
Pria berjanggut tipis itu masih diam memperhatikan komputer di meja kerjanya, jaket kulit yg menutupi tubuhnya kini terlepas darinya, hanya sebuah singlet hitam yg melekat dibadan besar itu.
Tak lupa cerutu hitam yg menempel pada bibir seksi itu, sesekali asapnya mengepul seolah melepaskan sedikit beban dalam pikirannya.
Matanya terus menatap layar besar itu, sesekali tangan kanannya juga memainkan mouse untuk melakukan setiap pekerjaannya.
"Kriiiiiing !" (Dering telepon kantor berbunyi)
Dengan santainya, Adam menerima panggilan itu.
"Jackson Company disini !" (Seru Adam dengan ramah)
"Ahhh selamat siang pak ? Bisa bicara langsung dengan Mr.thomas ?" (Ucap seseorang dalam panggilan itu)
"Mr.thomas tidak sedang bertugas ! Katakan saja ! Saya penanggung jawab disini !" (Pinta Adam begitu santai)
"Ahh baiklah ! Maaf sebelumnya ! Ini dengan siapa ?" (Tanyanya kembali)
"Adam ! Adam Jackson !" (Jawabnya tegas)
Mendengar namanya, maka seseorang tersebut nampak terkejut tak karuan.
"Ahh maaf pak, saya tidak tau ! Sa saya ingin mengatakan bahwa ada sedikit masalah di proyek pertambangan !" (Ucapnya sedikit gugup)
"Katakan !" (Pinta Adam dengan datar)
"Kami mengalami masalah, ada beberapa mesin yg tidak bekerja, sedangkan montir yg biasanya memperbaiki sudah dipecat, kami benar2 tidak bisa memperbaikinya pak, apa yg harus kami lakukan ?" (Mereka panik)
"Pertama, panggil kembali montir itu untuk bekerja esok hari, dan jika kau tidak menemukannya maka cari orang baru yg ahli dalam hal ini ! (Pinta Adam dengan tegas).
"Pak, tp maaf sebelumnya ! Bukankah kantor sudah tidak bisa menggaji beberapa montir untuk ini ?" (Sahutnya menjelaskan)
"Panggil saja ! Urusan kantor sudah menjadi tanggung jawabku !" (Jawab Adam tegas)
"Pak ? Lalu bagaimana dengan mesin yg mati saat ini, jika tidak segera diperbaiki maka kami semua tidak akan bisa bekerja ?" (Tanya nya cemas)
"Aku akan datang setelah ini !" (Jawab Adam singkat)
"Baiklah pak !" (Ucapnya kemudian mengakhiri panggilan)
Di raihlah kembali sebuah jaket kulit yg tersandar pada sebuah sofa yg ada di ruangan bos itu, tak lupa kaca mata hitam yg semakin menyempurnakan penampilannya.
Pria itu berjalan keluar dari ruangannya.
Tak lama kemudian, seseorang memanggilnya dan bertanya.
"Sir ? (Panggilnya), anda nampak terburu buru ?" (Tanyanya)
"Ah Jay ! Kau handle semua staff, aku harus datang ke proyek ! Ada sedikit masalah disana ! Dan yah ! Meski aku tidak ada di kantor, seluruh cctv ini terpantau langsung oleh ponselku ! Jadi jangan macam2 !" (Ucap Adam seolah memperingatkan)
Manager itu hanya bisa mengangguk dengan memberi hormat.
Setelah kepergiannya, manager kemudian memperingatkan kepada seluruh staff yg ada disana.
"Kalian dengar itu ? (Ucap Jay menakuti), ini bukan kendaliku ! Lengah sedikit ! Habis kalian !" (Jay terkekeh kemudian berlalu)
Para staff itu kemudian merasa muak dengan pekerjaan ini, karna mereka benar2 tidak bisa bersantai sama sekali.
Sampailah Adam di sebuah proyek pertambangan batu bara milik ayahnya, karna perusahaan itu memang bergerak di bidang batu bara.
Melihat segerombolan orang berseragam orange dengan helm proyek yg senada, Adam segera menghampiri mereka dan coba membantu menyelesaikan masalah.
"Pak, apakah anda yg berada dalam panggilan tadi ?" (Tanya salah satu dari mereka)
"Ah yaa ! Adam !" (Jawab Adam dengan ramahnya lalu mengulurkan tangan untuk berjabat)
"Mari pak, akan kami tunjukkan beberapa masalahnya !" (Ajaknya)
Pria besar itu kemudian di Giring menuju ke ruang perbaikan, mereka nampak antusias menjelaskan setiap kendala yg sering terjadi mulai dari mesin yg sudah lama tidak di servis, juga banyak onderdil yg tidak layak pakai.
Mengetahui hal itu, Adam mulai menyusuri setiap mesin yg ada disana, di perhatikannya satu per satu, mulai dari mesin inti, hingga kendaraan seperti forklift, traktor, dan lain sebagainya.
Setelah selesai dengan evaluasinya, pria itu segera melepaskan jaket kulitnya, terpampanglah tubuh atletis itu meski dengan singlet hitam yg tersisa.
"Berikan semua peralatan yg ada, aku akan coba perbaiki yg satu ini !" (Pinta Adam sambil memperhatikan bagian yg rusak parah itu)
Tak lama kemudian, salah satu dari pekerja memberikan apa yg di mintanya.
Mulailah pria besar itu memperbaiki dengan peralatan seadanya, sementara para pekerja yg ada disana hanya memperhatikannya dengan seksama, mereka nampak heran pada pria besar itu, Adam nampak begitu ulet dan telaten dalam setiap pengerjaannya, ia nampak tenang namun serius, yaa karna pada dasarnya perusahaannya sendiri memang bergerak di bidang otomotif maka hal ini sudah seperti makanannya sehari hari.
1 jam kemudian, akhirnya perbaikan itu selesai dan mesin kembali bisa di hidupkan.
Walau ada beberapa minyak hitam yg melekat pada lengan besar itu, juga sedikit percikan pada bagian wajah tampannya, tak membuatnya risih sedikit pun.
"Coba nyalakan mesin itu ?" (pinta Adam sambil mengusap lengannya dengan handuk kecil)
"Baik pak !" (Pinta salah satu pekerja disana)
Tak lama kemudian, mesin kembali hidup dan para pekerja bisa melanjutkan pekerjaannya.
"Wahh ! Anda hebat sekali pak ! Anda bisa memperbaiki semua ini hanya dalam beberapa menit !" (Pujinya)
"Hmmm jangan berlebihan !" (Jawabnya datar)
"Maaf pak ! Jika boleh saya tau, sebenarnya anda ini siapa ?" (Tanya pekerja itu dengan penasaran)
"Hmmm ! (Gumamnya), kau belum mengenalku ? (Tanya Adam dengan santai), aku hanya penanggung jawab sementara atas perusahaan ayahku ! Sampai semuanya stabil, maka akan ku serahkan kembali pada pemiliknya !" (Jawab Adam dengan ramah)
"Bukankah itu milik pak Jonas ?" (Tanyanya lagi)
"Bukan ! Dia hanya melanjutkan tugas ayah karna memang ayah sudah tua dan tidak mungkin bekerja lagi !" (Perjelas Adam)
"Jadi anda ?" (Ucapannya terpotong)
Pria besar itu lantas mengangguk membenarkan.
"Aku putra bungsunya ?" (Jawabnya singkat)
"Itu artinya, anda adalah adik dari pak Jonas ? Begitu ?" (Tebaknya)
Adam kembali mengangguk mengiyakan.
"Ada sedikit konflik kecil kala itu, tp sekarang semuanya sudah membaik." (Adam coba menjelaskan)
"Hmmm syukurlah !" (Serunya)
"Oh ya ! Semua mesin dan juga perlengkapan disini sudah tidak layak, aku sudah menandainya dengan beberapa pena orange disana, kau bisa ambil semuanya setelah pekerjaanmu selesai, besok akan ku kirim semua onderdilnya dari Sydney, kau selaku kepala bagian, sering2lah periksa kesehatan mesin, jika tidak maka itu akan membahayakan pekerja yg lainnya." (Pinta Adam singkat)
"Baik pak !" (Ucapnya sambil menundukkan kepala sebagai rasa hormat)
Adam kemudian berlalu meninggalkan proyek pertambangan, pria itu lalu melajukan mobilnya dengan cepat.
Sesampainya di rumah
Badan yg penuh keringat serta bau oli yg menyengat hidung, membuat sang ibu murka saat melihat kedatangannya.
"Astaga ! Apa kau habis mandi oli ? Kau ini dari kantor apa dari bengkel ?" (Ucap sang ibu kesal)
"Ada sedikit masalah di pertambangan !" (Teriaknya sambil terus melangkahkan kakinya menuju ke kamar)
"Hahhh ? Apa ? Kau dari pertambangan ? Untuk apa kau pergi kesana ? (Tanya sang ibu mengimbangi teriakannya), anak bengal satu ini benar2 !" (Gerutunya kesal)
Beberapa saat kemudian, pria besar itu telah selesai dari kamar mandi dan bergegas keluar dari kamarnya.
ia berjalan menghampiri istrinya yg tengah asyik bermain dengan putra kesayangannya.
Di ciumlah pipi mungil itu dengan tiba2, Malaika yg sudah terbiasa dengan hal itu terlihat cuek dengan sikap suaminya.
Sementara sang ibu yg melihat itu untuk pertama kalinya nampak terkejut dengan sikap putranya.
"Hey ! Apa2an kau ini ! Kau melakukan itu didepan ibumu ! Dasar tidak sopan !" (Ucap sang ibu kesal)
"Ibu, tolonglah ! Dimana salahnya ? Dia istriku kan ? Jadi terserah aku lah !" (Rengek Adam dengan manjanya)
Mendengar kicauan putranya, sang ibu makin geram di buatnya, hingga sang ibu merasa ingin memukulnya.
"Dimana salahnya dimana salahnya ! (Ucap sang ibu mengulangi perkataan putranya), kau pikir ini area pribadimu ! Dasar anak bengal ! Dari dulu tidak berubah !" (Seru sang ibu sambil memukulnya dengan bantal)
"Aduh ! Aduh ! Tolong hentikan itu ibu ! Tolong hentikan !" (Pinta Adam dengan manjanya)
Mendengar suara bising itu, kemudian sang ayah keluar dan menghampiri mereka.
"Kenapa berisik sekali ! Tidak bisakah kalian tidak bertengkar sehari saja ! Ibu dan anak sama saja !" (Seru sang ayah)
"Apa kau bilang ? Ibu dan anak sama saja ? Dengar !!! Dia lebih mirip dengan mu ! Dia sama menjengkelkannya denganmu ! Lihat ! Dia mencium istrinya di depanku ! Mana bisa seperti itu ! Tidak sopan sekali !" (Wanita tua itu terus mengomel tak karuan)
"Kenapa kau marah ? Yg dia cium kan istrinya ? Bukan wanita lain ! Harusnya kau marah jika dia mencium wanita lain di rumah ini !" (Timpal san ayah)
"Kalian berdua laki laki sama saja !" (Gerutu sang ibu)
Seolah mengabaikan celotehan kedua orang tuanya, Adam kini tidur di pangkuan Malaika dengan menikmati setiap potongan buah yg di berikan oleh istrinya, sementara Danthe sedang asyik sendiri dengan beberapa mainan di tangannya.
"Lihatlah ! (Memperhatikan kedua pasangan itu), dunia seolah milik mereka berdua ! Entah aku ini di anggap apa !" (Gerutu sang ibu)
Mendengar celotehan sang ibu, Adam semakin menjadi jadi, ia semakin menunjukkan kemesraannya. Sedangkan Malaika terus menahan tawa lantaran mendengar Omelan sang ibu mertua.
"Baiklah ! Kalau begitu aku akan bermain dengan cucu kesayanganku ! (Gumamnya), Danthe sayank ayo kita bermain di atas di temani nenek ?" (Ajaknya dengan lembut)
Pangeran kecil itu kemudian menuruti perkataan neneknya, sedangkan sang ayah kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Kini tinggallah pasangan itu yg masih menikmati kebersamaan.
"Hussshttt !" (Ucap Adam seolah memberikan isyarat pada istrinya)
"Apa ?" (Tanya Malaika sambil mengupas apel di tangannya)
"Mereka semua sudah pergi !" (Ucapnya)
"Lalu ?" (Sahut Malaika masih terfokus pada buah itu)
"Ck !" (Adam kembali memberikan isyarat nakal)
Seolah mengerti dengan isyarat itu, Malaika kemudian tersenyum dan segera mengakhiri sesi pemotongan buah itu, ia lalu berdiri dan beranjak dari sana.
Di ikuti olehnya, Adam kemudian memegang pinggang ramping itu lalu mendorongnya untuk segera masuk ke dalam kamar.
Masuklah mereka ke dalam kamar, lalu dengan cepat pintu itu terkunci dari dalam.
"Kenapa tidak sabaran sekali ? Kau baru saja datang kan ?" (Gerutu Malaika yg salah tingkah)
"Kenapa tidak !" (Sahut pria besar itu, kemudian mendorong tubuh Malaika ke atas ranjang)
"Ough ! Astaga ! Kau berat sekali Adam ! Berhentilah menindihku seperti ini !" (Keluh Malaika saat merasakan tubuh besar itu sedang menindihnya)
Tanpa mendengarkan kicauan Malaika, Adam terus melanjutkan aksinya untuk menyalurkan hasratnya.
1 jam kemudian.
Wanita itu masih terkulai lemah dalam balutan selimut putih yg menutupi sekujur tubuhnya, sementara Adam kini duduk bersandar pada dipan ranjang itu.
Dengan lembut ia mencium kening istrinya.
"Malai ?" (Panggilnya)
"Hmmm !" (Gumam Malaika dengan lemas)
"Aku lapar !" (Jawab Adam singkat)
"Tidak ada makanan ! Kita semua sudah makan malam sebelum kau pulang !" (Jawab Malaika perlahan)
"Huhhhh ! Sialnya ! (Gerutu Adam), maukah kau temaniku makan di luar ?" (Tanyanya)
"Huhhhh ! (Malaika membuang nafas), bisa2nya kau mengajakku keluar setelah hampir saja kau membunuhku malam ini !" (Gerutu Malaika dengan lemas)
Mendengar ucapan Malaika, Adam nampak tersenyum puas menyeringai.
"Once again ?" (Goda Adam dengan nakalnya)
"No !!!! (Jawab Malaika dengan suara keras), pergilah ! Aku tidak peduli ! (Pinta Malaika dengan sedikit kesal), dasar jalank !" (Timpalnya)
Pria itu kemudian beranjak dari tempat tidur dan segera bersiap untuk pergi membeli makanan.