The Second Husband

The Second Husband
Flashback (Bab.85)



"Duduklah !" (Ucap wanita tua itu seraya mempersilahkan)


Penampilan Malaika yg trendy dan gaya berpakaiannya yg masih seperti anak muda membuat wanita tua itu sama sekali tidak bisa mengenalinya.


"Aku ingin bicara terus terang pada ibu !" (Ucap Adel yg sedikit gemetar)


Namun gadis itu terus mencoba memberanikan diri untuk mengatakan yg sebenarnya.


"Cepat katakan ! Jangan berbelit belit !" (Jawab wanita itu sedikit sinis)


"Aku ingin berhenti dari pekerjaan kotor ini Bu !" (Ucap Adel yg mulai sedikit terisak)


Tanpa basa basi, wanita itu segera berdiri dan melayangkan tangan kirinya untuk menampar gadis malang itu.


Wajah murka tak lagi bisa terbendung dari rautnya, wanita tua itu menjadi kalap dan semakin menyiksa gadis malang itu.


"PLAKKKK !!!"


Sekali lagi sebuah tamparan mendarat di pipi ayu itu, gadis itu tersungkur di lantai.


Melihat hal itu Malaika sangat terkejut dan matanya melotot, ia benar2 tidak menyangka bahwa ibu dari mantan suaminya bisa sekejam itu pada putrinya sendiri.


"Hentikan !!!" (Bentak Malaika)


Sementara kedua ajudan itu mencoba melerai wanita tua tersebut dengan memegangi tubuhnya.


Meski mencoba berontak namun tenaganya masih kalah dengan kedua orang ajudan itu.


"Siapa kalian ??? Jangan coba2 menghentikanku !" (Teriak wanita itu dengan kerasnya)


"Ibu !!! (Panggil Malaika dengan suara lantang), ibu masih ingat denganku ? (Tanyanya dengan penuh amarah), ibu masih ingat ?" (Sekali lagi ia bertanya)


Wanita tua itu pun lalu memandangi Malaika dengan seksama.


"Ayo bu ! Coba lihat wajahku sekali lagi ! Coba perhatikan lagi ! Aku yakin tidak semudah itu ibu lupa denganku !" (Ucap Malaika masih dengan kekesalannya)


Mencoba mengingat sesuatu, namun nampaknya wanita tersebut sepertinya benar2 lupa dengan Malaika.


"Siapa kau !" (Tanya wanita itu)


Malaika pun mendekatkan wajahnya, sehingga kedua wanita tersebut saling bertatapan.


"Ibu benar2 lupa padaku ? Hmmm baiklah ! Itu bagus ! (Celetuknya dengan remeh), jika kau melupakanku maka kau pasti dengan mudahnya melupakan putramu yg telah lama pergi !" (Ucap Malaika dengan lantang)


Seolah mendapat petir disiang bolong, akhirnya wanita itu tersentak dengan perkataan Malaika.


Kini ia tersadar dan mulai mengenali wanita yg ada di depan matanya itu.


Mulutnya terkunci, matanya melotot kaget, sementara kini tubuhnya melemas tak lagi berontak.


Kedua ajudan itu lalu melepaskan cengkeraman mereka, dan membiarkan wanita itu bergerak leluasa.


"Bagaimana ? Apa ibu sudah ingat sekarang ?" (Tanya Malaika dengan remehnya)


Mulai dari atas hingga ke bawah wanita itu kembali memperhatikan lekuk tubuh Malaika.


"Wanita laknat ! (Pungkasnya tegas), braninya kau datang kemari !" (Bentak wanita itu)


"Hey ! Jaga bicaramu ibu !" (Sahut Malaika yg juga tak mau kalah)


"Jangan pernah memanggilku dengan sebutan ibu ! Kau bukan lagi bagian dari keluargaku !" (Jawabnya tegas)


"Aku memanggilmu ibu karna aku menghargai alm. Suamiku ! Dengar Bu ! Bahkan sebutan ibu sebenarnya sudah tidak pantas untuk dirimu !" (Ucap Malaika)


"Jaga ucapanmu !" (Teriak wanita itu)


"Seorang ibu tidak mungkin menjual anaknya untuk kepentingan apa pun ! Bahkan kau sendiri sudah membandrolnya dengan harga yg sangat murah !" (Sindir Malaika dengan ocehan pedasnya)


Sehingga membuat wanita tua itu semakin tersulut emosinya.


"Kurang ajar !!! Braninya kau bicara seperti itu padaku ! (Bentak wanita itu), pergi dari rumahku dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku !" (Pintanya dengan kasar)


"Ok baik ! Aku akan pergi bersama dengan putrimu !" (Jawab Malaika dengan santainya)


"Hey !!! Hentikan !! (Teriak wanita itu), jangan coba2 membawanya atau aku !" (Teriakannya tiba2 terhenti)


"Atau apa ? Atau kau akan melaporkanku ke kantor polisi, begitu ? (Sahut Malaika), dengar Bu ! Aku juga bisa menuntutmu balik atas itu ! Dan satu lagi ! Jangan coba2 mengancamku ! Karna aku tidak selemah yg dulu !" (Ucap Malaika mempertegas)


"Hey wanita laknat ! Hentikan semua ini ! Apa sebenarnya tujuanmu datang kemari !" (Teriaknya lagi)


"Aku ? Aku hanya ingin Adel ! Adel is mine ! (Tuturnya), oh atau ? Kau juga ingin menjualnya padaku ?" (Celetuk Malaika dengan remehnya)


Setelah mendengar perkataan Malaika, wanita itu pun lantas mulai merendahkan nada bicaranya.


"Berapa yg kau tawarkan ?" (Sahut wanita tersebut)


"Kau lihat ! Bahkan ibumu pun bersedia menjualmu padaku !" (Ucap Malaika dengan pandangan mengarah ke Adel)


Wanita yg masih terisak itu masih tak berdaya, ia masih tersungkur di lantai.


"Bangunlah ! Kau tidak pantas terlihat bodoh di depan wanita iblis seperti dia !" (Pinta Malaika seraya menarik bahu Adel)


Gadis itu pun kemudian bangkit dan berdiri meski dengan wajah yg masih menunduk ketakutan.


Tak lama kemudian, secarik kertas kecil keluar dari tas milik Malaika. Ia lantas menyobeknya dan memberikan kertas tersebut pada wanita itu.


"Tulis berapa pun yg kau mau !" (Pinta Malaika dengan menyodorkan pena)


Wanita itu pun diam tak menjawab, namun tangannya sigap menerima kertas tersebut.


"Itu adalah cek kosong, kau bisa menuliskan berapa pun angka yg kau inginkan ! Dengan syarat !" (Sahut Malaika)


"Apa syaratnya !" (Jawab wanita itu dengan sigap)


"Adel milikku selamanya !" (Jawab Malaika dengan tegas)


Tanpa basa basi, wanita tersebut segera menuliskan angka yg ia mau.


"Jangan coba2 membohongiku !" (Seru wanita tua itu)


"Kau bisa cairkan uang itu sekarang juga !" (Jawab Malaika seraya beranjak dari tempat tersebut)


Masih dengan raut wajah yg sembab, gadis malang itu nampaknya pasrah ketika Malaika memboyongnya dari rumah ibunya.


Kesemua orang itu kemudian berlalu dari rumah tersebut dan memutuskan untuk kembali ke jakarta.


Di perjalanan....


"Kau jangan takut, aku akan menempatkan mu di tempat yg lebih baik dari sebelumnya, tempat tinggal yg lebih baik dan pekerjaan yg lebih baik pula, tenanglah kau tidak sendirian sekarang !" (Ucap Malaika seraya mengusap rambut Adel)


Gadis itu pun menatapnya tanpa bersua, namun mimik wajahnya berusaha untuk menampilkan senyuman.


Sekembalinya di jakarta...


Tiba2 Adel dikejutkan dengan pintu kamar hotel yg terbuka begitu saja.


"Kak ?" (Seru Adel ketika melihat pintu itu terbuka)


Matanya menatap bingung.


"Kau tenang saja ! Ini sudah biasa !" (Jawab malaika dengan senyuman ramahnya)


Seolah biasa dengan ulah seperti itu, Malaika kemudian melenggang masuk dengan santainya, tak lama kemudian Adel pun turut mengikutinya.


Gadis itu masih penasaran sehingga ia sedikit ketakutan ketika memasuki kamar tersebut.


ia berjalan pelan dengan langkah yg mengendap endap, melihat sekeliling, menoleh kesana kemari.


Tak lama kemudian mulai tercium asap cerutu yg cukup mengganggu penciumannya.


"Bau apa ini kak ? Siapa yg merokok disini ?" (Seru Adel seraya menutup kedua lubang hidungnya)


"Kau bisa beristirahat di kamar sebelah, asap rokok tidak akan masuk kesana ?" (Jawab Malaika dengan santai)


Seraya meletakkan tas kecil miliknya, ibu satu anak itu lantas menghampiri bau asap rokok yg cukup mengganggunya.


Di bukalah pintu balkon kamarnya, dan terlihatlah seorang laki laki dengan kaos oblong duduk santai menikmati pemandangan kota dari atas.


Dengan semangatnya Malaika kemudian menghampirinya dan memeluknya dari belakang.


"Kau sudah lama disini ?" (Bisiknya secara tiba2)


Dengan segera pria itu pun mematikan cerutunya.


"Kenapa lama sekali ?" (Tanya pria itu seraya menjamah tangan mungil yg merangkulnya)


"Adam, kau tau aku ada urusan sebentar, aku sudah bilang ini sebelumnya kan ?" (Tuturnya manja)


"Tp kau tidak bilang selama itu nona ?" (Celetuknya lagi)


"Bahkan ini masih sore, kau meracau seolah aku pergi seharian !" (Ucap Malaika kesal)


"Hmmm baiklah ! Sekarang kau sudah kembali ! Ayo kemarilah !" (Pinta Adam agar Malaika duduk di pangkuannya)


"Aku bahkan belum sempat mandi, tp kau sudah menahan ku !" (Gerutu Malaika)


"Siapa yg peduli !" (Sahut Adam lalu mencium kening itu)