
Han Aruna duduk di kamarnya sedang membaca buku. Ia membolak-balikkan halaman dengan santai. Xiao Qiu dan Xiao Huang baru saja diam setelah membuatnya pusing karena mereka yang terus mengomel karena pertunangannya dengan Shen Su Huan. Mereka terus saja mengatakan bahwa mereka akan habis oleh 'pria itu' jika sampai ia menikah dengan Shen Su Huan. Tetapi saat ia bertanya siapa 'pria itu' sehingga dia marah jika ia menikah dengan pria lain, Xiao Qiu dan Xiao Huang menutup mulut mereka rapat-rapat. Dibandingkan dengan memberi tahunya, mereka hanya terus berteriak dia hari memutuskan pertunangan segera dan jangan sampai menikah dengan pria lain sebelum pria itu datang.
Matanya memang fokus pada halaman buku yang dibacanya. Tangannya juga bergerak seiring halaman yang selesai dibacanya. Tetapi tidak satupun isi buku itu yang mampu masuk ke drama pikirannya. Sebab, pikirannya penuh dengan siapa sebenarnya pria yang dimaksudkan Xiao Huang DAN Xiao Qiu sehingga sangat penting menunggunya untuk menikahinya.
Pernikahan ini sudah dipastikan. Meskipun ia masih enggan menerima, demi ibunya ia akan tetap menikah. Setelah acara lelang tahunan di Serikat Anggrek Bulan diadakan satu bulan lagi.
"Kalau sudah datang kenapa tidak segera muncul?" Ucap Han Aruna tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku yang kini benar-benar dibacanya. Ia sudah merasa kehadiran Shen Su Huan dia berhasil menarik dirinya dari pikirannya yang melayang. Tetapi setelah cukup lama, pria yang akhirnya menjadi tunangannya sejak pagi tadi itu masih belum masuk juga.
"Aku hanya tidak ingin dipanggil penerobos lagi. Lagipula tidak lama lagi kamarmu juga akan menjadi kamarku. Tetapi jika kamu yang mengundangku masuk, aku akan memberimu wajah dan masuk." Seringai muncul di bibir seksi Shen Su Huan begitu jubah ungunya berkibar. Dalam sekejap, sosok Shen Su Huan yang tampan dan anggun sudah duduk di depannya. Menuangkan teh untuk dirinya sendiri dan menyesapnya tanpa malu-malu. Han Aruna mencibirnya.
"Apa isi buku yang kamu baca?"
"Kamu tidak akan mengerti meskipun aku memberitahumu." Ucap Han Aruna sambil memasukkan kembali buku itu ke dalam ruang dimensinya.
Buku yang dibaca Han Aruna ia dapat dari ruang dimensi yang baru saja membuka satu lagi ruangan. Itu adalah buku yang membahas mengenai teknik membuat boneka. Namun teknik ini berbeda dari yang diterapkan pada sekte Devil Dolls yang menggunakan kristal untuk mengambil alih kesadaran binatang atau manusia. Namun untuk membuat boneka dengan cara ini, jarak orang yang mengendalikan dengan bonekanya tidak boleh terlalu jauh atau mereka akan terputus dan kehilangan kendali. Sedangkan teknik dalam. Buku Han Aruna, si pengendali hanya perlu memberi satu petunjuk dan bonekanya akan melaksanakan apapun sesuai perintah si pengendali.
Dalam buku yang ditemukan oleh Han Aruna, syarat utama untuk membuat boneka dari manusia maupun binatang itu adalah dengan menggunakan cacing Gu yang sudah pernah tumbuh di tubuh manusia. Jika seseorang dapat menerapkan teknik ini, mereka akan dapat menguasai pikiran seseorang sesuai dengan kehendaknya. Menganggapnya sebagai tuan mereka. Untuk saat ini ia Han Aruna memang tidak berniat untuk mempraktekkannya dalam waktu dekat. Tetapi mungkin akan ada satu kondisi yang mengharuskannya nanti ia mungkin akan menggunakannya juga. Jadi dia harus mempelajari teknik dan tata caranya terlebih dahulu.
"Apakah itu cara bagaimana memanjakan suami? Kalau itu kamu tenang saja. Aku akan mengajarimu perlahan nanti."
"Huh! Jangan terlalu percaya diri dan menganggap diri sangat tinggi. Aku bersedia menerima pinangan ini hanya karena aku ingin berbakti pada ibu. Jadi jangan berharap lebih." Han Aruna mendengus. Memelototkan matanya mengancam.
"Benarkah?"
"Hem. Memangnya bisa apa lagi?"
"Bukankah itu karena belajar mencintaiku lebih mudah? Jadi, belajarlah mulai sekarang." Shen Su Huan bergerak cepat. Memeluk Han Aruna dan mencium bibirnya dengan gemas.
"Tidakkah bisa untuk tidak menciumku sembarangan!?" Teriak Han Aruna dengan suara teredam. Ia takut jika ia berteriak, seseorang akan segera masuk dan mendapati mereka dalam posisi yang saling berpelukan seperti ini. Lalu, pernikahan itu bukan lagi terjadi satu bulan kemudian, melainkan satu hari kemudian. Karena itu jugalah Shen Su Huan berani bertindak.
"Tidak bisa. Aku selalu ingin menciummu setiap kali kita bertemu." Jawab Shen Su Huan tanpa rasa bersalah.
"Sudah larut. Aku akan tidur. Jika Yang Mulia pergi jangan lupa tutup jendelanya kembali." Han Aruna mengabaikan Shen Su Huan. Mendorongnya dan berjalan ke ranjangnya. Merebahkan dirinya dengan santai lalu menarik selimutnya untuk menutupi seluruh tubuhnya. Daripada ia mengobrol berdua bersama dengan Shen Su Huan, lebih baik ia berpura-pura tidur dan masuk ke dalam ruang dimensi untuk berlatih kultivasi di sana. Lagipula ia yakin bahwa Shen Su Huan tidak akan menyakitinya selama dia ada di dalam ruang dimensi.
Baru saja Han Aruna masuk dan hendak mencari Xiao Qiu dan Xiao Huang sebelum dia ditarik paksa dari luar dan saat dia sadar, seluruh tubuhnya sudah berada di dalam pelukan Shen Su Huan. Yang sudah berbaring di sampingnya.
"Kamu! Lepaskan aku sekarang!" Teriak Han Aruna tidak lagi menahan suaranya. Membuat Yang Se Se yang menunggu di luar segera bertanya dengan cemas.
"Ada apa nona? Apa perlu hamba masuk?"
"Tidak tidak. Aku pikir tadi aku melihat hantu." Shen Su Huan yang awalnya menyeringai mendadak mengerucutkan bibirnya setelah mendengar jawaban Han Aruna.
"Bagian mana dari diriku yang mirip dengan hantu?" Shen Su Huan meniupkan napas panas di telinga Han Aruna.
"Nona? Apa benar tidak perlu masuk?" Yang Se Se tidak bisa tenang. Sejak kapan nonanya takut hantu? Yang paling penting sejak kapan nonanya percaya pada hal seperti hantu?
"Tidak perlu Se Se, sudah larut. Istirahatlah lebih awal."
"Baik Nona." Yang Se Se masih belum tenang dan tetap menunggu di luar.
"Masih belum menjawab. Bagian mana dari diriku yang mirip dengan Hantu?" Shen Su Huan bertindak lebih berani sekarang. Tangannya yang memeluk pinggang Han Aruna mencubit pinggang ramping itu.
"Ah!"
"Nona. Hamba masuk sekarang ya!" Teriakan Yang Se Se kembali terdengar dari luar.
"Jangan jangan. Aku tidak apa-apa." Han Aruna melotot. Mengancam Shen Su Huan yang berani mengelus pinggangnya.
"Masih berani berteriak hem?"
"Licik!"
"Aku tahu."
"Tidak tahu malu."
"Tidak! Aku tidak mau."
"Benarkah?"
"Tentu saja."
"Apa kamu yakin?"
"Jangan berlebihan. Cepat keluar dari kamarku sekarang."
"Beri aku ciuman dan aku akan segera pergi."
"Aku tidak mau."
"Ya sudah kalau kamu tidak mau aku pergi. Aku tidak keberatan menemanimu di sini sampai pagi."
"Huh! Baiklah. Ingat hanya satu ciuman dan pergi."
"Tentu saja." Shen Su Huan menarik kedua sudut bibirnya tinggi-tinggi. Melihat wajah tidak berdaya Han Aruna yang frustasi tampak sangat lucu.
"Baiklah. Tutup matamu." Shen Su Huan menutup matanya dengan patuh. Lalu Han Aruna mematuk ringan bibir seksi Shen Su Huan.
"Sudah. Cepat pergi." Han Aruna memalingkan wajahnya yang merah.
"Sudah?" Shen Su Huan menyipitkan matanya.
"Sudah. Aku sudah menciummu. Sekarang keluar."
"Tapi aku tidak merasakannya. Kamu pasti bohong kan?"
"Tidak. Baiklah. Aku akan menciummu lagi." Shen Su Huan menatap gemas wajah cantik yang mendekat, lalu sebuah bibir lembut menabrak bibirnya hanya beberapa detik saja.
"Sudah kan? Bisakah pergi sekarang?"
"Tidak."
"Tidak? Jangan mengingkari janji. Yang Mulia tadi bilang satu kali ciuman kan? Aku bahkan memberi dua. Masih tidak mau pergi?"
"Itu kecupan. Perjanjian kita adalah ciuman."
"Sama saja."
"Tidak sama. Keduanya jelas berbeda. Apa kamu mau aku ajari bagaimana cara berciuman?"
"Tidak perlu. Tapi Yang Mulia harus janji untuk segera pergi setelah itu."
"Hem. Tunggu apa lagi? Cepat cium!"
Dengan sedikit ragu, Han Aruna mendekatkan wajahnya. Lalu menempelkan bibirnya pada bibir hangat Shen Su Huan. Han Aruna berhenti lama. Ia tidak tahu bagaimana cara memulai ciuman.
Shen Su Huan menyeringai. "Aku sudah bilang aku akan mengajarimu. Perhatikan baik-baik karena aku tidak akan pergi sebelum kamu bisa melakukannya dengan baik."
Setelah itu, kelas privat khusus dimulai dan suara decapan terdengar sesekali bergantian dengan suara marah seorang gadis yang tertipu. Setelah sesi pelajaran selama hampir satu setengah jam, Shen Su Huan keluar dari kamar Han Aruna dengan senyum bengkak dan senyum lebar.
~♡♡♡~
~☆The Story Of Han Aruna_60☆~
Terima kasih sudah mampir •~♤《 *;*》♤~•
Jangan lupa like, komen, Vote dan share ya....