
Pertunjukan bakat berakhir siang hari. Pemenangnya adalah Tang Lin Hua. Tetapi, orang-orang masih tidak merasa puas dengan hal ini. Banyak dari mereka yang menyesal telah memberikan bunga mereka di awal pertunjukan sehingga saat pertunjukan yang paling bagus menurut mereka, tidak ada bunga yang mereka dapat berikan. Ini mengacu pada Han Aruna yang tampil secara tidak terduga.
Bisik-Bisik orang mulai membicarakan ketidak puasan mereka. Pada akhirnya mereka juga berpikir akan mengusulkan agar bunga yang diberikan tahu depan akan lebih dari satu dan bertekad akan memberikan semuanya pada Han Aruna saat ada kesempatan. Tapi kembali lagi, mereka masih sakit hati tidak bisa memberikan bunga untuknya.
Meskipun menjadi pemenang, Tang Lin Hua masih pulang dengan menggertakkan giginya. Mendengar semua bisikan orang itu membuatnya marah. Ia merasa bahwa kemenangan yang dia dapat tidak berharga sama sekali. Melirik hadiah di tangan pelayannya, hatinya masam. Bagaimanapun, dibandingkan dengan semua hadiah itu, Sittar Feiyang yang harus dia relakan tidaklah sepadan. Sama sekali!
Tapi saat ia melihat gulungan dekrit di tangannya. Suasana hatinya menjadi lebih baik. Dengan dekrit di tangannya, ia bisa melakukan apapun yang dia mau. Apalagi hanya menyingkirkan Han Aruna, itu hal yang mudah.
"Nona kami sudah mendapat kabar bahwa malam ini rombongan pangeran Arnold akan sampai di ibukota." Jei datang ke istana pada sore hari.
"Itu bagus. Persiapkan akomodasi terbaik. Jangan sampai pangeran manja itu mengeluh padaku besok." Han Aruna mengerutkan bibirnya.
"Baik nona."
"Bagaimana perkembangan mengenai gudang di perbatasan?"
"Kami sudah mengintai beberapa hari ini. Ada tiga kali pengiriman dalam jumlah kecil."
"Lalu apakah sudah ada kemajuan?"
"Mohon maafkan saya, Nona. Mereka semua sangat berhati-hati. Mereka tidak meninggalkan jejak sama sekali." Jei menundukkan kepalanya bersalah. Jika ada hal yang tidak bisa mereka selesaikan, nona mereka sendiri yang pada akhirnya akan bertindak. Sebagai bawahan, ia merasa tidak berdaya.
"Tidak apa. Lanjutkan pengawasan. Mereka tidak mungkin selalu bersih. Pasti ada celah meskipun hanya sedikit. Terus selidiki. Jangan biarkan satu celahpun terlewat dari pengawasan."
"Baik nona." Han Aruna melambaikan tangannya. Menyuruh Jei untuk segera pergi.
Di saat yang sama, pengeran keempat, Shen Ji Chen juga masuk ke dalam istana pagi ini datang mengunjungi Shen Su Huan di kediamannya sore harinya.
Di dalam ruang kerja Shen Su Huan sudah ada Shen Bi Yun dan beberapa anak buah terpercaya Shen Su Huan. Mereka diusir keluar begitu Shen Ji Chen masuk.
Shen Bi Yun yang biasanya bermain-main keluar dengan tenang tanpa mengeluh. Lagipula, apapun yang dibicarakan kedua saudaranya itu tidak akan pernah menarik untuknya. Lebih baik dia kembali ke kediamannya dan menemui istri dan selir-selirnya yang cantik.
"Apa kabar saudaraku?" Shen Su Huan memperhatikan penampilan Shen Ji Chen dengan seksama.
"Saya baik-baik saja putra mahkota."
"Itu bagus. Selamat datang kembali." Shen Su Huan merentangkan tangannya. Bersiap memeluk saudara tirinya yang sudah lama tidak bertemu dengannya.
Shen Ji Chen sejak kecil telah keluar dari istana dan memilih untuk tinggal di perbatasan sebagai jenderal muda. Lagipula dia hanyalah pangeran yang lahir dari seorang pelayan dengan status rendah. Jika dia berada di istana, sudah sejak lama dia akan disingkirkan.
Merasa memiliki nasib yang sama karena tidak memiliki ibu membuat kedua pangeran itu menjadi dekat satu sama lainnya. Itulah sebabnya Shen Ji Chen bisa bertahan sampai usia dua belas tahun tinggal di istana. Itu semua karena dukungan dan perlindungan dari Shen Su Huan.
Setelah usia dua belas tahun, Shen Ji Chen merasa tidak bisa terus hidup di bawah sayap perlindungan Shen Su Huan. Ia harus bisa merubah keadaan dan memutuskan untuk pergi ke perbatasan berjuang mempertahankan keamanan dengan menjadi seorang prajurit dan dengan kemampuannya, ia pun mampu menjadi jenderal di usia yang begitu muda.
"Yang Mulia ada yang ingin saya laporkan."
"Ada apa?" Ekspresi Shen Su Huan kembali serius.
"Satu bulan terakhir, saya menemukan adanya aktivitas mencurigakan di sebuah gudang di perbatasan. Mereka diduga mengumpulkan banyak bubuk mesiu."
"Bubuk mesiu?"
"Ya Yang Mulia. Gudang itu dijaga dengan sangat ketat. Berulang kali saya mencoba menyelinap masuk untuk melihat keadaan di dalam gudang tetapi selalu saja gagal."
"Belum. Mereka selalu bersih. Tapi saya pernah melihat anak buah dari Serikat dagang Anggrek Bulan ada di sekitar sana. Saya sudah mengawasinya cukup lama dan hanya mendapatkan daftar pengiriman barang. Saat kami mencoba mencegatnyapun kami tidak pernah berhasil. Ahli bela diri yang mereka sewa semuanya hebat." Shen Ji Chen menyerahkan dokumen berisi catatan jadwal satu bulan belakangan.
"Anggrek Bulan? Apa yang mereka lakukan? Apakah mereka..."
"Saya rasa tidak. Mereka di sana sama seperti kita. Mereka juga sedang mengawasi melihat dari pergerakan mereka."
"Apa mereka juga tahu kalian juga mengawasi?"
"Saya rasa mereka juga tahu. Serikat dagang Anggrek Bulan selalu tidak sesederhana kelihatannya. Saya pernah bertemu dengan Nona Han beberapa kali. Dia adalah gadis yang tangguh. Saya rasa mereka juga merasa ada yang tidak beres."
"Baiklah aku mengerti. Perintahkan anak buahmu untuk terus mengawasinya. Jangan sampai kita kehilangan apapun. Aku akan melihatnya begitu urusan di istana ini selesai. Kita tidak bisa bergerak saat ini. Bukti-bukti ini masih belum cukup."
"Saya mengerti."
"Baiklah. Lebih baik kembalilah dulu. Besok akan ada acara di lapangan perburuan." Shen Ji Chen mengangguk dan segera keluar dari ruang kerja Shen Su Huan.
Di Malam hari yang dingin. Udara malam berhembus dengan cukup kencang membawa aroma bermacam-macam bunga yang sedang mekar.
Seorang pria tampan dengan rambut pirang dan kulit yang putih pucat duduk bersandar di jendela yang terbuka. Melihat ke arah langit malam berbintang yang luas di atas sana. Dia adalah pangeran Arnold. Putra mahkota kerajaan Barat yang merupakan teman Han Aruna.
"Hum... aku selalu ingin datang kemari. Tapi gadis itu selalu melarangku. Sekarang ini dia sendiri yang memanggilku datang. Aku tidak akan melepaskan kesempatan emas ini." Gumam Arnold mencium bunga mawar merah di tangannya.
Arnold sudah cukup lama mengenal Han Aruna. Sudah bertahun-tahun lamanya sejak mereka masih sangat muda. Pertemuan mereka juga tidak disengaja.
Saat itu Arnold muda yang suka membangkang melarikan diri dari kelasnya dan bermain ke dermaga. Saat ia panik dikejar oleh pengawalnya, ia tidak sengaja masuk ke dalam kapal milik Han Mora yang sedang berlabuh.
Kapal Han Mora luas. Tapi Arnold tidak sengaja masuk ke dalam ruang belajar Han Aruna dan pertama kali melihat Han Aruna yang tengah belajar menulis kaligrafi. Kesan pertama Arnold adalah bahwa gadis yang sedang menulis itu terlihat sangat cantik sehingga dia tanpa sadar duduk dan memperhatikan Han Aruna sampai selesai dengan tulisannya.
"Apakah sudah puas melihatnya?" Arnold terkejut saat suara Han Aruna terdengar jelas di telinganya. Seketika ia berdiri dengan canggung di tempatnya sambil terkekeh.
"Maaf. Aku tidak sengaja datang kemari. Lalu melihatmu menulis dengan sangat indah. Aku ingin tahu apakah kamu mau mengajariku?" Arnold menemukan bahwa wajah gadis di depannya itu tidak sama dengan wajah gadis lain yang biasa dia lihat. Bahkan rambutnya memiliki rambut hitam yang polos yang sangat jarang dimiliki oleh orang di kerajaanya. Warna matanya yang hitam seperti mampu melihat semuanya. Ia begitu kagum dan terpesona.
Han Aruna melihat penampilan pemuda itu yang memakai pakaian mewah. Ia menyimpulkan bahwa dia adalah anak orang kaya.
"Aku bisa saja mengajarimu. Tapi, Aku adalah seorang pedagang. Aku tidak pernah melakukan sesuatu tanpa mendapatkan untung. Jadi, apa kamu masih mau berbisnis denganku?"
Arnold tersenyum mengingat saat itu. Sejak itulah ia selalu datang ke kapal Han Mora dalam beberapa hari ke depan untuk belajar. Itu juga bukan hal yang mudah untuknya. Selain dia harus menyelinap lagi untuk datang dia juga menguras semua isi dompetnya untuk membayar uang 'jasa', tapi ia merasa apa yang dia dapatkan sepadan.
Yang terpenting baginya adalah dapat bertemu gadis cantik itu. Yah.... meskipun akhirnya dia menyadari bahwa apa yang gadis itu sukai darinya adalah uangnya. Benar-benar gadis pecinta uang.
Tapi tidak masalah, dia adalah putra mahkota. Yang suatu hari akan menjadi seorang raja. Saat itu, jika dia menjadi ratunya, semua isi kas negara adalah miliknya. Han Aruna tidak akan menolaknya lagi kan?
...~♡♡♡~...
...~☆The Story Of Han Aruna_24☆~...
Terima kasih sudah mampir •○(♡;♡)○•
Jangan lupa like, Vote, Komen, Favoritkan dan bantu Share