The Story Of Han Aruna

The Story Of Han Aruna
46. Arnold Yang Diabaikan



Semua orang di halaman yang melihat Han Mora mengacungkan pisau pada Arnold berteriak untuk menghentikan Han Mora. Tetapi sepertinya Han Mora tidak mendengrnya dan malah menikmati melihat wajah Arnold yang ketakutan di depannya.


"Nyonya Han tolong lepaskan Yang Mulia Putra Mahkota." Pelayan yang selalu mengikuti Arnold, Felix, berteriak dengan panik. Tugasnya adalah melayani semua keperluan Arnold, pun juga memastikan keselamatannya. Sebagai seorang pelayan yang selalu berada di sekitar Arnold ia sudah mengembangkan perasaan menghormati sekaligus  menyayangi dalam waktu yang bersamaan.


"Nyonya besar kalau Yang Mulia tahu bahwa pangeran Arnold terluka di kediaman kita, Yang Mulia akan marah." Kepala pelayan kediaman Han, Han Jue juga berusaha membujuk dari bawah. Mendengar bujukan dari kedua belah pihak tidak membuat Han Mora berhenti. Ia mengemukakan pisaunya dengan sangat pelan tetapi senyum menakutkan di bibirnya membuat semua orang percaya bahwa Han Mora akan mampu melakukannya.


"Bibi tolong maafkan aku kali ini. Jika Bibi menggunduli  rambutku, Aruna tidak akan lagi menyukaiku." Arnold memohon melalui matanya.


"Apa kamu pikir saat ini Aruna juga menyukaimu dengan rambut terbakar ini hah?" Ejek Han Mora. Apa yang dikatakan Han Mora tepat mengenai titik kelemahan Arnold. Dia mengerucutkan bibirnya saat memandang Han Mora tidak suka. Rambutnya ini disebut pirang! Pirang! Bukan terbakar. Kenapa Han Mora selalu saja menyebutnya terbakar?


"Kenapa? Tidak terima? Sepertinya kuil Tao Tsing Hua sedang membutuhkan biksu baru. Para peziarah akan datang berduyun-duyun ke sana jika mereka tahu ada biksu baru yang tampan seperti ini, kan?" Han Mora memelototkan matanya. Sudut bibirnya terangkat saat pisaunya mengenai kulit kepala Arnold dan membuat beberapa helai rambut pirangnya terpotong.


"Nyonya besar!"


"Pangeran!"


"Tidak bibi! Lepaskan aku." Teriak Arnold panik stelah melihat rambutnya jatuh di udara dari sudut matanya.


"Berisik sekali." Suara yang jernih terdengar santai dibandingkan suara orang-orang yang berteriak di halaman. Semua menoleh dan melihat Han Aruna yang berdiri menyadarkan tubuhnya di dinding menatap kosong semua yang terjadi.


"Apa kalian sebelum anak kecil?" Lanjutnya memandang acuh dua orang di atas pohon.


"Aruna! Putri kesayanganku!" Han Mora secepat kilat memasukkan pisaunya ke drama ruang dimensi dan melepaskan Arnold. Meninggalkannya di atas pohon dan terbang sendiri turun menghampiri Han Aruna.


"...." Arnold yang tiba-tiba dilepaskan dan ditinggalkan begitu saja di atas pohon tidak tahu harus senang atau bersedih.


Arnold akhirnya dibantu turun oleh penjaga dan pelayannya. Saat kakinya menapak di atas tanah, itu sedikit gemetar karena masih tersisa rasa takut akibat ulah Han Mora. Diam-diam dia akan mengingat kejadian ini di dalam hati bahwa ia tidak akan pernah lagi mengganggu Han Mora. Jika memungkinkan ia akan menjauh dari Han Mora di masa depan kecuali ada yang berhubungan dengan Han Aruna.


"Kenapa lama sekali baru pulang? Bukankah pangeran mahkota sudah mengambil alih masalah itu? Kenapa kamu masih repot-repot ditinggal di sana?" Han Mora yang baru saja meninggalkan putra Mahkota dari suatu negara tidak lagi memikirkan masalah yang membuatnya marah dan memberondong Han Aruna dengan pertanyaan.


"Bukankah aku sudah bilang pada ibu bahwa aku baru saja memperbaiki jubah baja terakhir kali? Ada kesempatan emas untuk menguji coba secara gratis kemarin. Jika aku tidak menggunakan kesempatan emas seperti itu dengan baik, bukankah aku yang akan merugi?"


"Bagus-bagus. Jubah baja kali ini kualitasnya sangat baik kan? Dengan adanya putra Mahkota yang menjadi saksi, kemungkinan besar pemesanan  Jubah baja dari istana akan meningkat pesat kali ini." Han Mora tersenyum bahagia.


"Itu benar. Apalagi kali ini aliansi perdagangan, Serikat dagang Lotus Biru juga terlibat. Sebagai Serikat dagang saingan, aku juga harus melihat secara langsung bagaimana nasib orang-orang yang tidak mengindahkan peraturan dan menyalahgunakan kekuasaan dan pengaruhnya untuk memberontak."


"Kamu semakin bijak. Kamu baru saja kembali, aku sudah menyuruh koki untuk memasak makanan kesukaanmu hari ini. Ayo kita makan. Kita lanjutkan membahas malah ini sambil makan siang." Han Mora menepuk tangan Han Aruna sebelum ditariknya untuk pergi ke ruang makan.


"Apakah kalian melupakanku?" Arnold yang masih ditenangkan oleh anak buahnya segera mengangkat pandangannya dan menatap Han Aruna yang pergi bersama Han Mora.


Han Aruna dan Han Mora  berbalik dan bersama. Tersenyum licik sebelum mengeluarkan pisau mereka dan memgacungkannya pada Arnold.


"Tidak! Aku akan seera kembali." Arnold menjawab tanpa berpikir. Ia mulai berbalik dan berjalan pergi. Tetapi ia ingat sesuatu dan berhenti. "Tapi aku merindukanmu Aruna. Kamu memintaku datang ke kerajaan ini, tapi kami selalu meninggalkanku sendiri." Keluh Arnold.


"Kembalilah dulu. Nanti aku akan menemui di istana." Masalah di ibukota tidak sesederhana yang terlihat di permukaan. Tidak akan baik jika melibatkan Arnold dalam hal ini. Jika Arnold sering mengunjungi kediaman Han, dikhawatirkan akan ada musuh dari serikat dagang Anggrek Bulan yang akan menargetkannya. Arnold adalah manusia biasa yang tidak melatih kultivasinya, jika orang yang menyerangnya memiliki tingkat kultivasi  yang tinggi, Arnold tidak akan dapat melawan.


"Baiklah. Tapi kamu harus berjanji padaku." Arnold menatap Han Aruna penuh harap.


"Iya. Aku berjanji padamu aku akan segera mengunjungi di istana. Aku juga memiliki sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Tapi sebelum itu kamu tidak boleh berkeliaran sembarang di tempat ini. Apalagi sampai mengunjungi kediaman Han. Apa kamu paham?" Arnold mengangguk beberapa kali.


"Baiklah. Aku tidak akan melanggarnya. Aku sudah melihatmu dan sudah mengobati rasa rinduku. Aku akan segera kembali ke istana dan menyelesaikan semua urusan kontrak kerjasama. Kamu tenang saja. Aku akan menunggumu di istana dengan patuh."


Han Aruna tersenyum. Maju dan berhenti di depan Arnold. Mengulurkan tangannya. Jantung Arnold sudah berdebu kencang. Ia mengira bahwa Han Aruna akan menyentuh wajahnya saat ia melihat tangan Han Aruna yang Terangkat di udara. Tapi ternyata...


"Anak baik." Han Aruna menepuk kepala Arnold tiga kali sebelum berbalik dan pergi ke ruang lainnya bersama Han Mora.


"..." Arnold memegang kepalanya yang baru saja disentuh Han Aruna.


"Felix, dia menyentuhku. Dia akhirnya mau menyentuhku." Ucap Arnold dengan senyum merekah di bibirnya.


"Ya Yang Mulia. Yang Mulia sebaiknya segera kembali ke istana, jika Yang Mulia tidak bergegas, nanti nona Han tidak akan mau lagi menyentuh Yang Mulia." Felix tidak tahu harus tertawa atau menangis. Bukankah Yang Mulianya sangat mudah dibujuk?


***


Malam hari yang sepi, sepuluh orang berpakaian hitam keluar dari sebuah oenginapan mewah, lalu melompat dari satu atau ke atap lain di ibukota. Basis kulitivasi mereka semua berada pada tahap lanjutan saint. Satu tingkat di atas Han Arena yang berada pada tahap alam langit satu minggu yang lalu. Sepuluh orang hebat itu adalah anggota dari aliansi pembunuh bayaran Fengtian yang terkenal dengan biaya yang mahal. Dengan Menyewa sepuluh orang, mereka harus mengeluarkan banyak uang untuk itu. Sudah dipastikan mereka bukan orang biasa-biasa saja.


Mereka sebelumnya telah menekan aura mereka sehingga kedatangan mereka tidak akan diketahui siapapun sebelum sampai di tujuan mereka. Dan tujuan mereka tidak lain adalah istana.


Mereka dibayar oleh Kepala keluarga Xu untuk menyelamatkan pewarisnya, Xu Ruo Feng yang sedang berada di dalam salah satu penjara istana menunggu diadili.


Hukuman bagi seseorang yang berkhianat sangatlah berat, yaitu pemusnahan seluruh anggota keluarganya tidak peduli mereka bersalah atau tidak. Maka dari itu sejak Xu Ruo Feng ditangkap di gudang perbatasan, kepala keluarga Xu segera memindahkan semua anggota keluarganya keluar dari ibukota untuk melarikan diri.


Xu Ruo Feng adalah putra kebanggaannya sekaligus kesayangannya. Anak dari istri pertamanya yang sangat ia cintai yang telah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Maka dari itu meskipun putranya ini telah menyeret semua anggotanya menuju kematian, ia harus tetap menyelamatkannya bagaimanapun caranya.


~♡♡♡~


~☆The Story Of Han Aruna_45☆~


Terima kasih sudah mampir •○(♡;♡)○•


Jangan lupa like, Vote, Komen, Favoritkan dan bantu Share