai melupakan hal itu.
"Apa maksudmu?" Jang Fang Lin sangat terkejut. Ia memang tidak menyelidiki secara menyeluruh. Ia hanya bertanya pada beberapa pelayan saja saat itu. Setelah itu demi menjaga perasaan Ye Shi yang batu saja kehilangan anak,ia tidak lagi membahas masalah itu apa lagi perihal keguguran yang dialami Ye Shi.
"Oh ternyata tidak tahu ya? Dulu Jenderal Jang menolak penjelasan. Jadi sekarang apakah mau mendengarnya?" Han Aruna melirik dengan senyum licik Ye Shi yang ketakutan. Jang Mue Lan dan Jang Dong He juga sama. Mereka berdua juga mengetahui apa yang terjadi saat itu. Jika Jang Fang Lin memgetahui kejadian yang sebenarnya bahwa ibu mereka sendirilah yang melenyapkan bayinya, mereka akan segera diusir dari kediaman Jang. Saat itu terjadi, mereka tidak akan memiliki pijakan lagi di ibukota. Jangankan bermimpi menikah dengan salah satu pangeran, para tuan muda juga tidak akan ada yang mau menikah dengan mereka saat itu.
"Ayah, jangan dengarkan dia. Dia hanya ingin membuat ayah bingung. Ibu tidak mungkin melenyapkan bayu kalian. Ibu juga menyayangi Xia Lu seperti menyayangi kami. Bagaimana ibu berniat mengusirnya? Bukankah ibu bahkan memohon pada ayah untuk membiarkannya tinggal saat itu?" Jang Mue Lan segera menuju dan segera menjelaskan pada Jang Fang Lin. Han Aruna mencibir. Kemudian dia diam-diam mengeluarkan pil kejujuran versi terbaru buatannya dan menembakkannya ke mulut Jang Dong He tepat waktu saat Jang Dong He membuka mulutnya untuk ikut membantu.
Jang Dong He merasa ada sesuatu yang masuk ke dalam mulutnya secara tiba-tiba tetapi dia tidak merasakan apapun. Jadi dia mengabaikannya.
"Benar ayah."
"Ayah. He'er masih sangat kecil saat itu. Dia akan mengatakan apa yang memang terjadi tanpa berbohong." Jang Mue Lan berkata dengan percaya diri. Anak kecil tidak akan bohong. Tapi berbeda dengan adiknya yang memang sudahbpandai berbohong sejak ia masih kecil karena ibu mereka lah kebenaran yang ada. Jadi meskipun ia melihat yang berseberangan dari apa yang dikatakan ibunya, ia akan tetap mengatakan bahwa apa yang dikatakan ibunyalah yang benar.
"He'er, katakan apa yang kamu lihat? Jangan biarkan orang lain menilai ibu dengan salah." Jang Mue Lan terkejut saat adiknya tidak melanjutkan kata-katanya dan segera mendesaknya.
"Benar. Cepat katakan. Aku juga ingin mendengar apa yang terjadi hari itu." Shen Yu Nan memicingkan matanya. Meskipun ia sudah meragukan kesaksian gadis itu, ia masih ingin mendengarnya.
"Kakak...." jang Dong He menatap Jang Mue Lan dengan mata memohon bantuan. Tetapi di mata kakaknya, itu terlihat seperti Jang Dong He yang memainkan peran sedang ketakutan pada Han Aruna.
"Jangan takut He'er. Ada banyak orang di sini. Jangan ragu untuk mengatakannya." Jang Mue Lan bertindak seperti saudara yang baik dengan menenangkan adiknya. Han Aruna tersenyum di dalam hatinya. Itulah akibatnya jika satu keluarga sangat suka berakting.
"Tapi kakak aku benar-benar tidak bisa mengatakannya."
"Kenapa? Ada seseorang mengancammu?!" Jang Mue Lan menatap Jang Dong He dengan tegas. Lalu saat ia melihat Jang Dong He menggeleng dengan cepat, ia segera memalingkan wajahnya dan menatap tajam Han Aruna.
"Aku tahu kamu yang melakukannya kan? Karena tidak berhasil memfitnah ibuku, kamu mengancam adikku untuk menutupi kebohonganmu kan? Kenapa kamu begitu tak tahu malu?"
"Aku? Semua orang ada di sini dan melihat semuanya. Apa yang bisa aku lakukan untuk mengancam nona keempat Jang?"
"Kamu... He'er katakan semuanya. Jangan takut. Kakak ada di sini." Jang Mue Lan tidak menemukan alasan untuk melimpahkan kesalahan pada Han Aruna. Jadi dia hanya bisa mendorong Jang Dong He.
Kini semua pandangan terarah pada Jang Dong He deNgan penasaran. Mereka ingin tahu apa yang akan dikatakan gadis itu. Serta, apakah memang benar apa benar ada yang mengancam Jang Dong He hingga membuatnya begitu ketakutan. Hanya dua orang yang terlihat tenang di antara semua orang.
~♡♡♡~
~☆The Story Of Han Aruna_77☆~
Terima kasih sudah mampir •○(♡;♡)○•
Jangan lalunya upa like, Vote, Komen, Favoritkan dan bantu Share