
Permukaan pedang berkilap memantulkan cahaya matahari yang terang. Setiap gerakan yang dilakukan tegas dan mantap. Namun tidak meninggalkan sisi lemah lembut dan elegan khas tarian seorang gadis. Tebasan yang diberikan mematikan. Han Aruna berputar dan menebas. Menyatu dengan lagu yang dibawakan oleh Tang Lin Hua. Gerakan dan lagu berjalan seirama. Tarian itu sangat indah.
Tang Lin Hua semakin panik melihat Hantu Aruna yang bersinar di atas panggung. Ia tiba-tiba merasa bahwa iaelakukan hal yang sia-sia dan merugi. Dia ingin mempermalukan Han Aruna dan yang terjadi malah sebaliknya. Han Aruna bahkan dapat mengikuti lagunya dengan sangat baik. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Dia tidak boleh menang.
Gerakan jari Tang Lin Hua semakin keras. Ia bergerak sangat cepat menari di atas senar Sittar. Lagu yang dihasilkan juga semakin cepat. Han Aruna mengangkat sudut bibirnya. Ia adalah seorang gadis yang terlatih untuk apapun. Gerakannya lincah dan terarah. Meskipun lagu yang mengiringinya semakin cepat, gerakannya masih luwes tanpa terlihat terburu-buru. Gerakannya terarah dengan baik dan sempurna.
"Ah!" Pekik Tang Lin Hua kesakitan. Jarinya terjepit senar Sittar yang tajam dan menggores tangannya. Darah merah keluar dari luka sobek yang dalam. Gadis pelayan di sisi Tang Lin Hua segera bergegas ke dekat panggung. Mencari tabib untuk mengobati nonanya.
Lagu sudah terhenti seketika saat Tang Lin Hua tidak sengaja melukai tangannya. Namun Hanya Aruna masih belum menyelesaikan tariannya. Dia tidak bisa berhenti di tengah jalan dan menghentikan gerakan jurusnya. Hanya beberapa menit setelahnya Gerakannya akhirnya selesai. Ditutup dengan sangat menawan saat Han Aruna menyarungkan kembali pedangnya.
Semua orang memberi tepuk tangan. Mereka bahkan lupa bahwa Nona Tang mereka yang hebat sedang terluka pada saat yang sama.
"Terima kasih banyak." Han Aruna membungkukan badannya memberi hormat pada penonton.
"Nona Han sangat hebat. Tarianya sangat indah." Kaisar Shen Holling memuji dengan tulus.
"Terima kasih Yang Mulia." Han Aruna memberi hormat pada Kaisar Shen Holling. Kaisar Shen Holling tersenyum sebelum memindahkan pandangannya pada Tang Lin Hua.
"Tabib bagaimana dengan jari nona Tang? Apakah tidak apa-apa?" Kaisar bertanya pada tabib yang baru selesai membalut jari Tang Lin Hua dengan kasa tipis.
"Menjawab Yang Mulia, jari Nona Muda Tang tidak apa-apa. Hanya luka luar saja. Setah istirahat beberapa hari akan segera sembuh." Jawab Tabib kerajaan dengan hormat.
"Baguslah kalau begitu. Kalian bawalah Nona Tang untuk beristirahat lebih dahulu." Kaisar Shen Holling mengibaskan lengannya pada para pelayan.
"Tunggu sebentar Nona Tang. Sepertinya anda melupakan sesuatu." Han Aruna adalah seorang pedagang yang tidak ingin mengalami kerugian. Dia sudah menang taruhan dan harus mendapatkan hadiahnya. Dia tidak akan membiarkannya kabur begitu saja tanpa memberinya kompensasi.
Tang Lin Hua yang sudah berjalan bersama pelayannya pada jalurnya berhenti dan berbalik. Menatap Han Aruna dengan tatapan penuh kebencian.
"Berikan itu." Tang Lin Hua menggertakkan giginya saat ia melirik Sittar Feiyang yang dibawa pelayannya dengan hati-hati.
"Tapi nona ini..." pelayannya tahu betul makna Sittar itu bagi Tang Lin Hua. Apalagi Sittar itu adalah harta warisan turun temurun dari generasi ke generasi. Dulu nenek moyang keluarga Tang Adalah seorang seniman yang hebat sebelum akhirnya berubah menjadi keluarga politik seperti sekarang ini.
"Apa kamu mulai tidak mendengarkan perintahku?" Tang Lin Hua memelototi pelayannya. Meskipun ia sangat tidak rela melepaskan sittar itu, dia lebih memiliki menyelamatkan harga dirinya. Apa yang dia katakan tidak bisa ambil kembali.
Hal yang sama berlaku dengan Tuan Tang yang juga hadir. Awalnya dia berharap putrinya dapat mengalahkan Han Aruna dan mendapatkan manfaat darinya baru dia mengizinkan Tang Lin Hua untuk menjadikan Sittar warisan keluarganya sebagai bahan taruhan. Lagipula kemampuan putrinya tidak ada yang bisa mengalahkannya di kerajaan ini. Jadi dia benar-benar tidak menyangka jika pada akhirnya putrinya kalah dengan seorang gadis yang sering disebut gadis pelaut.
Han Aruna sudah mendapatkan yang dia mau. Memegang sittar Feiyang dengan erat di tangannya dan bersiap turun. Namun Fiat diintruksi seseorang sehingga membuatnya berhenti di jalurnya.
"Nona Han tunggu sebentar."
Suara ini.... suara yang akan dikenali oleh Han Aruna tanpa berpikir. Ia langsung berbalik dan menemukan Shen Su Huan berdiri di tempatnya dengan memegang bunga mawar merah di tangannya.
Melihat ini, selain Han Aruna yang memutar matanya malas, semua orang terpaku di tempatnya.
Han Aruna sudah melihat sisi lain dari pangeran Shen Su Huan. Jadi dia sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan oleh pangeran mesum itu. Itulah mengapa ia memutar matanya dengan jengkel. Jika ia bisa memutar waktu, ia lebih memilih menenggelamkan dirinya di kolam daripada meminta bantuan pada pria jahat berperut hitam ini.
"Nona Han. Setiap orang yang menunjukkan bakatnya di depan panggung akan mendapatkan bunga sebagai nilainya. Bukankah tidak baik jika Nona Han turun terburu-buru tanpa mendapatkan nilai. Bagaimana jika aku, Shen Su Huan yang memberikan bunga pertama?" Suara Shen Su Huan jelas dan terang. Semua orang mendenganya dan setuju. Mereka satu eorsatu menganggukkan kepalanya dan juga membenarkan.
Shen Su Huan tersenyum bahwa ia mendapatkan dukungan. Dengan begini Han Aruna tidak akan menolak bunga darinya.
"Kalau begitu Terima kasih atas kebaikan Yang Mulia Pangeran Mahkota." Han Aruna tersenyum tapi tidak sampai di matanya. Matanya yang berbentuk almond menatap tajam Shen Su Huan dengan permusuhan yang jelas.
"Tentu saja." Shen Su Huan mengangguk sambil berjalan maju dan menyelipkan serangkaian bunga di atasan Han Aruna yg memegang Sittar.
Kasim Li yang baru saja bangun setelah beberapa menit terpana segera sadar setelah Shen Su Huan kembali ke tempat duduknya. Ia segera mengumumkan kepada pra hadirin yang ingin memberikan bunga padan Han Aruna.
Alhasil, Han Aruna yang tanganya sudah penuh dengan Sittar memanggil Yang Se Se untuk membantunya menerima bunga mawar.
Shen Su Huan tersenyum puas saat melihat hanya bunganya saja yang diterima secara pribadi oleh Han Aruna.
...~♡♡♡~...
...~☆The Story Oh Han Aruna_23☆~...
Terima kasih sudah mampir •○(♡;♡)○•
Jangan lupa like, Vote, Komen, Favoritkan dan bantu Share