
Han Aruna baru saja menginjakkan kaki di kediaman Han ketika terdengar teriakan Arnold yang meminta tolong. Han Aruna mengerutkan bibirnya. Siapa yang berani melakukan sesuatu pada Arnold di kediaman ini dia sudah dapat menebaknya. Han Mora dan Arnold, kedua orang itu memang hampir tidak bisa dibiarkan tinggal bersama atau seluruh tempat akan hancur seketika.
Empat jam yang lalu Han Mora masuk ke dalam ruangan khusus miliknya untuk mengukir giok embun Biru untuk dijadikan liontin yang akan ia berikan pada Han Aruna saat ia menikah nanti. Giok Embun Biru bukan hanya giok langka yang indah. Tetapi juga dipenuhi dengan aura spiritual yang kental bahkan setelah diukir sedemikian rupa,aura spiritual yang dikandung di dalam giok tidak akan berkurang.
Han Mora baru saja mendapatkan giok itu beberapa bulan yang lalu setelah mencarinya hampir empat tahun lamanya. Giok ini dijual oleh seseorang di salah satu cabang pelelangan Anggrek Bulan di kekaisaran Nan. Karena barang berharga dan langka itu berada di pelelangan, Han Mora bahkan harus mengikuti pelelangan itu dan menghabiskan begitu banyak usaha untuk mendapatkan nya.
Han Mora akhirnya memutuskan untuk mengukir seekor burung Phoenik di atas giok Embun Biru setelah memikirkannya selama berbulan-bulan dan baru menemukan inspirasi dua bulan yang lalu saat ia melihat Han Aruna yang baru saja kembali dari Pelayarannya.
Pengerjaan mengukir giok juga harus dilakukan dengan hati-hati dan teliti. Atau kalau tidak, sedikit goresan saja akan menghilangkan keindahan dan merusak citra giok itu sendiri. Han Mora tidak akan mempercayakan pengerjaan barang yang begitu bagus pada sembarang orang karena kemampuannya sendiri jauh lebih baik dari rata-rata pengrajin.
Satu minggu yang lalu ia mulai membuat polanya terlebih dahulu di atas kertas. Baru setelah itu membuat pola pada gioknya. Lalu secara bertahap mulai mengukir gioknya itu dengan sangat hati-hati. Han Mora akan berhenti saat tangannya mulai lelah. Jadi untuk membuat satu liontin, membutuhkan begitu banyak waktu.
Hari ini seharusnya adalah hari terakhir. Hanya tinggal memperhalus tampilan liontin yang sudah terlihat indah. Han Mora beberapa kali melihatnya di atas udara sambil tersenyum mengagumi hasil karyanya sendiri. Dia akan kembali memoles saat menemukan sudut yang tidak sempurna. Begitu selama beberapa kali.
Pada saat Han Mora menemukan bahwa mata Phoenik yang diukirnya dirasa kurang pas, ia pun segera meletakkan liontin di atas meja dan mengambil pisau khusus untuk mengukir. Siapa yang tahu bahwa Arnold akan muncul tiba-tiba di dalam ruangan dan membuatnya tanpa sengaja menghilangkan mata Phoenik yang bersinar biru itu. Padahal, bagian yang bersinar Biru yang telah dihilangkan itu adalah inti dari batu giok embun Biru. Begitulah namanya diambil.
Bagian biru yang hanya berupa titik sebesar bijih kacang hijau merupakan inti spiritual giok embun Biru. Jika bagian itu dihilangkan, kekuatan spiritualnya secara otomatis juga akan hilang dan giok yang berharga ratusan tael emas itu hanya akan berubah menjadi giok biasa yang tak memiliki nilai sedikit pun.
Kerja keras Han Mora selama beberapa bulan. Ratusan tael emas yag dia habiskan untuk membelinya. Jari-jari indahnya yang kadang tidak sengaja teriris saat ia mengukir, hancur begitu saja.
Bagaimana dia tidak marah?
Melihat hasil karyanya yang indah telah hancur dan tidak bisa diperbaiki lagi, Han Mora berbalik dan menatap Arnold dengan mata tajamnya yang memerah.
"Bibi, apa bibi bekerja terlalu keras lagi? Lihatlah mata bibi yang sudah memerah. Jika Aruna mengetahui bahwa aku membiarkan ibunya menderita, dia pasti tidak akan memaafkanku." Arnold sama sekali tidak mengerti apa yang telah diperbuatnya. Ia tidak menyadari bahwa mata merah Han Mora bukan karena kebanyakan bekerja, tetapi justru karena marah padanya.
Arnold dengan santai berjalan menghampiri Han Mora di meja kerjanya. Baru setelah itu ia melihat giok indah di tangan Han Mora. Alisnya mengkerut melihat ada yang tidak beres dengan ukiran pada batu giok itu.
"Bibi, berapa Bibi membeli liontin giok itu?"
"Kenapa? Apa kamu ingin membelinya?"
"Tidak. Hanya saja aku merasa bahwa ukiran pada liontin ini sangat aneh. Aku sering melihat Aruna melukis burung seperti itu. Tapi semuanya memiliki mata yang tajam dan indah. Tetapi kenapa liontin giok ini tidak memiliki mata? Apa ini dari spesies burung yang buta?"
"Karena kamu sangat memperhatikan liontin ini, kenapa tidak kamu memakainya?" Han Mora tersenyum licik. Mengangkat liontin itu di udara seperti siap memakaikannya pada Arnold.
"Tidak Bibi. Liontin itu tidak cocok denganku. Jika burung di dalam liontin itu memiliki mata, pasti Aruna akan sangat menyukainya. Tetapi saat ini,ck ck ck...." Arnold menggelengkan kepalanya.
"Oh jadi menurutmu ini juga sebenarnya cocok untuk Aruna jika burung ini memiliki mata?" Arnold mengangguk dengan semangat.
"Apa kamu tahu sebelum kamu datang, burung ini memiliki mata yang indah. Dan mata itu berwarna biru langit yang menyejukkan. Kebetulan sekali kamu memiliki warna mata yang sama dengannya. Karena kamu yang membuatku menghilangkan matanya, bagaimana jika kamu menggantinya dengan matamu saja?" Saat mengatakan hal ini, Han Mora mengangkat pisau ukirnya dan mengarahkannya tepat di depan mata Arlnold.
"Kenapa? Apa kamu takut? Kamu tenang saja. Aku sudah biasa menggunakan pisau ini. Meskipun pisau ini terlihat kecil, pisau ini dapat diandalkan untuk melakukan pekerjaan dengan detail dan mudah. Kamu tidak akan merasakan apa-apa saat aku melakukannya. Hanya membutuhkan sedikit saja bola matamu." Jari telunjuk dan ibu jari Han Mora membentuk lingkaran yang sangat kecil untuk menunjukkannya. Tetapi dia meletakkan lingkaran kecil itu di depan matanya. Membuat Arnold semakin takut jika bola matanya benar-benar diambil.
"Bibi aku minta ampun." Arnold mulai berlari menjauhi Han Mora. Tetapi bagaimana Han Mora akan membiarkan Arnold lepas begitu saja? Ia harus memberinya pelajaran agar mengingat apa yang diucapkannya bahwa Arnold dilarang masuk ke dalam Ruangannya tanpa izin.
Arnold sudah berlari dengan cepat. Tetapi Arnold hanyalah manusia normal yang tidak berlatih kultivasi. Secepat apapun ia berlari, Han Mora masih dengan cepat menyusulnya. Sedangkan para penjaga yang mengikuti Arnold juga berusaha untuk menghalangi Han Mora. Tetapi mereka tidak berani menggunakan kekerasan maupun sengaja. Mereka hanya mencoba menghalangi langkah Han Mora tetapi masih saja sia-sia.
Akibat kejar-kejaran itu, aula samping yang tadinya rapi menjadi berantakan. Meja dan kursi dibalik. Beberapa bahkan patah dan tidak bisa diperbaiki. Belum lagi vas dan guci hiasan yang pecah. Setelah semua kekacauan yang dibuat, Arnold akhirnya tertangkap. Han Mora membawa Arnold terbang ke atas pohon agar para penjaga tidak dapat melindunginya.
Dengan senyum kejam di bibirnya dan matanya yang memberikan ancaman, Han Mora mengeluarkan pisaunya dengan keren.
"Mau mata yang kanan atau yang kiri? Atau kanan dan kiri semuanya diambil agar sesuai?"
"Ah ah ah! Bibi Han tolong jangan! Aku mohon ampun Bibi. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Teriak Arnold dengan keras air matanya bahkan sudah menetes di pipinya.
"Katakan dengan benar." Han Mora sengaja memainkan pisaunya di depan wajah Arnold. Membuat pemuda dengan rambut pirang itu menggigil ketakutan.
"Aku salah Bibi. Aku salah. Aku tidak seharusnya masuk ke dalam ruang belajarmu tanpa izin. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi."
"Apa jaminan agar aku melepaskanmu?" Han Mora tersenyum miring.
"Aku... aku akan membujuk ayah agar membiarkan cabang anggrek bulan berada di negara barat."
"Dan...."
"Dan... oh. Aku akan membiarkan Bibi Han mencukur habis rambutku. Ya cukur habis rambutku jika aku melakukannya lagi." Arnold dengan panik berkata.
"Cukur habis rambutmu ya? Kenapa tidak aku lakukan sekarang saja? Dengan begitu kamu akan mengingatnya dengan baik." Setelah selesai dengan kalimatnya, Han Mora mulai mendorong pisau ke depan.
"Aaaah.... tidaaaaak.... tolong....!"
~♡♡♡~
~☆The Story Of Han Aruna_45☆~
Terima kasih sudah mampir •○(♡;♡)○•
Jangan lupa like, Vote, Komen, Favoritkan dan bantu Share