
Harimau menyerang dengan gila. Han Aruna mengelak dengan lancar. Meskipun harimau itu menyerangnya dengan sengit, sebisa mungkin ia harus menghindari untuk menyerang balik dan melukai harimau betina itu. Sebaliknya, harimau yang merasa bahwa gadis di depannya ini menyepelekannya, ia terus menyerang tanpa henti.
Harimau putih itu adalah harimau putih spiritual tingkat tinggi. Meskipun terluka parah masih memberikan perlawanan yang sengit dan mematikan. Beberapa kali cakar dan giginya berhasil mencapai Han Aruna dan memotongnya. Hanya karena kemampuan Han Aruna bergerak dengan gesitlah ia bisa selamat. Jika itu orang lain, mungkin kejadiannya tidak akan sama.
Empat orang yang akan membantu segera dilarang maju. Mereka semua tidak mengetahui maksud Han Aruna. Rencana Aruna adalah dengan membiarkan harimau itu menyerangnya hingga batas kemampuannya. Baru saat itulah harimau akan kehilangan kekuatan dan kemampuannya tanpa menyakiti anak harimau yang belum lahir.
Penantian Han Aruna tidak sia-sia. Setengah jam setelah ia terus menghindar dan mengelak, kekuatan harimau itu hampir mencapai batasnya. Gerakannya mulai lambat. Dan cakarnya juga sudah mulai terkulai.
Dengan tenang Han Aruna mendekati harimau yang sedang bersiap menyerangnya lagi. Rupanya harimau ini masih belum menyerah.
Han Aruna menatap harimau. Tatapan matanya berisi kepercayaan diri yang dalam. Auratnya sangat mendominasi tetapi bagi harimau itu entah kenapa ia merasa bahwa manusia ini tidak memiliki niat buruk terhadapnya. Sejak awal dia tidak sempat memikirkan dan merasakan hal ini. Baru setelah dia kehilangan kekuatannya, ia merasa bahwa perlawanannya seharusnya tidak ia lakukan. Perlahan, harimau itu menghilangkan kewaspadaanya. Memasukkan kembali cakar dan menutup mulutnya dengan rapi. Ia menatap gadis yang masih berjalan ke arahnya dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan.
"Sudah selesai?" Suara gadis itu menyenangkan. Memecah ketenangan hutan. Harimau itu hanya menatap Han Aruna. Harimau itu mengerti apa yang diucapkan. Sebagai harimau spiritual tingkat tinggi kelas rendah, ia memiliki kemampuan untuk memahami tetapi tidak bisa berbicara.
Sebelum dia bertemu dengan penjantannya, dia hanyalah harimau putih spiritual tingkat menengah kelas rendah. Setelah ia melakukan kultivasi ganda dengan pasangannya yang memiliki tingkat lebih tinggi darinya, ia akhirnya mampu menaikkan tingkatannya. Baru-baru ini dia baru saja naik ke tingkat tinggi. Jadi pondasinya tidak terlalu kuat.
Hanya Aruna berhenti satu meter di depan harimau. Menghindari harimau yang tiba-tiba bergerak menyerangnya. "Aku tahu kamu hamil saat ini. Tapi dengan luka dalam yang kamu derita tidak memungkinkanmu hidup lebih lama lagi dan kamu saat ini ingin menyelamatkan bayi-bayimu dengan cara melahirkannya kan?"
Harimau itu tertegun. Ia tidak menyangka gadis yang ada di depannya ini mengerti apa yang dia inginkan. Lalu melihat mata gadis itu yang tampak murni, ia merasa bahwa gadis ini bisa dipercaya. Ia pun memutuskan untuk membuat taruhan pada dirinya sendiri untuk percaya pada gadis ini dan mempercayakan bayi-bayinya padanya.
Han Aruna memperhatikan setiap gerakan harimau itu. Yang sedang melakukan gerakan yang aneh dengan cakarnya.
"Aku tidak memiliki pilihan lain selain mempercayakan bayi-bayiku padamu. Suamiku adalah raja Harimau dari gunung putih. Dan anak-anak ini adalah anaknya. Aku tahu bahwa permintaan ini terlalu berlebihan mengingat keadaanku, Kamu bisa saja melakukan apapun padaku. Tapi aku mohon kesediaanmu untuk berjanji padaku untuk tidak mengontrak anak-anakku tanpa izin suamiku. Karena dia lebih berhak atas anak-anakku dari pada orang lain. Lagipula suamiku akan segera datang mencari mereka begitu ia merasa bahwa anak-anaknya sudah lahir. Jadi jika dia tahu bahwa anak-anaknya dikontrak oleh seorang manusia, dia akan marah. Sebagai gantinya, aku akan membiarkanmu mengambil tubuhku sebagai gantinya." Harimau itu mengorbankan kultivasinya untuk bisa berbicara pada Han Aruna melalui pikirannya. Jadi dia mengatakan apa yang harus ia katakan.
Han Aruna menaikkan alisnya. Ia juga berbicara lewat pikiran. "Kamu sungguh harimau sombong. Tapi baiklah. Sejak awal aku memang tidak berniat mengontrak anakmu." Itu benar. Niat awal Han Aruna adalah akan memberikan satu anak harimau putih ini pada Arnold. Dan satunya lagi akan ia biarkan Jei untuk melatihnya sebagai penjaga.
"Apa kamu tidak mengerti tingkat apa anak-anakku nanti?"
"Tidak. Tapi aku bisa menebaknya bahwa itu pasti jauh lebih tinggi darimu kan? Ayah mereka adalah raja gunung putih. Tidak mungkin anak-anaknya hanya menjadi tingkat yang rendah kan?" Tebak Han Aruna.
"Lalu kenapa kamu tidak menginginkannya?"
Harimau itu tertegun saat melihat rasa percaya diri pada gadis itu. Tapi dia menjadi khawatir. Awalnya dia ingin Han Aruna berjanji untuk tidak mengontraknya tanpa persetujuan suaminya. Jadi dia berharap bahwa gadis itu akan berusaha sekuat tenaga untuk menyenangkan dan melindungi anak-anaknya dengan baik agar dia diizinkan untuk mengontraknya. Siapa yang menyangka bahwa ternyata ia tidak tertarik?
Melihat wajah harimau itu yang terlihat cemas, Han Aruna melanjutkan. "Tapi kamu tidak perlu khawatir atas keselamatan mereka. Aku akan menjaga mereka hingga suamimu menemukan mereka nantinya."
Mendengarnya, Harimau itu menjadi tenang. "Terima kasih kalau begitu. Aku akan memberimu sesuatu yang akan menunjukkan bahwa akulah yang telah menyerahkan anak-anak ini padamu sehingga suamiku tidak akan marah padamu nanti."
Sebuah gelang dari untaian mutiara putih muncul di pergelangan tangan Han Aruna. Setelah itu transmisi suara berhenti. Harimau itu pun berbaring untuk bersiap melahirkan.
Empat orang yang dari tadi mengawasi tidak mengetahui apa yang terjadi dengan perkembangan yang tidak terduga. Awalnya mereka melihat harimau itu menyerang dengan beringas. Lalu tiba-tiba saja harimau itu terdiam begitu juga dengan Han Aruna. Keduanya diam untuk beberapa waktu dengan saling menatap seperti sedang berbicara. Dan sekarang harimau itu malah berbaring seperti akan melahirkan.
"Nona, ini?" Pengawas dari istana yang bertugas untuk mengawasi sekaligus mencatat hasilnya segera bertanya saat ia melihat dua bayi harimau putih di dekat harimau besar yang sepertinya akan mati.
"Kamu bisa mencatat induknya. Tapi tidak dengan anak-anaknya." Jawab Han Aruna. Matanya terus menatap mata harimau betina itu.
"Nona, kenapa tidak mencatat anak-anaknya juga? Nilai Nona akan semakin besar. Lagipula semua hasil buruan yang didapat juga akan tetap menjadi milik nona." Pengawas itu khawatir Han Agung tidak mengetahui aturan itu dan mengira khawatir jika anak harimau akan diambil dirinya. Jadi dia buru-buru menjelaskan.
"Tidak apa. Lakukan saja seperti yang aku katakan." Jawab Han Aruna sambil mengangkat dua bayi harimau yang mendekat ke arahnya. Dua bayi harimau itu sudah mengetahui semuanya dari induk mereka.
Dengan dua bayi harimau di tangannya, Han Aruna menghampiri induk harimau. "Aku akan menjaga anak-anakmu ini. Kamu bisa tenang sekarang." Kali ini Han Aruna berbicara dengan keras. Harimau itu mengangguk dengan lemah sebelum menutup matanya untuk selamanya.
...~♡♡♡~...
...~☆The Story Oh Han Aruna_28☆~...
Terima kasih sudah mampir •○(♡;♡)○•
Jangan lupa like, Vote, Komen, Favoritkan dan bantu Share