
Arnold menatap gadis di depannya yang tampak acuh tak acuh dengan keluhan yang besar di hatinya. Ia tidak mengetahui apa yang terjadi hingga pada sore hari para pelayan di istana membicarakan acara lamaran putra mahkota mereka yang menakjubkan. Lalu saat ia mendengar siapa gadis yang dilamar oleh Shen Su Huan, ia terkejut hingga hampir pingsan.
Arnold telah mengejar Han Aruna selama bertahun-tahun tetapi tidak mendapatkan balasan apapun selain bahu dingin dari gadis itu. Dia sudah terbiasa menerima penolakan entah berapa ratus kali sejak tiga tahun lalu. Namun ia masih bisa menanggapinya dengan santai dan tanpa mengenal kata menyerah untuk rusak mengejar Han Aruna yang terus menolaknya. Itu karena ia tahu gadis itu tidak memiliki seseorang di dalam hatinya. Ia mengira bahwa akan ada banyak waktu untuknya meyakinkan gadis ini akan kesungguhannya dan membuatnya jatuh cinta.
Namun setelah bertahun-tahun berlalu gadis ini masih saja tidak bersedia membuka hati untuknya. Dan masih menunjukkan bahu dingin padanya. Tetapi dia masih tidak menyerah. Selama.tidak ada orang lain yang memilikinya, dia masih ada kesempatan.
Mengenal Han Aruna sejak mereka masih kecil membuatnya mengerti seperti apa sifat Han Aruna. Dengan sifatnya yang dingin dan serius, ia kira tidak akan ada laki-laki yang dapat mendapatkan hatinya dengan mudah. Termasuk dirinya. Itulah sebabnya ia masih pantang menyerah dan terus mengejar.
Siapa yang menyangka bahwa saat dia ada di sekitarnya, seorang pria yang baru saja datang dalam kehidupan Han Aruna justru berhasil mengikat tali perjodohan dengannya. Apa kekurangannya dibandingkan pria itu?
Yah. Meskipun ia akui bahwa pria ini memang lebih kuat darinya. Tetapi di kerajaannya sana, tidak akan ada yang gak berani memelakukan apapun padanya. Dia akan menjadi ratunya yang berharga yang akan diperlakukan dengan hormat oleh siapa saja. Kekuatan seperti itu tidak ada gunanya di sana.
Sejuta pertanyaan terlintas di wajah Arnold bagaimanapun Han Aruna melihatnya. Ia tahu bahwa pria muda di depannya ini tidak senang atas keputusannya. Ia pikir, apakah ia juga senang? Ia juga dipaksa menerima tali merah yang dengan paksa diikatkan padanya. Tali yang akan merubah kehidupannya di masa depan. Ia masih ingin menjelajahi dunia dengan kedua kakinya. Tetapi tali merah itu akan menjadi halangan untuknya. Yang akan menjadi ikatan tidak nyata yang membelenggu hidup bebasnya
Bagaimanapun ia memikirkannya, semakin ia berpikir bahwa kehidupannya di masa depan akan sulit untuk dijalani.
Han Aruna menyesap tehnya untuk meringankan hatinya. Ia tampak tidak memiliki perasaan saat dia dengan tenang sementara pria di depannya bahkan sudah berwajah mendung yang gelap. Seperti dia akan menelan hidup-hidup seseorang yang akan menyinggungnya.
"Kenapa Aruna?" Tanya Arnold setelah lama didiamkan.
"Apa?" Bukannya menjawab, Han Aruna malah balik bertanya dengan nada main-main yang menjengkelkan. Ingin sekali Arnold menghajar gadis itu. Tetapi mengingat kemampuan tidak masuk akalnya....lupakan saja!
"Apa kurangnya aku dibandingkan dengannya selain kekuatannya yang aneh itu?" Arnold mencibir.
"Kalau aku bertanya padamu, apa kelebihan dibandingkan dengannya? Apa yang akan kamu katakan?"
"Kami sama-sama adalah putra mahkota dari sebuah kerajaan. Kerajaan miliku tentu saja yang lebih besar." Jawab Arnold bangga.
"Ada yang lain?"
"Aku... aku jelas lebih tampan darinya."
"Dan...."
"Dan aku lebih dulu mengenalmu. Dibandingkan dengan semua orang di sini, aku jelas lebih baik dari pria manapun. Pokoknya aku jauh lebih baik dibandingkan dengannya. Aku sarankan kamu untuk segera membatalkan pertunangan ini dan menikah denganku."
"Arnold dengarkan aku. Ini bukan masalah dia lebih baik atau kamu yang lebih baik."
"Lalu? Kenapa kamu memilihya?"
"Biarkan aku bertanya padamu, siapa kamu?"
Arnold mengerutkan alisnya bingung. Kenapa Hanya Aruna menanyakan hal yang anda jelas seperti itu? Mereka sudah lama saling mengenal dan tahu kepribadian satu sama lain juga. Jadi tidak perlu bertanya tentang identitas antara mereka.
"Aku, aku adalah Arnold Astein. Putra mahkota kerajaan Barat."
"Kalau kamu adalah putra mahkota, akan berada kamu berada nanti?"
"Tapi aku keberatan." Satu kalimat dari Han Aruna membungkam Arnold.
Arnold terdiam begitu mendengar ucapan Han Aruna. Ia tidak menyangka jika Han Aruna akan menolak begitu saja. Terutama, dia tidak menyangka bahwa status yang dibanggakannya selama ini lah yang membuat Han Aruna menolaknya selama ini. Ia pikir selama dia memiliki kekuatan yang kuat untuk membawa Han Aruna ke kerajaannya dan menjamin keamanannya di sana akan cukup untuk membuat gadis itu bersedia untuk mengikutinya. Apalagi dengan status dan kehormatan yang akan dia berikan untuknya. Tetapi semua itu ternyata hanyalah ilusinya.
"Arnold aku sudah lama memberitahumu untuk berhenti mengejarku. Kita berdua tidak sama. Dunia kita jauh berbeda."
"Aku... Aku akan melepas segalanya dan mengikuti apa yang kamu mau. Kamu mau tinggal di sini terus kan? Tidak apa. Aku akan melepaskan gelarku dan hidup sebagai suamimu yang akan menunggumu di rumah setiap hari."
"Arnold juga bukan itu masalahnya. Aku tidak mencintaimu, kamu mengerti kan?"
"Apa kamu juga mencintainya? Aku mengenalmu Aruna. Aku tahu kamu tidak akan dengan mudah jatuh cinta. Katakan kamu tidak mencintainya!"
"Arnold, aku memang tidak mencintainya sekarang. Tetapi berusaha mencintainya akan lebih mudah daripada harus berusaha mencintaimu."
"Aku tidak percaya kamu bisa mengatakan hal ini padaku."
"Maafkan aku Arnold. Tapi aku harus mengatakan ini meskipun ini sulit karena inilah kebenarannya." Arnold menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar tidak percaya bahwa suatu hari nanti Han Aruna yang dingin yang dikenalnya akan mampu mencintai seseorang. Yang paling penting orang itu bukanlah dirinya. Selama ini dia telah menunggunya selama bertahun-tahun karena ia yakin suatu saat Han Aruna akan luluh pada semua yang dilakukannya. Tetapi kenapa jadi ini yang terjadi?
"Kamu masih muda. Jalan hidupmu masih panjang. Tahta kerajaanmu menantimu untuk menjadi orang yang lebih baik. Di kerajaanmu sana, ada banyak gadis yang lebih kompeten untuk mendampingimu memimpin kerajaanmu. Nona Edden Charter aku rasa adalah kandidat terbaik untuk menjadi ratumu."
"Apakah kamu benar-benar memilihkan pasangan untukku begitu saja?"
"Heem. Aku adalah temanmu. Aku mengenal dirimu dengan baik. Nona Edden adalah gadis yang paling tepat untukmu." Han Aruna menuangkan teh ke dalam cangkirnya yang kosong.
"Aruna, apakah kamu bahkan masih memiliki perasaan?" Arnold tidak percaya Han Aruna akan memasangkannya dengan Edden Charter. Gadis manja yang selalu menempel padanya seperti lem yang sulit untuk dia lepaskan.
"Tentu saja. Jika aku tidak memiliki perasaan bagaimana aku tahu bahwa aku akan mudah untuk mencintai Su Huan dibandingkan denganmu. Atau tahu siapa gadis yang tepat untukmu."
"Kamu benar-benar tidak berperasaan. Aku akan kembali ke kerajaan Barat dan menikahi Edden Charter segera." Arnold dengan marah berdiri dan berjalan meninggalkan Han Aruna dengan cepat.
"Itu bagus. Maaf aku tidak bisa datang karena aku juga akan segera menikah. Sampaikan saja salamku pada nona Edden, selamat atas pernikahan kalian." Arnold yang mendengar dengan jelas apa ya harus dikatakan Han Aruna menghentakkan kakinya dengan keras.
Felix yang mengikuti nya menghela napas kasihan untuknya. Ia sudah lama tahu hal ini cepat atau lambat akan terjadi. Dia selalu berada di sisi Arnold dan mengetahui betapa dinginnya sikap Han Aruna pada pangerannya itu dan tahu bahwa mereka tidak mungkin akan bersama bagaimana pun pangerannya akan berusaha. Tetapi ia tidak pernah tega untuk mengatakan sepatah katapun yang bisa mematahkan hati pangerannya.
Penolakan Han Aruna kali ini mungkin memang yang terbaik untuk pangerannya agar pangerannya menerima kenyataan dan mampu menata hidupnya dengan lebih baik lagi. Jadi, Sebelum ia benar-benar menghilang dari halaman dalam kediaman Han, ia berbalik dan menganggukkan kepalanya dengan penuh rasa terima kasih.
~♡♡♡~
~☆The Story Of Han Aruna_59☆~
Terima kasih sudah mampir •○(♡;♡)○•
Jangan lupa like, Vote, Komen, Favoritkan dan bantu Share