
Tanpa terasa sebuah lagi selesai dibawakan dengan lancar oleh Tang Lin Hua. Semua orang bertepuk tangan dengan meriah. Semua orang menikmati lagu yang dibawakan. Kasim Li segera naik untuk mempersilahkan para hadirin untuk memberikan bunga mereka. Tetapi saat beberapa orang mulai melangkah, Tang Lin Hua menghentikan mereka.
"Ada apa nona Tang? Apa anda belum selesai?" Kasim Li bertanya dengan heran.
"Bukan begitu kasim Li. Tetapi saya dari tadi memperhatikan bahwa dari kediaman Han belum Ada yang mewakili. Bahkan juga tidak mendaftarkan diri. Saya hanya berpikir bukankah ini tidak pantas?" Suara Tang Lin Hua sangat halus meskipun kalimat yang dia ucapkan cukup beracun. Membuat orang bingung menentukan sikapnya.
"Ini.... nona Tang. Pertunjukan ini sebenarnya juga bukan suatu keharusan bagi semua kediaman. Jadi tidak masalah jika kediaman Han tidak mengirimkan perwakilannya." Ucap kasim Li dengan jujur. Lomba ini memang tidak wajib diikuti. Sifatnya tidak memaksa dan hanya sebagai hiburan.
"Tapi kasim Li, semua kediaman ikut serta dalam lomba ini. Bukankah ini tidak adil bagi yang lain?" Tang Lin Hua masih bersikeras. Kali ini ia harus berhasil mempermalukan Han Aruna. Dengn provokasinya, semua orang menjadi berbisik-bisik dan menunjuk pada Aruna dengan tatapan menuduh.
"Yang Mulia..." Kasim Li menghadap Kaisar Shen Holing untuk meminta pendapat.
"Seperti yang dikatakan Kasim Li tadi bahwa lomba ini tidaklah wajib. Tetapi jika Nona Han berkenan juga suatu yang baik kan? Bagaimana nona Han?"
Han Aruna yang tiba-tiba diseret dalam arus mengangkat kepalanya. Meletakkan biji kuaci ke daam mangkuk dengan kesal.
"Saya tidak keberatan. Tapi saya adalah seorang pengusaha yang tidak pernah melakukan sesuatu yang tidak ada untungnya." Ucap Han Aruna dengan acuh. Senyum di bibirnya membuat orang merinding secara tiba-tiba.
"Jadi Bagaimana menurut Anda?" Kaisar Shen Holing masih mempertahankan senyumnya. Ia tidak bisa mengusik Han Aruna saat ini atau kontrak kerjasama Yang tinggal selangkah lagi gagal total jika Han Aruna merasa tidak nyaman.
"Nona Tang, bagaimana jika kita bertaruh?" Han Aruna mengalihkan pandangannya pada Tang Lin Hua yang masih berdiri di atas panggung dengan senyum mengejek.
"Ooh. Taruhan seperti apa itu?"
"Saya akan menari. Dan Anda akan mengiringi tarian saya. Jika salah satu dari kita tidak bisa mengikuti. Itu artinya dialah Yang kalah."
"Baik. Jika saya menang Nona Han harus menjadi pelayan saya selama dua hari ke depan. Bagaimana dengan itu?" Tang Lin Hua menatap Han Aruna dengan remeh. Kemampuannya adalah yang terbaik di kekasisaran. Bahkan lebih baik dari putri ke delapan yang diajari di istana. Jadi mana mungkin dia bisa kalah?
"Tidak masalah. Tapi jika nona Tang yang kalah, saya menginginkan Sittar di tangan nona Tang sebagai hadiahnya. Bukankah itu sepadan?"
"Jangan terlalu berlebihan. Sittar ini adalah warisan keluarga. Tidak Mungkin diserahkan dengan mudah." Tang Lin Hua marah hingga otot di wajahnya ikut menegang.
"Bukankah Nona Tang sangat percaya diri pada kemampuannya? Apakah Nona Tang takut akan kalah dariku? Kalau nona Tang tidak berani juga tidak apa-apa. Aku juga tidak akan memaksa." Han Aruna kembali menundukkan kepalanya. Mengangkat cangkir dengan anggun dan menyesapnya dengan nikmat. Berbicara dari tadi membuat tenggorokannya kering.
Melihat betapa acuh nya Han Aruna membuat Tang Lin Hua menggertakkan giginya. Ia mengepalkan tangannya di balik lengan bajunya. "Baiklah kalau begitu. Saya setuju."
Lalu apa? Dia tidak akan kalah dari Han Aruna yang dibesarkan di lautan lepas. Ya. Dia tidak akan kalah. Pikirkan saja jika menang nantinya akan membuat Han Aruna yang sombong itu menjadi pelayannya. Memberitahu pada dunia bahwa dia seratus kali dari Han Aruna.
"Di sini ada banyak saksi. Jadi jangan sampai memilih pilihan yang nanti akan nona Tang sesali." Tang Lin Hua hanya mendengus. Ia mengira bahwa Han Aruna hanya menakutinya saja.
"Yah. Aku serius. Semua orang menjadi saksi."
"Baiklah. Kalau begitu sudah diputuskan." Han Aruna mengangguk dengan tenang. Ekspresinya masih biasa saja. Tetapi matanya jelas memperlihatkan bahwa ia sudah mencapai tujuannya. Membuat Tang Lin Hua secara sukarela menyerahkan Sittar Feiyang padanya!
"Bagus-Bagus. Generasi muda Yang atau bersemangat mengikuti Zhen sangat menyukainya. Zhen juga akan ikut menjadi saksi. Zhen tidak akan membiarkan pihak yang kalah pergi tanpa memberi hadiahnya nanti. Ah hahahaha."
"Yang Mulia, kalau begitu hamba pamit untuk berganti kostum yang sesuai." Han Aruna berdiri dan meminta izin untuk pergi ke aula samping untuk bersiap. Kaisar Shen Holing melambaikan tangannya untuk mempersilakan.
"Yang Mulia,apa menurutmu nona Han memiliki kemampuan menari? Permainan sittar Nona Tang sangat hebat. Jika dia kalah dan menjadi pelayannya...." Shen Bi Yun menggelengkan kepalanya saat ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Yang Mulia, sebaiknya anda hentikan pertarungan ini."
"Kenapa harus mbk? Bukankah kamu seakan tadi ingin melihat kemampuan apa yang dimiliki nona Han?"
Shen Bi Yun membuka mulutnya. Tetapi tidak Ada yang keluar dari mulutnya yang terbuka. Sepertinya memang dia yang sejak tadi menyebutkan bahwa ia ingin melihat penampilan Nona Han.
Sambil menunggu Han Aruna berganti kostum, banyak orang diantaranya mulai membuat taruhan. Tidak ada yang pernah melihat Han Aruna menarik sebelumnya. Jadi pada dasarnya tidak ada yang berdiri di sisinya untuk memasang taruhannya. Hanya ada satu pemuda yang merupakan putra dari salah seorang pejabat tingkat rendah. Liu De Quan.
Liu De Quan terkenal sebagai tuan muda yang ceroboh dan sedikit bodoh. Jadi mereka semua tidak merasa heran saat melihat sisi dimana dia memasang taruhan. Semua Orang bahkan menertawakannya tanpa ampun.
Di saat orang lainnya sibuk memasang taruhan, Shen Su Huan menyesap tehnya dengan tenang. Entah kenapa dia percaya bahwa Han Aruna akan menang dan tidak akan dirugikan. Dia bahkan menantikan rubah kecil yang lucu dan imut itu mendapatkan hasil rampasan nya yang anggun. Wajah bahagia Han Aruna membuatnya ikut larut dalam kebahagiaan.
Dia sudah memerintahkan mencari tahu tentang sittar itu. Dan hasilnya adalah bahwa Sittar warisan keluarga Tang adalah salah satu benda yang dapat menghasilkan energi spiritual jika memainkan nya dengan tepat. Bukan hanya orang yang memainkannya yang dapat menyerap energi itu, tetapi bahkan orang yang mendengarnya pun dapat ikut menyerap energi itu.
Jika seseorang berkultivasi sambil mendengarkan suara sittar Feiyang ini, kecepatannya akan berlipat ganda. Apalagi jika dibantu dengan pil spiritual. Kecepatannya bahkan bisa tiga sampai empat tergantung tingkat pil yang dipakai. Itu artinya, usaha yang dibutuhkan hanyalah separuh dari yang seharusnya dihabiskan.
Shen Su Huan semakin mengagumi Han Aruna yang memiliki penglihatan jeli. Padahal tidak ada energi sedikitpun yang dikeluarkan Sittar Feiyang saat Tang Lin Hua memainkan nya tadi. Melihat antusiasnya Han Aruna, ia menebak bahwa Ia tahu bagaimana cara mengeluarkan energi spiritualnya dari sittar Feiyang.
"Aku tidak sabar menunggu kejutanmu, rubah kecilku." Senyum Shen Su Huan tanpa sadar terangkat. Membuat Shen Bi Yun yang kebetulan melihatnya merinding karena takut.
...~♡♡♡~...
...~☆The Story Oh Han Aruna_22☆~...
Terima kasih sudah mampir •○(♡;♡)○•
Jangan lupa like, Vote, Komen, Favoritkan dan bantu Share