
Han Aruna begitu terkejut saat ia menyadari bahwa dirinya tengah berada di bawah kekuasaan seorang pria yang tidak ia ketahui siapa. Namun anehnya ia merasa bahwa melakukan hal itu sepertinya adalah hal lumrah yang tidak pertama kali ini ia lakukan. Perasaan aneh saat dirinya dihentak dan dijamah terasa sangat aneh namun sekaligus familiar hingga dirinya bahkan tidak memiliki keinginan untuk menghentikan hal memalukan ini. Dan suara-suara yang keluar mulus dari bibirnya yang tetap keluar meskipun ia telah berusaha sebisa mungkin untuk menahannya membuatnya malu. Tapi dia tidak bisa menghentikannya!
"Jangan ditahan sayangku. Semua pelayan sudah aku usir dari sini agar tidak mengganggu kesenangan kita." Suara magnetis yang terdengar tepat di samping telinganya membuatnya merinding.
"Apa kamu masih akan berbincang dengannya di masa depan hem?"
"Tapi dia hanyalah sahabatku." Bibir Han Aruna berbicara tanpa ia minta. Ia juga tidak mengerti apa yang dia ucapkan.
"Tapi dia tidak hanya menganggapmu hanya sahabatnya. Bukankah aku dulu juga hanya sahabatmu?" Pria itu berkata tanpa menghentikan aktivitasnya. Suaranya bahkan tidak terganggu sedikitpun. Napas pria itu juga masih stabil. Sangat berbeda dengan napasnya yang tersengal.
"Tapi kamu berbeda."
"Masih bisa menjawab hem?" Pria itu sepertinya marah dan memperkeras gerakannya. Membuat Han Aruna semakin tidak dapat mengendalikan dirinya. Suaranya meracau tidak jelas. De-sa-han dan e-ra-ngan tidak dapat ia redam.
"Tolong hentikan ini Yuan." Han Aruna tidak menyadari nada manja itu bisa ia ucapkan.
"Apa? Aku tidak mendengarnya sayang."
"Ak...aku tidak akan lagi...ber...berbicara... dengan...nya."
"Mau aku memaafkanmu? Baiklah." Pria itu memperkeras gerakannya yang membuat Han Aruna tidak tahu apa yang terjadi padanya. Tubuhnya sepertinya memberikan reaksi yang asing. Yang membuatnya mencengkeram dan meremas rambut panjang pria itu ketika sesuatu dengan lancar melewatinya.
Ketika sadar, Han Aruna memiliki pipi semerah tomat busuk. Matanya memiliki tatapan tak percaya. Tepat di depan wajahnya, wajah tampan Shen Su Huan memandangnya dengan khawatir dan perasaan bersalah.
"Yang Mulia, apa yang kamu lakukan padaku?" Han Aruna mengingat sebelum ia masuk ke dalam adegan aneh yang tampak nyata itu Shen Su Huan menciumnya seperti biasa. Tetapi ia merasa bahwa ciumannya kali ini memiliki energi spiritual yang memberi perasaan hangat di dalam hatinya dan tanpa sadar ia telah berada pada keadaan yang sangat memalukan itu.
"Maafkan aku Aruna. Aku terlalu terburu-buru."
"Tolong jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Aku yakin Yang Mulia pasti tahu kan?"
"Kamu akan segera mengetahuinya sendiri nanti. Aku bidang saja memberitahumu. Tapi itu tidak akan baik untukmu. Semua ini tidak bisa secara langsung."
"Tapi..."
"Kamu tenang saja." Shen Su Huan kembali memeluk Han Aruna.
Kenangan masa lalu yang dipaksakan hanya akan memberikan kerusakan. Ia ingin Han Aruna siap sebelum mengingat semuanya. Apalagi jika ingatan tentang kejadian itu yang akan diingat terlebih dahulu oleh Han Aruna, ia takut Han Aruna akan kembali jatuh dalam kondisi terburuknya.
"Yang Mulia kita sudah sampai." Kusir berbicara dari depan. Kereta yang mengantar mereka berhenti di sebuah penginapan yang ada di pinggiran ibukota. Karena penginapan berada di pinggiran ibukota yang sepi, penginapan itu cukup sepi dan hanya ada beberapa orang datang ke tempat itu. Meskipun begitu penginapan itu terlihat sangat berkelas dia elegan.
Han Aruna memperhatikan bangunan penginapan yang memiliki dua lantai. Terlihat biasa tetapi memiliki aura yang berbeda dengan penginapan pada umumnya.
"Yang Mulia menjemputku pagi-pagi untuk membawaku ke tempat ini?" Tanya Han Aruna.
Hal yang tak pernah Han Aruna duga adalah bahwa ada sebuah jalan rahasia di dalam penginapan itu yang membuatnya muncul di sebuah hutan yang rindang.
"Aku akan mengajakku bertemu dengan beberapa orang. Tapi untuk menuju ke sana kita hanya bisa dengan menggunakan portal teleportasi." Shen Su Huan menggambar Arai di tanah dan sebuah simbol yang Indah muncul berwarna biru. Han Aruna mengikuti Shen Su Huan yang masuk ke dalam simbol dan dalam sekejap keduanya menghilang dan muncul kembali di depan sebuah gua.
**
Jang Hao Shan memandang sebuah kotak kecil di tangannya dengan penuh perasaan. Hari ini dia akan menemui Han Aruna untuk memberikan benda ini pada adiknya. Di dalam kotak kecil itu, sebuah giok dengan bentuk unik yang memiliki ukiran Phoenik merah yang juga terlihat unik karena ukiran itu seperti hidup. Giok ini adalah giok peninggalan ibu kandung mereka.
Ibu mereka memberikan giok ini pada Jang Hao Shan sebelum ia meninggal dan disimpannya sampai sekarang. Ibu mereka berpesan untuk memberikan giok itu pada Han Aruna pada saat Han Aruna akan menikah.
"Apa kakak sudah menunggu lama?" Jang Hao Shan mendongak satu mendengar suara Han Aruna.
"Tidak. Kakak juga baru saja sampai. Duduklah."
"Baguslah kalau begitu." Han Aruna duduk di depan Jang Hao Shan dan pandangan matanya tertuju pada kotak ditangan Jang Hao Shan yang dipegangnya dengan hati-hati.
"Ini adalah milikmu." Jang Hao Shan menyerahkan kotak yang sejak tadi dipegangnya. Han Aruna menerima kotak itu dan membuka kotak itu. Han Aruna terkejut saat melihat giok unik itu. Di dalam ingatan masa kecilnya, ia mengingat bahwa giok inilah yang menjadi kesayangan ibunya. Ibunya akan memakai giok ini. Melihat giok ini lagi membuatnya seperti melihat ibunya lagi.
Han Aruna yang hampir tidak pernah kehilangan kendali atas dirinya pada saat ini menunjukkan fluktuasi perasaannya.
"Giok ini diberikan padamu oleh ibu. Mungkin ibu sudah memiliki firasat sebelum ia meninggal sehingga menyerahkan giok ini padaku. Jika tidak giok ini akan diambil oleh wanita ular itu." Jelas Jang Hao Shan saat melihat Han Aruna membelai giok yang baru saja dikeluarkan dari kotaknya.
"Aku akan menjaga giok ini mulai sekarang. Karena ibu yang telah memberikannya, aku akan memakainya mulai sekarang."
"Jika ibu melihatmu saat ini, dia akan sangat bahagia. Saat mengetahui bayi yang dilahirkannya adalah perempuan, dia sangat senang."
"Aku masih mengingat bahwa Setiap hari ibu akan mendandaniku dengan cantik dan mengatakan bahwa ia akan menikahku dengan pangeran tampan." Han Aruna tersenyum mengingat masa lalunya yang indah.
"Sekarang ibumu pasti senang melihat menantunya yang sangat tampan ini." Kedua orang di dalam ruang pribadi menoleh.
Han Aruna memutar bola matanya jengah. Pria ini, apa memiliki kekuatan di tubuhnya yang dapat mengetahui jika dia sedang bersama dengan pria lain. Tetapi sepertinya hal seperti ini tidak asing. Benar. Pria di dalam potongan ingatan masa lalunya juga memiliki kecemburuan yang sama.
~♡♡♡~
~☆The Story Of Han Aruna_71☆~
Terima kasih sudah mampir •○(♡;♡)○•
Jangan lalunya upa like, Vote, Komen, Favoritkan dan bantu Share