
Acara untuk perjamuan Bunga hari ini adalah berburu. Tempat berburu adalah sebuah hutan Donghan yang berada di sebelah timur kerajaan. Hutan itu tidak begitu luas yang hanya mencakup area gunung. Tetapi banyak tinggal binatang spiritualitas tingkat rendah dan sedang di sana. Juga ada banyak tanaman herbal yang tumbuh subur di sepanjang jalur.
Pagi-pagi setelah sarapan, rombongan sudah berangkat ke hutan. Semua orang membawa perlengkapan berburu mereka masing-masing di dalam kereta mereka.
Arnold juga sudah menerima kabar ini, Hanya Aruna meminta agar Arnold datang ke istana malam harinya setelah selesai perburuan. Tetapi, pangeran putra mahkota itu menolak karena dia sudah sangat ingin bertemu dengan Han Aruna. Dia juga penasaran bagaimana berburu di negara yang terkenal dengan banyaknya harimau berjongkok dan naga yang bersembunyi ini.
Jei untuk sementara berada di samping Arnold untuk menjadi pengawalnya. Juga sebagai tour guid.
Meskipun Arnold bisa berbicara dengan bahasa mereka setelah berhubungan lama dengan Han Aruna, penampilannya terlalu mencolok dan berbeda dengan orang-orang yang tinggal di kerajaan ini. Bisa saja Arnold akan dianggap sebagai barang antik yang menarik.
Hutan itu tidak jauh. Hanya dua jam perjalanan dengan kereta mereka sudah sampai. Karena jaraknya yang dekat dengan permukiman warga, kawasan hutan dibatasi dengan pagar tinggi untuk mencegah serangan binatang ke permukiman. Selain itu beberapa penjaga juga disiagakan siang dan malam di beberapa pintu masuk ke hutan.
Setelah masuk ke dalam hutan, mereka segera masuk ke dalam tenda yang sudah didirikan di tempat terbuka yang memang biasa digunakan. Sebelum perburuan resmi dibuka, mereka akan istirahat terlebih dahulu sebelum acara peresmian.
Beberapa orang tidak beristirahat dan memilih untuk berjalan-jalan di sekitar. Hutan itu sudah biasa digunakan untuk acara perburuan istana. Jadi dalam radius beberapa ratus meter dari tempat itu tidak akan ada binatang buas yang akan ditemukan.
Han Aruna adalah salah satu orang yang memilih berjalan-jalan. Lagipula dia adalah seorang kultivator yang tidak begitu membutuhkan waktu istirahat. Jadi dia lebih memilih untuk berjalan-jalan. Siapa tahu dia akan menemukan barang yang menarik di jalan.
"Yo bukankah ini nona Han?" Han Aruna yang sedang berjongkok untuk mengambil tanaman herbal berharga mendongak untuk melihat siapa yang sedang menyapanya.
Melihat siapa nona muda di depannya, senyum Han Aruna cerah. Dia memasukkan tanaman herbal ke dalam kantong penyimpangannya sebelum ia berbicara. "Oh ternyata nona kedua dan ketiga Jang." Senyum di bibir Han Aruna tidak sampai ke dalam matanya.
"Bukankah kemarin nona Han menyombongkan diri dengan hadiahnya dan berkata bahwa panggaran Arnold dari kerajaan Barat akan datang untuk mengkonfirmasinya. Lalu, dimana dia sekarang? Apakah itu hanya bualanmu saja?" Jang Mue Lan berkata dengan sinis. Untuk memberikan hadiah pada Kaisar Shen Holling kemarin, ia harus membujuk ibunya untuk memberinya uang untuk membeli barang berharga agar membuatnya bersinar dalam perjamuan. Tapi dengan kejahatan ia telah dikalahkan oleh hadiahnya.
"Apa yang bisa dia katakan kak? Siapa pangeran Arnold itu? Dia adalah seorang putra mahkota dari sebuah kerajaan besar. Mana mungkin seorang pelaut seperti nona Han ini bisa mengenalnya? Dia pasti hanya membual karena ingin mendapatkan pujian dari Yang Mulia saja." Jang Dong He maju dua langkah saat ia berbicara. Dagunya naik saat ia berbicara dengan percaya diri di wajahnya.
Menjadi nona di kediaman jenderal Jang adalah sebuah kehormatan. Jadi banyak nona muda yang berkumpul bersama mereka. Mencoba menyenangkan mereka berdua untuk mendapatkan beberapa manfaat di masa depan.
Tentu saja mereka saat ini berpihak pada mereka berdua. Semua orang mulai berbisik meragukan ucapan Han Aruna.
"Apakah setiap hari bagi para nona muda hidup dalam kebosanan? Kalau tidak kenapa ia menganggap seperempat hari ini saja bisa menjadi satu hari?" Han Aruna tidak memandang kelompok nina muda di depannya. Ia melirik dan bertanya pada Yang Se Se di sampingnya.
"Sepertinya bukan begitu nona. Mereka terbiasa hidup di dalam rumah atau berkumpul di restoran. Sehingga mereka akan buta waktu saat berada di luar lingkungan seperti ini." Yang Se Se sudah lama mengikuti Han Mora dan sudah terlatih untuk berbicara.
"Kamu... pelayan! Apa hakmu berbicara saat kami para majikan berbicara?" Jang Dong He tidak bisa mempertahankan ketenangannya dan menyemburkan emosinya.
Yang Se Se hanya diam. Dia terlihat sangat tenang. Jangan Dong He sudah berusaha mengeluarkan auranya untuk menekannya. Tapi pelayan ini hanya diam seakan tidak terpengaruh sama sekali.
Sebagai anak buah dari Han Mora, tidak mungkin kemampuannya akan biasa-biasa saja. Semua anak buah Han Mora dirawat dengan baik. Bahkan pelayan didukung untuk melakukan kultivasi. Mereka juga akan selalu mendapatkan jatah pil guna mendukung basis kultivasi mereka setiap bulannya. Apalagi Yang Se Se adalah pelayan yang disiapkan untuk tinggal di sisi Han Aruna. Secara alami dia adalah yang paling unggun dari semuanya.
Jang Mue Lan menarik tangan Jang Dong He yang hendak maju menerkam Yang Se Se karena marah. Ia sendiri juga tidak menyangka jika basis kultivasi seorang pelayan bahkan bisa begitu tinggi. Saat ini mereka tidak bisa mengalahkannya. Yang terpenting juga mereka sedang ada di dalam sebuah acara. Mereka tidak bisa membuat masalah secara terbuka.
"Dong'er lebih baik kita pergi dari sini."
"Tidak kak. Kenapa kita harus pergi? Biarkan aku memberi pelajaran pada pelayan yang tidak tahu diri ini." Jang Dong He menggertakkan giginya dengan marah.
"Menurutlah." Cekatan tangan Jang Mue Lan semakin kencang di tangan Jang Dong He.
Jang Dong He menatap kakaknya dengan penuh rasa tanya dan keluhan. Tetapi setelah melihat wajah kakaknya yang serius, ia dengan enggan menghela napas dan mendengus kesal. Ia pun pergi setelah menghentakkan kakinya dengan keras diikuti dengan para nona muda lainnya.
"Saya tidak mengerti mengapa semua orang saling menjatuhkan. Bukannya baik saling menghargai?" Yang Se Se menghela napas berat.
"Itulah sifat manusia. Biarkan saja. Ayo bantu aku memeriksa di sekitar sini. Aku mencium aroma Daun tidur di sekitar sini."
Daun tidur biasa digunakan untuk membuat obat susah tidur. Han Aruna selain menganggap berburu adalah kesenangan. Jadi dia selalu memakai daun tidur untuk membius binatang biasa. Panah yang ia gunakan untuk berburu dilapisi dengan cairan daun tidur ini. Sedangkan untuk binatang spiritual, baru ia akan menggunakan senjata yang tepat.
Han Aruna beristirahat sambil menunggu Yang Se Se yang melumuri ujung anak panah dengan cairan daun tidur saat ia mendengar ada keributan di luar tenda.
"Nona, pangeran Arnold sudah datang." Pelayan yang ditugaskan di luar untuk mencari informasi segera kembali.
"Ooh.. biarkan saja. Nanti kita...." Aruna berhenti bicara saat ia mendengar suara Yang Se Se di kuat tenda.
"Salam Yang Mulia." Yang Se Se yang baru selesai dengan anak panahnya segera berdiri datangnya menyambut kedatangan Kaisar Shen Holling.
"Bangkit." Kaisar Shen Holling melambaikan tangannya. "Apa Nona Han ada di dalam?"
"Salam Yang Mulia." Han Aruna keluar dari tenda yang segera memberi hormat. Lalu matanya tertuju pada mata biru yang indah yang mampu menghipnotis semua orang milik pita tampan di samping Kaisar Shen Holling.
~♡♡♡~
~☆The Story Oh Han Aruna_25☆~
Terima kasih sudah mampir •○(♡;♡)○•
Jangan lupa like, Vote, Komen, Favoritkan dan bantu Share