
Hari ini awalnya akan diadakan perjamuan di taman istana. Yang merupakan puncak dari acara perjamuan bunga. Dan setelah itu para peserta bisa kembali ke rumah mereka. Tetapi karena kejadian kemarin, hampir semua peserta mengalami cidera, acara praktis ditunda menjadi malam hari nanti. Memberi waktu untuk para peserta yang kebanyakan tuan dan nona muda untuk mengistirahatkan diri dan juga memulihkan kondisi mereka.
Tang Lin Hua, juga mengalami nasib sial kemarin. Setelah ia berhasil mendapatkan harimau spiritual itu, ia juga bertemu dengan beruang Spiritual tingkat tinggi yang menyerang kelompok mereka. Meskipun sempat meminta tolong dengan menyalakan sinyal bantuan, mereka masih mengalami luka ketika mereka berusaha melawan sebelum akhirnya tim bantuan dari istana datang dan berhasil mengusir pergi beruang besar itu.
Tetapi bantuan datang agak telat. Dua penjaga yang dibawa Tang Lin Hua terluka parah dan tidak dapat diselamatkan. Tang Lin Hua sendiri juga mengalami luka di bagian tangan kirinya yang terkena cakaran beruang tersebut. Namun ia beruntung karena luka itu tidak terlalu parah dan masih bisa sembuh total setelah meminum pil penyembuhan tingkat tinggi.
"Aish. Dasar pelayan bodoh! Tidak bisakah kamu melakukannya dengan benar!" Tang Lin Hua menampar pelayannya dengan tangan kanannya yang tidak terluka. Untuk luka dalamnya, dia sudah memakan pil penyembuh. Tetapi untuk luka luar, jika tidak diobati dengan seksama akan meninggalkan bekas luka di masa depan. Jadi masih harus mengandalkan dengan mengoleskan salep. Tapi pelayan itu tidak sengaja menekan dengan berlebihan hingga membuat Tang Lin Hua merasakan sakit yang menyengat.
Pelayan itu mendarat dengan tragis di lantai. Keningnya tidak sengaja menabrak tepian meja dan goresan cukup dalam membuatnya mengeluarkan darah.
"Maafkan hamba nona tertua. Hamba mengaku salah." Pelayan yang ketakutan mengabaikan lukanya dan bersujud meminta ampun. Menakutkan Keningnya yang terluka di lantai. Darah yang sudah keluar selain deras keluar. Menciptakan genangan merah di lantai dan bau amis menyebar di ruangan.
Bukannya merasa kasihan, Tang Lin Hua justru berdiri dan menendangnya. Pelayan lain yang menunggu di samping tidak berbuat apa-apa. Mereka semua sudah mengetahui temperamen nona mereka yang keras kepala dan kejam. Jika mereka membantunya, bukannya membantu malah akan semakin parah. Dan bahkan mereka juga akan terkena imbasnya.
"Menjijikkan! Enyah! Jangan pernah muncul lagi di hadapanku!" Teriak Tang Lin Hua dengan marah. Pelayan yang masih terus memukulkan Keningnya di lantai masih belum beranjak. Pelayan yang lain segera menghampiri dan membawanya pergi. Menyelamatkannya dari kemarahan yang lebih lanjut. Mereka beruntung saat ini berada di dalam istana, jika tidak, dengan temperamen buruk nonanya, Nona mereka tidak akan segan membunuh jika merasa tidak suka. Namun mereka belum melangkah lebih dari dua langkah, suara lain memecah ketegangan di dalam ruangan.
"Prok Prok Prok Prok Prok." Suara tepuk tangan tunggal menggema di disampaikan ruangan. Disertai dengan suara langkah kaki yang semakin mendekat. Tang Lin Hua terkejut. Seketika menoleh dan melihat bahwa orang yang muncul pada detik berikutnya adalah Shen Ji Chen yang berjalan dengan tatapan tajam mengarah padanya. Di belakangnya, Shen Bi Yun yang bertepuk tangan memiliki wajah yang menakutkan meskipun senyum tergantung di bibir tipisnya.
"Salam Pangeran ke Empat. Pangeran ke Enam." Tang Lin Hua memberi hormat. Begitu juga dengan pelayan dia para penjaga di dalam ruangan. Ia melirik agar pelayan yang terluka segera dibawa masuk.
"Awalnya kami ingin mengunjungi Nona Tang yang terluka pada perburuan kemarin. Tidak sangat melihat pertunjukan yang menarik." Shen Bi Yun melirik pelayan yang dibawa pergi. Darah di lantai belum sempat dibersihkan. Sehingga membuat semua orang yang baru datang akan dengan mudah mengetahui seberapa parah luka pelayan kecil yang baru saja dibawa masuk.
Shen Bi Yun tidak menghalangi pelayan untuk membawa pergi teman mereka. Takutnya, jika pelayan itu tidak segera dibawa masuk dan diobati, pelayan itu akan mati karena kehabisan darah.
"Oh sepertinya Pangeran Ke enam salah sangka. Mari silahkan duduk. Saya akan menjamu kedua pangeran dengan baik selagi menjelaskan kesalahan pahaman ini." Tang Lin Hua menyadari tatapan suram Shen Bi Yun saat melihat genangan darah di lantai. Dia harus segera menjelaskan dirinya.
"Oh...jadi aku hanya salah sangka saja.?" Suara Shen Bi Yun rendah dan malas. Menatap Tang Lin Hua dengan santai saat ia dan Shen Ji Chen duduk.
"Pelayan itu tidak sengaja jatuh dan membenturkan kepalanya di pinggir meja. Membuat meja ternodai darah. Pelayan itu takut dan tanpa diduga langsung memukulkan kepalanya di lantai. Saya sudah melarangnya. Tetapi mungkin karena dia takut, dia jadi tidak mau mendengarkan saya." Tang Lin Hua membuat kebohongan tanpa berkedip. Ekspresinya tenang dan alami. Dia menuangkan teh dengan sangat tenang seperti seseorang yang baru saja menampar pelayan dengan emosi yang meledak-ledak tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Semua yang ada di ruangan adalah orang-orangnya. Tidak peduli apa, mereka masih bisa berpikir untuk berbicara pada pihak mana mereka berdiri. Tentu saja mereka tidak akan membocorkan apa yang terjadi di ruangan itu sebenarnya.
"Oh jadi hanya salah paham?" Shen Bi Yun mencibir. Ia melirik Tang Lin Hua dengan mencela.
"Ya. Seperti itulah Pangeran Ke Enam." Tang Lin Hua tersenyum dengan lembut. Menyesap tehnya sendiri dengan anggun.
"Ya ya ya. Jadi, apakah ini juga salah paham Nona Tang?"
Ekspresi Tang Lin Hua yang tenang akhirnya runtuh setelah melihat sebuah surat permohonan kasus yang diletakkan di atas meja dengan santai oleh Shen Bi Yun.
Tang Lin Hua sangat mengenali surat itu. Sebab ia sendiri yang menulis surat permohonan untuk memesan beberapa orang preman untuk membantunya memasang jebakan di dalam hutan. Namun mengingat bahwa saat dia menulis surat itu dia tidak menggunakan gaya tulisan yang biasanya ia gunakan, dengan cepat ia kembali mendapatkan ketenangannya.
"Apa ini Pangeran Ke Enam? Saya benar-benar tidak mengerti."
"Tidak Pangeran. Apa itu sebenarnya?"
"Ini adalah surat perintah yang kami dapatkan dari para preman yang ecah masang jebakan di dalam hutan. Mereka berkata bahwa semua ini perintah dari anda. Jadi ibu bukan?" Shen Bi Yun menggosok digunakan sambil menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja tidak Pangeran. Saya tidak pernah menghubungi preman manapun. Apalagi memerintahkan mereka untuk membuat jebakan. Seseorang pasti sengaja melakukannya dan mengarahkan semuanya pada saya. Iya. Pasti seperti itu. Pangeran Ke Enam, karena ini menyangkut nama baik saya, saya mohon untuk membantu saya mencari keadilan. Saya tidak bisa membiarkan orang yang memiliki niat jahat lolos begitu saja."
"Nona Tang benar. Bagaimanapun caranya oenjahat itu akan dapat ditemukan cepat atau lambat." Shen Bi Yun melirik Shen Ji Chen yang sejak awal duduk mendengarkan saudaranya membun membuang waktu.
"Kakak ke empat, surat ini ternyata bukan berasal dari Nona Tang. Jadi kita masih harus mencari bukti lain." Shen Bi Yun mengerucutkan bibirnya tidak suka. Matanya redup. Tapi itu hanya sementara detik berikutnya, matanya kembali bersinar. "Oh ya. Bukankah kamu tadi bilang kalau ada yang lain?" Ekspresi tenang Tang Lin Hua yang degan susah payah ia jaga kembali runtuh. Ia meremas sapu tangannya di balik lengan bajunya.
"Tentu. Ada bukti lain yang aku miliki." Shen Ji Chen mengeluarkan giok hijau yang familiar dari balik hanfunya dan meletakkannya di atas surat yang lebih dulu diletakkan. "Aku menemukan giok ini pada saat satu preman. Mereka mengatakan bahwa mereka mendapatkan ini ada anda, nona Tang. Jadi bagaimana dengan ini?"
"Ini.... memang punya saya. Tapi giok ini sudah hilang beberapa hari yang lalu. Jadi pasti seseorang sengaja menargetkan saya dan telah membuat semuanya seperti saya yang salah."
"Nona Tang. Kedua bukti ini seharusnya sudah cukup membuat anda menyerah. Tapi ternyata, ck ck ck." Shen Bi Yun menggelengkan kepalanya. Menatap Tang Lin Hua dengan tajam.
"Tapi tenang saja. Kami masih memiliki bukti yang lain untuk membongkar perilaku Nona Tang. Tapi tidak sekarang. Kami akan mengangkat kasus ini di pengadilan negara." Ucap Shen Bi Yun serius.
"Pangeran Ke Enam, mohon jangan lakukan itu. Saya akan melainkan apapun yang pangeran minta agar tidak membawa ubuntu pada kaisar.'
"Sayangnya Kaisar sudsh tahu."
"Apa?!"
"Ya. Kami kemari juga atas peintah kaisar. Mengingat Menteri Tang sudah banyak berkontribusi pada negara, kami berniat untuk menutupai kasus ini dengan damai. Tetapi tentu saja ada harga yang harus dibayar."
"Apapun itu. Akan saya lakukan."
"Pandai. Kalau begitu, tolong kembalikan Dekrit kosong pada Kaisar. Nona Tang tidak berhak menerimanya."
...~♡♡♡~...
...~☆The Story Of Han Aruna_34☆~...
Terima kasih sudah mampir •○(♡;♡)○•
Jangan lupa like, Vote, Komen, Favoritkan dan bantu Share
Promo lagi ya. Yuk mampir!