
Acara lelang akan segera dimulai. Semua orang sudah menunggu dengan tidak sabar di tempat mereka. Di bagian dalam Serikat Anggrek Bulan, sebuah bangunan besar tiga lantai berdiri dengan kokoh dengan bagian yang ada di tengahnya merupakan pangung. Setiap lantai memiliki kriteria sendiri-sendiri. Lantai pertama tidak terpisah menjadi ruangan-ruangan, tetapi berupa kursi-kursi yang ditata rapi. Untuk duduk di sini tidak perlu memiliki status. Hanya membutuhkan uang paling tidak seribu atau dua ribu perak.
Ruang VIP di lantai dua sudah penuh bahkan satu jam sebelum dimulai. Agar para tamu tidak merasa bosan menunggu, bermacam-macam hidangan dan camilan di sediakan untuk para tamu selama menunggu acara dimulai. Di lantai dua ada sepuluh kamar VIP yang dapat dipesan dengan memberikan jaminan pembelian minimal lima ratus ribu koin emas. Jika orang yang memesan kamar ternyata tidak membeli barang di atas harga minimal itu, meskipun ia membeli barang, yang yang harus dibayarkan tetap harus dibayarkan lima ratus ribu koin emas bahkan masih dengan membayar harga barang yang dibeli. Meskipun begitu, kamar-kamar ini bahkan sudah habis dipesan sejak dua bulan sebelum acara.
Di dalam salah satu ruangan inilah Shen Hu Min duduk dengan elegan dengan Jang Mue Lan yang tampak menawan. Kedua orang ini duduk sambil menikmati hidangan yang disediakan oleh Pelayan. Wajah kesal keduanya sudah hilang begitu mereka masuk ke dalam ruangan. Lagipula mereka juga harus segera mengembalikan kondisi hati sebelum acara lelang dimulai. Akan buruk jika melakukan bisnis dengan hati yang keruh. Keduanya seperti telah melupakan apa yang terjadi di depan gerbang Serikat Anggrek Bulan.
Sedangkan ruangan VVIP di lantai tiga hanya ada lima ruang yang dipersiapkan dengan hati-hati. Tentu saja dengan fasilitas dan kemewahan yang jauh lebih mewah. Ruangan-ruangan ini tidak hanya dapat dipesan dengan uang. Tetapi juga harus menggunakan koneksi dan kekuasaan. Bahkan seorang Raja maupun Kaisar masih belum tentu memenuhi kualifikasi untuk menempati lima ruangan ini.
Han Aruna sebagai pemilik dari tempat ini tentu saja menempati salah satu ruangan di lantai tiga ini. Duduk dengan tenang di sampingnya adalah Shen Su Huan. Keduanya tampak anggun dengan aura yang agung. Saat mereka duduk dengan santai dan menikmati hidangan dengan tenang, semua orang yang ada di dalam ruangan bahkan masih tidak berani bergerak. Mereka hanya diam menundukkan kepala menunggu perintah yang mungkin akan datang.
Sedangkan tiket yang diberikan Han Aruna pada Jang Dong He hanya bisa memasukkannya ke dalam kelas biasa yang ada di lantai pertama.
Di bawah, acara lelang baru saja mulai. Seorang host paruh baya bersama Dong Jun dengan pakaian rapi berdiri di atas platform tinggi dan menaikkan suasana. Barang demi barang mulai dikeluarkan dari barang dengan nilai yang kecil dan semakin lama semakin besar. Pada tahap ini, yang menawarkan kebanyakan adalah pelanggan dari golongan biasa yang ada di lantai pertama.
Satu persatu orang akan mulai memberikan harga mereka setelah Dong Jun menyebutkan barang dan menjelaskan keunggulan barang tersebut. Setelah itu harga akan secara bertahap naik satu persatu. Jika seseorang menginginkan barang yang sedang dilelang, mereka akan menambah harga. Tetapi jika mereka merasa harga yang ditawarkan terlalu tinggi, mereka akan berhenti menawar dan dengan berat memberikan barang itu kepada saingannya.
Di awal lelang akan membutuhkan waktu yang cukup lama sampai harga akhir tercapai. Itu karena akan ada banyak orang yang sanggup membayar harganya. Penawaran mulai berangsur melambat setelah melewati sepertiga barang. Sebab kualitas dan harga barang yang juga semakin tinggi. Yang hanya sedikit orang yang sanggup membayarnya.
Semakin lama, penawar dari golongan biasa mulai jarang dan berangsur-angsur penawaran dari ruangan VIP mulai bermunculan. Semakin lama penawaran mulai melambat dengan jarak yang tipis hingga sampai pada harga terakhir.
Suasana semakin meningkat dari waktu ke waktu. Kali ini sebuah baki dengan penutup dari kain sutra emas dibawa masuk oleh seorang pelayan cantik dengan hati-hati. Setelah sampai di samping Dong Jun, kain sutra emas dibuka sakit menampakkan botol porselen yang terlihat indah dan elegan. Namun bukan keindahan botol porselen itu yang membuat semua orang hampir menahan napas mereka. Itu karena pil yang dapat disimpan si dalam botol semacam ini adalah jenis pil yang tidak biasa.
Botol porselen berwarna putih dengan semburat biru di beberapa bagian menunjukkan bahwa botol itu bukanlah botol biasa yang dapat digunakan untuk menyimpan Sembarang jenis pil. Sebaliknya, itu hanya untuk jenis paling rendah pada tingkat ke tiga. Itu karena pembuatan botol semacam ini membutuhkan banyak keterampilan dan bahan yang terbaik. Selain itu, pil yang disimpan di dalamnya juga tidak akan berkurang khasiatnya justru akan semakin baik setelah beberapa lama.
Saat semua orang begitu penasaran dengan jenis pil apa yang ada di dalam botol, Dong Jun membuka penutup botol. Seketika aroma harum obat tercium dengan kuat.
"Bukankah ini aroma pil pengumpul Qi tingkat tiga? Jika dicium dari aromanya ini adalah kualitas yang sempurna." Seseorang yang mengenali obat itu segera berseru. Lalu diskusi di depan panggung semakin ramai.
"Itu pil pengumpul Qi? Bahkan jika dia bukanlah seorang kultivator, jika dapat meminum satu pil ini saja ia akan memiliki kekuatan seperti kultivator tingkat pertama. Ini adalah hal yang diinginkan semua orang."
"Benar sekali. Sayang sekali aku tidak akan bisa bersaing untuk membeli pil semacam ini. Jika tidak, aku sudah akan menerobos melewati kemacetanku." Ucap Seseorang dengan lesu. Di kekaisaran Bei, banyak orang yang macet pada tingkat tertentu dan sangat sulit menerobos sebanyak apapun waktu dan tenaga yang mereka gunakan. Hal itu karena mereka tidak dapat menemukan cukup Qi untuk membantu menerobos. Tetapi jika mereka dapat menemukan obat yang sesuai seperti pil pengumpul Qi atau pil pembersih tulang, masalah itu akan mudah diselesaikan.
"Pil-pil yang dilelang tahun ini sepertinya bukan pil sederhana." Shen Su Huan yang melirik Han Aruna yang duduk di sampingnya.
"Tentu saja. Beberapa tahun lalu kami menemukan seorang pemuda yang memiliki bakat alkemist di antara pengemis secara tidak sengaja di sebuah daerah kekaisaran Yue. Dia berbakat tetapi tidak memiliki dukungan yang baik. Karena itulah kami membawanya dan mengirimnya belajar pada seorang master. Setelah beberapa tahun usaha kami tidak sia-sia. Dia berhasil menarik alkemist tingkat empat dalam usia yang cukup muda." Glimmers menari di dalam mata Han Aruna. Keputusannya untuk membawa pemuda yang dulu dekil dan kotor kembali dia memberinya pemuasan hal yang layak didapatkan oleh seorang alkemist yang langka sekarng berbuah manis. Bisa dikatakan dialah yang membesarkan pemuda ini. Tentu saja dia bangga. Tetapi setahun memasuki masa Shen Su Huan,semuanya menjadi lain.
"Yah. Dia memang tampan. Dukungan dia dekil dan kotor." Saat mengatakan ini dia mengatakannya begitu saja. Tanpa menyadari aura kegelapan yang datang dari sebelahnya.
"Apakah dia lebih tampan daripada aku?" Han Aruna akhirnya menyadari ada yang salah dan saat ia melihat Shen Su Huan, pria itu sudah berada sangat dekat dengannya. Hidungnya bahkan sudah menabrak pipinya saat ia berbalik.
"Kamu...kamu mundur! Apa yang kamu lakukan?!" Han Aruna panik dan dia akan mundur tetapi tangan Shen Su Huan yang segera memeluk erat pinggangnya lebih cepat.
"Katakan diantara kami siapa yang lebih tampan?" Shen Su Huan tidak berniat melupakannya semudah itu. Pelukannya justru semakin erat. Han Aruna bahkan tidak bisa mendorongnya satu sentipun untuk menjauh.
"Siapa hem?"
"Kamu menjauh dulu. Nanti aku akan menjawabnya."
"Tidak diterima." Senyum Shen Su Huan seperti memberikan ancaman. Jika dia sampai tidak mendapatkan jawaban yang dia inginkan, sesuatu yang tidak dibayangkan Han Aruna mungkin akan terjadi.
"Kamu." Jawab Han Aruna cepat sambil memalingkan wajahnya yang memerah. Dia ingin segera lepas. Biarkan saja dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Bukankah hanya ingin dia memujinya?
"Benarkah?"
"Iya. Sudah cepat pergi. Aku masih harus mengawasi di bawah." Han Aruna mendorong Shen Su Huan. Namun sekuat apapun ia mendorongnya, pria itu tidak bergerak seperti patung.
"Karena kamu sudah memuji dengan tulus, aku akan memberimu hadiah." Tangan kiri Shen Su Huan masih memeluk pinggang Han Aruna dengan erat sementara tangan kirinya menekan bagian belakang Han Aruna.
Hadiah yang tak terduga itu, membuat Han Aruna pusing sedangkan tubuhnya lemas seperti jeli.
~♡♡♡~
~☆The Story Of Han Aruna_63☆~
Terima kasih sudah mampir •○(♡;♡)○•
Jangan lupa like, Vote, Komen, Favoritkan dan bantu Share