
Wajah dan tubuh Xu Ruo Feng memiliki jejak-jejak aneh berwarna biru kemerahan yang mengerikan hanya setahun sepuluh menit berlalu. Wajah Xu Ruo Feng terlihat sangat pucat dan jelek. Terlihat jelas bahwa dia sedang berusaha kerasa menahan rasa sakit yang menyiksanya tanpa akhir. Sedangkan cacing yang masuk ke dalam tubuhnya bahkan belum sampai di hati yang dia cari. Cacing itu masih berkeliaran di seluruh tubuh. Bahkan bagian bawah Xu Ruo Feng juga tidak luput darinya.
"Ternyata kamu cukup tangguh juga. Memang benar apa yang Aruna katakan selama ini bahwa di saat-saat tertentu orang bahkan tidak lagi memiliki rasa sakit dan rasa takut. Ck ck ck. Aku sungguh salut padamu." Arnold mengangguk-anggukkan kepalanya saat ia menatap tubuh Xu Ruo Feng yang penuh dengan jejak mengerikan.
Xu Ruo Feng tidak menjawab sedikitpun. Dia hanya terus menggertakkan giginya saat matanya menatap tajam penuh kebencian pada pria tampan yang memiliki benda mengerikan yang menyiksanya.
"Dari yang aku dengar dari orang yang menjual cacing ini padaku, rasa sakit saat cacing ini berkeliaran mencari jalannya masih tidak seberapa dibandingkan dengan saat ia sudah menemukan hati dan mulai menghisap darahnya. Jadi mungkin memang sedikit wajar jika kamu masih bisa menahannya." Arnold mengabaikan tatapan mematikan Xu Ruo Feng dan mengetuk dagunya saat ia berpikir.
Xu Ruo Feng hampir memuntahkan seteguk darahnya. Dia sudah sekuat tenaga menahan siksaan rasa sakit yang lebih sakit daripada disayat dengan sebuah belati atau ditebas dengan sebilah pedang. Rasa terbakar dan nyeri di saat yang bersamaan ditambah dengan sensasi dimana sesuatu terus menggigit dan menggerogoti bagian bawah kulit. Menembus daging dan terus bergerak. Rasanya sangat tidak tertahankan. Jika dia adalah orang bisa pasti sudah mati sejak lama karena rasa sakit.
Dan pangeran Si-alan itu mengatakan dengan begitu mudahnya bahwa rasa seperti itu bahkan belum ada apa-apanya? Lelucon! Ini pasti hanya Lelucon yang digunakan untuk menakut-nakutinya saja agar segera mengaku. Tapi dia, adalah seorang pria yang akan bertahan demi harga dirinya. Dia tidak akan...
"Aaaarrgghhh!" Teriakan yang sangat keras menggema di seluruh lorong. Setiap orang yang ada di dalam penjara mendengarkannya dengan ngilu. Untuk berteriak seperti itu pastilah telah merasakan rasa sakit yang tidak terkatakan. Siapa orang itu sebenarnya? Apa yang digunakan untuk menyiksanya?
"Arrrghh heh heh keluarkan! Kelu...argh arkan heh heh heh. Kelurahan benda Si-si-alan ini dariku. Aaaarrgghhh. Aaarrgh!"
"Hei hei bicara yang jelas. Aku tidak bisa mendengarmu karena tertarik terus. Bicarakan dengan tenang oke?" Arnold menutup telinganya yang ngilu. Ia juga terkejut mendengar Teriakan Xu Ruo Feng yang berteriak dengan keras. Jika mereka berada di dalam gua yang dipenuhi kelelawar, sudah pasti semua kelelawar pasti akan keluar dari dalam gua.
"Aku...aku akan.. aku mengatakannya. Aaarrgh. Aku akan mengatakannya." Xu Ruo Feng akhirnya menyerah. Rasa sakit itu sungguh tak tertahankan. Ia ingin pingsan. Tetap dengan rasa sakit yang seperti itu tidak mungkin ia bisa pingsan. XU Ruo Feng yang putus asa tidak memiliki hal lain untuk dipikirkan selain menghilangkan rasa sakit yang sangat menyiksanya.
"Aku masih tidak mendengarmu." Arnold menggaruk telinganya.
"Anthonio. Ya dia adalah tuan Aaarrgh tuan Anthonio yang telah menjual semua benda itu padaku. Aku tidak bohong."
"Apa kamu memiliki bukti yang menunjukkan bahwa kamu tidak berbohong?"
"Ada...ada... aku selalu menyimpan semau surat yang aku terima. Hah hah... itu ada... ada di dalam kompartemen rahasia di dalam kamar ku di kediaman Xu. Di...di bawah ranjang...argh. .. ada ruang rahasia. Tuasnya adalah tempat lilin di bagian... bagian kiri tempat tidur. Argh! Cepat keluarkan benda menjanjikan itu dari tubuhku. Ini sakit sekali." Teriak Xu Ruo Feng dengan keras.
"Felix, apa kamu sudah mencatatnya?" Arnold berbalik dan bertanya pada Felix yang berdiri dan menunggu dengan tenang di luar sel.
"Sudah Yang Mulia." Felix menganggukkan kepalanya. Menunjukkan buku catatan di tangannya.
"Oke. Sekarang aku akan mengambil cacingku. Jika dia terlalu banyak meminum darah hati orang yang licik dan jahat sepertimu, aku khawatir cacingku juga akan mengkhianatiku nanti." Arnold mengeluarkan sebuah botol berisi jel dan meminta penjaga untuk mengoleskan jel di atas permukaan perut yang paling dekat dengan tempat hati berada. Saat botol dibuka, aroma yang sangat busuk bisa tercium dengan mudah.
Xu Ruo Feng tidak berhenti berteriak. Dia tidak sempat mengucapkan sepatah katapun selain berteriak terus menerus tanpa henti.
Menghadapi rasa sakit yang luar biasa, Xu Ruo Feng sempat pingsan tetapi tidak sampai lebih dari tiga detik sebelum ia mulai berteriak lagi. Wajahnya terdistorsi. Putih, hijau, biru, hitam, merah. Kembali lagi berwarna putih yang pucat.
Meskipun tidak merasakannya, Shen Su Huan tahu bahwa untuk membatasi Xu Ruo Feng menjadi seperti itu pastilah harus rasa sakit yang luar biasa. Ia bahkan mulai menutup telinga Han Aruna setelah itu.
Setelah beberapa teriakan yang memilukan, sebuah bulatan merah muncul di permukaan kulit. Gigi-giginya yang tajam disuruh permukaan mulutnya mulai bergerak untuk membuat jalan keluar untuk tubuhnya yang super besar.
Shen Su Huan tanpa peringatan menarik Han Aruna dan membawanya keluar dari penjara. Sesuatu yang terjadi selanjutnya pasti sangat menjijikkan. Sebelum ia keluar ia sempat memberi pesan pada Arnold untuk menyelesaikan masalahnya sesegera mungkin.
Kali ini Han Aruna juga tidak melawan saat dibawa keluar oleh Shen Su Huan. Di dalam, dia juga tidak melakukan apa-apa. Jadi lebih baik memang dia keluar.
Sedangkan di dalam, Xu Ruo Fungsi akhirnya pingsan setelah cacing berwarna merah yang sudah menggembung hampir lima kali lipat dari saat ia masuk. Setelah cacing keluar, Felix masuk dan menekan cacing itu hingga semua cairan merah darah di dalam tubuhnya keluar dan meresap ke dalam lubang tempatnya keluar dari tubuh Xu Ruo Feng. Lalu secara perlahan jejak yang tadi terlihat di sekujur tubuh Xu Ruo Feng menghilang tanpa jejak seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
"Ugh. Cacing ini ternyata sangat berguna. Ingatkan saat pulang nanti aku akan mengunjungi suku Skepeer untuk meminta lebih banyak dari mereka."
"Baik Yang mulia."
"Kemana semua orang?" Tanya Arnold begitu ia menyadari bahwa hanya tinggal dirinya di dalam ruang penjara yang gelap, lembab, pengap dan bau.
"Menjawab yang mulia. Nona Han dan pangeran putra Mahkota Shen sudah keluar sejak tadi."
"Si-al! Itu artinya aku dibodohi lagi oleh pria busuk itu!"
~♡♡♡~
~☆The Story Of Han Aruna_52☆~
Terima kasih sudah mampir •○(♡;♡)○•
Jangan lupa like, Vote, Komen, Favoritkan dan bantu Share