
Keesokan paginya
Seperti biasa Adam dengan kesibukannya di kantor, sementara Malaika kini telah kembali ke rumah besar milik mertuanya itu.
"Good morning !" (Sapa Adam pada seluruh staff yg ada disana)
"Morning, sir !" (Jawab mereka dengan kompak menundukkan wajah)
Langkahnya yg cepat segera memaksanya untuk memasuki ruangan pribadinya.
Pria itu nampak tegang tanpa senyuman, seolah sedang di buru oleh banyak pekerjaan.
Duduklah ia dengan cepat, lalu di nyalakan sebuah laptop yg ada disana, jaket itu masih melekat kuat pada tubuh besarnya. Sejenak terdiam untuk mengamati sebuah laporan kinerja para karyawannya, pria itu duduk dengan santai dan menyandarkan punggungnya.
"Benar2 kacau !" (Gerutu Adam saat menatap layar komputer itu)
Beberapa Minggu telah berlalu namun hasil pekerjaan mereka masih belum seperti yg ia inginkan, semuanya masih berantakan dan perlu bimbingan, Adam kelabakan saat mengatasi hal itu.
Pria itu kembali terdiam dan berpikir, ia memejamkan mata untuk mendinginkan pikirannya.
"Tok tok tok !" (Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya)
"Masuklah !" (Jawab Adam)
Seorang OB dengan membawa secangkir kopi hitam datang padanya.
"Sir !" (Ucap sang ob)
"Letakkan disana !" (Pinta Adam dengan datar)
Sang ob kemudian mengangguk untuk segera melaksanakan permintaannya.
Selepas ob itu beranjak dari sana, kini seorang wanita juga menghampirinya dengan beberapa berkas di tangannya.
"Sir, ada klien yg ingin mengajak kerja sama dengan perusahaan kita." (Tutur wanita itu dengan ragu)
"Lalu ?" (Sahut Adam kemudian menatap wanita itu)
Ya, dia adalah Jenny salah satu staff yg bekerja disana.
"Ehmmm ! Kita perlu menemuinya." (Jawab jenny yg sedikit bingung)
"So ? Temui saja ! Apa masalahnya ?" (Balas Adam)
"Di kantor ini tidak ada sekretaris, sekretaris sebelumnya juga telah mengundurkan diri, sedangkan kami semua tidak memiliki skill dalam hal ini ! (Ucap jenny terus menjelaskan), bukankah anda telah mengambil alih tugas ini, saya rasa anda lebih berwenang, Sir !" (Tutur jenny)
Mendengar penuturan jenny, Adam kini mengerti bahwa perusahaan memang sedang membutuhkan sekretaris handal untuk mengatasi semuanya.
"Emmmh ok baiklah ! Kau tau, aku tidak mungkin menemui klien, karna posisiku disini bukan CEO sebenarnya, dan jika aku yg menemui mereka maka itu juga akan berpengaruh pada perusahaanku sendiri, ini memang milik keluarga, tp bisnis tetaplah bisnis, dan persaingan bisnis tidak memandang gen !" (Adam menegaskan)
Mendengar penjelasan Adam, jenny hanya mengangguk namun kini ia mulai mengeri dan sedikit mempelajari tentang skema perusahaan.
"Tp kau jangan khawatir, aku akan panggil seseorang untuk menjadi sekretaris sementara di perusahaan ini, nantinya kalian bisa belajar darinya, dan setelah kalian bisa, maka dia akan melepaskan posisinya pada kalian." (Tutur Adam dengan tegasnya)
"Oke Sir !" (Jawab jenny dengan singkat)
"Sekarang berikan berkas2 itu padaku ! Akan aku atur kapan pertemuan itu berlangsung !" (Pinta Adam)
Wanita itu kemudian menyodorkan beberapa berkas pada Adam yg masih duduk disana.
Setelah keluar dari sana, jenny sedikit legah lantaran masalahnya sudah teratasi, ia khawatir jika Adam menyuruhnya untuk melakukan pekerjaan itu, sedangkan ia sama sekali tidak memiliki skill di bidang itu, begitu juga dengan staff yg lainnya.
"Huhhh !" (Perempuan itu menghela nafas legah saat keluar dari ruangan Adam)
"Hey bagaimana ? Apa semuanya teratasi ?" (Tanya Eren yg tiba2 menghampirinya)
"Hmmm yah !! Untingnya Semuanya terkendali !" (Jawab jenny legah)
"What ? Lalu siapa yg akan datang menemui klien ? Apa Mr. Adam sendiri ?" (Tanyanya penasaran)
"Bukan ! Dia akan mengirim sesorang untuk melakukan hal itu ! Dan dia juga meminta orang itu untuk jadi sekretaris sementara di kantor ini ! Well, setengah pekerjaanku hampir selesai ! Aku akan minum setelah ini !" (Ucap jenny kemudian kembali ke ruangannya)
Secara kebetulan, Jay sang manager juga melihat pemandangan itu saat hendak menuju ke ruang pantry. ia nampak memperhatikan gerak gerik kedua wanita itu.
"Sudah ku bilang jangan bergunjing saat jam kerja, masih saja tidak berubah ! Kedua wanita itu benar2 menjijikkan ! Penampilannya cantik tp skillnya sama sekali tidak menarik !" (Gerutu Jay dengan memperhatikan kedua wanita itu)
Pria jenaka itu kemudian berlalu dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Singkat waktu, malam pun tiba, Adam kembali dari pekerjaannya, ia pun pulang untuk segera menemui istrinya, pria besar itu khawatir jika Malaika kembali marah padanya.
Dengan dres renda berwarna putih, Malaika terlihat sedang rebahan di atas tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Suara pintu terbuka sama sekali tak mengejutkannya, wanita itu hanya menatap sesaat ketika Adam kembali menutup pintu kamar itu.
Seperti biasa pria besar itu selalu mencium kening istrinya saat tiba di rumahnya.
"Belum tidur ?" (Tanya Adam dengan lembut)
Malaika hanya menggelengkan kepala lalu kembali menatap ponselnya.
"Aku akan segera kembali !" (Ucap Adam yg berpamitan untuk pergi mandi)
Wanita itu kembali menatap gerak gerik suaminya saat menuju kamar mandi.
"Ada apa dengannya ? Tumben sudah pulang ? Ah sudahlah aku tidak mau memikirkannya lagi ! Lagi pula pekerjaannya jauh lebih penting !" (Gumamnya dalam hati)
Jemari itu terus menggeser layar pada ponselnya, ia kembali menatap ponselnya meski pikirannya masih di penuhi rasa penasaran.
20 menit kemudian, pria besar itu keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk di pinggangnya, dengan rambut yg masih basah ia coba untuk mengibas ngibaskan agar segera kering.
ia berdiri di depan cermin sambil mengeringkan rambutnya.
Nampak dari pantulan cermin, Malaika masih sibuk memainkan ponselnya, ia terlihat dingin dengan kedatangan suaminya.
Adam yg menyadari hal itu sangat mengerti mungkin istrinya masih sedikit kesal dengannya, namun pria besar itu tak henti2nya berusaha untuk slalu menyenangkan hati wanita kesayangannya.
Setelah selesai mengeringkan rambutnya dengan hairdryer, Adam kembali mengikat rambutnya yg gondrong itu, sedikit serum untuk wajahnya juga beberapa pengharum badan yg menempel di badan besar itu.
Masih tak menggubris dengan aktifitas suaminya, Malaika nampaknya masih keras kepala dengan sikapnya. ia masih terdiam di ranjang besar itu.
Setelah selesai dengan aktifitasnya, Adam kembali menghampiri istrinya yg tengah sibuk dengan ponsel itu.
Pria dengan hotpant yg melekat di badannya itu segera menghampiri Malaika dengan sebuah ciuman mesra yg mendarat di pipi merona itu, hingga membuat ibu satu anak itu sampai terpejam sejenak.
Tak lupa sebuah pelukan hangat juga mendekap tubuh yg mungil itu. Wanita itu kemudian berhenti sejenak lalu menatap wajah suaminya.
"Kalau kau sangat lelah, sebaiknya segera tidur ! Jangan habiskan waktumu untuk hal yg sia2 denganku !" (Ucap Malaika dengan perlahan)
Belum sempat menjawab pernyataan itu Adam segera membungkam mulut Malaika dengan satu jari.
"No ! Jangan bicara lagi." (Jawab Adam dengan lembut)
Di ciumlah kembali pipi yg menggemaskan itu, hingga membuat Malaika kembali terpejam.
"Aku punya kabar baik untukmu." (Ucap Adam memberitahu)
"Apa ?" (Sahutnya perlahan)
"Kau merasa bosan bukan ? Kau ingin kesibukan bukan ?" (Tegasnya kembali)
"Hmmm, apa yg kau bicarakan ?" (Tanyanya dengan lembut)
"Aku perlu sekretaris di kantor ayah, semua staf di sana sama sekali tidak bisa di andalkan, sedangkan untuk mencari sekretaris yg baru pasti perlu training terlebih dahulu dan itu pasti akan memerlukan waktu yg cukup lama." (Pertegas Adam)
"Lalu ?" (Sahut Malaika)
"Aku ingin kau turut andil disana, kau bisa menjadi sekretaris sementara di kantor ayah, sambil mengajari mereka, bagaimana ?" (Tanya Adam dengan lembut)
Mendengar hal itu sontak membuat Malaika terkejut sekaligus senang, raut wajah masam itu kini telah berubah menjadi sumringah, dengan segera wanita itu menyambar bibir Adam dan mengecupnya dengan mesrah, hingga membuat Adam juga merasa senang.
"Really ?" (Sahut Malaika)
Dengan tatapan teduhnya Adam mengangguk perlahan mengiyakan apa yg telah di tanyakan oleh istrinya.