
"Aduuuuuuuuuuhh !!! Kenapa dia masih diam saja !" (Gerutu Malaika dalam hati)
Wanita dengan t-shirt putih itu nampak gelisah ketika suami tampannya masih diam membisu.
"Bagaimana ini ? Dia benar2 marah padaku ! (Hatinya mulai merengek), bahkan dia sama sekali tak merespon dengan tindakanku ? Oh tuhan tolong bantu aku ??" (Perasaannya semakin cemas)
Sesekali pandangannya mengarah pada wajah tampan yg berbulu itu, lalu ia pun coba menggenggam tangan sang suami.
Tanpa meresponnya sedikitpun, Adam hanya menoleh melihat reaksi itu, namun sekali lagi pandangan itu hanya sesaat dan ia kembali menatap ke arah depan.
"Bahkan dia sama sekali tak ingin aku melakukan ini !" (Gumamnya dalam hati saat mengetahui sikap Adam yg begitu dingin)
Malaika pun kembali mengendurkan genggamannya dan melepaskan tangannya, ia berjalan seperti biasa tanpa bergandengan, atau bahkan saling merangkul.
Keduanya terlihat kaku, layaknya orang tak dikenal yg kebetulan sedang berjalan berdampingan.
"Baiklah ! Tidak ada gunanya juga aku melakukan itu ! Dia sama sekali tak ingin aku berada di dekatnya !" (Gumamnya dalam hati)
Perasaan rasa bersalah masih menghantui pikirannya, namun ia juga merasa putus asa lantaran tidak bisa mencairkan hati Adam yg terlanjur kesal kepadanya.
Tak berapa lama kemudian.
Segerombolan wanita muda berbondong bondong menghampiri Adam dan meminta foto dengannya, sehingga membuat pria besar itu di kelilingi banyak wanita.
Melihat hal itu, kini Malaika semakin menjauh darinya dan semakin tak terlihat.
"Hmmm baiklah !" (Ucap Malaika seraya melangkahkan kakinya untuk mundur ke belakang)
Ibu satu anak itu kemudian memutuskan untuk pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri.
Lama merenung seorang diri, Malaika justru semakin di dera rasa gelisah yg mendera.
Segelas air lemon masih tak berubah dari posisinya, bahkan ketika es telah mencair dengan sendirinya.
Matanya menatap kesana kemari namun dengan pandangan yg kosong, berkali kali ia melihat arah jarum jam di tangannya, berharap sang suami datang menemuinya.
Kegelisahan itu terus mencuat dipikirannya.
1 jam berlalu, akhirnya ibu satu anak itu memutuskan untuk beranjak dari tempat tersebut dan kembali mencari sang suami.
Tempat yg sama yg sebelumnya ia dan Adam berhenti.
Matanya menoleh kesegala arah, namun keberadaan Adam tak lagi ada disana.
"Adam, dimana kau ?" (Hatinya terus bertanya tanya)
Ia pun coba untuk mencari ke seluruh lorong, namun tak juga ia jumpai.
"Bagaimana ini ? Dia benar2 marah padaku !" (Malaika terduduk menangis di sebuah lobby)
Isak tangisnya perlahan terdengar, sebuah rasa bersalah semakin menakutinya.
"Bahkan dia sama sekali tidak menghubungiku ! (Pungkasnya sesaat menatap layar di ponselnya yg terlihat senyap), Aku benar2 bodoh, kenapa aku bisa bersikap seperti ini ! (Sesalnya), dia sangat marah padaku ! Aku benar2 tidak tau harus berbuat apa untuk membuatnya kembali memaafkanku !" (Gumamnya masih dengan Isak tangis)
Di tataplah kembali layar ponsel itu, kali ini ia mencoba menghubungi suami tampannya itu.
"Kriiiiing....!!! Kriiiiing !!!!"
Berkali kali suara itu terdengar di telinganya, namun tak jua ada jawaban.
Perasaan menyesal semakin menekannya, ia kembali memasukkan ponsel ke dalam tas kecil miliknya.
Setelah dirasa semua percuma, Malaika kemudian mengusap pipinya yg basah oleh tangisan kecil.
Ia berjalan ke parkiran dan memutuskan untuk kembali ke villa.
Langkah yg landai itu semakin menunjukkan bahwa ia sedang tidak baik baik saja.
Sebuah mobil milik Adam masih terpampang disana, hanya saja pemiliknya tak ada disana.
Malaika berjalan mengelilingi mobil itu berharap Adam ada disekitaran mobil itu, namun sayang sekali tak ada siapa2 disana.
"Bahkan pintunya masih terkunci, dimana dia ?" (Gumamnya lemas)
Sejenak terhenti, ia pun terduduk di bawah dan merenungi segalanya.
"Aku tidak tau apa yg ada di pikiranmu, Adam ! Tp kau suamiku ! Dan aku sama sekali tidak bermaksud membuatmu seperti ini, tolong kembalilah Adam tolong kembalilah, maafkan aku !" (Ucapannya terdengar lirih namun jelas)
Dengan bersandarkan pada sebuah tiang, ia melamun dan berbicara seorang diri.
"Aku sudah pernah kehilangan seseorang yg terpenting dalam hidupku, akankah kau juga akan meninggalkanku, Adam ? (Masih meracau tak karuan), bukan dengan paras ataupun keindahan yg kau miliki, juga segala duniawi yg kau miliki, aku jatuh cinta padamu saat pertama kali kau menganggapku sebagai istrimu, benar2 istrimu, Adam !" (Ucapannya masih terdengar lirih)
Dengan tatapan kosongnya, Malaika mencoba mengingat segala pertemuannya dengan sang suami.
Air matanya kini mengering, yg tersisa hanyalah sebuah penyesalan.
"Kau dimana Adam ? Tolong kembalilah ?" (Pintanya dengan bisik lirih)
Tatapannya seolah pasrah mengingat akan sikapnya yg sudah keterlaluan terhadap suami tampannya.
Selang beberapa menit, munculah sosok pria besar dari balik tiang yg lain, perlahan ia menghampiri wanita yg sedang terduduk pasif itu.
Tatapannya sayuh, matanya hampir berkaca kaca, bahkan ia hampir tak berdaya saat memandang wanita yg tengah menundukkan wajahnya itu.
Dengan perlahan ia mendekat dan meraih lengan Malaika, yg memaksanya untuk berdiri di hadapannya.
Keduanya saling menatap satu sama lain, masih di selimuti kepedihan yg mendalam.
"Apa aku tidak salah mendengar ? (Bisiknya lirih), katakan itu sekali lagi malai ?" (Pintanya dengan tatapan yg serius)
Masih tak sanggup untuk bicara, Malaika hanya bisa menatap dalam dalam wajah suaminya itu.
"Aku ingin mendengarnya !" (Bisiknya lagi)
Sekali lagi, wanita dengan dengan t-shirt putih itu hanya bisa terdiam saat tatapan indah itu membiusnya.
Sentuhan lembut itu mulai menyibakkan rambut yg menutupi wajah mungil Malaika, sehingga terpampang indah sebuah telinga dengan anting elegant yg ia kenakan.
"Bicaralah malai ! Bicaralah sayank ! Aku ingin mendengarnya ?" (Pinta Adam dengan lembut)
Mula2 air mata itu kembali berkaca kaca.
"Ad Adam !" (Ucapnya perlahan)
Pria itu pun mengangguk perlahan dan semakin menatapnya.
Kemudian ibu satu anak itu memalingkan pandangannya seraya berkata :
"Kau sudah mendengarnya, aku tidak perlu mengulanginya lagi !" (Tuturnya dengan sedikit malu malu)
Kemudian sebuah pelukan menyambar tubuh mungilnya, tak lupa kecupan kening juga mengikutinya.
"Hmm yah ! Aku tau ! Aku tau itu malai, aku tau kau benar2 mencintaiku ! Thank u ! Thank u kau sudah benar2 bisa menerimaku sepenuhnya ! (Pungkasnya lirih), I love u !" (Bisiknya)
Untuk sesaat Malaika kemudian mendongakkan wajahnya dan menatap suaminya dalam dalam.
"Kau sudah tidak marah ?" (Tanya Malaika dengan begitu polosnya)
"Hmmm ? Mana mungkin ?" (Sahut Adam kembali)
"Lalu ? Apa itu tadi ?" (Kembali mempertanyakan sikap Adam yg tiba2 sedingin es)
"Emmm ? Aku hanya iseng !" (Jawab Adam dengan santainya)
"Bedebah !!!" (Balas Malaika yg secara spontan melepaskan pelukan suaminya)
Adam pun kembali terkekeh melihat reaksi sang istri.
"Kau membuatku takut seharian, kau buang sia2 air mataku !! Dasar jalank !! Bisa2nya mengerjaiku !! Awas saja kau !" (Ancamnya kesal)
Ekspresi kesal itu masih terlihat pada raut wajah mungilnya, sementara Adam tak henti2nya tertawa melihat reaksi itu.
"Setidaknya sekarang aku jadi tau, kalau kau benar2 mencintaiku !" (Godanya lagi)
"Sudahlah ! Aku ingin makan !" (Jawab Malaika sedikit ketus)
Kedua pasangan itu kemudian masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan berikutnya.