
Mata lelah Han Aruna kembali terbuka setelah sebuah tangan yang hangat melingkar di pinggangnya yang ramping disertai dengan deru napas hangat di belakang telinganya. Aura yang familiar, aroma yang familiar. Tanpa menengok ke belakang, Han Aruna sudah pasti mengetahui siapa yang ada di belakangnya.
"Baru berapa lama kita tidak bertemu dan seseorang sudah berani datang melamarmu hem?" Suara magnetis itu mengalir begitu saja dan menembus ke dalam hatinya. Membuatnya bergetar dan perasaan bersalah seperti seorang istri yang ketahuan selingkuh oleh suaminya pun muncul.
"Apa maksud Yang Mulia? Begitu datang langsung menyemburkan omong kosong begitu saja." Han Aruna kesal entah kenapa. Ia seperti dituduh tanpa alasan.
"Bukankah tadi siang selir Ye baru saja melamarmu untuk kakakmu? Bagaimana rasanya dilamar untuk kakak sendiri?" Han Aruna hampir melototkan matanya karena terkejut. Sejak kapan pria ini tahu?
Ah! Tetapi dia memang Yang Mulia Putra Mahkota yang bisa melakukan apa saja. Mencari tahu latar belakang masa lalunya pasti tidak akan sulit baginya.
"Kalau Yang Mulia tahu kenapa Yang Mulia masih marah?"
"Tentu saja aku marah. Calon istriku dilamar laki-laki lain. Mana bisa aku diam saja."
"Siapa calon istrimu?"
"Tentu saja kamu. Siapa lagi yang bisa menjadi istriku selain kamu. Hem?" Shen Su Huan yang gemas menggigit cuping telinga Han Aruna.
"Hentikan tindakan mesum Yang Mulia atau aku akan tendang Yang Mulia keluar sekarang." Han Aruna meronta
"Tidak tidak. Biarkan begini sebentar lagi. Kita sudah lama tidak bertemu. Aku memberi kamu waktu untuk menyiapkan hati untuk pernikahan kita. Tidak tahunya begitu aku kembali kamu menjadi sangat nakal." Setelah kejadian malam itu, Shen Su Huan pergi keluar dari kerajaan Bei untuk mengurus sesuatu. Baru sore ini ia kembali dan malah mendapat laporan dari penjaga rahasianya yang ia beri tugas untuk menjaga Han Aruna dalam kegelapan bahwa pagi tadi Han Aruna mengunjungi kediaman jenderal Jang.
Tiket yang dijanjikan oleh Han Aruna telah dikirimkan ke kediaman jenderal Jang keesokan harinya. Lalu sehari setelahnya Selir Ye datang untuk memberikan undangan minum teh. Han Aruna awalnya enggan untuk datang. Lagipula ia telah berniat untuk mengubur masa lalunya dan tidak akan lagi terlibat setelah ia meninggalkan kediaman yang telah membenarkannya hingga ia berusia delapan tahun, sepuluh tahun yang lalu.
Tetapi ia baru saja mendengar kabar bahwa kakaknya baru saja terluka saat diperjalanan kembali ke akademinya. Ia hanya datang untuk memastikan keadaannya. Bagaimanapun mereka berada adalah saudara kandung yang memiliki ayah dan ibu yang sama. Jadi dia masih memiliki rasa kasih sayang pada kakak kandungnya bagaimanapun keadaan mereka saat ini. Jadi dia datang tiga hari setelahnya.
Saat ia datang ke kediaman Jenderal Jang, sedikit emosi menyelusup masuk ke dalam hatinya. Di dalam kediaman inilah ia menghabiskan delapan tahun hidupnya meskipun sebagian yang dapat diingatnya hanyalah kenangan buruknya yang diperlakukan tidak adil oleh Selir Ye dan kedua putri yang dibawanya.
Namun demi mengetahui keadaan kakak kandungnya, Han Aruna meyakinkan hati untuk tetap bertahan.
"Selamat datang nona besar Han. Nyonya sudah menunggu anda di dalam." Mendengar pelayan memanggil Selir Ye dengan nyonya,membuat Han Aruna mengangkat alisnya mencibir. Sudah lama sejak ia meninggalkan kediaman ini dan Selir Ye sudah mengambil alih seluruhnya. Tapi apa? Dia sudah melepaskan segalanya. Dia tidak ada hubungannya lagi dengan kediaman Jenderal Jang yang berantakan.
Lagipula, semua maskawin milik ibunya sudah lama tidak ada lagi di kediaman ini. Mereka satu persatu sudah dijual oleh selir Ye, Jang Mue Lan atau Jang Dong He tanpa sepengetahuan ayahnya. Ia juga sudah menyuap bagian perbendaharaan dan telah mengubah semua daftar barang yang dibawa ibunya sebagai maskawin. Namun untungnya ia berhasil mendapatkan kembali sebagian besar barang-barang tersebut dan menyimpannya sebagai kenangan.
Han Aruna mengikuti pelayan masuk ke dalam kediaman. Dari pintu masuk sampai di dalam aula tamu, semuanya sudah berubah dari terakhir kali ia melihatnya. Dulu ibunya sendiri yang menata taman dan juga hiasan di setiap ruangan. Terlihat sederhana namun anggun. Namun saat ini sentuhan itu telah menghilang sepenuhnya dan digantikan dengan kesan glamor yang dibuat-buat.
Ye Shi sudah menunggunya di dalam ruangan. Lengkap dengan set teh yang baru masih mendidih mengepulkan uap panasnya yang menguarkan aroma teh yang menyebar kuat di seluruh Aula.
"Nona Besar Han sudah datang rupanya. Mari silahkan duduk." Selir Ye berdiri dan menyapa Han Aruna saat masuk ke dalam Aula. Selir Ye duduk sendirian di dalam. Jenderal Jang sedang tidak berada di dalam kediaman. Ia datang ke dalam istana untuk melapor. Sedangkan Jang Mue Lan dan Jang Dong He datang tak lama setelah itu.
"Selir Ye mengundang saya sebagai pribadi. Bagaimana mungkin saya tidak datang." Han Aruna membalas dengan santai.
"Nona besar Han memang sangat sopan. Akan sangat beruntung mertua yang mendapatkan menantu seperti Nona Besar Han." Han Aruna menaikkan alisnya. Apakah Selir Ye mengundangnya datang dengan maksud untuk menjodohkannya dengan kakaknya sendiri? Begitu konyol.
"Kenapa kamu tersenyum seperti itu? Apa kamu begitu senang?" Ucap Shen Su Huan yang melihat Han Aruna yang tanpa sadar tersenyum mengingat kebodohan Selir ayahnya.
"Kakakmu beruntung dilahirkan menjadi seorang laki-laki dibandingkan denganmu. Apalagi Selir Ye tidak memiliki anak dengan jenderal Jang. Membuat Kakakmu menjadi satu-satunya calon kepala keluarga. Selir Ye tidak akan berani bertindak padanya seberapa beraninya dia. Jadi jangan khawatirkan Kakakmu. Jangan pikirkan dia lagi." Shen Su Huan mengeratkan pelukannya. Mendengar Han Aruna membicarakan pria lain di depannya membuatnya tidak nyaman.
"Ini Bukanlah urusan Yang Mulia. Sekarang bisakah anda melepaskan saya?"
"Tidak. Jika aku melepaskanmu, entah apa yang akan kamu lakukan untuk membuatku pergi."
"Jika tidak melepaskanku sekarang aku akan teriak agar semua orang tahu kalau putra mahkota yang mereka banggakan ternyata tidak lebih dari seorang pria mesum."
"Hahahaha. Aku mau lihat apakah kamu berani." Shen Su Huan menjawab dengan santai saat ia menarik tubuhnya menjadi jadi setengah berbaring.
Han Aruna jelas saja tidak akan berani melakukan itu. Jika dia berteriak, mengingat ibunya yang bersemangat untuk menikahkannya, tidak diragukan lagi bahwa kemungkinan besar ia sudah akan menjadi istri seseorang keesokan harinya.
"Kenapa?" Shen Su Huan memainkan rambut Han Aruna.
"Kenapa anda suka sekali menerobos masuk ke dalam kamar seorang gadis? Apakah ini memang kebiasaan anda sebagai putra mahkota?"
"Tentu saja tidak. Aku hanya datang ke kamarmu saja. Baik saat ini atau di masa depan. Apa kamu puas?" Shen Su Huan bertanya dengan ambigu.
"Siapa yang mau anda datang? Aku tidak ma..emp." bibir Han Aruna belum selesai mengucapkan kata-katanya saat bibirnya dibungkam paksa oleh Shen Su Huan. Baru setelah beberapa lama, Shen Su Huan baru melepaskannya dengan ekspresi puas di wajahnya. Ia memang sudah sejak awal datang ingin sekali mencium bibir tipis yang menggoda itu. Tetapi jika dia menciumnya tanpa alasan, dia pasti akan marah. Saat ini ia memiliki alasan yang kuat, jadi Han Aruna tidak akan menyalahkannya.
"Dasar mesum! Kenapa selalu selalu saja menciumku begitu saja?"
"Aku sudah pernah bilang kamu tidak boleh berkata bahwa kamu tidak mau menikah denganku dan akan menciummu jika kamu melakukannya."
"Apa yang Mulia masih memiliki urat malu?"
"Urat maluku tidak dibutuhkan di depanmu."
"Huh." Han Aruna kesal. Setiap kali berdebat dengan Shen Su Huan, ia selalu saja tidak pernah menang.
"Aku datang kesini untuk memberitahukan bahwa tiga hari lagi, aku akan datang malamarmu. Aku ingin tahu apa yang kamu minta sebagai maskawin nanti?"
Han Aruna memelototkan matanya. Kapan dia setuju menikah dengannya?
~♡♡♡~
~☆The Story Of Han Aruna_57☆~
Terima kasih sudah mampir •○(♡;♡)○•
Jangan lupa like, Vote, Komen, Favoritkan dan bantu Share