The Story Of Han Aruna

The Story Of Han Aruna
56. Bertemu dengan Orang Yang Tak Terduga



Han Mora sudah datang ke kamar Han Aruna sejak pagi-pagi sekali. Putrinya itu bahkan masih berada di atas tempat tidur setahun semalaman tidak bisa tidur akibat memikirkan ucapan Shen Su Huan. Saat ini undangan datang, Han Aruna menguap dan kembali menarik selimutnya kembali. Melihat wajah ibunya yang berseri-seri seperti bunga matahari di pagi hari, ia sudah bisa menebak apa yang ada di kepala ibunya ini.


"Hei hei. Jangan berpura-pura tidur di depanku. Kamu harus menceritakan satunya pada ibumu ini sekarang." Han Mora menarik selimut putrinya dan menggoyangkan tubuhnya.


"Apa? Apa ibu sungguh tidak ada kerjaan pagi-pagi sekali menggangguku?" Han Aruna dengan paksa duduk dengan mengerucutkan bibirnya. Sepertinya tidak ada cara untuk melarikan diri dari ibunya.


"Tentu saja ada. Ibu ini memiliki tugas yang sangat penting sekarang."


"Kalau begitu cepatlah pergi dan lakukan tugas ibu dengan baik. Aku tidak tidur nyenyak semalam. Sekarang biarkan aku tidur oke?" Han Aruna kembali meraih selimutnya dan membaringkan tubuhnya membelakangi Han Mora.


"Putra mahkota Aruna di sini. Datang dan hap..." teriakan Han Mora terdiam begitu tangan Han Aruna membungkamnya dengan paksa. Han Aruna melihat ke arah pintu masuk untuk melihat apakah memang Shen Su Huan datang dan menunggunya di luar. Tetapi ternyata tidak ada siapapun yang masuk. Han Aruna mengerucutkan bibirnya saat ia sadar bahwa ia telah dikerjain oleh Han Mora.


"Apa yang ibu inginkan?" Tanya Han Aruna dengan kesal.


"Tidak ada. Apa kamu kecewa tidak ada yang datang? Apa kamu sedang menunggu putra mahkota sekarang?"


"Omong kosong apa? Sudahlah. Ibu keluar saja. Aku mau mandi."


"Baiklah. Mandilah yang harum dan berdandan yang cantik hari ini." Han Aruna mendengus. Ibunya ini sangat senang menggodanya.


Han Aruna mandi dibantu dengan Yang Se Se. Juga merias wajahnya dengan indah seperti yang dikatakan Han Mora. Tentu saja yang meriahnya adalah Yang Se Se yang diintruksika sendiri oleh Han Mora dari samping.


"Ada apa dengan ibu hari ini? Kenapa aneh sekali? Aku hanya akan ke Serikat dagang untuk melihat beberapa barang yang akan dikeluarkan saat peperangan tahunan nanti. Untuk apa berdandan berlebihan seperti ini?"


"Sebentar lagi kamu akan menikah. Jadi ibu ingin melihatmu tampil cantik setiap hari. Baru dengan begitu ibu akan merasa lega nanti." Han Mora menghela napas. Melihat penampilan Han Aruna yang ala kadarnya pada hari-hari biasa membuatnya tidak tenang. Apalagi Han Aruna yang lebih sering memakai hantu pria saat keluar rumah. Jadi bagaimana jika suaminya nanti tergoda oleh gadis lain yang suka memanjakan dirinya?


"Aku? Menikah? Huh! Ibu! Apa ibu sudah tidak mencintaiku hingga buru-buru ingin menguairku pergi?"


"Tentu saja tidak. Ibu ingin kamu selalu ada di sini bersama ibu. Tetapi ibu juga semakin tua. Ibu juga ingin menimbang cucu dan dipanggil nenek. Kamu adalah satu-satunya harapan ibu untuk memenuhi mimpi indah ibu ini. Apalagi lamaran dari istana sangat bagus. Putra Mahkota juga tidak buruk." Han Mora menatap Han Aruna penuh harapan.


"Ibu, aku akan menikah. Tetapi tidak sekarang. Mengenai putra Mahkota.... aku tidak pernah siap untuk berbagi ibu."


"Hahahaha. Apa itu ia yang membuatmu galau sehingga tidak bisa tidur nyenyak? Kamu pikir Putra Mahkota memiliki banyak istri dan selir?"


"Semua laki-laki sama bu. Kamu lihat saja Arnold. Dia bahkan sudah memiliki tiga calon istri yang akan langsung menikah dengannya begitu ia naik tahta. Padahal dia dengan bangga mengatakan bahwa dia mencintaiku dan akan terus mengejarku. Apa ada cinta yang seperti itu? Itu hanyalah alasan pria untuk egonya."


"Apa kemudian pernah dengan bahwa putra Mahkota hanya akan memiliki seorang ratu? Jika dia berniat menikahimu, kamu seharusnya menjadi gadis paling beruntung. Sayang, tidak semua laki-laki sama. Memang banyak di luar sana yang mengumbar cinta. Tetapi akan tetap ada pria yang setia."


Penampilan Han Aruna saat ini tidak mendukung untuk menaiki kuda. Jadi ia pergi dengan menggunakan kereta. Sepanjang perjalanan ia juga fokus pada semua laporan di tangannya. Mengenai barang apa saja yang akan diperiksanya.


Sejak Serikat Lotus Biru dijual, kekuatan kedua setelah anggrek buknterpencar menjadi toko-toko kecil. Sedangkan bangunan utama juga sudah negatif menjadi restoran setelah diambil alih oleh pemilik barunya. Nama Lotus Biru juga sudah tidak lagi digunakan. Nama Serikat Anggrek Bulan pun semakin besar dengan tidak adanya Serikat Lotus Biru yang selalu bersaing dengan mereka.


Di depan toko utama Seikat Anggrek Bulan hari ini sangat ramai. Itu karena akan ada penjualan tiket untuk dapat masuk ke dalam pelelangan yang dialah satu kali setiap tahun satu bulan kemudian. Tiket ini adalah tiket biasa bagi rakyat umum. Sedangkan undangan inti dan juga VIP sudah disebarkan satu bulan yang lalu.


Saat Han Aruna tiba, sekumpulan kerumunan inilah yang menyambutnya. Namun dia sudah terbiasa dan melirik tanpa ekspresi. Memang sudah pemandangan seperti biasa seperti itu. Namun saat ia akan melangkah masuk, seseorang yang sama sekali tidak dia harapkan muncul di depannya dan menyapanya.


"Apa kabar nona besar Han? Tidak sangka bisa bertemu di sini hari ini." Han Aruna menaikkan alisnya.


"Ini adalah Serikat Anggrek Bulan. Tentu dapat tidak aneh jika saya datang kemari. Sebaliknya, melihat dua nona muda yang begitu anggun dan mulia yang ikut berdesakan di sini, di tempat si pelaut ini agaknya sangat tidak biasa."


"Hehehehe. Masa lalu sudah berlalu. Saya berharap nona besar Han akan memaafkan kesalahan yang lewat. Kami berusaha benar-benar tidak mengenali kemuliaan nona sebelumnya. Sungguh kesalahan yang tidak dapat diampuni. Tetapi kami datang kemari dengan niat yang tulus." Han Aruna semakin tidak sabar menghadapi nona muda kedua Jang itu.


"Eeh... bukankah ini nona besar Han?" Satu lagi suara yang tidak asing terdengar. Keluar dari kerumunan, Selir Ye, Ye Shi menampakkan wajah tidak berdayanya.


"Ibu ada apa? Apakah ibu tika bisa mendapatkan tiketnya?"  Jang Dong He bertanya dengan khawatir. Sejak kejadian perjamuan di istana saat itu ia sudah belajar banyak hal.  


"Huuuh. Bagaimana lagi?  Kabarnya dalam lelang kali ini banyak barang bagus dan langka akan dilelang. Kita sudah menunggu di sini cukup lama tetapi masih tidak bisa mendapatkan tiketnya. Mungkin kita hanya bisa mencari orang untuk membawamu masuk nanti." Ucap Ye Shi dengan sedih.


"Ehem. Maafkan kami Nona Besar Han. Tidak seharusnya kami mengeluh di depan Nona Han seperti ini. Lan'er sungguh beruntung karena akan menjadi pasangan untuk pangeran Shen Hu Min untuk datang bulan depan. Tetapi He'er tidak seberuntung kakaknya. Lagipula He'er masih kecil, jadi juga tidak baik bila pergi bersama seorang pria. "


"Tidak apa-apa. Bukankah hanya sebuah tiket? Aku akan meminta orang untuk mengirimnya ke kediaman Jenderal Jang nanti." Han Aruna sudah tidak tahan melihat sandiwara dua ibu anak yang menjijikkan itu. Jadi dia memberikan apa yang mereka mau. Bukankah hanya sebuah tiket saja? Juga tidak ada ruginya jika mereka benar-benar datang dan menghabiskan uang mereka dI sana.  


"Kalau begitu terima kasih banyak.  Untuk mengucapkan terima kasih izinkan saya mengundang nona Besar Han untuk minum teh di kediaman Jenderal Jang." Ye Shi tersenyum dengan bahagia. Dua tujuannya tercapai dalam satu kali perjalanan.


~♡♡♡~


~☆The Story Of Han Aruna_56☆~


Terima kasih sudah mampir •○(♡;♡)○•


Jangan lupa like, Vote, Komen, Favoritkan dan bantu Share