
Singa besar itu menggeram marah. Cakarnya menembus tanah di bawah kakinya. Taringnya yang tajam terbuka. Terlihat runcing dan tajam. Surai lebat di lehernya berkibar dengan indah. Namun terlihat menakutkan. Singa itu adalah singa spiritualitas tingkat atas. Ukuran tubuhnya juga lebih besar dari singa pada umumnya. Corak bulunya lebih gelap. Dengan kulit yang lebih tebal. Ekornya memiliki duri yang tumbuh di ujungnya. Bukan bulu seperti singa lainnya.
Saat singa itu mendengus, uap panas keluar dari hidungnya. Uap itu berwarna hitam yang menakutkan. Suaranya yang dalam menggetarkan hati. Membuat takut siapapun yang mendengarnya.
Saat ini singa itu dikepung oleh empat orang dengan basis kultivasi yang cukup tinggi. Dengan kemampuan Han Aruna, membunuh singa itu sebenarnya adalah masalah kecil. Selain kultivasinya yang tinggi, di lengan bajunya ia memiliki banyak trik dan senjata tersembunyi yang mematikan. Tetapi dia tidak melakukannya dengan pertimbangan bahwa singa itu sedan dalam keadaan dikendalikan oleh orang lain. Dan penting bagi Han Aruna untuk mengetahui siapa pelaku yang telah membahayakan dirinya.
Karena rencana mengepung gagal, Han Aruna membuat rencana lain. Ia menjauh dari pertarungan. Terbang ke atas pohon dengan santai sambil mengirim isyarat pada anak buahnya untuk tetap melakukan sesuai rencana awal mereka.
Melihat Han Aruna yang terbang menjauh, pengawas mundur dua langkah. Bersiap menekan peluncur sinyal di tangannya. Dia tidak mau mati konyol di tempat ini. Tapi sebelum ia dapat menekan pemantik sinyal, rasa nyeri di tangannya membuatnya melemparkan alat peluncur sinyal jatuh ke atas tanah. Seketika dia hendak mengambil alat itu lagi, tetapi pukulan kerikil lain dengan keras jatuh dan meledak tepat di depannya. Melihat arah datangnya kerikil, ia menggigil melihat mata marah Han Aruna yang penuh dengan ancaman. Seakan memperingatkannya untuk tidak mengambil alat peluncur.
Kaki pengawas lemas seperti jeli saat ia menyadari ia tidak bisa melakukan apa-apa. Ingin melawan ia pun tidak bisa. Singa mengamuk dengan ganas di satu sisi dan mata mendominasi Han Aruna di sisi lainya. Ini yang dinamakan maju dan mundur tidak ada jalan keluar.
Melihat betapa takutnya pengawas di bawah tatapannya, Han Aruna hanya bisa mengabaikannya dan kembali fokus pada pertarungan di bawah. Singa itu terus menyerang sedangkan anak buahnya terus bertahan dan mengelak. Han Aruna memberi isyarat melalui matanya agar anak buahnya ganti menyerang. Kali ini mereka menyerang silih berganti. Singa itu kualahan. Anak buah Han Aruna tidak memberinya waktu untuk berhenti bergerak. Ia terus berputar satu demi satu.
Rencana berhasil. Han Aruna segera melihat ada peluang. Dengan ringan ia terbang dan mendarat di atas punggung sungai yang besar. Menyadari ada yang mendarat di atas punggungnya, singa bergerak dengan acak. Mencoba menjatuhkan Han Aruna dengan gerakannya yang keras.
Han Aruna tidak membuang waktu. Ia segera mencari susuk kristal yang digunakan sebagai alat untuk membuat boneka makhluk. Dan kristal kecil seukuran biji kedelai ia keluarkan dari tulang punggung singa itu. Setelah kristal itu dicabut, singa besar itu pun tumbang dan...mati!
"Sial! Aku harus bagaimana dia bisa tahu?!" Di tempat yang agak jauh, seseorang laki-laki paruh baya berjubah hitam mengumpat kesal saat melihat boneka singanya telah diketahui. Ia segera melompat dan bersiap pergi.
Dia adalah salah satu tertua dari sekte hitam Devil Dolls. Yang berspesialisasi dalam merubah binatang atau manusia menjadi bonekanya dengan teknik terlarang. Semakin tinggi gigi basis kultivasi makhluk yang akan dijadikan boneka, semakin tinggi pula kristal yang harus digunakan.
Satu bulan yang lalu sekte mendapatkan klien orang besar yang meminta mereka membuat banyak boneka dari binatang spiritual saat lomba berburu. Entah dengan tujuan apa mereka juga tidak mengetahuinya. Dengan imbalan yang sangat besar. Bahkan kristal juga berasal dari klien. Tentu saja mereka dengan senang hati menerimanya.
Dia dan murid-muridnya menyebar di sepanjang jalur perburuan. Sebumumnya bertemu dengan Han Aruna, singanya juga bertemu dengan beberapa orang dan pergi setelah membuat kekacauan. Namun dia bertemu dengan orang yang salah kali ini. Sepertinya gadis yang terlihat biasa itu tidak sesederhana seperti kelihatannya. Dia bahkan bisa menebak dan mengetahui triknya.
Memikirkannya, ia bersiap untuk kabur.
"Mau pergi kemana?" Laki-laki itu menoleh dan melihat gadis yang berdiri angkuh melihat kedua tangannya.
"Siapa kamu sebenarnya?" Laki-laki itu berdiri. Menatap Han Aruna dengan tenang.
"Sepertinya pertanyaan itu aku yang harus mengucapkannya. Siapa kamu? Kenapa kamu mengacaukan lomba berburu kerajaan?" Han Aruna menyipitkan matanya.
"Bukan urusanmu. Aku beritahu kamu, aku adalah wakil sekte Devil Dolls. Aku sarankan kamu untuk tidak berbuat di luar batas. Atau kalau tidak seluruh sekteku akan mengejarmu dan menjadikanmu sebagai salah satu boneka kami." Laki-laki itu mengancam. Pada dasarnya mereka tidak memiliki basis kultivasi yang tinggi karena untuk membuat boneka, mereka harus menggunakan Qi yang mereka butuhkan untuk berkultivasi. Jadi mereka pada tidak akan bisa menang bertanding satu lawan satu.
"Ooh.... kalau aku tidak mau?"
"Pilihan yang salah." Laki-laki itu menyeringai. Mengangkat kedua tangannya di udara. Mulutnya merapalkan mantra yang tidak jelas.
"Akhirnya kamu bangun. Apa sudah sadar kalau kamu memiliki tuan yang harus kamu patuhi?" Han Aruna mencibir.
"Nona, pangeran ini masih kecil. Masih dalam masa pertumbuhan. Jika aku kurang tidur dan lalai dalam kultivasi, bagaimana aku bisa tumbuh segera dan menjadi Phoenik sejati?" Suara anak kecil malas itu terdengar menjengkelkan. Selalu saja membuat masa pertumbuhan sebagai alasan.
Memang, menurut usia Phoenik pada umumnya, usianya yang kini seratus dua puluh tahun masih tergolong anak-anak. Bahkan bisa dikategorikan dalam kumpulan bayi. Tapi tetap saja lama hidupnya yang sudah seratus tahun lebih sudah tidak pantas disebut bayi.
"Nona. Sebaiknya kita menghindar dulu. Laki-laki ini sedang bersiap dengan trik terlarang untuk memanggil binatang Spiritual di sekitar."
"Apa kamu yakin?"
"Ya. Pangeran ini pernah melihatnya sebelumnya. Pangeran ini juga hampir saja menjadi salah satu boneka. Untung saja Pangeran ini hebat dan mengelak tepat waktu sehingga terbebas dari bencana. Kamu sebaiknya berhati-hati. Aku merasakan cukup banyak aura binatang tingkat tinggi di sekitar. Jika semuanya datang ke sini...ck ck ck." Phoenik kecil menggelengkan kepalanya yang berbulu. Paruhnya terbuka dan tertutup.
"Mungkin sekarang ini sudah terlambat." Mata Han Aruna tajam mengawasi setiap gerakan laki-laki itu. Telinganya juga memperhatikan setiap gerakan di sekitar.
"Ggrrh....ggrrhh." geraman terdengar dari samping sebelum seekor beruang besar menerkam dengan cakar dan gigi taring yang terbuka.
Han Aruna sudah lama bersiap untuk serangan. Tapi melihat beruang besar yang tingginya dua kali tinggi laki-laki dewasa berbulu hitam pekat berdiri menyerang di depannya ia masih sedikit terkejut. Lagipula binatang dengan tingkat tinggi level atas seperti itu seharusnya tidak tinggal di hutan ini. Pasti seseorang sengaja membawanya ke sana.
Pedang Dark Night ditarik dari sarungnya. Pedang ini adalah pedang biasa sehingga Han Aruna harus menyelimutinya dengan aura spiritual untuk bisa digunakan untuk melawan beruang besar itu.
Melihat pedang tajam di depannya beruang itu menggerakkan marah. Memukul dadanya berteriak sebelum berlari menyerang gadis lembut di depannya.
Tidak membuang waktu untuk bermain, dengan gerakan lincah tebasan di arahkan ke arah beruang. Namun serangan itu hanya menggores pinggang besar beruang itu. Darah hitam mengalir keluar. Menodai tanah yang bahkan lebih pudar dari darah beruang.
Beruang semakin marah. Ia mengumpulkan energi spiritualit di sekitar. Menembak Han Aruna dengan bola api besar yang tebang dengan cepat. Han Aruna bergerak ke samping. Bola api menabrak pohon besar di belakangnya. Jatuh dan terbakar. Beruang itu memulai serangannya. Tapi Han Aruna tentu saja tidak membiarkannya. Ia segera maju dan menyerang. Pedang Dark Night sudah diliputi energi Spiritual yang besar. Berlari dengan gerakan yang aneh yang membuat beruang itu kebingungan dan tidak sadar bahwa perutnya sudah terkoyak.
Tubuh beruang ambruk ke tanah dan menghasilkan bunyi gedebum yang besar.
Laki-laki berjubah hitam itu menatap tidak percaya. Beruang besar itu seharusnya sudah cukup untuk melawan gadis kecil. Dia sudah menghabiskan sebagian besar energinya untuk memanggil binatang sebesar itu. Merasa frustasi, laki-laki itu kembali memanggil binatang lain. Yang lebih kuat hingga membuatnya mengeluarkan semua energinya.
...~♡♡♡~...
...~☆The Story Oh Han Aruna_30☆~...
Terima kasih sudah mampir •○(♡;♡)○•
Jangan lupa like, Vote, Komen, Favoritkan dan bantu Share