The Story Of Han Aruna

The Story Of Han Aruna
51. Arnold Yang Kejam?



Membuat Xu Ruo Feng berbicara adalah hal yang sulit. Bukan hanya sulit tetapi mungkin juga mustahil. Apalagi setelah ia tersudut dalam posisi ini. Seluruh keluarganya telah dimusnahkan. Kebenciannya yang dalam semakin terlihat.


"Aku adalah murid dalam dari akademi Surga Yang Melonjak sekaligus murid yang diangkat langsung oleh Meter Tu Fu. Jika gurumu tahu kalian memperlakukan muridnya seperti ini, au yakin guruku tidak akan pernah memaafkan kalian. Dengan kekuatannya,  menghancurkan kerajaan ini adalah hal yang sangat mudah. Tunggu dan lihat setelah guruku mengetahuinya." Xu Ruo Feng menatap marah saat ia melihat Shen Su Huan dan Han Agung serta Arnold berdiri di luar selnya.


Akademi Surga Yang Melonjak adalah akademi yang berpengaruh di kekaisaran Bei. Kepala sekolah yang memimpikan berada pada tahap Saint yang bisa dihitung dengan hanya satu tangan di kekaisaran. Bahkan kaisar masih harus memberinya muka. Sedangkan guru Xu Ruo Feng adalah salah satu guru inti yang hanya mengajar beberapa murid yang disukai dan dipilihnya sendiri.


Memperhitungkan hal ini saja dapat diketahui bahwa setiap murid yang dididik guru-guru ini adalah murid spesial dengan kemampuan di atas rata-rata. Tidak ada yang akan bermain mencari masalah dengan mereka. Karena mencari masalah dengan mereka sama artinya dengan tidak memberi mereka wajah.


Bagi Xu Ruo Feng, gurunyalah satu-satunya yang bisa menyelamatkannya kali ini. Xu Ruo Feng bergerak mendekat, syarat rantai yang diseret terdengar berat di sepanjang lorong. Basis multinasional Xu Ruo Feng berada pada tahap yang sama dengan Han Aruna. Jika mengikatnya dengan rantai biasa tidak akan dapat menahannya. Jadi mereka hanya bisa menggunakan rantai Awan Hitam yang merupakan senjata spiritual tingkat sedang.


Arnold mengernyitkan alisnya saat mendengar suara rantai yang sangat mengerikan. "Rantai itu terlihat kecil. Kenapa terlihat dengan berat?" Bisiknya pada Han Aruna yang ada di sampingnya.


"Aku akan membiarkanmu mencobanya sebelum kita keluar nanti."


"Tidak mau. Aku tidak melakukan kesalahan."


"Kesalahanmu adalah kamu tidak bisa fokus. Dimana kamu harus fokus nyatanya tidak dapat kamu lakukan dan malah memperhatikan hal yang tidak penting. Aku rasa kamu akan segera diganti begitu kamu kembali nanti." Ejek Han Aruna.


"Baiklah-baiklah. Aku akan mulai serius dari sekarang." Han Aruna memutar bola matanya. Pangeran satu ini harus diberi stimulasi terlebih dahulu sebelum dipaksa untuk melakukan sesuatu dengan serius.


"Aku tidak ingin mengetahui siapa gurumu. Aku hanya ingin tahu siapa yang telah menjual barang-barang itu padamu." Arnold memasang wajah datar saat ia bertanya.


"Kenapa aku harus mengatakannya padamu hanya karena kamu menginginkannya? Jika kamu memang hebat, seharusnya kamu bisa mencari tahu siapa orang itu tanpa batuanku. Bukannya kamu adalah putra mahkota negara barat. Apa kamu tidak mengetahui menterimu yang berkhianat?" Xu Ruo Feng memandang penuh ejekan. Di matanya, Arnold yang tidak memiliki basis kultivasi ini sama sekali tidak perlu diperhitungkan.


"Jadi kamu tidak mau mengatakannya?" Xu Ruo Feng tidak berniat mengatakan apapun. Ia sudah berbalik dan tidak mau berbicara lagi.


Mengetahui bahwa dirinya diabaikan, Arnold menoleh dan bertanya pada Han Aruna dengan penuh harap. "Aruna, apa aku boleh melakukannya?" Tidak lupa Arnold mengedipkan kedua matanya yang berbahaya. Mata birunya melintas jejak kekejaman yang tidak pernah orang lain duga.


"Silahkan. Selama kamu tidak membuatnya mati." Han Aruna dengan acuh menjawab.


"Baiklah kalau begitu. Putra Mahkota Shen, aku ingin masuk. Izinkan aku pergi ke dalam."  


"Apa kamu yakin?" Shen Su Huan mengerutkan alisnya saat ia mendengar pertanyaan Arnold. Meskipun Xu Ruo Feng sudah diikat dengan rantai sprititual, ia masih bisa menyerang dari jarak dekat. Akan berbahaya jika seseorang seperti Arnold masuk ke dalam. Tetapi setelah melihat Han Aruna yang diam tanpa berkomentar, ia tanpa ragu mengizinkannya. Ia juga penasaran tentang apa yang akan dilakukan pangeran dengan rambut terbakar itu.


"Ya."


"Baiklah. Penjaga cepat buka selnya. Ikuti pangeran Arnold masuk."


"Baik Yang Mulia." Pintu sel segera dibuka. Arnold masuk dengan senyum biasa namun membuat orang tidak merasa nyaman. Han Aruna melihatnya tanpa ekspresi.


"Aku ingin bertanya sekali lagi padamu. Kamu hanya leluasa menjawabnya dan aku akan pergi dengan mudah."


"Tidak akan. Aku sudah sampai pada tahap ini. Tahap di mana aku tidak takut pada apapun. Siksaan apapun tidak akan berguna untukku."


"Oh begitu ya?" Xu Ruo Feng memalingkan wajahnya.


"Baiklah karena kau keras kepala." Arnold masih memperlihatkan senyumnya. Matanya yang sebiru langit bahkan terlihat lebih cerah lagi. Semua orang masih tidak mengerti apa yang akan dilakukan oleh Arnold. Bahkan Han Aruna juga tidak.


"Hehehe.... karena kamu bersikeras aku tidak akan sungkan." Arnold mengambil botol dari balik jubahnya. Han Aruna mengernyitkan alisnya saat mengenali benda yang ada di dalam botol.


Arnold mengeluarkan seekor cacing berwarna merah darah yang berukuran panjang sekitar dua senti. Memegang ujungnya di udara dan menyeringai.


"Ulat ini disebut sebagai Ulat Hati Darah. Seperti namanya, Ulat ini memakan darah yang berada di dalam hati. Mungkin kamu tidak pernah melihat atau mendengarnya di sini karena ini memang berasal dari Suku Skapeer yang dikeluarkan dari dalam hati Beruang hitam. Untuk menjelaskannya lebih detail sebaiknya aku akan langsung membuatmu merasakan bagaimana rasanya jika cacing ini mulai masuk ke dalam kulitmu." Arnold meletakkan cacing itu di permukaan kulit Xu Ruo Feng yang terbuka. Di lehernya.


Xu Ruo Feng memiliki binatang kontraknya sendiri, elang Merah spiritual tingkat tinggi. Xu Ruo Fengsegera memanggilnya. Namun saat elang itu hendak  keluar menyelamatkan tuannya ia sudah ditekan untuk masuk lagi dari luar.


Han Aruna menyadari niat Xu Ruo Feng dan menghalanginya. Ia diam-diam menyuruh Xiao Huang untuk menekan elang kontrak milik Xu Ruo Feng.


Tanpa ada halangan, cacing merah milik Arnold mulai menggali ke dalam kulit. Saat menyentuh kulit mulut kecilnya mulai terbuka dan anda ratusan gigi kecil yang tajam di dalamnya. Dengan sekali usaha sebuah kubang terbuka dan ulat Hati darah masuk dengan mudah. Tidak perlu lagi ditanyakan bagaimana rasanya.


Xu Ruo Feng menggertakkan giginya menahan rasa sakit perlahan masuk ke dalam tubuhnya. Cacing hati darah selalu menggigit dimanapun saat mereka mencari jalan menuju hati. Mereka bergerak tak tentu arah. Wajah Xu Ruo Feng memerah menahan rasa sakitnya sudah diambang batasnya. Apalagi saat ulat itu bergerak dan melewati dahinya. Han Aruna sendiri belum pernah melihat cacing itu bekerja secara langsung. Melihat jalur yang dilewati cacing akan segera berubah menjadi biru kemerahan.


"Jangan lihat lagi." Mata Han Aruna ditutup oleh tangan besar Shen Su Huan yang hangat. "Aku tidak menyangka temanmu itu begitu kejam saat wajahnya terlihat lembut." Lanjutnya.


"Lepaskan tanganmu Yang Mulia." Han Aruna mengangkat tangannya dan berusaha melepaskan tangan Shen Su Huan dari matanya. Tetapi segera dipegang oleh tangan Shen Su Huan yang lain.


"Hal yang menjijikkan seperti ini tidak perlu kamu lihat." Wajah Xu Ruo Feng tidak lagi dapat dikenali.


~♡♡♡~


~☆The Story Of Han Aruna_51☆~


Terima kasih sudah mampir •○(♡;♡)○•


Jangan lupa like, Vote, Komen, Favoritkan dan bantu Share