The Story Of Han Aruna

The Story Of Han Aruna
55. Meminta Waktu



Begitu Shen Su Huan keluar dari ruang kerja Kaisar dengan Han Aruna di pelukannya, semua orang mulai memelototkan mata mereka tetapi tidak memiliki keberanian untuk mengucapkan sepatah katapun. Semua orang di istana mengetahui karakteristik Shen Su Huan yang melakukan sesuatu sesuai keinginannya.


Jei menatap nonanya dengan khawatir. Wajah nonanya jelas rrlihat tidak baik meskipun ia hanya melihat matanya karena hampir seluruh wajah Han Aruna berada di dekapan Shen Su Huan.


"Yang Mulia, Yang Mulia putra Mahkota. Bisakah Yang Mulia melepaskan nona besar Han terlebih dahulu? Bagaimanapun nona Han adalah gadis yang belum menikah. Jika hal ini sampai tersebar, nama baik nona besar Han akan tercemar." Kasim Lin segera maju dan menggosokkan tangannya dengan cemas. Tidak ada yang berani melarang Shen Su Huan.


"Nona Han Aruna akan segera menjadi istriku. Coba siapa yang berani mencemoohnya." Jawab Shen Su Huan juga tidak pernah mereka duga sebelumnya. Termasuk Jei yang kini membuka mulutnya lebar. Apakah nonanya akan? Menikah?


Tanpa menunggu semua orang bereaksi, Shen Su Huan sudah membawa Han Aruna terbang. Ke sebuah gazebo di halaman yang familiar.


"Hem hem..." Han Aruna masih tidak berhenti memberontak bahkan setelah Shen Su Huan memangkunya di gazebo. Melihat wajah merah padam Han Aruna, Shen Su Huan merasa kucing kecilnya sangat lucu. Tetapi dia masih harus melepaskannya. Kucing kecil seperti ini paling tidak tahan dikurung lama.


"Hem! Lepaskan aku bodoh!" Suara Keras Han Aruna yang berteriak langsung terdengar begitu Shen Su Huan melepaskan totok bisunya. Tetapi ia masih memeluk pinggang Han Agung dengan erat.


"Apa yang kamu rencanakan?  Kapan Italia bersama hah? Kamu tahu apa yang ingin aku katakan. Kamu pasti sengaja melakukannya. Aku tidak menyangka putra Mahkota kerajaan Bei akan sangat tidak tahu malu."


"Tapi bukankah hasilnya sesuai dengan yang kita harapkan?"


"Aku tidak. Siapa yang mau menikah dengan laki-laki yang masuk dan tidak tahu malu." Emosi Han Aruna masih meluap-luap. Sejak awal ia hanya bisa memendamnya tanpa bisa mengatakannya. Saat ini ia meluapkan semua kekesalannya.


"Aku akan pergi menemui Kaisar dan menolak rencana ini. Sudah aku katakan aku tidak ingin menikah denganmu. Aku akan mph." Mulut Han Aruna yang hampir tidak berhenti berbicara dibungkus dengan paksa oleh bibir dan lidah yang tiba-tiba menyerangnya. Baru setelah Han Aruna menggigit bibirnya, Shen Su Huan pun dengan enggan melepaskannya. Tetapi ia tidak meninggalkan HAN Aruna jauh. Wajahnya tepat di depan wajahnya.  


"Katakan sekali lagi kalau kamu tidak mau menikah denganku dan aku akan menciummu. Apa kamu mau mencoba?" WAJAH Shen Su Huan menggelap begitu mendengar Han Aruna terus berkata bahwa ia tidak ingin menikah dengannya.


"Aku tidak hep." Kali ini Han Aruna sendiri yang membungkam bibirnya dengan tangannya saat melihat Shen Su Huan yang benar-benar akan menciumnya.


"Kenapa tidak melanjutkan?"


"Kenapa kamu melakukan itu?" Ucap Han Aruna dengan suara yang tidak jelas di balik tangannya.


"Aku sudah memilihmu. Kenapa menolakku. Bukankah kamu telah merenggut kesuciannya terlebih dahulu. Apalah salah jika aku meminta tanggung jawab darimu?" Shen Su Huan memasang wajahnya yang tidak berdaya. Jika ada orang lain yang melihatnya, orang itu pasti akan muntah darah karena terkejut.


"Huk. Merenggut kesucian apa? Kita tidak melakukan apa-apa."


"Apa kamu lupa apa yang terjadi di sini malam itu? Kalau tidak, aku tidak masalah untuk mengingatkanmu kembali." Selesai berbicara, Shen Su Huan bersiap untuk menekan Han Aruna.


"Tidak tidak tidak. Jangan lakukan itu. Aku ingat sekarang." Han Aruna dengan panik mendorong tubuh tegap Shen Su Huan.


"Benarkah? Lalu seperti apa yang kamu ingat?"


"Baiklah. Aku hanya ingin memastikan padamu agar kamu tidak akan lari lagi. Aku ingin kamu menikah denganku. Apa kamu mengerti?" Shen Su Huan menatap Han Aruna dengan serius. Matanya penuh harapan.


"Apa yang membuatmu yakin ingin menikah denganku?" Bohong jika Han Aruna tidak terpesona pada pesona Shen Su Huan yang tidak terbatas. Tetapi untuk menikah dengannya?


Han Aruna belum memikirkan hal ini sampai sekarang. Ia masih memiliki banyak rencana di pikirannya untuk dilakukan. Gadis seperti Han Aruna yang telah melihat dunia membuka matanya lebar-lebar dan selalu ingin tahu dan ingin mencoba. Jika dia menikah sekarang, akan ada hambatan untuk langkahnya. Apalagi jika yang menjadi suaminya adalah pangeran mahkota yang akan menjadi raja. Bukankah dia sudah melihat masa depannya yang suram yang ghidup di dalam sangkar emas?


"Aku mencintaimu." Han Aruna kehilangan arah beberapa saat setelah suara magnetis menyerang hatinya dengan kejam. Apakah memang suara itu sangat menyenangkan untuk didengar atau apakah hatinya begitu rapuh dan mudah tergoda hingga ungkapan cinta yang begitu sederhana mampu menggetarkan hatinya?


"Aku mencintaimu. Apa kamu dengar?" Han Aruna yang masih belum kembali pada kesadarannya kembali diserang tepat di dalam Hatinya. Jantungnya yang tidak pernah tergerak oleh ungkapan cinta bagaimanapun bentuknya tiba-tiba saja berdetak dengan kencang. Sepertinya, dia sangat familiar mendengar suara dan ungkapan cinta seperti itu. Dia merasa dejavu.


"Maafkan aku." Ucap Han Aruna begitu ia mendapatkan kesadarannya kembali setelah beberapa lama. Ia menarik tubuhnya dan segera menjauh dari Shen Su Huan. "ini terlalu tiba-tiba. Berikan aku waktu untuk berpikir." Han Aruna tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ungkapan cinta Shen Su Huan sangat mengganggu jiwanya. Ia ingin menolaknya begitu ia mendapatkan kesadarannya. Tetapi entah kenapa tanpa sadar ia malah berkata akan memikirkannya.


"Aku tahu. Masalah ini memang sangat mendadak. Aku juga merasakan hal yang sama saat aku baru menyadari perasaanku sendiri. Aku akan memberimu waktu untuk berpikir." Shen Su Huan mendekat dan menarik Han Aruna kembali ke dalam pelukannya. Kali ini entah kenapa Han Aruna tidak memberontak.


***


Seorang pria berdiri tegak di sebuah pulak gunung yang berjarak seribu mil dari kekaisaran Bei. Jubah biru tua nya berkibar diterpa angin gunung yang dingin. Matanya yang dalam menatap jauh pada langit tak terbatas. Rambut peraknya yang panjang berkilau memancarkan sinar yang sangat indah.


"Tuan." Seorang pria berlutut di belakangnya.


Pria yang dipanggil dengan Tuan berbalik dan menampakkan wajahnya yang sangat tampan. Kulitnya yang indah menampilkan sosoknya yang sempurna.  Dengan hidung yang sangat tinggi. Bibir yang berwarna merah ceri. Matanya berbentuk  almond dengan pupil mata yang berwarna hitam. Abisnya terbentuk indah dan tajam. Seperti sebilah pedang yang diukir rapi. Penampilan ini bahkan mampu membuat para wanita iri.


Siapapun yang melihat kecantikan pria ini tidak akan dapat beralih darinya. Kecantikannya seperti abadi yang keluar dari lukisan. Tetapi wajahnya yang tanpa ekspresi akan membuat orang tanpa sadar enggan untuk mendekat. Sungguh kecantikan yang mematikan.


"Apa yang kamu temukan?"


"Mohon maafkan hamba Yang Mulia. Tetapi, Baru-baru ini, sebuah aura mistis yang kuat terlihat di kekaisaran Bei." Rambut pria tampan itu berubah menjadi hitam dalam sekejap saat kilauan merah menyala di matanya yang hitam.


"Kita kesana sekarang."


~♡♡♡~


~☆The Story Of Han Aruna_55☆~


Terima kasih sudah mampir •○(♡;♡)○•


Jangan lupa like, Vote, Komen, Favoritkan dan bantu Share