
Semua orang segera memberi jalan untuk dua orang yang agung itu. Mereka menyingkir dari jalan dan dengan khidmat menundukkan kepala mereka. Mata beberapa gadis melirik dari sudut mata mereka. Setidaknya, meskipun mereka tidak akan bisa memiliki kemuliaannya untuk menjadi orang yang bersamanya, mereka masih bisa melihat dan menikmati diam-diam ketampanan Shen Su Huan agar mereka bisa bersemangat hingga dua tidak hari.
"Yang Mulia, anda dan Putra mahkota adalah saudara. Bagaimana kalau kita menyapanya?" Jang Mue Lan bertanya dengan sopan. Gigi kecil putihnya menggigit tanpa daya bibir merah cerah. Saat mata berkabutnya menatap Shen Hu Min, mata itu seperti memiliki kekuatan untuk menariknya agar menyetujui apa yang diinginkannya.
"Baiklah. Aku juga sudah lama tidak bertemu dengan kakakku itu." Berdiri sedang mengantri di jalur VIP, sebenarnya Shen Hu Min sedikit tidak sabar. Mengingat temperamennya yang sombong mengantri bersama dengan para pelanggan yang mendapatkan kursi di lantai dua sebenarnya bukan sesuatu keinginannya.
Undangan yang dibelinya hanya bisa membawanya ke lantai dua, tamu VIP. Sedangkan untuk tiket di lantai tiga yang merupakan pelanggan VVIP, dirinya tidak memiliki kualifikasi. Undangan VVIP tidak hanya didapat jika memiliki uang saja. Tetapi juga harus memiliki kekuatan dan kekuasaan. Jika tidak memiliki keduanya, mereka hanya bisa berada di lantai dua paling banyak.
Pada lelang tahunan yang diadakan Anggrek Bulan, status seorang pangeran bahkan putra mahkota sekalipun tidak akan memiliki pengaruh. Mereka masih harus seperti pelanggan kelas VIP yang harus mengantri.
"Aku tidak menyangka akan bertemu dengan putra mahkota di sini." Shen Hu Min berkata setelah ia sudah berada dekat dengan jalan yang dilewati Shen Su Huan.
Mendengar suara yang tidak asing baginya, Shen Su Huan menghentikan langkahnya. Han Aruna yang berjalan bersamanya juga terpaksa ikut menghentikan langkahnya. Gangguan ini menyita waktunya yang sibuk. Bibirnya mengerucut karena tidak suka.
"Ada apa?" Menyadari keadaan hati teman berjalannya yang tidak baik, Shen Su Huan bertanya dengan tidak sabar.
"Tidak apa-apa. Hanya saja biasanya putra mahkota selalu tidak berhubungan dengan kegiatan seperti ini sebelumnya. Jadi aku hanya merasa sedikit heran dan ingin menyapa sekaligus bertanya."
"Apa aku harus melaporkan apa yang harus aku lakukan padamu?" Shen Su Huan mencibir.
"Salam Yang Mulia Putra Mahkota." Mengabaikan sikap dingin Shen Su Huan, Jang Mue Lan segera maju dan menyapa. Dalam pikirannya ia menyangka bahwa Shen Su Huan.bisa mengabaikannya karena ia tidak terlihat. Di matanya, Han Aruna lah yang pasti datang untuk menggoda terlebih dahulu sehingga ia bisa menjadi tunangan Putra Mahkota yang terhormat. Tetapi jika dia bisa mendapatkan perhatian Shen Su Huan, status itu pasti akan dia dapatkan dengan segera.
Shen Su Huan melirik gadis cantik yang berdiri di samping Shen Hu Min dan mengerutkan alisnya. Mencoba mengingat siapa gadis itu tetapi ia masih tidak mengingatnya.
Melihat Shen Su Huan mengerutkan kening, Jang Mue Lan kembali maju satu langkah lebih dekat. "Hamba bernama Jang Mue Lan. Putri jenderal Jang." Mendengar jawaban dari gadis asing ini, Shen Su Huan melirik Han Aruna yang sudah terlihat kesal.
"Yang mulia. Jika anda masih memiliki urusan, aku akan pergi dulu." Menyadari tatalan Shen Su Huan, Aruna berbicata sambil melangkahkan kakinya. Namun segera ditahan oleh Shen Su Huan.
"Aku sudah selesai. Mari kita masuk." Shen Su Huan berbalik tanpa melihat kedua orang itu lagi.
"Sial!" Umpat Shen Hu Min di dalam hati. Bagaimana bisa keduanya begitu sombong? Bahkan, seorang gadis yang masih belum menjadi siapa-siapa di istana sudah berani mengabaikannya. Ia bahkan tidak memberikan salam yang harus ia dapatkan. Betapa beraninya!
Shen Hu Min mengepalkan tangannya. Betapa marahpun ia saat ini,ia masih tidak bisa melakukan apapun pada kedua orang sombong itu.
Tetapi sayangnya, akal sehatnya telah tertutup oleh ilusinya yang terlalu berlebihan.
Shen Hu Min melirik gadis di sampingnya dengan kesal. "Kenapa? Apa kamu juga berniat untuk memanjat ranjang Putra Mahkota?" Shen Hu Min mencibir. Dia sudah terlalu banyak mengenal gadis-gadis yang seperti itu. Yang akan segera berpindah haluan begitu mereka menemukan laki-laki yang lebih hebat.
"Tidak tentu saja tidak Yang Mulia. Bagaimana aku berani? Bukankah aku sudah memiliki Yang Mulia?"
"Huh!"
"Aku mohon Yang Mulia jangan marah. Putra mahkota sangat dingin bagaimanapun. Yang mulai jelas lebih hangat darinya." Jang Mue Lan tidak boleh kehilangan Shen Hu Min sebelum dia memiliki Shen Su Huan. Dengan manja ia menggamit lengan Shen Hu Min dan menempelkan bagian depan dadanya yang berisi di lengan kokoh itu.
Jika dulu status Shen Hu Min berada di nomor tiga setelah Shen Lin Yang, setelah Shen Lin Yang dijatuhi hukuman mati, dialah yang kedua. Jika dia kehilangannya sekarang sedangkan pada akhirnya Shen Su Huan tetap tidak dapat digapainya, ia akan menjadi orang yang paling rugi.
Shen Hu Min merasakan benda lembut di lengannya yang kokoh dan menjadi lebih longgar. "Huh! Kali ini aku percaya padamu. Tapi jika ada lain kali. Aku tidak akan segan mendorongmu."
"Yang Mulia tenang saat aku pasti akan setia." Shen Hu Min mendengarnya dengan puas. Ia segera melingkarkan lemgannya di pinggang Jang Mue Lan yang ramping dan membawanya pergi untuk mengantri kembali.
Shen Su Huan mengikuti Han Aruna ke dalam ruang kerjanya. Di dalam ruang kerja, orang kepercayaan Han Aruna sudah menunggu untuk melaporkan hasil pekerjaan mereka. Mereka sangat terkejut begitu melihat bahwa ada orang lain yang ikut masuk bersama nonanya. Terlebih lagi, orang itu bukan orang yang biasa melainkan Shen Su Huan. Putra mahkota yang terkenal kehebatannya dan juga keagungannya.
Melihat anak buahnya yang kebanyakan adalah pria paruh baya yang menjadi canggung, Han Aruna segera berdehem. "Ehem. Anggap saja putra mahkota tidak ada di sini." Ucap Han Aruna acuh. Ia membuka buku laporan di depannya dengan santai.
Semua orang menelan ludah mereka saat mendengar perkataan Han Aruna. Mereka tanpa sadar melirik Shen Su Huan yang duduk dalam diam di kursi yang ada di pojok ruangan itu. Membaca buku yang entah dari mana dan diam tanpa sepatah katapun.
Shen Su Huan seperti pajangan hidup yang indah di dalam ruangan itu. Setelah melihat Shen Su Huan yang menarik keberadaannya, semua orang akhirnya dapat melaporkan hasil kerjanya dengan baik.
~♡♡♡~
~☆The Story Of Han Aruna_62☆~
Terima kasih sudah mampir •○(♡;♡)○•
Jangan lupa like, Vote, Komen, Favoritkan dan bantu Share