The Story Of Han Aruna

The Story Of Han Aruna
36. Terpaksa Bekerja Sama



Arnold bagaimanapun mengerti apa yang ditanyakan Shen Su Huan dan bagaimana Han Aruna menjawabnya. Dia mengeratkan kepalan tangannya. Han Aruna mengerti bahwa Shen Su Huan sengaja memprovokasi Arnold untuk mengungkapkan rahasianya. Tapi anda akhirnya, Han Aruna memilih untuk mendukung Shen Su Huan dan setuju untuk membongkar rahasia Arnold di depan mereka. Lagipula ia sudah cukup lelah melihatnya lengket di sampingnya dengan alasan bahwa ia tidak memiliki teman bicara.


"Aruna kenapa kamu berbicara seperti itu?" Arnold tidak terima.


"Kenapa? Bukanya kita memang hanya orang yang sakit gigi mengenal?"


"Tapi tidak perlu memberitahunya."


"Kenapa tidak? Dia bertanya padaku dan aku harus menjawabnya. Lagipula dia cukup tampan. Bagaimana kalau dia mengira aku berhububgan denganmu dan kehilangan kesempatan emas untuk menjadi ratunya?" Han Aruna melirik Arnold. Ia begitu percaya diri saat berbicara karena Shen Su Huan yang terlibat tidak akan mengerti apa yang ia bicarakan. Jika tidak, dia tidak akan mengatakan hal yang akan membuatnya jengah.


"Aruna apa kurangnya aku darinya? Aku juga seorang putra mahkota yang akan menjadi raja di masa depan. Kerajaanku bahkan lebih besar dan megah. Kamu juga sudah melihatnya kan? Aku juga lebih tampan darinya."


"Sejak kapan aku melihat orang dari penampilannya? Apalagi kekayaannya? Kamu pikir aku kekurangan uang?"


"Lalu apa?"


"Itu karena dia lebih kuat darimu. Aku rasa hanya dia yang bisa melindungiku."


"Tidak! Aku juga bisa. Aku akan menentangnya. Lihat siapa yang lebih kuat. Aku apa dia!"


"Kamu bisa melakukannya nanti. Sekarang aku harus menjamu priantampan dan kuat untuk makan. Dan kamu harus ingat, jangan membuat malu." Selesai memperingatkan Arnold dengan memelototi pria itu, Han Aruna dengan cepat berbalik dan tersenyum pada Shen Su Huan. Sengaja memprovokasi Arnold lebih dalam.


Arnold sangat marah. Tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa pada Han Aruna. Ia ingin berbicara, tetapi melihat Han Aruna sudah berbicara dengan Shen Su Huan membuatnya hanya bisa diam. Dia masih tidak ingin ada orang yang mengetahui jika dia bisa bahasa mereka.


"Yang Mulia, mari ke aula samping." Han Aruna memberi isyarat melalui tangannya.


Shen Su Huan memahami dan segera berdiri dan berjalan ke arah aula samping. Mereka masih ada di istana. Jadi, bisa dikatakan bahwa Shen Su Huan lebih berhak menjadi tuan rumah dibandingkan Han Aruna.


Kedua pangeran tidak tinggal lama setelah mereka makan siang. Acara penutupan perjamuan bunga akan diadakan malam nanti dan sebagai seorang wanita, Han Aruna butuh waktu untuk bersiap-siap. Jadi mereka dengan sadar diri kembali ke kamar mereka sendiri dan tidak mengganggu lagi.


Han Aruna menghela napas lega setelah melihat keduanya pergi. "Yang satu begitu lengket yang satu tidak tahu bagaimana membuatnya pergi."


"Ada apa Nona?" Yang Se Se mendengar gumamam Han Aruna tetapi tidak mendengar dengan jelas dan bertanya.


"Tidak apa. Lakukan saja persiapan untuk nanti malam."


Matahari baru saja tenggelam. Langit di ufuk Barat masih berwarna jingga yang indah. Suara binatang malam sudah mulai terdengar dari luar aula. Beberapa orang sudah memasuki aula perjamuan. Untuk perjamuan penutupan akan diadakan lebih awal karena setelah perjamuan semua orang akan kembali ke rumah mereka atau pergi ke penginapan di luar istana.


Dalam satu hari, tuan muda dan Nona muda yang terluka sudah memulihkan diri. Mereka berasal dari keluarga berada yang memiliki akomodasi cukup baik untuk menyediakan pil penyembuh tingkat tinggi untuk anggota keluarganya. Jadi hanya butuh beberapa saat sampai semua orang kembali pada kondisi awalnya.


Saat Han Aruna masuk ke dalam aula, dia tidak sendirian seperti saat malam pertama perjamuan. Arnold datang sesaat sebelum Han Aruna keluar untuk berangkat. Lagipula Han Aruna saat ini juga memerlukan Arnold untuk membuat wajah untuk dirinya sendiri. Kalau tidak, bagaimana dia akan menampar semua orang yang telah meremehkannya?


Pada saat Arnold datang ke hutan, tidak semua orang ada di sana dan tidak ada banyak waktu untuk memperhatikan lebih seksama penampilan pria dengan rambut pirang itu. Ditambah lagi karena semua orang fokus pada penyerangan di hutan hampir tidak ada yang ingat bahwa ada seorang pangeran tampan yang datang dari negeri Barat yang melegenda. Jadi saat Arnold berjalan di samping Han Aruna dengan mata barunya yang menyejukkan, semua orang masih terpana.


"Lihat, semua orang terpana akan ketampananku. Aku sudah katakan bahwa ketampananku ini tidak ada bandingannya." Arnold berbicara membanggakan dirinya. Menegakkan punggungnya dan mengangkat dagunya tinggi.


"Aku rasa bukan karena itu. Mereka hanya tidak pernah melihat seseorang yang rambutnya terbakar tetapi masih bisa berjalan dengan angkuh." Han Aruna berjalan di sampingnya dan menyakitkan matanya.


"Ini namanya rambut pirang. Bukan rambut terbakar. Katakan pada mereka! Jangan sampai aku mendengar mereka menyebutnya rambut terbakar lagi."


"Apa mereka akan percaya begitu saja? Percuma untukku berbicara." Han Aruna menyapa beberapa orang sebelum akhirnya duduk di tempatnya. Posisi yang sedikit berbeda dari kemarin karena posisinya saat ini telah bergeser menjadi tempat Arnold. Mereka tidak berada dalam satu meja.


"...." Arnold ingin sekali menjelaskan. Tapi lagi-lagi dia masih hanya diam.


Tak lama, suara kasim yang memberitahu bahwa Shen Su Huan memasuki aula bergema. Semua orang memiliki reaksi yang berbeda lagi. Mereka semua memandang pintu masuk dengan takjub. Han Aruna melirik Arnold dengan senyum penuh arti. Dia ingin memberi tahu Arnold bahwa Shen Su Huan lebih mampu menarik perhatian dibandingkan dengannya.


Suara langkah kaki Shen Su Huan bergema di aula yang besar. Langkah kakinya tegas dan jelas. Menandakan bahwa Shen Su Huan memiliki pendirian yang jelas dan pemimpin masa depan yang berwibawa. Setiap langkah kakinya seperti mengetuk hati semua orang. Membuat semua orang tidak sadar kapan mereka begitu larut dan menumbuhkan rasa hormat pada saat yang sama.


Jubah birunya berkibar saat dia berjalan. Ikat pinggangnya terlihat pas dan indah melingkar di perutnya yang samar-samar mencetak otot-otot di dalamnya yang terbentuk dengan indaharga. Pandangan matanya lurus ke depan. Cara melihat yang merendahkan semua orang. Tidak ada yang pantas memasuki matanya.


Wajah tampannya yang tanpa senyumbang sedikitpun namun tidak membuat takut namun hanya membuat orang yang memandangnya akan memberikan hormat mereka secara sadar. Saat dia berjalan sampai duduk di tempatnya dengan elegan, tidak ada yang bergerak sedikitpun. Bahkan mereka juga sengaja bernapas dengan sangat pelan. Takut suara napas mereka yang keras akan merusak melodi indah dari ketukan sepatu yang mengetuk jiwa.


"Sudah lihat. Hanya dengan berjalan saja Putra Mahkota Shen Su Huan sudah mampu menyedot begitu banyak perhatian." Han Aruna melemparkan senyum pada Shen Su Huan saat ia berbicara pada Arnold. Tatapannya tidak sengaja bertemu dengan mata pria itu. Dia mengira jika sampai dia tidak tersenyum padanya saat dia jelas semangat melihat ke arahnya, sesuatu yang buruk akan terjadi. Jadi dia hanya bisa tersenyum untuknya. Tetapi di mata Arnold, Han Aruna memang sengaja tersenyum dengan begitu manis pada Shen Su Huan. Membuat hati seseorang masam dengan sangat jelas.


...~○○○~...


...~♡The Story Of Han Aruna_36♡~...