
Keesokan harinya,
Pagi itu, Malaika terbangun dengan segarnya, melihat sekeliling tak ada Adam di sampingnya.
"Emmm ?? Kemana perginya ? Ini masih jam 5 !" (Gumamnya masih dengan pandangan yg kabur)
Mengetahui bahwa Adam sudah bangun lebih dulu, Malaika lantas keluar dan membuka jendela kamarnya.
"Uhhhh ! Di luar dingin sekali !" (Seru Malaika sambil menggosok2 kedua lengannya)
Dengan rasa penasaran, Malaika kemudian keluar dari kamarnya lalu mencari Adam yg entah kemana.
"Mobilnya masih ada, jam tangan dan juga ponselnya juga ada di meja ? (Malaika heran), kemana perginya ?" (Hatinya terus bertanya tanya)
Tak juga menemukan sang suami, akhirnya Malaika memutuskan kembali untuk masuk ke kamar dan melanjutkan tidurnya.
"Ya sudahlah ! Biarkan saja !" (Celetuknya)
Selang beberapa menit, Adam pun kembali masuk ke kamar yg berniat untuk memanggil sang istri.
"Sudah jam 6 kenapa masih belum bangun juga ?" (Bisik Adam perlahan)
Mendengar suara Adam sontak membuatnya kembali membuka mata.
"Kau dari mana saja ? Baru aku membuka mata, lalu kau tiba2 menghilang, lagipula ini hari Minggu, kenapa bangun sepagi ini ?" (Cecarnya)
"Karna ini hari Minggu, apa kau lupa ?" (Sahut Adam)
"Apa ?" (Timpalnya)
"Bukankah kita biasa jogging di hari Minggu ? (Tanya Adam mencoba mengingatkan), ayo ! Cepat bersiap !" (Pinta Adam dengan bersemangat)
Mendengar ucapan sang suami sontak membuatnya terkejut, bagaimana tidak, Malaika kini sedang hamil dan ia tidak mungkin melakukan jogging, kegelisahan mulai merajai pikirannya, wanita itu bingung harus memberikan alasan apa pada sang suami.
"Tu tunggu !" (Sahut Malaika yg sedikit gugup)
Adam pun lantas menoleh.
"Apa lagi ?" (Sahutnya)
"Moodku sedang tidak bagus, kau saja yg jogging ! Lain kali saja !" (Ucap Malaika sedikit gugup)
Mendengar jawaban sang istri, Adam mulai merasa ada yg aneh, karna biasanya Malaika lah yg paling semangat kalo soal olahraga, tp kini justru keadaan berbalik.
"Ada apa ? Katakan ?" (Tanya Adam tanpa berbelit Belit)
Semakin gelisah dengan pertanyaan sang suami, Malaika kini bingung harus menjawab apa lagi.
"Apa yg kau katakan ? Aku baik baik saja Adam !" (Sahut Malaika mencoba membela diri)
"Aku tidak mengenalmu selama satu atau dua hari, aku tau betul kapan kau berbohong dan kapan berkata jujur !" (Ucap Adam memperjelas)
"Kau pikir aku sedang menyembunyikan sesuatu darimu ?" (Tanya Malaika dengan nada tinggi)
"Hmmmm, kenyataannya begitu sayank !" (Tuturnya)
"Terserah kau saja !" (Jawab Malaika sedikit sinis)
Adam pun kemudian berlalu meninggalkan istrinya di kamar, merasa hafal dengan gerak gerik Malaika, pria besar itu tidak akan mempersoalkan hal kecil seperti itu, meski kenyataannya dia tau bahwa Malaika sedang menyembunyikan sesuatu darinya, namun ia masih belum mengetahui bahwa Malaika tengah berbadan dua.
"Aku bilang juga apa, meski aku belum mengatakan apa pun padanya, pasti dia sudah mulai curiga, aku harap dokter Barnetta tidak mengatakan apapun padanya." (Gerutu Malaika)
2 jam kemudian
Sarapan pagi pun di mulai, Danthe dan juga kakek neneknya sangat sibuk untuk saling memanjakan, sementara Malaika tengah asyik menikmati menu paginya sendiri.
Selembar roti tawar tanpa isi, juga di temani jus buah yg sangat segar. Menu yg tidak biasa ini sempat mencuri perhatian Adam tatkala Malaika sedang menikmati sarapannya. Di perhatikanlah gerak gerik istrinya itu, walau sesekali sandwich mendarat ke mulutnya.
Pria itu masih diam tanpa komentar, hingga Malaika menghabiskan seluruh makanannya.
Selesai sarapan, wanita itu segera beranjak dari sana dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
1 jam kemudian
"Kau mau pergi kemana lagi ?" (Tanya Malaika yg tiba2 terkejut ketika melihat suaminya berpenampilan rapi)
"Beberapa mobil sportku bermasalah di Sidney, aku akan mengurusnya." (Jawab Adam singkat)
"Hahhh ? Semendadak ini ? (Malaika tak menyangka), bahkan dia dengan mudahnya terbang ke Sidney hanya untuk sebuah mobil ?? (Gerutu Malaika), apa kau yakin kau kesana hanya untuk sebuah mobil ?" (Tanyanya kembali)
Mendengar celotehan Malaika, Adam lantas menatapnya.
"Apa yg kau pikirkan, nona ? Aku kesana memang untuk memperbaiki mobilku ? So what ?" (Sahut Adam)
"Sudahlah ! Lupakan saja !" (Jawab Malaika ketus)
Wanita itu kemudian beranjak dari hadapannya, sementara Adam melanjutkan persiapannya untuk segera pergi ke Sidney.
Merasa tidak mengerti dengan sikap Malaika, Adam sempat berpikir sejenak.
"Ada apa dengannya ? Biasanya dia tidak pernah peduli saat aku bolak balik keluar negeri ? Tp sekarang ? Kenapa dia lebih sensitif ? (Gumamnya), apa dia sedang datang bulan ?" (Adam terus bertanya tanya)
Kekesalan itu masih menjalari pikirannya, Malaika terus menggerutu tak tentu arah, hingga sang ibu mertua pun melihat itu.
"Ada apa denganmu nak ? Apa terjadi sesuatu ?" (Tanya sang ibu yg kebetulan melintas di depannya)
"Lihat saja Bu ! Ini hari Minggu, bukannya menghabiskan waktu bersama keluarga tp dia malah terbang ke Sidney hanya untuk sebuah mobil, kenapa susah sekali memberitahunya bahwa waktu bersama keluarga jauh lebih penting dari apa pun." (Gerutu Malaika yg terus mengadu)
"Sabarlah nak ! Mungkin hanya sebentar, nanti malam pasti dia sudah kembali." (Tutur sang ibu yg berusaha menenangkan hatinya)
"Dia selalu berulah seperti itu ! Sudahlah !" (Malaika pasrah)
Wanita itu kemudian beranjak dari sana dan meninggalkan sang ibu dengan kekesalan yg menggebu.
Malam pun tiba, benar saja sebuah deruan mobil dari luar terdengar begitu jelasnya, pria besar itu baru saja kembali dari sidney.
Malaika yg mengintip itu dari jendela, merasa bahagia lantaran sang suami sudah kembali, namun ia bersikap seolah masih marah padanya.
ia duduk di atas sofa kamarnya, sementara Adam masuk dan menghampirinya, sebuah ciuman mesra selalu mendarat di pipi wanita itu seperti biasa.
"Sudah makan ?" (Tanya Adam yg kemudian juga duduk di sebelahnya)
"Apa pedulimu ? Pergi saja tak usah tidur di rumah !" (Ucap Malaika sinis tanpa menatap sedikitpun)
Melihat ekspresi sang istri, Adam semakin gemas di buatnya, pria itu kemudian menatap dalam dalam wajah Malaika yg terlihat kesal.
"Aku sudah kembali, so ? Alasan apa lagi yg membuatmu marah ?" (Tanya Adam penasaran)
"Pergi sana ! Jangan menggangguku !" (Pinta Malaika kesal)
"Hmmm oke baiklah ! Tp aku akan segera kembali !" (Pinta Adam kemudian beranjak menuju kamar mandi)
Sementara Adam sedang mandi, nampaknya wanita itu telah memanfaatkan moment Adam dengan keluar dari rumah.
Di ambilah sebuah tas kecil miliknya, lalu dengan segera ia beranjak keluar.
Sebuah taksi online telah menunggunya di luar, wanita dengan paras lucu itu kemudian berlalu menuju ke sebuah restoran.
"Pergi sesuka hati, pulang semaunya ! Dia pikir aku ini apa ? Pom bensin ? Dasar pria egois ! kau bersenang senang seharian bersama dengan wanita jalank itu, kau pikir aku tidak tau seharian kau mengabiskan waktu dengan si Catherin sialan itu !" (Gerutu Malaika dengan berpikiran buruk tentang suaminya)
Sesampainya di tempat.
"Greentea latte!" (Pinta Malaika pada salah satu pelayan disana)
"Makanannya ?" (Kembali bertanya)
"Aku mau seafood." (Jawab Malaika singkat)
"Kami ada banyak seafood nona, ada udang, cumi, Crabs, lobster, gurita ?" (Tanya pelayan itu menawarkan)
"Apa disini ada kepiting raja Alaska ?" (Tanya Malaika)
"Baik nona ? Anda bisa memesan jenis masakan apa untuk kepiting Alaska yg anda inginkan ?" (Tanya pelayan itu)
"Steam ! Steam Alaska Crabs, jangan lupa tambahkan lemon !" (Pinta Malaika)
"Baik nona ! Akan kami siapkan !" (Jawab pelayan itu kemudian berlalu)
Beberapa lama kemudian, hidangan itu telah tersaji di depan matanya, sebuah kepiting besar siap untuk di nikmatinya, entah ada apa dengan ibu satu anak ini, tak biasanya ia memesan seafood apalagi kepiting adalah jenis seafood yg paling tidak ia sukai, entah karna bawaan hamil atau bagaimana, yg jelas Malaika kali ini benar2 menikmati sajian kepiting itu, dan singkat saja satu ekor kepiting besar telah ia habiskan dengan lahapnya meski tanpa makanan karboh seperti nasi atau yg lainnya.
"Hmmm !! Ini benar2 nikmat ! Walau sebesar itu tp kenapa rasanya aku masih lapar saja ?" (Ucapnya heran)
Selesai dari itu, Malaika segera kembali ke rumah.
Seperti biasa ia berjalan santai memasuki kamarnya. Seolah tak merasa bersalah wanita itu kemudian melemparkan tubuhnya ke atas ranjang lalu membentangkannya.
"Hmmmm benar2 lezat sekali ! Huhhhh !" (Malaika mengeluh puas)
"Apa yg benar2 lezat ?" (Sahut Adam yg tiba2 datang menghampirinya)
Sontak suara itu mengejutkan Malaika, wanita itu pun lantas duduk dan sedikit gugup saat menghadapi suaminya.
"Hmmm bukan apa2 ! (Jawabnya gugup), kenapa kau tiba2 muncul seperti hantu ?" (Seru Malaika coba mengalihkan)
Adam pun turut duduk di sebelahnya.
"Sebuah kepiting besar, kau menyantapnya dengan begitu nikmat ?" (Celetuknya)
Mendengar ucapan suaminya Malaika semakin gugup di buatnya, namun ia hanya membisu tak berkelit.
"Sejak kapan ? (Sahut Adam), sejak kapan kau begitu menyukai kepiting ?" (Tanyanya lagi dengan lembut)
"Ti tidak ! Aku hanya kebetulan sedang menginginkannya ! (Jawab Malaika gugup tanpa berani menatap Adam sedikitpun), apa itu salah ?" (Tanyanya lagi)
Mendengar pengakuan istrinya, Adam hanya menggeleng tersenyum.
"Tidak ada yg salah jika kau berkata yg sebenarnya padaku (jawab Adam singkat), walau kau berusaha menutupinya aku sangat tahu betul bahwa kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku (ucapnya lagi), dengar sayank ! (Panggil Adam kemudian ia menggenggam tangan mungil itu), apa yg membuatmu takut sampai kau tidak berani mengatakan yg sebenarnya ? (Tanya Adam sembari menatap wajah polos istrinya itu), apa selama ini aku sejahat itu padamu ? Hmmm ??" (Cecarnya lembut kemudian di kecuplah punggung tangan Malaika)
Mendapat perlakuan manis seperti itu, semakin membuat Malaika merasa gugup tak karuan.
"Sialan !! Bisa2nya dia menatapku seperti itu ! Aku jadinya tidak bisa marah padanya kan !" (Gerutu Malaika dalam hati)
Wajah yg gugup itu lagi2 bersikeras untuk mengalihkan pandangan suaminya.
"Hey ! Kenapa diam ? Bicaralah ? (Pinta Adam), yes katakan !" (Pintanya dengan lembut)
Malaika pun hanya menggeleng seakan memberikan isyarat bahwa ia masih takut untuk mengatakannya.
"Kemarilah !" (Pinta Adam sembari meraih kedua pundak istrinya sehingga membuat wanita itu bersandar di pelukannya)
Sesekali ia mendaratkan kecupan mesrah di kening Malaika.
"Baiklah ! Aku tidak akan memaksamu tapi ?" (Ucapannya terpotong)
"Tapi apa ?" (Sahut Malaika)
Adam pun kembali tersenyum.
"Tp mungkin aku akan mencari tahunya sendiri." (Jawabnya singkat)
"Jangan !" (Sahut Malaika yg sedikit cemas)
"Why ?" (Timpalnya)
"Ini bukan sesuatu yg serius, kau tidak akan suka." (Jawab Malaika)
"Hmmm, jika bukan sesuatu yg serius kenapa kau tidak berani berterus terang padaku ? (Tanya Adam penasaran), dan ? Kenapa aku harus membencinya ? Bagaimana jika itu sebaliknya ?" (Cecarnya)
"Sudahlah Adam, kau jangan membesar besarkan masalah, ini bukan apa2, percayalah !" (Jawab Malaika mencoba mengalihkan pembicaraan)
"Ya sudah ! (Menghela nafas panjang), tp jika aku menemukan sesuatu kau harus janji akan menjelaskan segalanya padaku ,okay ?" (Pintanya)
"Baiklah !" (Jawab Malaika pasrah)
Kedua pasangan itu pun akhirnya memutuskan untuk beristirahat.