
Jang Mue Lan memandang tidak percaya apa yang dia lihat di depannya. Ia berada cukup jauh dari tempat kedua orang laki-laki dan perempuan yang saling berpelukan itu. Tangannya menutup mulutnya agar tidak berteriak karena terkejut.
Karena tempatnya yang cukup jauh dan dia gagal bertindak cepat hingga ia tidak sempat mendengar Jang Hao Shan memanggil Han Aruna dengan panggilan Xia Lu. Maka dari itu saat ini di dalam kepalanya penuh dengan Shen Su Huan yang memakai topi hijau. Ia sudah menebak jika Han Aruna pasti bukanlah gadis baik-baik. Kini kecurigaannya terbukti. Jadi dia harus membuat kedok Han Aruna di depan Shen Su Huan agar pria itu mengetahui kebusukan tunangan yang telah ia pilih.
Jang Mue Lan harus memikirkan cara untuk mengekspos Han Aruna. Untuk itu ia membutuhkan orang yang sudah berpengalaman dalam hal ini. Tentu saja orang yang dimaksud dadah Ye Shi, ibunya sendiri.
"Aku harus membicarakan hal ini dengan ibu. Ibu pasti tahu apa yang harus aku lakukan. Gadis Ja-la-ng seperti itu sangat tidak pantas mendapatkan putra Mahkota Yang Mulia. Aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi." Jang Mue Lan mengepalkan tangannya seakan sapu tangan yang ada di tangannya adalah Han Aruna yang bisa ia remas begitu saja.
Dengan tekad bulat di hatinya, ia segera berbalik dan pulang. Sayangnya ia kembali pada saat yang tidak tepat. Jika dia tahu siapa dan apa yang terjadi setelah dia pergi, dia tidak akan memiliki banyak rencana jahat yang nantinya malah akan menghancurkan dirinya sendiri.
***
"Sudah cukup!" Pelukan kerinduan dua saudara yang sepuluh tahun lebih tidak bertemu itu dilepaskan dengan paksa. Han Aruna ditarik paksa ke dalam pelukan Shen Su Huan yang posesif seakan takut pelukan hangat pria lain tertinggal di tubuh Han Aruna.
"Salam Putra Mahkota." Jang Hao Shan segera memberi hormat.
"Kenapa Yang Mulia datang kemari?" Han Aruna sudah terbiasa dengan perlakuan Shen Su Huan dan berhenti melawan. Ia dengan patuh tinggal di pelukannya yang menyelimutinya.
"Jika aku tidak datang, mau berapa lama kalian akan menempel?" Dengus Shen Su Huan kesal. Ia melirik Jang Hao Shan dengan sinis.
"Huh! Bukankah Yang Mulia tahu bahwa dia adalah kakakku?"
"Meskipun begitu tetap tidak boleh. Bukankah sudah aku katakan bahwa kamu tidak boleh dekat dengan pria lain."
"Mengapa tidak masukkan aku ke dalam kurungan saja?" Ucap Han Aruna dengan kesal.
"Ide bagus. Ketika aku kembali ke istana nanti aku akan meminta orang untuk membuat sangkar emas ya gak besar untuk mengurungmu agar kamu tidak menarik perhatian para laki-laki di luar sana." Senyum licik Shen Su Huan tercipta.
"Huh lupakan saja. Anggap saja aku berbicara dengan orang gila." Han Aruna memalingkan wajahnya.
"Aku memang sudah gila. Aku gila setiap aku melihatmu dikelilingi para pria. Aku ingin mengurungmu di kamarku dan menghabiskan waktuku bersamamu sepanjang waktu."
"Dasar tidak tahu malu."
Jang Hao Shan yang seperti dilupakan tersenyum melihat interaksi pasangan di depannya. Awalnya ia ragu jika putra mahkota benar-benar mencintai adiknya. Itulah kenapa ia menemui Han Aruna dan menanyakan tentang perasaan adiknya. Sebagai seorang kakak, ia harus memastikan pernikahan adiknya dengan pria yang tepat. Tetapi stelah melihat sendiri di depan matanya, ia dapat melihat keduanya memang pasangan yang serasi. Putra Mahkota yang terkenal dingin juga sangat hangat memperlakukan adiknya. Ia yakin dengan seorang pria seperti Shen Su Huan di samping adiknya, kebahagiaan adiknya sudah terjamin.
"Hamba senang melihat hubungan Yang Mulia dan Xia Lu sangat baik. Yang Mulia, tolong jaga adik hamba dengan baik. Dia adalah harta yang paling berharga dalam hidup hamba."
"Terima kasih banyak. Kalau begitu Hamba tidak akan mengganggu lagi." Jang Hao Shan menangkupkan tangannya dan sedikit membungkukkan tubuhnya sebelum berbalik dan pergi dengan kebahagiaan di hatinya.
"Anak angkat itu mendengar semuanya. Apa kamu mau aku mengatasinya untukmu?" Tanya Shen Su Huan setelah Jang Hao Shan sudah tidak lagi terlihat.
"Tidak perlu. Lagipula rahasia ini tidak mungkin akan terkubur selamanya. Cepat atau lambat semua ini akan terbongkar."
"Aku mengerti."
Jang Mue Lan tidak kembali ke rumah makan setelah melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdegup kencang dan kemarahan yang memuncak di hatinya. Ia segera pulang ke kediaman Jang untuk memberitahu pada ibunya.
"Dimana ibuku?" Tanya Jang Mue Lan begitu ia sampai di kediaman.
"Nyonya sedang ada di ruang baca nona."
"Baiklah aku akan segera ke sana. Ibu... ibu..." Teriaknya dengan keras. Ye Shi yang mendengar suara Jang Mue Lan yang tidak sabar mengerutkan keningnya.
Ia sudah memberi pengajaran etika pada kedua putrinya agar mereka dapat berperilaku seperti seorang gadis muda yang dibesarkan dengan garis bangsawan. Namun seberapa keraspun ia berusaha merubah sikap putri-putrinya, mereka terkadang akan lepas kendali. Seperti saat ini. Ye Shi segera datang menghampiri Jang Mue Lan.
"Kenapa kamu berteriak begitu keras di kediaman?"
"Ibu ibu aku memiliki berita yang sangat penting." Ucap Jang Mue Lan tidak sabar.
"Tenanglah. Kita bicara di tempat lain." Ye Shi menyentuh tangan Jang Mue Lan dengan isyarat mata untuk memperingatkannya. Meskipun mereka berada di dalam kediaman, mereka masih harus menjaga tingkah laku.
Jang Mue Lan mengikuti Ye Shi yang sudah berjalan lebih dulu ke kamarnya. Yang terpisah dengan keimanan Jenderal Jang.
Sama dengan reaksi Jang Mue Lan sebelumnya. Ye Shi juga tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh putrinya. Ia tidak melihat jika Han Aruna adalah tipe gadis yang suka menggunakan wajahnya untuk mengikat laki-laki. Apalagi banyak laki-laki. Tetapi karena saat ini putrinya sendiri yang bahkan berani bersumpah bahwa apa yang dikatakannya adalah suatu kebenaran, ia hanya bisa percaya.
~♡♡♡~
~☆The Story Of Han Aruna_69☆~
Terima kasih sudah mampir •○(♡;♡)○•
Jangan lupa like, Vote, Komen, Favoritkan dan bantu Share