The Story Of Han Aruna

The Story Of Han Aruna
50. Keluhan Hati Arnold



Keesokan harinya kabar mengenai terbakarnya sebuah kediaman di pinggiran kota yang merupakan kediaman pelarian keluarga Xu tersebar di ibukota. Tetapi karena tidak ada rumah lain di dekatnya tidak ada yang bisa memastikan apa yang terjadi. Haya saja dengan mencium aroma darah di udara, semua irang meyakini bahwa semua penghuni runah temah dibantai. Kabar itu juga sampai di telinga Han Mora dan Han Aruna saat mereka sarapan bersama di pagi hari.


"Kediaman itu tersembunyi di pinggiran kota. Bagaimana mereka menemukannya?" Han Mora mengernyitkan alisnya.


"Ini tidak ada hubungannya dengan ibu. Kenapa ibu peduli?" Han Aruna seperti tidak terpengaruh sedikitpun. Ia bahkan tidak menghentikan gerakan sumpit di tangannya untuk menumpuk makanan di dalam mangkuknya.


"Lotus Biru bagaimanapun adalah saingan terbesar kita selama ini. Mereka cukup tangguh dua tahun belakangan saat anaknya Xu Ruo Feng kembali dari belajarnya di akademi Surgawi dan mulai membantu. Tapi saat ini mereka tiba-tiba saja dimusnahkan begitu saja. Aku hanya khawatir akan ada anggapan orang yang menilai kita telah ikut andil dalam hal ini." Han Mora berbicara dengan serius.


"Ibu tidak perlu khawatir. Masalah ini diselesaikan dengan baik oleh putra mahkota me... ehem..Maksudku Yang Mulia pangeran putra mahkota Shen Su Huan."


"Kenapa ibu melihat bahwa kamu akhir-akhir cukup dekat dengan yang Mulia Putra mahkota." Han Mora menggoda Han Aruna.


"Mata mana yang melihat aku dekat dengnya?"


"Mata hatiku." Han Aruna menaikkan alisnya mendengar jawaban ibunya. "Aku bersungguh-sungguh. Aku kira kalian berdua sangat cocok satu sama lainnya. Kamu masih sendiri dia juga masih sendiri. Aku dengar dia menolak memiliki selir atau istri sampai saat ini. Tidak ada yang bisa memaksanya menikah. Kamu juga seperti itu. Kenapa kalian..." ucapnya Han Mora dipotong dengan kejam.


"Aku tahu apa yang ibu pikirkan. Lupakan saja. Aku akan lebih ke istana sekarang untuk mencari Arnold. Kalau tidak, mungkin dia akan segera datang kemari tanpa menghiraukan peringatanku." Han Aruna mengelap bibirnya dan segera berdiri setelah makanan di dalam mangkuknya habis.


"Iya iya cepat pergi sebelum pemuda rambut terbakar itu datang kemari. Apa kamu tahu berapa banyak benda berhargaku yang dihancurkan setiap kali dia datang kemari?" Han Mora sangat sensitif jika membahas masalah Arnold.


"Tidak tahu dan tidak mau tahu." Han Aruna melambaikan tangan dan berbalik tanpa peduli. Meninggalkan Han Mora yang mengerucurkan bibirnya dengan kesal. Mengingat-ingat  berapa banyak kerugian yang diakibatkan oleh pangeran mahkota kerajaan Barat itu. Sepertinya ia harus membuat daftar kerugian yang dialaminya dan meminta ganti rugi jika pemuda itu mengunjungi kediamannya lagi.


Han Aruna menemukan hal lain saat ia menuju ke istana. Di sepanjang jalan orang-orang membicarakan tentang kejadian aneh yang terjadi tadi malam di satu daerah di ibukota dimana mereka seperti ditekan sesuatu sebelum mereka mendengar teriakan yang menyedihkan. Seperti suara lolongan babi yang sedang disembelih. Tetapi pagi harinya mereka tidak melihat apapun di sekitar setelah mereka memeriksanya.


'Mungkinkah ini yang dilakukan pangeran mesum itu semalam? Lalu siapa lawannya? Apa pangeran mesum itu terluka? Ais kenapa aku malah memikirkannya?' Memikirkannya membuat wajah Han Aruna merengut.


"Ada apa nona?" Jei melihat raut wajah nonanya berubah-ubah dan mulai bertanya.


"Tidak apa-apa. Ayo cepat ke istana." Han Aruna menepuk kudanya untuk memintanya melaju lebih cepat.


Seperti yang diperkirakan Han Aruna sebelumnya bahwa Arnold tidak akan mengindahkan peringatannya dan sudah bersiap untuk pergi ke kediaman Han untuk menemuinya. Ia bahkan sudah hampir keluar dari istana saat Han Aruna sampai di sana.


"Mau pergi kemana kau?" Mendengar suara yang dikenalnya membuat Arnold yang hendak naik ke kereta segera menghentikan langkahnya dan berbalik dengan bahagia.


"Aku tidak mengira kamu tidak membohongiku lagi kali ini." Arnold dengan segera berjalan menghampiri Han Aruna.


"Ada yang ingin aku bahas denganmu. Ini masalah penting."


"Ooh... ada apa? Apa akhirnya kamu bersedia menikah denganku? " meskipun ia sudah pasti bisa menebak apa jawaban Han Aruna, ia masih bertanya dengan semangat. Ia yakin suatu hari Han Aruna akan membuka hati untuknya.


"Omong kosong apa? Ini masalah penting.  Jangan bercanda denganku." Seperti yang diharapkan dari Han Aruna yang tidak akan memberinya sedikit pun harapan. Tapi bukan hanya Arnold tidak marah, ia juga masih menyimpan senyuman di bibirnya.


Arnold membawa Han Aruna ke dalam istana samping tempat dia tinggal selama ini. Tetapi di tengah perjalanan mereka dengan 'tidak sengaja' yang disengaja oleh Shen Su Huan bertemu satu sama lainnya.


Han Aruna awalnya enggan membicarakan hal ini dengan Shen Su Huan karena hal ini adalah masalah internal kerajaan Barat.  Tidak seharusnya Shen Su Huan mengetahuinya. Tetapi setelah mengingat bahwa masalah ini juga berhubungan dengan kekaisaran Bei, ia tidak lagi menentang keinginan Shen Su Huan untuk ikut dengan mereka.


Ketiga orang itu duduk melingkar dengan meja di tengah mereka. Han Aruna seperti biasa tampak dingin dan sulit didekati. Shen Su Huan juga hanya diam. Arnold adalah spesies yang berbeda dari keduanya dan mulai ragu akan keberadaannya.


"Sebenarnya ada apa? Kenapa kalian berdua ingin berbicara denganku tetapi dari tadi hanya diam saja?" Arnold masih belum terbiasa dengan situasi yang terasa mencekam itu.


"Arnold, apakah kamu tahu apa yang aku dan putra mahkota temukan di perbatasan?" Tanya Han Aruna setelah sekian waktu diam.


"Mana aku tahu. Aku tidak kamu ajak. Tunggu! Jadi kalian pergi bersama tanpa aku?" Han Aruna memijit pelipisnya. Bisakah orang seperti ini mewarisi sebuah kerajaan di masa depan?


"Arnold itu bukan intinya."


"Lalu?"


"Aku menemukan bubuk mesiu, dan.....senjata api."


"Apa? Apakah itu benar?"


"Ya. Bukankah setahuku hanyalah orang dari militer tingkat tinggi yang dapat memilikinya? Lalu bagaimana ada begitu banyak di sini?"


"Itu memang benar. Bahkan tidak semua pasukan akan mendapatkan senjata api. Senjata ini adalah senjata andalan kami. Jadi ada larangan keras untuk menjualnya kepada pihak lain."


"Artinya ada orang yang berkhianat di dalam negaramu." Arnold mengangguk membenarkan perkataan Shen Su Huan.


"Karena hal ini melibatkan dua kerajaan, hukuman mati akan ditangguhkan hingga masalah selesai." Shen Su Huan berkata sambil melihat Han Aruna.


"Itu bagus. Saya sebenarnya juga ingin menemui anda untuk membicarakan masalah ini sebelum semuanya terlambat. Kedua negara baru saja bekerja sama. Jika masalah ini muncul di permukaan dan kedua pihak saling curiga, kerja sama ini bahkan belum dimulai tetapi sudah akan berakhir." Dialah yang membawa kontrak kerjasama. Jika ada masalah dia juga akan terkena imbasnya.


"Sudah aku bilang antara pasangan akan ada saling pengertian yang tidak bisa dijelaskan. Tanpa kita berbicara kita sudah saling memahami. Aku juga merasa bahwa jika kita tidak menyelesaikan masalahnya sampai akarnya, masalah ini akan terjadi lagi di masa depan." Ucap Shen Su Huan bangga.


Arnold ingin melihat apa yang akan Han Aruna lakukan pada Shen Su Huan yang telah dengan sepihak mengakui hubungan mereka. Sejauh ia mengenal Han Aruna, gadis itu akan menendang atau setidaknya memarahinya. Arnold ingin melihat pria lain yang mengalami nasib yang sama dengannya.


Arnold mengira bahwa Han Aruna bukan hanya tidak memarahi atau menendangnya, Han Aruna bahkan tidak mengelaknya.


Kami sama-sama pangeran mahkota dari suatu negara. Tapi kenapa Han Aruna sangat gigih saat menolaknya tetapi membiarkan saja saat Shen Su Huan yang melakukannya?


Ini tidak adil! Pekik Arnold dalam hati.


~♡♡♡~


~☆The Story Of Han Aruna_50☆~


Terima kasih sudah mampir •○(♡;♡)○•


Jangan lupa like, Vote, Komen, Favoritkan dan bantu Share