
Waktu berjalan dengan lambat sejak pagi. Han Aruna hampir tidak bisa menahan kantuk di matanya yang malas. Duduk dengan menopang dagunya dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanan sesekali memasukkan biji kuaci yang telah dilupakan oleh Yang Se Se di sampingnya. Han Aruna melirik penuh rasa syukur tumpukan biji kuaci dalam mangkuk di atas meja. Merasa bersyukur atas itu.
Untung saja ada biji kuaci yang menemaninya, jika tidak ia sudah tidak tahu sejak kapan ia sudah menutup matanya.
Di atas panggung yang cukup tinggi, para peserta yang berpartisipasi dalam lomba unjuk bakat naik dan turun sejak tadi. Menampilkan berbagai macam keterampilan mereka. Mulai dari menyanyi, menari, memainkan alat musik juga bermain pantun. Bahkan ada yang menampilkan keterampilannya dalam melukis. Untuk saja yang dilukis kali ini adalah Yang Mulia Kaisar Shen Holing sendiri dan kasimnya juga cukup bagus. Kalau tidak, dia sudah diseret jatuh dari panggung karena menghabiskan banyak waktu.
"Keterampilan Nona Muda Si sungguh luar biasa. Suara serulingnya yang merdu membuat kita semua tenang." Kasim Li mengomentari dari samping setelah Nona Si turun dari panggung setelah menyelesaikan satu lagu nya dengan memainkan seruling. Semua orang segera bertepuk tangan.
Dibandingkan dengan Aruna yang bosan. Mereka semua terlihat bahagia. Bagaimanapun Aruna berbeda dengan orang-orang yang hadir di sini yang hidup diantara semua orang yang selalu taat aturan. Mempelajari kebudayaan dengan dalam. Aruna, Sigh! Dia selalu kabur jika Han Mora memanggil guru seni untuk mengajarinya.
"Selanjutnya adalah penampilan Nona kedua Jang. Silahkan naik ke atas panggung." Kasim Li menatap gadis cantik yang sudah bersiap di sisi panggung. Segera naik setelah namanya dipanggil. Semua orang bertepuk tangan dengan lebih riuh. Penggemar Jang Mue Lan cukup banyak.
Jang Mue Lan memiliki fitur wajah yang cantik. Tubuhnya juga berisi dan montok di bagian-bagian tertentu yang dibutuhkan. Kali ini dia akan menunjukkan sebuah tarian yang telah ia latihan selama satu bulan dari guru tari yang secara khusus dipanggil untuk mengajari nya.
Nama tarian itu adalah Tarian Anggrek Bulan. Jang Mue Lan memakai hanfu serba putih yang pas dengan tubuhnya. Belahan dadanya yang menonjol sedikit mengintip di balik hanfu putih dengan pinggiran emas. Rambutnya yang hitam mengalir di punggungnya yang lulus. Saat dia keluar, dia benar-benar memiliki pesona seperti bunga Anggrek Bulan yang sedang mekar. Aroma harum semerbak menyebar di udara.
Jang Mue Lan berdiri di tengah panggung. Bersiap menggerakkan tubuhnya sesuai dengan irama musik yang mengiringi. Saat musik mulai dimainkan, Jang Mue Lan mulai menggerakkan kaki dan tangannya. Wajahnya yang cantik juga terus menerus menawarkan senyuman. Matanya yang indah menyapu semua orang yang hadir. Bulu Mata lentik nya seperti melambai-lambai. Matanya yang hitam bersinar dengan glimmers yang polos dan menarik.
Kedua tangannya digerakkan dengan lembut. Berputar. Kakinya menghentak dengan anggun ke kiri dan ke kanan. Ke depan dan kebelakang. Sesekali ia akan berputar dengan indah. Membuat hiasan rambut dengan rumbai permata putih bergerak menimbulkan suara yang merdu. Seperti lonceng yang penuh dengan keceriaan. Hanfu putihnya terbuat dari sutra kualitas tinggi yang sangat ringan. Dia bergerak seperti kupu-kupu.
Saat lagu semakin cepat, gerakan tangan, kaki dan kepala juga berangsur menjadi cepat dan lincah. Meliuk-liuk seperti kupu-kupu yang akan terbang bebas. Tepuk tangan semakin riuh terdengar saat tarian sampai pada puncaknya. Semua mata memandang takjub. Tidak disangkal penampilan Jang Mue Lan memang terlalu indah untuk diabaikan.
Sebentar kemudian, iringan musik mulai melambat. Gerakan Jang Mue Lan juga bergerak dengan perlahan dan secara bertahap berhenti. Jang Mue Lan duduk di tengah panggung. Hanfu putihnya menyebar di sekitar. Sangat indah.
Dengan penutup yang begitu sempurna. Tepuk tangan riuh terdengar. Beberapa orang bahkan berdiri untuk memberikan apresiasi.
Kasim Li naik ke atas panggung. Menatap Jang Mue Lan yang tersenyum lembut padanya.
"Tarian Nona kedua Jang sangat indah."
"Terima kasih kasim Li." Jang Mue Lan bangun dan menbungkukkan tubuhnya berterina kasih sebelum membungkuk ke arah penonton.
"Silahkan beri bunga untuk nona Jang jika menyukai penampilannya." Ucap Kasim Li seperti biasa. Beberapa orang maju dan memberi bunga kepada Jang Mue Lan. Memberinya nilai.
Pada saat ini bunga di meja Jang Mue Lan lah yang paling banyak. Setidaknya ada seperempat dari seluruh jumlah bunga yang ada. Sepertinya dia akan menang melihat hanya setengah orang yang belum memberikan bunga mereka sedangkan masih banyak yang belum tampil. Melihatnya, selir Ye yang duduk di barisan belakang tersenyum dengan bangga. Statusnya sebagai selir tidsk mengizinkannya duduk di samping Jenderal Jang. Bahkan statusnya lebih rendah dari kedua putrinya. Tapi dengan prestasi putrinya yang membanggakan, ia masih bisa mengangkat kepalanya di dalam setiap kesempatan.
"Kediaman Jenderal Jang benar-benar beruntung memiliki putri yang begitu berbakat." Kaisar tersenyum. Mengangkat cangkir tehnya untuk bersulang dengan Jang Fang Lin.
Acara dilanjutkan lagi. Penampilan demi Penampilan dipentaskan di atas panggung. Semua orang tampil dengan maksimal. Terutama para gadis. Mereka berharap dapat menarik hati para pangeran atau tuan muda untuk mengangkat derajat mereka. Terutama pangeran mahkota. Shen Su Huan. Dengan statusnya yang tinggi, dia bisa saja memiliki empat istri dan juga enam selir. Tetapi sejak awal sudah tersiar kabar bahwa pangeran yang menjadi pusat perhatian ini sudah mengumumkan jika ini hanya akan memiliki satu istri.
Pada dasarnya, semua wanita di zaman ini sudah terbiasa membagi suami mereka dengan wanita lain. Tetapi jika suami mereka hanya memilikinya di hidupnya betapa indahnya! Semua gadis menginginkan itu.
Itulah mengapa semua gadis tampil dengan persiapan yang matang. Dengan dandanan yang cantik dan pakaian yang indah. Berharap untuk dapat menarik hati sang pangeran mahkota.
Namun sayangnya, pangeran yang mereka coba ambil hatinya saat ini, hanya diam tanpa ekspresi. Bahkan saat melihat banyaknya gadis cantik yang naik dengan segala bakatnya, dia hanya akan melihat gadis yang berada di seberangnya. Yang juga terlihat tidak lebih malas darinya.
"Nona, permainan seruling Nona Ji tidak lebih baik dari anda. Tetapi mereka semua sudah senang. Bagaimana jika nona yang memainkan. Mereka akan menangis karena senang." Ucap Yang Se Se setelah mendengar suara tepuk tangan yang riuh.
"Biarkan saja. Aku sedang tidak mood." Han Aruna masih dengan malas memasukkan biji kuaci ke dalam mulutnya.
"Penampilan selanjutnya adalah permainan Sittar oleh Nona pertama Tang." Ucap kasim Li dengan lantang.
Seorang gadis cantik dengan pakaian merahnya naik ke atas panggung dengan membawa sittar dari batu giok yang indah. Jelas Itu adalah sittar dengan kualitas yang tinggi.
Gadis ini adalah Tang Lin Hua. Gadis yang pernah bergesekan dengan Han Aruna. Gadis itu sudah memperhatikan Han Aruna sejak ia masuk ke dalam aula kemarin malam. Malam itu juga ia telah membuat rencana untuk membalas dendam lamanya padanya.
Tang Lin Hua naik ke atas panggung dengan anggun di bawah tatapan semua orang. Setelah membungkuk untuk memberi hormat pada Kaisar dan juga para hadirin, ia duduk dengan sittar di depannya.
Jari-jari lentik Tang Lin Hua segera menari di atas sittar. Meggetarkan senar-senar dengn terampil. Nada-nada yang lembut terdengar di seluruh taman. Namanya kuat dan jernih. Itu membuktikan bahwa sittar yang dia pakai memang bukan sembarang sittar.
Sebenarnya itu adalah Sittar legendaris Feiyuan yang merupakan Sittar dengan kekuatan spiritual yang mampu menghasilkan energi dari suaranya. Hanya saja Tang Lin Hua tidak bisa menggunakannya dengan benar sehingga nada yang dihasilkan hanya nada yang biasa.
Glimmers menari di mata Han Aruna yang sejak tadi hanya berisi kemalasan. Sorot matanya yang bersinar membuatnya tampak lebih cantik membuat beberapa orang yang sejak enggak tadi memperhatikannya semakin terpesona. Han Aruna hanya tertarik pada Sittar nya. Tetapi mereka yang memperhatikan Han Aruna mengira dia sedang menikmati alunan lagu yang dibawakan. Hanya Shen Su Huan yang melihat dengan cara yang berbeda. Ia mengikuti arah yang dilihat Han Aruna dengan mata berbinar nya dan menemukan bahwa mata itu tertuju pada sittar giok yang memang terlihat indah itu.
Shen Su Huan akhirnya memperhatikan lebih jelas Sittar Feiyuan. Dan akhirnya ia memang melihat bahwa sittar itu memang bukan sittar biasa. Itu adalah sittar Spiritual.
...~♡♡♡~...
...~☆The Story Oh Han Aruna_21☆~...
Terima kasih sudah mampir •○(♡;♡)○•
Jangan lupa like, Vote, Komen, Favoritkan dan bantu Share