The Story Of Han Aruna

The Story Of Han Aruna
68. Diikuti



Hari ini entah kenapa Han Aruna ingin berjalan-jalan di pasar. Ia tidak mengajak siapapun saat ia keluar dari kediaman. Pakaian yang dia gunakan juga hanfu pria berwarna hitam yang sangat cocok dikenakan olehnya. Han Aruna sudah lama tidak memiliki waktu luang seperti ini. Jadi dia ingin menikmatinya seperti orang biasa yang berjalan-jalan santai dan berbaur di jalan bersama masyarakat. Dengan begitu, ia juga bisa mengetahui apa saja yang sedang hangat diperbincangkan diperbincangkan ibukota kekaisaran.


Beberapa kali Han Aruna akan berhenti dan melihat-lihat barang yang dijual para pedagang di pinggir jalan. Barang-barang mereka mungkin tidak akan lebih baik dari yang dijilat di Serikat dagangnya. Tetapi jika sedang beruntung, akan menemukan barang dengan kualitas yang bagus.


Han Aruna berjalan tanpa beban dan memilih beberapa barang yang menarik di matanya. Jenis pernak-pernik dan hiasan kepala sederhana yang terlihat indah.


Sejak ia sedang memilih barang-barang ini seseorang telah mengawasi setiap gerakannya. Tetapi karena orang itu tidak memiliki naik jahat, Han Aruna tidak menyadarinya. Han Aruna membeli beberapa hiasan rambut yang indah. Karena penyamarannya, penjual hiasan rambut itu bahkan menggoda Han Aruna karena ia mengira Han Aruna adalah seorang pemuda yang sedang membelikan hadiah untuk kekasihnya.  


Semakin jauh Han Aruna melangkah, ia akhirnya menyadari ada orang yang menguntitnya. Dengan pengalamannya, ia dengan mudah melihat dan mengetahui siapa yang dengan sengaja mengikutinya.


"Untuk apa dia datang kemari?" Gumam Han Aruna. "Aku ingin lihat apanya ingin dia lakukan." Lanjutnya saat ia berjalan semakin jauh dan menemukan gang sepi.


Di salah satu rumah makan yang ada di jalan di ibukota, Jang Mue Lan sedang berkumpul bersama dengan teman-temannya yang merupakan para nona muda bangsawan. Mereka sedang sibuk memuji Jang Mue Lan yang baru saja berhasil menerobos setelah mendalatkan pil pengumpul Qi. Jika sebelumnya mereka akan sibuk mencela Jang Mue Lan yang dengan gila-gilaan menawarkan pil itu, kali ini mereka memujinya hingga terbang ke langit.


"Eh? Bukankah itu adalah tuan muda Jang?" Salah satu Nona muda yang sedang bersama dengan Jang Mue Lan melihat Jang Hao Shan yang sedang membuntuti Han Aruna.


"Mana?" Jang Mue Lan yang membelakanginya segera berbalik dan melihatnya juga. Para nona muda itu tidak mengetahui jika Jang Hao Shan sebenarnya sedang membuntuti seseorang. Mereka melihat Jang Hao Shan sedang memilih beberapa hiasan rambut yang dijual di sebuah kedai pinggir jalan.


"Benar. Itu memang kakak. Tapi kenapa kakak sepertinya sedang membeli hiasan rambut? Apakah ada seorang gadis yang telah menarik perhatiannya?" Gumam Jang Mue Lan yang sebenarnya dengan suara yang cukup keras sehingga para nona muda yang bersamanya bersemu.


Jang Hao Shan memiliki wajah tampan yang diatas rata-rata. Membuatnya menjadi pribadinya diantara para nona muda. Apalagi sikapnya yang cuek dan terkesan dingin membuat para wanita semakin tertarik. Jadi meskipun ia memiliki sikap yang sebelas dua belas dan Shen Su Huan, masih ada beberapa gadis yang mencoba mendekatinya.


"Tunggu sebentar, aku akan menemui kakakku dulu." Jang Mue Lan segera berisi dan keluar dari rumah makan.


"Aku ingin lihat bagaimana tuan muda Jang memperlakukan Jang Mue Lan." Cibir salah satu nona muda.


"Aku juga. Tuan muda Jang sangat dingin pada seorang gadis. Aku tidak percaya dia akan menganggap Jang Mue Lan sebagai adiknya sendiri. "


"Benar sekali. Bukankah dia hanyalah anak angkat dari seorang selir. Tetapi berani terbang tinggi dan menganggap statusnya sama dengan kita."


"Aku jadi ingat jika sebenarnya ada nona pertama Jang yang diusir sepuluh tahun yang lalu. Aku mendengar dari ibuku itu karena Jenderal Jang yang sial menikahi seorang wanita berwajah dua sehingga ia mengusir putri sahnya."


"Aku juga pernah mendengar hal itu. Aku lamat-lamat juga mengingatnya. Bukankah namanya adalah Jang Xia Lu? Seingatku dia adalah gadis yang cantik dan manis. Aku pernah bertemu dengannya beberapa kali saat ada acara di istana."


"Tapi dimana dia sekarang tidak ada yang tahu keberadaannya. Sejak dia diusir dari kediaman Jenderal Jang, tidak ada lagi beratnya sampai sekarang. Aku mendengar tuan Muda Jang sudah mencarinya tetapi tidak pernah mendapatkan hasil."


Jang Xia Lu yang sedang mereka perbincangan saat ini sedang berdiri membelakangi saudaranya yang telah mmbuntutinya sejak lama. "Berhenti menguntit seperti seorang pencuri." Ucapnya tegas tanpa berbalik.


"Tunggu!" Teriak Jang Hao Shan saat melihat Han Aruna hendak pergi.


"Tolong berikan aku waktu Xia Lu." Ucap Jang Hao Shan nanar. Han Aruna berbalik dengan senyum mengejek di bibirnya.


"Aku tahu kamu pasti marah pada kakakmu ini yang tidak bisa melindungimu sebagai seorang saudara. Tapi aku mohon maafkan aku, Xia Lu."


"Xia Lu. Nama yang sudah lama sekali tidak aku dengar. Aku tidak menyangka tuan muda Jang akan mengenaliku.


"Aku adalah kakakmu. Meskipun aku tidak pernah melihatmu selama lebih dari sepuluh tahun, rasa akrab ini tidak akan pernah dapat dibohongi. Sampai kapanpun kamu adalah adikku, Xia Lu."


"Sebelumnya aku akur meminta maaf, Jang Xia Lu yang telah diusir dari kediaman Jang sepuluh tahun yang lalu telah tiada. Jadi adik yang tuan muda katakan sudah tidak ada lagi."


"Baiklah Xia Lu, tapi apakah kamu masih mau menganggapku sebagai kakakmu?"


"Huh.... ini memang tidak adil untuk kakak. Aku tahu saat itu kakak juga tidak berdaya dan tidak berada di kediaman. Tetapi..."


Grep....


Pikiran Han Aruna kosong. Selama ini ia tidak pernah merasakan pelukan dari seorang kakak. Rasanya sangat hangat dan aman. Tetapi rasanya berbeda dengan pelukan yang diberikan Shen Su Huan padanya. Pelukan Jang Hao Shan terasa sangat murni. Sebuah kerinduan yang terpendamlah yang ia rasakan mengalir di hatinya.


"Aku mengerti. Aku mengerti kediaman Jang tidak layak untukmu. Kediaman yang telah menyia-nyiakan mu tidak berhak memilikimu. Bahkan untuk pengakuanmu. Bagiku hanya cukup kamu mau mengakuiku sebagai kakakmu. Itu sudah cukup. Benar-benar sudah cukup."


"Terima kasih kakak."


"Aku minta maaf tidak ada saat kamu berada dalam kesulitan dulu. Tetapi kakak lega dan ikut bahagia saat melihatmu tumbuh dengan baik. Kamu tumbuh sebagai gadis cantik yang sangat hebat. Jika ibu ada, dia akan bangga padamu."


"Aku juga senang melihat kakak baik-baik saja. Yang aku pikirkan selama ini adalah apakah kakak akan baik-baik saja di sana." Han Aruna


"Aku baik. Aku..."


"Sudah cukup!"


~♡♡♡~


~☆The Story Of Han Aruna_66☆~


Terima kasih sudah mampir •○(♡;♡)○•


Jangan lupa like, Vote, Komen, Favoritkan dan bantu Share