
Saat Han Aruna masuk ke dalam ruangan, Shen Su Huan menyesap tehnya dengan elegan. Sedangkan Arnold hanya diam memperhatikan Shen Su Huan dengan penuh permusuhan di matanya.
Para pelayan menunggu di samping dan melaporkan bahwa makanan sudah selesai disiapkan. Tinggal menunggu Han Aruna datang. Mereka menatap Han Aruna yang baru saja datang dan menghela napas lega. Dari tadi mereka melihat kedua putra mahkota yang diam tetapi memancarkan aura dingin yang menakutkan.
"Mohon maaf sudah membuat kedua Yang Mulia menunggu terlalu lama." Arnold dan Shen Su Huan menoleh begitu mendengar suara jernih Han Aruna.
"Tidak tidak. Tidak akan pernah lama untuk menunggu kecantikan sepertimu Aruna." Arnold maju. Namun menatap mata Aruna yang memperingatkannya agar tidak membuat masalah.
Jadi Arnold hanya bisa mundur dan terkekeh dengan garing. "Hehe."
"Tidak Nona Han. Saya benar-benar tidak ada masalah dengan itu. Lagipula ini juga termasuk kesalahan saya karena datang di waktu yang tidak tepat."
"Terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia." Han Aruna duduk di depan kedua pengeran. "Karena ini sudah hampir tiba waktunya makan siang, apakah kedua pangeran Mahkota yang terhormat akan memberi saya muka untuk memenuhi undangan saya?"
"Tentu saja Aruna. Aku sudah lama tidak makan bersamamu. Aku sa..." mulut Arnold terkunci saat melihat Han Aruna meliriknya dengan tajam. "Hehehehe." Arnold berakhir dengan menggaruk belakang tengkuknya.
"Sepertinya hubungan antara nona Han dan pangeran Arnold ini cukup baik." Shen Su Huan berkata dengan tenang. Tetapi senyum di bibirnya membuat orang takut.
"Tidak juga. Kami kebetulan hanya saling mengenal."
"Ooh... tapi sepertinya Pangeran Arnold memperlakukan Nona Han lebih dari sekedar kenalan." Shen Su Huan sengaja menanyakan ini untuk memprovokasi Arnold. Ia pandai melihat orang. Dan menurutnya Arnold mengerti saat orang lain berbicara. Tetapi dia tidak tahu mengapa pria itu masih menyembunyikannya dari mereka semua dan masih berbicara dengan bahasa asing yang tidak mereka pahami. Yang menyebalkan untuknya adalah bahwa dia tidak mengerti apapun saat mereka berbicara. Sepertinya ia harus mulai belajar bahasa asing juga.
🐾🐾🐾
Seorang pria tampan yang memiliki wajah yang memiliki sedikit kemiripan Dengan Shen Su Huan berdiri di depan jendela yang terbuka di ruang kerjanya. Tangan kirinya memegang belati yang cantik namun tampak sangat dingin. Tangan kanannya digerkakan di mata pisau. Seperti sedang menguji ketajama belati yang berkilau itu. Pria tampan itu adalah Shen Lin Yang. Pangeran ke lima kekaisaran Zhao. Di belakang Shen Lin Yang, seorang pria dengan pakaian serba hitam berlutut menghadapnya.
"Apa orang dari Devil Dolls sudah dibersihkan?" Suaranya berat saat dia berbicara.
Pria serba hitam di belakangnya segera menjawab dengan serius. Saat ia mendongak, ia dapat melihat sekelebat cahaya mengerikan yang berasal dari bilah pisau di tangan majikannya. "Sudah Yang Mulia. Semua orang yang terlibat sudah dibersihkan. Bahkan, jika mereka semua menemukan markas sekte itu, mereka hanya akan menemukan puing-puing yang sudah roboh."
"Kerja bagus. Kamu akan mendpaatkan hadiah besar untuk itu." Shen Lin Yang berbalik. Menatap pria serba hitam yang berlutut di depannya. Matanya memiliki cahaya sinar rubah yang licik.
"Terima kasih Yang Mulia."
"Tapi sayangnya, kamu masih ketinggalan satu orang lagi yang memiliki nyawa untuk berbicara."
"Kamu sudah mengikutiku lima tahun belakangan ini. Sudah terlalu banyak yang kamu tahu tentangku. Kesetiaan padaku tidak perlu diragukan lagi. Sedangkan aku, aku tidak akan pernah membiarkan duri besar yang ada di dalam dagingku terlalu lama."
"Tapi Yang Mulia, hamba selalu setia pada anda. Kenapa anda melakukan hal ini? Uhuk uhuk." Darah menyembur keluar. Shen Lin Yang menyeka darah di tangannya dan melemparkan sapu tangan ke wajah pria di depannya.
"Apa kamu sudah melupakan peraturan penting saat mengikutiku?" Ekspresi pria berbaju hitam itu menegang. Wajahnya kini jelas khawatir.
"Kamu tenang saja. Aku tidak akan membiarkan bawahan setia seperti sendirian di alam baka. Kekasih kecilmu sudah menunggumu di sana."
"Brengsek! Apa yang kau lakukan padanya!"
"Tenang. Aku tahu aku memang pria brengsek. Kamu tidak perlu mengingatkanku akan fakta itu. Tapi karena aku pria brengsek yang baik hati, aku akan memberitahumu bagaimana kekasihmu itu mengalami akhir hidupnya." Shen Lin Yang berjongkok dan membisikkan beberapa kata pada pria berbaju hitam.
Pria berbaju hitam yang berlutut di tanah dengan darah hitam yang elus keluar dari dadanya mengepalkan tangannya setelah . Jika dia tahu akan jadi seperti ini pada akhirnya, dia tidak akan melibatkan gadis manis yang tidak sengaja dia temui saat ia pergi ke hutan dalam masalahnya.
Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Andai saja ia mengingatkan bahwa majikannya adalah seorang pria kejam yang tidak segan membunuh bahkan keluarganya sendiri tidak akan mengampuni siapapun yang dapat membahayakan dirinya. Bawahan seperti dirinya, yang memiliki posisi penting di sisi Shen Lin Yang memiliki resiko yang paling besar. Orang di posisi seperti dirinya tidak diperbolehkan memiliki sesuatu yang menjadi kelemahannya.
Andai saja waktu bisa diulang kembali. Dia akan memilih untuk melewatkan kesempatan mengenal gadis manis yang baik hati yang telah membuatnya jatuh cinta. Dia akan menghindari pertemuan kedua mereka yang tidak sengaja di gunung di tepi hutan itu. Yang menjadikan hujan menyatukan mereka. Andaikan... andaikan....
Tapi semua andai itu tidak ada gunanya. Semua sudah terlambat. "Ting'er, maafkan aku. Uhuk uhuk." Semua tangis pria itu teredam saat ia kembali menyemburkan darah yang lebih banyak dari sebelumnya. Tubuh itupun jatuh dengan keras di lantai yang dingin.
Shen Lin Yang menatap tanpa ekspresi mayat pria berbaju hitam yang sudah lima tahun menjadi bawahannya. "Kalian masuklah."
"Kami di sini Yang Mulia." Dua orang berpakaian penjaga masuk dan melirik mayat yang tergeletak di atas lantai. Ekspresi mereka membeku saat tubuhnya menegang. Dari ekpresi yang mereka tunjukkan, mereka jelas mengenali siapa pria yang telah menjadi mayat beberapa detik yang lalu. Pria itu adalah Wang Cai. Salah satu penjaga rahasia yang paling lama mengikuti Shen Lin Yang. Tidak ada pekerjaan yang tidak diselesaikan dengan baik olehnya. Tapi kenapa dia berakhir seperti ini? Apa yang dilakukannya sehingga membuat Yang Mulia marah dan membunuhnya?
"Bawa mayat ini untuk memberi makan anjing di kandang." Suara rendah Shen Lin Yang membuat kedua penjaga itu bergetar. Mereka tidak berani bertanya ataupun berbicara lebih banyak. Mereka segera membawa mayat Wang Cai keluar dari ruang kerja Shen Lin Yang.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun menjadi ancaman untukku." Shen Lin Yang melirik sekilas darah merah bercampur hitam di lantai dengan dingin sebelum ia memerintahkan para pelayan masuk dan membersihkan ruangan.
...~○○○~...
...~♡The Story Of Han Aruna_33♡~...