The Second Husband

The Second Husband
Arrive (Bab.49)



Setelah di pusingkan dengan urusan kantor yg cukup rumit, Adam kini memutuskan untuk kembali pulang ke rumah orang tuanya, baru sehari dia datangi kantor itu, rupanya ekspresi masam itu terpampang jelas di wajahnya.


Dengan langkah yg cepat ia berjalan sembari melepaskan jaket yg ia kenakan kemudian terlempar dengan semaunya, hingga menyandar pada sebuah guci mahal yg hampir saja jatuh karna getaran itu.


Pria itu lantas duduk di sofa dengan pikiran yg cukup kacau.


"Kau ! (Sang ibu terkejut saat melihat tiba2 putranya berada di kursi dengan sikap yg aneh)


ia menghampiri dan bertanya dengan penasarannya.


"Hey ! Apa yg terjadi padamu ? Lihatlah wajah itu ! Kau ! Apa2an ini Adam ? Kau membuat kekacauan di kantor ?" (Tanya sang ibu yg sedikit kesal)


"Diamlah ibu ! Aku benar2 tidak bisa berpikir !" (Jawab Adam sinis)


"Berani sekali kau mengatakan itu pada ibumu, hmmm !" (Gumam wanita itu)


"Ibu, tolong jangan membuatku semakin marah." (Pintanya)


"Lalu ? Lalu apa yg terjadi ? Kenapa kau seperti ini? Kenapa kau datang2 dengan muka yg tidak enak seperti ini ? Hahh ?" (Sang ibu kesal)


"Hahhhh ! Sudahlah Bu, aku tidak ingin berdebat dengan ibu !" (Sahut Adam)


Pria itu kemudian beranjak dari kursi dan masuk ke kamarnya.


"Anak ini benar2 keras kepala ! Apa dia juga seperti ini saat dengan istrinya ? Astaga ! Aku pikir dia berubah ! Ternyata sifat keras kepalanya masih sama !" (Gerutu wanita itu)


Mendengar perdebatan itu, sang ayah kemudian keluar.


"Kenapa berisik sekali ? Apa yg terjadi ?" (Tanya sang ayah penasaran)


"Kau tanya saja pada putra kecilmu itu, dia sama sekali tak menghiraukanku saat aku bertanya !" (Sang ibu meracau kesal)


"Biarlah ! Kau yg berlebihan ! Itu urusan laki laki ! Pasti dia akan menyelesaikannya !" (Jawab sang ayah membenarkan)


"Hahhhh !! Kalian para pria sama saja !" (Seru wanita itu dengan sinis).


Malam itu, cukup cerah tanpa mendung, bintang gemerlap menemani kesunyiannya, berdiri seorang diri di atas balkon, memikirkan segala persoalan yg menurutnya cukup rumit.


Singlet hitam yg melekat pada tubuhnya, serta celana pendek yg senada. Tak lupa asap cerutu yg mengepul dari mulutnya.


Dengan di temani segelas wine dan juga beberapa yg lainnya. Pria bertubuh besar itu terlihat kesepian dan cukup cemas, apalagi tak ada Malaika di sisinya, semakin membuatnya pelik dalam mengatasi masalahnya.


Di ambilah sebuah ponsel dari saku celananya, bermaksud untuk menghubungi istrinya, namun sayang sekali panggilan itu tidak di jawab oleh Malaika. Entah mungkin dia sedang sibuk.


Adam kembali memasukkan ponsel itu kedalam sakunya. Namun beberapa saat kemudian ponsel itu kembali berdering, dan benar saja Malaika coba menghubunginya kembali.


"Hallo !" (Ucap Malaika)


Pria itu hanya menjawab dengan suara sendunya.


"Hmmm !" (Gumam Adam)


"I'm sorry Adam ! Aku tidak tau ada panggilan masuk, aku sedang menemani Danthe untuk belajar !" (Ucapnya)


"I'ts okay sayank ! Lanjutkan saja !" (Jawab Adam dengan nada sendu)


"Oh no Adam ! Aku baru saja selesai ! (Sahutnya), are u okay ?" (Tanya Malaika)


"Ya, i'm okay !" (Jawab Adam singkat)


"Tp kedengarannya tidak seperti itu, ada sesuatu ?" (Tanyanya lagi)


"Aku hanya merindukanmu !" (Jawab Adam mencoba mengalihkan)


"Oh my God ! Kau membual lagi ! Baru beberapa hari disana kau sudah seperti ini !" (Seru Malaika dengan tawa kecilnya)


"Cepatlah datang, aku benar2 merindukanmu !" (Pinta Adam)


"Sure ! Aku akan segera kesana !" (Jawab Malaika hangat)


"Where is Danthe ?" (Tanya Adam)


"Dia pergi tidur setelah lelah belajar !" (Jawab Malaika singkat)


"Emmmmh ! Dan kau ?" (Sahutnya)


"Nanti saja !" (Jawab Malaika santai)


"Why ?" (Sahutnya lagi)


"Maukah kau menemaniku ?" (Canda Malaika)


"Aaah sure sure ! Sekarang ?" (Tambahnya)


"Aku benar2 merindukanmu malai, cepatlah datang !" (Pintanya)


"Bersabarlah sejenak Adam ! Sampai putramu benar2 mendapatkan hasil ujiannya !" (Pinta Malaika)


"Hmmmm cepatlah !" (Rengeknya)


"Benar2 menjijikkan ! Kau seperti bayi hahahaha !" (Celotehnya)


"Hahahaha ! (Balasnya), Baiklah ! Good night honey ! Miss u muaaaaach !" (Seru Adam)


"Miss u too Adam !" (Balas Malaika dengan senyuman)


1 Minggu kemudian.


Seperti biasa Adam terus memantau kantor milik ayahnya, walau saat itu tidak ada aktifitas pekerjaan sama sekali, lantaran kantor sedang direnovasi.


ia duduk di atas meja kerja salah satu staff, dengan beberapa berkas disana, Adam mencoba memeriksa setiap dokumen2 penting yg ada disana.


Lagi lagi ia mengerutkan dahi lantaran semua yg telah ia baca sangat2 memprihatinkan.


Satu per satu berkas yg telah ia baca terlempar ke lantai begitu saja, seolah tak ada arti sama sekali.


"Sir ! (Panggil seseorang), coffe !" (Lalu memberikan secangkir kopi padanya)


"Ah yaa thanks !" (Balas Adam)


Pria itu adalah salah satu pekerja yg sedang merenovasi ruangan tersebut, ia sangat kasihan melihat bosnya yg sepertinya sedang banyak pikiran, lalu memberikannya kopi agar sedikit menenangkannya.


Selang beberapa saat, posisinya kemudian berubah kini Adam telah menduduki sebuah kursi kerja salah satu staff dan menyalakan sebuah komputer disana.


Di periksalah setiap file file yg ada disana.


"Benar2 kacau ! Semuanya kacau ! Laporan keuangan dan laporan penjualan sangat tidak seimbang ! Bagaimana bisa seseorang membiarkan pemimpin seperti ini mengendalikan segalanya ! Aku benar2 tidak bisa berpikir ! Harus di mulai darimana untuk memperbaikinya ! Oh tuhan ! Bahkan ini lebih rumit dari perusahaanku sendiri !" (Gerutunya dalam hati)


Kursi itu terus bergerak landai mengikuti pikirannya.


Di satu sisi, sebuah kejutan telah menantinya.


Tanpa sepengetahuan Adam, rupanya Malaika dan juga putranya telah sampai di Melbourne siang itu.


Sengaja tidak memberitahu suaminya, Malaika dan juga Danthe diam2 datang dengan kejutannya.


"Ting !!! Ting !!!" (Suara bel berbunyi)


Mendengar hal itu nampak seorang wanita tua membukakan pintu. Dan alangkah bahagianya ia saat mengetahui kedatangan Malaika dan juga putra kecil itu.


Mereka kemudian berseru bahagia dan saling berpelukan.


"Come come ! (Pinta wanita tua itu), apakah dia cucuku ?" (Seru wanita itu)


Malaika mengangguk tersenyum, saat ibu mertuanya bertanya.


"Tampan sekali ! (Serunya lagi), kemarilah kemarilah ! Aku ingin menggendongmu !" (Pintanya)


Tak lama kemudian sang ayah muncul dan turut menikmati kebahagiaan itu.


"Wahhhhh sepertinya kita kedatangan seseorang ?" (Seru sang ayah dengan bahagia)


"Kemarilah ! Lihatlah dia sangat tampan sekali seperti ayahnya ! Dia benar2 cucuku ! (ucap sang ibu mertua sambil mengusap rambut Danthe), Akhirnya aku benar2 memiliki seorang cucu laki laki !" (Gumamnya)


Kedua kakek nenek itu kemudian menggendong serta memeluk cucu mereka dengan penuh suka cita, sementara Malaika hanya tersenyum melihat pemandangan itu.


"Oh yaaa ! Nak, kau kemari seorang diri ? Dimana Adam ?" (Tanya sang ayah)


"Aku sengaja tidak memberitahunya ayah, ini kejutan untuknya !" (Jawab Malaika)


"Really ?" (Sahutnya)


"Ya ayah !" (Jawab Malaika dengan senyumnya)


"Good ! Dia tidak bisa tidur akhir2 ini, mungkin dia sangat lelah !" (Ujar sang ayah)


"Paling tidak, kau bisa hubungi kami agar kami bisa menjemput mu di bandara !, Bagaimana jika sesuatu yg buruk terjadi ? Kau akan membahayakan dirimu dan juga putramu !" (Tutur sang ibu)


"Tidak terjadi apa2 Bu, ibu tenang saja !" (Jawab Malaika dengan ramah)


"Baiklah ! Kalau begitu kau atur saja kejutan untuk suamimu, biarkan kami bermain main dulu dengan cucu tercinta hahahah !" (Pinta sang ibu dengan gembiranya)


"Baiklah Bu !" (Balas Malaika dengan riangnya)


Kedua orang tua itu kemudian membawa cucu mereka untuk bermain main, Danthe yg saat itu berusia 4 tahun masih cukup lucu untuk seorang balita seusianya.