
Di lapangan terbuka semua orang sudah berkumpul. Acara ini diadakan untuk para anak muda. Para orang tua kecuali para menteri menunggu di istana. Kaisar pada akhirnya juga akan kembali ke istana begitu ia selesai membuka acara perburuan. Nantinya sudah ada tim yang akan mengawasi jalannya perburuan.
Tetapi karena datangnya pangeran Arnold, rencana mungkin akan berganti. Lagipula mereka semua tidak bisa meninggalkan sang pangeran di tengah perlombaan perburuan yang tidak dapat dipastikan keamanannya jika sang pangeran ternyata ingin ikut serta. Hal ini sudah dipikirkan Kaisar sejak Arnold datang. Dan disetujui oleh para menteri yang hadir.
Semua orang segera memusatkan perhatian pada Kaisar dan rombongannya. Kaisar memakai jubah kekaisaran berwarna emas yang megah. Rambutnya ditata begitu tapi dengan mahkota yang terlihat indah di kepalanya. Sang Ratu yang seharusnya ada di sampingnya hari ini absen karena tidak enak badan. Lagipula acara hari ini sangat tidak menarik untuknya.
Putra kandungnya sedang mengikuti pelatihan tertutup dengan seorang Master di sebuah akademi kekaisaran. Semua Nona muda yang hadir tidak ada yang masuk ke dalam matanya urng menjadi menantunya. Mengenai Han Aruna, Han Mora adalah seorang wanita yang dibencinya. Sang Kaisar lebih menghormatinya daripada dirinya yang merupakan ratunya. Itu menjengkelkan.
Yang lebih menarik perhatian semua orang adalah dua sosok yang berjalan di samping Kaisar. Seorang gadis cantik yang baru mereka lihat dua hari ini, Han Aruna. Dan seorang pria tampan dengan penampilan yang menonjol, Arnold. Saat ini kedua orang itu masih saja berbicara meskipun ada Kaisar di samping mereka. sangat tidak sopan untuk dilihat. Tetapi Sang Kaisar justru hanya tersenyum dengan senang. Dia sudah memberi tahu Han Aruna mengenai apa saja yang ingin ia bicarakan pada Arnold, dia juga percaya pada kemampuan gadis itu. Jadi dia hanya bisa tenang menyerahkan urusan ini padanya saat ini.
"Apa? Masih ingin protes?" Melihat wajah tampan Arnold yang penuh dengan keluhan Han Aruna tidak bisa tidak mencibir. acara perburuan resmi dibuka. Tapi dia tidak ingin Arnold ikut dengannya. Sudah cukup baginya memiliki banyak orang yang mengawasinya karena rasa iri mereka. Tidak perlu menambahkan satu yang merepotkan. Kecemburuan gadis adalah sesuatu yang paling berbahaya.
Alasan lainnya dia melarang Arnold ikut dalam perburuan ini adalah bahwa ia memiliki firasat bahwa seseorang sedang mengawasinya. Dalam artian menginginkan kematiannya. Jadi ia tidak boleh melibatkan orang yang tidak ada hubungan dengannya berada dalam masalah karenanya.
"Tapi Aruna. Aku ingin ikut." Arnold masih belum menyerah saat ia mulai merengek seperti anak kecil yang meminta pada ibunya untuk sebuah permen.
"Tidak. Binatang di hutan ini tidak sama dengan di hutanmu. Di sini terlalu berbahaya. Lagipula sudah ada tim penerjemah yang datang. Lagipula kamu sebenarnya tidak memerlukan penerjah itu. Jadi sudah cukup bermainnya. Jangan berakting lagi." Han Aruna melipat tangannya di depan dadanya saat ia menatap Arnold dengan kejam.
"Aku tidak bilang pada mereka bahwa aku tidak bisa berbicara dengan bahasa mereka. Jadi ini bukan salahku. Kamu jangan menghukumku dengan mengusirku jauh darimu." Ekspresi Arnold jatuh. Ini memang bukan salahnya. Mereka sendiri yang menganggapnya tidak bisa bahasa mereka.
"Tidak peduli apa. Kamu tidak bisa ikut denganku." Selesai bicara Han Aruna naik ke atas kuda putihnya dengan ringan. Jika dia terus menanggapi Arnold, dia tidak akan pernah berangkat menilai sifat pangeran manja itu.
"Aruna..." Arnold masih terus berusaha.
"Jadilah baik. Aku akan segera kembali setelah mendapatkan banyak hewan buruan. Aku akan mendapatkan satu untukmu nanti. Hiat." Snowie berlari dengan kencang. Membawa Aruna menembus hutan diikuti tiga orang pengawal di belakangnya dan satu dari pihak istana yang bertugas mencatat hasil perburuan.
"Pangeran Arnold, silahkan." Jei berkata dengan sopan saat ia mengulurkan tangannya.
"Huh Jei. Nonamu itu masih sekeras batu. Tapi tenaga saja. Selama hati Aruna masih bebas. Aku akan berusaha." Ucap Arnold bertekad.
Jei tidak mengatakan apapun. Ia hanya diam-diam mengasihani pangeran tampan itu. Menurutnya, sampai kapanpun nonanya tidak akan pernah tergerak olehnya bagaimanapun juga. Selama dia mengenal Han Aruna, tipe pria seperti Arnold tidak akan sesuai dengan nonanya. Arnold terlalu lembek sebagai seorang pria. Sedangkan nonanya sangat mendominasi. Jadi apa rumah tangga mereka nantinya jika mereka bersama? Mungkin akan ada pembalikan dunia nantinya dimana nonanya akan menjadi raja dan Arnold akan menjadi ratunya. Membayangkan saja Jei bergidik ngeri.
Semua peserta sudah mulai bergerak. Beberapa dari mereka sudah mendapatkan beberapa binatang baik binatang biasa maupun binatang spiritual tingkat rendah. Untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Mereka harus mengumpulkan binatang dengan tingkat spiritual yang tinggi. Tapi binatang biasa dan spiritual tingkat rendah dapat menambahkan nilai mereka. Selain itu bisa mereka masak nantinya.
Hadiah yang akan diberikan pada pemenang masih sangat menggiurkan. Jadi para peserta sangat bersemangat untuk memenangkan lomba. Beberapa orang diantaranya melakukan cara yang curang untuk menang. Mereka memasang jebakan di beberapa tempat untuk menghalangi orang lain memang. Ana buah Aruna melihat aksi mereka. Setelah mereka melaporkan pada Han Aruna, mereka pun segera menghancurkan jebakan itu agar tidak sampai ada yang masuk ke dalam jebakan dan terluka. Jadi pertandingan biasa berjalan dengan adil. Selain anak buah Han Aruna, anak buah Shen Su Huan juga mengetahuinya dan melakukan hak yang sama dengan mereka.
Saat ini Han Aruna turun dari kudanya saat ia merasa ada seekor binatang spiritual yang auranya hanya samar-samar dia rasakan di sekitarnya. Sedangkan empat orang yang mengikutinya juga ikut turun. Tapi mereka hanya diam dan menunggu. Mereka tidak boleh membantu peserta untuk menangkap binatang. Mereka hanya bisa membantu saat ada bahaya saja.
Han Aruna masuk ke dalam semak. Di seberang semak-semak ia menemukan seekor Harimau putih spiritual yang sedang duduk di atas tanah yang sudah dibersihkan.
Han Aruna tidak langsung menyerang harimau itu. Melainkan memperhatikannya karena ia merasa bahwa ada yang salah dengan harimau itu. Ternyata memang benar. Harimau itu saat ini sedang berusaha untuk melahirkan. Tetapi harimau itu melahirkan tidak secara normal. Itu karena dirinya baru saja bertarung dengan seekor Singa dan saat ini sedang terluka. Sebentar lagi mungkin ia akan mati. Dan jika ia mati, anak di dalam kandungannya juga akan ikut mati bersamanya. Jadi dengan terpaksa ia harus melahirkan anaknya saat itu juga.
Busur panah di tangannya kembali dia letakkan di punggungnya saat ia mendekat dengan hati-hati. Melihatnya, keempat orang yang mengikuti seketika terkejut. Meskipun harimau itu sedang dalam keadaan terluka dan bersiap untuk melahirkan. Ia masih adalah seekor binatang spiritual. Apalagi saat mereka sudah berada di dekatnya. Harimau itu ternyata adalah binatang spiritual tingkat tinggi. Jadi meskipun sedang terluka, harimau itu masih tetap berbahaya dan dapat mengancam jiwa.
Harimau itu merasakan orang yang mendekatinya. Ia segera berbalik dan menatap tajam Han Aruna yang berjalan dengan santai ke arahnya. Sinyal waspada langsung dinyalakan. Ia membuka cakarnya yang tajam. Gigi taring mengkilap terlihat di dalam mulutnya yang sedikit terbuka. Jelas harimau itu sedang menahan rasa sakit.
Pada saat ini, harimau itu menyadari bahwa jika ia memaksakan diri untuk bertarung dengan Han Aruna yang memiliki kekuatan kultivasi yang tinggi, ia akan dengan mudah dikalahkan dan mati. Dia pun mengambil jalan pintas. Ia memaksakan seluruh niat membunuh dalam dirinya untuk keluar. Berharap mereka pergi. Tapi tindakan itu bukan tanpa konsekuensi. Konsekuensinya adalah bahwa ia akan segera kehilangan auranya dan akan segera meninggal. Namun demi anaknya, ia tidak ragu untuk mempertaruhkan apapun.
Melihat mata tajam dan niat membunuh Harimau itu. Semua orang menahan napas mereka dalam-dalam. Tapi itu tidak berpengaruh pada Han Aruna. Gadis itu dengan berani mendekati Harimau itu di bawah tatapan khawatir para pengawalnya.
Harimau tidak menduga gadis itu masih berani maju. Bahkan tanpa senjata. Ia tidak memiliki pilihan lain selain menyerang. Harimau itu melompat dengan cakar dan mulut yang terbuka. Memperlihatkan cakar dan gigi yang tajam saat dia maju dan menerkam Han Aruna.
"Nona Awas!"
...~♡♡♡~...
...~☆The Story Oh Han Aruna_27☆~...
Terima kasih sudah mampir •○(♡;♡)○•
Jangan lupa like, Vote, Komen, Favoritkan dan bantu Share