The Story Of Han Aruna

The Story Of Han Aruna
33. Dua Putra Mahkota Datang Bersamaan



"Bagaimana keadaan nona Han?" Shen Su Huan berjalan mendekat. "Aku membawa beberapa ramuan herbal untuk memulihkan kondisi tubuh Nona Han. Bawa semuanya masuk."


Pelayan berjalan membawa nampan di tangan mereka. Ada sekitar sepuluh pelayan. Ramuan herbal langka berkualitas segera tercium saat mereka memasuki kamar. Han Aruna menatap mereka tanpa daya.


"Yang Mulia Putra Mahkota tidak perlu repot-repot. Lagipula saya sudah tidak apa-apa."


"Bagaimana pun berkat bantuan Nona Han kami bisa menelusuri jejak pelaku yang sengaja mengacau pada acara di kekaisaran ini. Apalagi Nona Han terluka karena hal itu. Jadi mohon terima semua ini sebagai bentuk rasa terima kasih."


"Kalau Yang Mulia sudah berkata seperti itu, saya akan menerimanya." Pelayan yang mengikuti Han Aruna segera menerima hadiah yang dibawa Shen Su Huan untuk Nona mereka.


"Hadiah sudah saya terima. Tidak baik jika saya tidak memberi balasan. Mohon Yang Mulia sudi menunggu sebentar. Saya akan menjamu Yang Mulia dengan baik." Mereka semua berkumpul di kamarnya. Dan dia baru saja bangun tidur dan tidak memakai pakaian dengan benar. Ini benar-benar canggung. Jadi, mengusir mereka semua dari kamarnya adalah yang paling harus diutamakan.


Mengusir Arnold sangat mudah. Yang sulit adalah mengusir Shen Su Huan. Jika sebelum mereka bertemu di malam itu, Han Aruna tidak akan repot-repot untuk mengusirnya. Tetapi sejak malam itu ia mengetahui jika pangeran Mahkota yang bermartabat tidak lebih dari seorang pria cabul yang tidak tahu malu. Dia tidak akan pergi dengan mudah jika tidak memberinya sesuatu yang dia inginkan. Benar saja. Shen Su Huan bersedia keluar dari kamarnya dengan mudah.


"Tentu saja Nona Han. Saya akan degan senang hati menunggu balasan dari Nona."


"Aruna, lalu aku bagaimana?" Arnold yang dari tadi nyaris diabaikan segera protes. Dia datang lebih dulu. Namun Han Aruna bahkan tidak memberinya secangkir teh.


"Kamu juga bisa menunggu. Kalau tidak, kamu bisa pulang." Jawab Han Aruna acuh.


"Tidak tidak. Aku akan menunggu." Arnold dengan cepat menggelengkan kepalanya menolak untuk pergi.


"Cepat keluar. Aku akan bersiap."


"Baiklah." Arnold mengangguk dan membalikkan tubuhnya. Saat ia berbalik ia sudah kembali mendapatkan dirinya yang bermartabat. Berjalan dengan gagah ke luar ruangan. Menemui rival cintanya yang datang entah dari mana dan yang lebih menjengkelkan adalah sepertinya rival cintanya yang baru datang bahkan sudah mengambil satu langkah di depannya. Han Aruna mengundangnya minum teh. Sedangkan dia? Diabaikan sejak mereka bertemu. Arnold mendengus dengan kesal menyadari fakta ini.


Setelah kedua pangeran putra mahkota keluar, Yang Se Se yang sangat mengerti ketidak sukanya nonanya memgenai gangguan seperti ini segera menghampiri nonanya dengan cemas. Raut wajahnya bingung ingin bertanya apa yang ingin nonanya lakukan pada kedua pangeran putra mahkota yang datang di saat yang tidak tepat.


"Sudah hampir waktu makan siang. Perintahkan saja pelayan menyiapkan hidangan. Aku akan makan siang bersama mereka berdua sebagai bentuk rasa terima kasih." Ujar Han Aruna setelah melihat wajah Yang Se Se yang khawatir.


"Nona, apa tidak apa-apa meminta putra Mahkota untuk menunggu anda? Bagaimanapun mereka berdua adalah putra Mahkota dari suatu kerajaan." Yang Se Se khawatir jika hal ini akan menimbulkan masalah.


"Tidak apa-apa. Biarkan mereka berdua menunggu. Lagipula inilah yang mereka inginkan. Aku khawatir jika aku bahkan tidak melakukannya, mereka tidak akan pergi dengan mudah kan?"


"Sepertinya benar juga." Yang Se Se mengangguk tanpa daya. Sejak membawa Han Aruna kembali ke kamarnya, Shen Su Huan enggan meninggalkan kamar Han Aruna sebelum melihat Yang Se Se datang. Baru setelah itu ia pergi untuk melaporkan pada Kaisar.


Sepanjang malam, beberapa kali utusan dari putra mahkota juga datang untuk menanyakan keadaan Han Aruna. Mengingat hal ini saja, Yang Se Se juga bisa melihat jika Shen Su Huan tidak memperlakukan Han Agung seperti itu semata-mata hanya untuk berterima kasih.


Han Aruna sudah tidak mandi sejak kemarin pagi. Jadi saat bangun pagi ini ia merasa serasa tubuhnya super lengket. Saat ini yang Han Aruna inginkan adalah berpendapat untuk meluncurkan semua kotoran dan juga keringat. Apalagi ia baru saja mengontrak binatang mitos. Yang menghabiskan banyak energinya.


Yang Se Se membantu Han Aruna menggosok tubuh Han Aruna. Sedangkan Han Aruna memejamkan matanya. Tetapi sebenarnya dia sedang berada di ruang dimensinya. Menemui dua binatang mitos.


Namun saat ia baru sampai, dia sudah mendengar keributan dari suara yang dia kenal.


"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Han Aruna begitu melihat keduanya sibuk bertengkar. Yang satu adalah anak kecil yang gemuk, yang satunya lagi seekor phoenik yang terbang dan mencicit di udara. Sedangkan di samping mereka, dua bayi harimau putih berdiri dengan bingung.


Saat mereka mendengar suara nona mereka, mereka langsung menengok dan berlomba untuk datang. Yang satu berlari dengan kaki pendek nya yang temben. Yang satu terbang dengan mengepakkan sayapnya dengan semangat. Keduanya sampai di saat yang bersamaan disusul dua bayi harimau yang berlari lincah mengejar mereka.


"Nona, kami sedang memberi nama mereka. Tapi kami tidak juga sepakat sejak lama. Nona harus memilih nama yang saya buat apa yang dibuat makhluk rakus itu yang paling bagus." Xiao Huang berkata tanpa henti di udara.


"Ayah mereka sudah memberi mereka nama. Kalian tidak perlu ribut untuk itu." Jawab Han Aruna. Lagipula kedua bayi harimau itu bukanlah miliknya dan ibu harimau juga sudah memberitahu bahwa anak-anaknya sudah diberi nama oleh ayah mereka sebelum mereka lahir.


"Yang jantan namanya Tian. Yang betina namanya Xian. Aku menemui kalian di sini juga untuk membahas masalah mereka."


"Nona katakan saja."


"Benar Nona. Aku Xiao Qiu akan melakukan apapun yang Nona perintahkan."


"Baiklah. Xiao Huang aku akan serahkan Xiao Xian dalam asuhanmu. Elemen apimu sama dengan miliknya. Kamu bantu dia melatih kultivasinya. Dan Xiao Tian aku serahkan padamu Xiao Qiu. Elemen petir kalian sama."


"Baik Nona. Xiao Huang (Qiu) akan melakukan tugas yang Nona berikan dengan baik." Kedua binatang mitos itu meskipun selalu bertengkar setiap kali mereka bertemu, mereka cukup kompak dalam beberapa hal.


"Baiklah kalau begitu sudah dipastikan. Aku akan keluar untuk mengurus urusanku. Kalian baik-baiklah melatih mereka." Han Aruna melambai sebelum ia memejamkan matanya dan kembali ke dunia nyata dan membuka mata.


"Sudah selesai Nona." Tepat ketika Han Aruna membuka matanya, Yang Se Se juga selesai membasuh tubuhnya.


"Hm. Bantu aku bersiap."


Di dalam kamar semuanya tampak damai, Han Aruna masih merias dirinya dibantu oleh Yang Se Se dan dua pelayan lainya. Sedangkan di luar, kedua pangeran sedang dalam masa perang dingin. Mereka tidak berbicara satu patah katapun satu sama lainnya. Shen Su Huan tidak bisa berbicara bahasa Barat sedangkan Arnold juga tidak berniat membocorkan rahasianya bahwa ia sebenarnya bisa berbicara bahasa mereka dengan lancar.


~○○○~


~♡The Story Of Han Aruna_33♡~