
Shen Su Huan dan Han Aruna juga tidak menunggu Arnold keluar dari penjara. Itu Karena kaisar Shen Holling mendengar kedatangan Han Aruna ke Istana. Untuk bantuan di gudang perbatasan, Kaisar belum bertemu dengan Han Aruna untuk berterima kasih secara langsung. Dan Shen Su Huan tentu saja akan dengan suka rela dan sedikit memaksa untuk mengantar.
"Bukankah aku sudah bilang tidak perlu mengantarkanku? Aku juga bukanya anak kecil." Saat bersama Shen Su Huan, Han Aruna selalu kehilangan ketenangannya.
"Aku tahu. Hanya saja kamu belum pernah datang ke ruang kerja Kaisar. Jangan sampai kami tersesat di istana yang luas ini." Shen Su Huan menjawab dengan tenang.
"Di dalam Istana yang luas ini juga tidak hanya ada aku seorang. Selalu ada pelayan atau kasim di setiap sudutnya. Aku bisa bertanya pada mereka."
"Tapi aku tetap ingin menemanimu."
"Tapi aku tidak mau."
Jei yang tidak pernah melihat nonanya kehilangan tketenangan seperti saat ini mengangkat alisnya. Stelah melihat interaksi kedua orang yang ada di depannya, ia seperti melihat dua anak kecil ya harus sedang memperebutkan barang yang sepele.
"Apakah menjadi seorang putra Mahkota sangat menganggur dan tidak memiliki pekerjaan? Aku tidak akan mengganggu yang Mulia pangeran lagi." Han Aruna tidak sabar untuk segera mengusir Shen Su Huan menjauh darinya. Berada di dekat Shen Su Huan tidak baik utk jantung dan hati. Selalu membuat orang emosi.
"Aku memiliki banyak anak buah yang kompeten. Apa gunanya mereka jika aku masih harus bekerja keras untuk mengatasi hal yang sepele."
"Huuh!" Hun Aruna mendengus.
"Sebenarnya aku membutuhkan bantuanmu." Melihat Han Aruna yang mulai mengabaikannya, Shen Su Huan segera mengalihkan pembicaraan. Apalagi ia memang ingin membicarakan hal ini dengan Han Aruna.
"Aku sudah berhenti menjadi orang baik yang menolong orang yang menyebalkan seperti seseorang."
"Hahahaha. Apa maksudmu aku menyebalkan?" Shen Su Huan tidak bisa tidak tertawa. Suara dering tawanya yang menyebar di sepanjang jalan yang membelah taman menuju ruang belajar membuat semua orang di sekitar memandang ke arah mereka.
"Tidak tahu." Han Aruna sudah kesal sejak awal dan gagal memperhatikan ekspresi terkejut semua orang yang melihat Shen Su Huan tertawa begitu lepas.
"Kalau kamu sudah berhenti menolong orang, bagaimana dengan berbisnis? Kamu tidak akan bilang jika kamu juga sudah berhenti berbisnis kan?"
"Sebenarnya apa yang anda inginkan? Jangan bertele-tele."
"Baiklah. Sebenarnya aku ingin tahu apakah kamu pernah mendengar kabar dimana aku bisa mendapatkan air suci surgawi." Han Aruna berhenti saat mendengar pertanyaan Shen Su Huan tentang air suci surgawi.
"Air itu sangat sulit didapat. Untuk apa anda membutuhkannya?" Meskipun di dalam ruang dimensinya ada air suci surgawi yang tidak ada habisnya yang bahkan memiliki kualitas terbaik, dia tidak bisa dengan mudah memberikannya pada Shen Su Huan. Apalagi memberitahunya bahwa ia punya banyak. Ia harus mencari tahu betul untuk apa air itu digunakan.
"Untuk obat. Bahan utamanya adalah air suci surgawi. Aku harus mendapatkan air suci surgawi tahun ini, jika tidak orang itu akan segera tiada. Karena itulah aku sangat membutuhkannya." Shen Su Huan menggerakkan giginya saat ia berbicara. Sangat jelas bahwa orang yang dibicarakan sangat penting baginya.
"Kamu tidak harus mendapatkannya. Kamu hanya perlu memberitahukan padaku dimana aku bisa mendapatkannya atau dimana aku bisa membelinya." Lanjut Shen Su Huan.
"Baiklah. Aku akan segera memberitahumu jika aku mendapatkan informasi itu. Tapi kamu tahu sendiri bahwa air suci surgawi tidak mudah didapat. Seseorang yang memiliki nya sekalipun akan sangat sayang untuk mengkonsumsinya. Apalagi menjualnya. Oleh karena itu dengan jarang ada orang yang mengakui bahwa ia memikikinya. Aku takut jika itu hanya bisa didapat sendiri dari sumbernya.
"Tidak masalah. Kemanapun dan bagaimanapun aku harus mendapatkannya sesegera mungkin."
Han Aruna hanya diam. Dia memikirkan siapa kira-kira orang yang penting itu, yang mampu membuat Shen Su Huan sepertinya rela melakukan apapun untuknya.
Selanjutnya sepanjang sisa perjalanan mereka berdua hanya diam. Larut dalam pikiran mereka masing-masing yang rumit. Han Aruna larut dalam pikirannya sehingga ia tidak sadar bahwa ruang dimensi Mandala telah diblokir sepihak oleh Xiao Huang.
"Apa ada buah apel yang lebih besar dari ini?" Mata bulat Xiao Qiu bersinar bahagia. Ia memandang Pohon apel dengan buah yang bertaburan di depannya dengan teliti.
"Bisakah kamu lebih serius? Apa Yang ada di otakku apa makanan saja?"
"Kenapa? Hehehe, Apa kamu mau aku berbagi makanan denganmu meskipun di dalam pikiran?"
"Seriuslah. Aku berbicara tentang aura pria itu tadi. Apa kamu melihatnya?"
"Tentu saja. Aku buta jika aku tidak melihatnya. Auranya sangat kuat dan berbahaya. Jika kita tidak berada di dalam ruang dimensi Mandala mungkin kita sudah dipaksa untuk berlutut."
"Jadi memang benar." Xiao Huang menganggukkan kepalanya setelah mengkonfirmasi. "Apa menurutmu dia orang yang sama dengan orang itu?" Lanjutnya. Setiap ia mengingat orang itu, ia akan menggigil ketakutan. Saat ini bulu kuningnya menjadi suram.
"Aku rasa bukan. Aura orang itu berwarna petir ungu. Dan meskipun kita berada di dalam ruang dimensi mandala kita masih akan tertekan. Aku rasa itu bukan dia."
"Kalau begitu kita harus mengingatkan nona untuk menjauh. Jangan sampai jika orang itu datang dan melihat kita membiarkan pria lain menggoda istrinya, kita tidak akan selamat meskipun nona menyayangi kita."
Shen Su Huan dan Han Aruna sudah sampai di depan ruang kerja Kaisar tanpa terasa. Kasim Lin tersenyum melihat keduanya datang bersama. Sepertinya keinginan Kaisar untuk menjodohkan mereka akan berjalan lancar.
"Hormat kepala Yang Mulia Putra Mahkota. Hormat kepada Nona besar Han." Kasim segera menyambut keduanya dengan senyum ramah. Han Aruna tersenyum seperti biasa.
"Apa kaisar ada di dalam?"
"Benar Yang Mulia. Yang Mulia Kaisar telah menunggu nona Han dan Yang Mulia Di dalam." Kasim menganggukkan kepalanya. Lalu pergi melapor bahwa Han Aruna dan Shen Su Huan datang.
"Silahkan masuk. Kaisar sudah menunggu anda berdua di dalam." Ucap Kasim Lin sambil membukakan pintu ruangan untuk Shen Su Huan dan Han Aruna.
Ruang kerja Kaisar sangat rapi dan bersih. Aroma dupa aroma terapi bercampur dengan aroma samar cendana terasa lembut saat dihirup. Di dalam istana, dibandingkan dengan berada di kamarnya, Kaisar lebih sering berada di ruang kerja. Jadi ruang kerja Kaisar selalu mendapatkan perhatian lebih dalam hal kenyamanan. Dengan aroma yang begitu lembut dan menenangkan akan membuat Kaisar nyaman berada di dalam ruang kerjanya untuk menangani semua dokumen yang selalu datang untuk diperiksa.
"Hormat kami kepada Yang Mulia Kaisar." Shen Su Huan dan Han Aruna memberi salam secara bersamaan.
"Ah kalian! Bangunlah. Tidak perlu terlalu formal dengan Zhen. Datang dan duduk di sini. Zhen memiliki hal penting untuk dibicarakan dengan kalian berdua."
'Bukankah tadi hanya memanggilku? Kenapa jadi ingin berbicara dengan kami?'
Yang Han Aruna tidak mengerti adalah saat kasim Lin mengabarkan kedatangannya yang datang bersama dengan Shen Su Huan, niat awal Kaisar sudah berubah seratus delapan puluh derajat.
~♡♡♡~
~☆The Story Of Han Aruna_53☆~
Terima kasih sudah mampir •○(♡;♡)○•
Jangan lupa like, Vote, Komen, Favoritkan dan bantu Share