
Ancaman ibunya semakin membuatnya terpojok, pria besar itu kini tidak tau harus mencari istrinya kemana.
Perasaan bersalah menyelimuti pikirannya, ia nampak bingung karna Malaika terlanjur salah paham padanya, wanita itu mengira bahwa Adam telah menjalin hubungan dengan wanita lain, tak heran wanita manapun yg menjadi pasangannya pasti akan merasa tersakiti jika pria setampan dia selalu di kelilingi oleh para wanita cantik.
Masuklah ia ke dalam kamar kemudian mulai membuka laptop, sistem pelacak mulai di jalankan, Id phone milik Malaika kini terdeteksi di komputer itu, yaa wanita itu kini berada di sebuah hotel tepatnya di Somerset On Elizabeth, Melbourne.
Adalah tempat yg di pilih oleh Malaika untuk sejenak menenangkan diri. Dengan segera Adam bergegas menuju kesana untuk menemui sang istri.
Singkat saja, pria itu kemudian menuju ke resepsionis untuk menanyakan tentang kamar Malaika, dan petugas hotel pun akhirnya memberitahunya.
Dengan perasaan panik tak karuan, kini ia memberanikan diri untuk membuka pintu kamar istrinya melalui kunci cadangan.
Dan benar saja rupanya Malaika terlihat sedang menangis sesenggukan di tempat tidur.
Seolah tak bisa membendung kekesalannya, sebuah remasan tisu berserakan di mana mana.
Adam yg mengetahui hal itu segera menghampirinya kemudian memeluknya dengan tiba2.
Bukan semakin tenang ketika pelukan itu mendarat di tubuhnya, kini tangisnya semakin keras bahkan ia memberontak dari cengkeraman pria besar itu.
"Pergi !!!" (Teriaknya)
"Please ! Tenanglah malai ! Tenanglah ! Kumohon !" (Pinta Adam dengan sangat)
"Lepaskan ! Pergi dari sini ! Aku muak melihatmu ! Pergi ! Brani2nya kau memelukku setelah banyak wanita jatuh di pelukanmu ! (Cecarnya dengan tangis histeris), pergi ! Cepat pergi dari sini ! Jangan pernah tunjukkan wajahmu di hadapanku !" (Bentaknya)
Wanita itu lantas berhasil melepaskan diri dari cengkeraman suaminya, perlahan ia berjalan menjauh dari pria besar itu.
"Kau ! Jangan pernah muncul lagi di hadapanku, Adam ! (Tunjuk Malaika dengan penuh amarah yg menggebu), Aku pikir kau berbeda dari yg lainnya ! Ternyata kau sama saja ! Kau manfaatkan parasmu untuk menarik perhatian banyak wanita ! Sementara tanpa kau sadari kau juga gunakan parasmu untuk menyakitiku ! Kau puas sekarang ? (bentak Malaika), Aku tidak pernah ingin mengenalmu ! Apalagi menaruh hati padamu ! Kau sengaja menjebakku, Adam ! Kau jebak aku sampai akhirnya aku benar2 jatuh cinta padamu, lalu kau hancurkan aku dengan mudahnya ! Sekarang kau puas kan ?? Kau puas, Adam ?" (Tuturnya)
"Aku bisa jelaskan ini Malaika ! Kumohon ! Dengarkan aku dulu sayank ! Kau salah paham !" (Sahut Adam coba meminta waktu)
"Hussssssst !!! Jangan bicara apa2 lagi ! Biar aku sendiri yg urus perceraian ini di pengadilan ! Kau hanya perlu duduk manis bersama para wanita2mu !" (Tuturnya)
Dengan segera, pria besar itu meraih tubuh mungil yg sedang kalap itu.
"Terus ! Terus saja marahi aku ! Terus malai ! (Ucap Adam dgn amarahnya), siapa yg ingin terlahir tampan, siapa yg ingin terlahir seperti ini, siapa yg ingin menyakiti ? Katakan malai ! Katakan ! Tidak ada yg ingin menyakitimu ! Aku benar2 tulus mencintaimu sejak dulu hingga kini !" (Ucap Adam masih dengan nada tinggi)
Tak lama kemudian, salah satu tangan besar itu meraih sebuah pisau yg kebetulan ada di meja di dekat mereka.
"Ambil ini ! (Pinta Adam), cepat ambil ini ! (Sekali lagi ia meminta Malaika untuk memegang pisau itu), hancurkan saja wajah ini malai ! Cepat ! Agar tidak ada lagi wajah tampan yg menakutimu ! Cepat hancurkan wajahku ! Tunggu apalagi ?" (Bentak Adam dengan penuh amarah)
Wanita itu sejenak terdiam tatkala Adam menunjukkan sebuah pisau padanya, ia lantas membuang pisau itu ke lantai.
Amarahnya mulai mereda, meski nafasnya masih tak beraturan, Malaika terdiam membisu lalu terjatuh lemas di lantai.
Dengan sigapnya Adam segera membopong tubuh lemas itu dan menidurkannya di atas tempat tidur.
Di peluklah dengan erat wanita kesayangannya, tak lupa ciuman mesra juga mendarat di pipi yg masih basah itu.
Wanita itu masih diam tak bersua, walau berkali kali Adam mengajaknya bicara.
"Hey ! (Panggilnya perlahan), sudah jangan menangis ! (Pinta Adam kemudian menciumnya dengan lembut), dengar ! Tidak ada siapa2 disini selain dirimu malai ! (Ucap nya sambil menunjuk dada bidang miliknya itu), tolong percayalah padaku ? Tidak ada wanita manapun ! Aku tidak pernah mendekati mereka, mereka sendiri yg datang padaku !" (Tuturnya)
Tanpa merespon sedikitpun, Malaika kemudian mencoba melepaskan dekapan suaminya namun sayang, tubuh mungil itu terlalu lemah untuk berontak, sehingga Adam semakin mempererat pelukannya.
"Hey ! (Panggilnya), kemarilah lihat aku ! Lihat mataku sayank ! (Pinta Adam dengan lembut)
Perlahan mata itu memberanikan diri untuk menatap wajah suaminya.
"Apa, apa yg membuatmu semarah ini padaku ? Apa yg kau lihat ? Apa aku terlalu jahat sampai akhirnya kau seperti ini, malai ? Katakan sayank ! Bicaralah ! Jangan membisu !" (Pinta Adam perlahan)
Masih tak ingin menanggapi setiap perkataan suaminya, Malaika kini memutuskan untuk memejamkan mata dalam dekapan Adam.
Di ciumlah dengan lembut kening itu, pria itu kini memeluk istrinya hingga tertidur.
8 jam kemudian, Malaika kemudian terbangun dari tidurnya, ia membuka mata dan sedikit terkejut lantaran tubuh besar itu masih menindihnya dengan begitu kuat.
Di tataplah dalam dalam wajah tampan yg sangat lelah itu, masih terpejam dengan sangat tenang, bermaksud untuk melepaskan tangan Adam dari tubuhnya, justru pria itu malah semakin mendekapnya.
Wanita itu kini benar2 tak bisa bergerak sedikitpun, tubuhnya terlalu kecil untuk melawan, bahkan satu kaki Adam juga mengunci kedua pahanya.
Meski demikian, Malaika terus berusaha untuk melepaskan diri dari dekapan hangat suaminya.
Tak lama kemudian tiba2 suara Adam mengejutkannya tanpa membuka mata.
"Aku ingin anak perempuan !" (Celetuknya tanpa sadar)
Mendengar hal itu, Malaika sangat terkejut dan menatap Adam dengan tajam.
Seketika mata itu terbuka dan kembali menatap wajah Malaika.
"Apa yg kau katakan ?" (Tanya Malaika penasaran)
"Apa ? Aku mengatakan sesuatu ?" (Balas Adam yg sepertinya tanpa sadar)
"Kau mengatakan sesuatu baru saja ! Kau menginginkan anak perempuan." (Sahut Malaika)
"Hmmm, mungkin aku bermimpi ! Sudahlah ! Hey ! (Panggilnya), Kau sudah bangun lebih dulu rupanya ? Apakah tidurmu cukup ?" (Tanya Adam coba mengalihkan perhatian)
"Jangan menatapku seperti itu !" (Pinta Malaika dengan memalingkan wajahnya)
Melihat ekspresi itu, Adam hanya tersenyum gemas.
"Hmmm !" (Gumamnya lalu mengecup lembut pipi merah itu)
"Singkirkan kakimu ! Aku sama sekali tidak bisa bergerak !" (Pinta Malaika yg masih sedikit kaku)
Dengan segera Adam melepaskan dekapannya dan membiarkan Malaika terbebas sejenak.
"Pulanglah ! Aku masih ingin disini !" (Jawab Malaika tanpa berani menatapnya sedikitpun)
"Hmmmm baiklah ! Akan ku temani !" (Jawab Adam singkat)
Adam lantas berdiri dan mengikuti istrinya.
"Ak aku akan mandi !" (Ucap Malaika gugup)
Adam pun memberi isyarat untuk mengiyakan.
Sementara Malaika sedang mandi, rupanya Adam iseng2 memeriksa ponsel milik istrinya. Tidak ada niat apa pun sebelumnya, pria itu hanya ingin bermain main menggunakan ponsel milik Malaika.
Namun secara tidak sengaja, ia menemukan sebuah foto2 yg memperlihatkan dia sedang berpelukan dengan seorang wanita saat di bar malam itu, mengetahui hal itu kini Adam mulai mengerti mengapa istrinya sangat marah padanya.
"Jadi ini masalahnya ! (Gumamnya), baiklah aku akan memperbaikinya !" (Tuturnya lalu kembali meletakkan ponsel itu di tempat semula)
Di ambilah sebuah ponsel miliknya dari saku celananya, terlihat ia sedang keluar mencoba menghubungi seseorang. Sementara Malaika yg melihat itu merasa sedikit cemas namun tak berani mengatakan apapun.
"Kau ada waktu ? Datanglah ke tempat dimana aku akan menyebutkan alamatnya !" (Ucap Adam pada seseorang yg berada dalam panggilan)
Tak lama kemudian, ia pun mengakhiri panggilan dan kembali menemui istrinya.
"Ayo !" (Ajak Adam dengan lembut)
"Kemana ?" (Tanya Malaika singkat)
"Aku sangat lapar sekali, ayo kita makan !" (Pintanya)
Malaika pun mengangguk perlahan.
Bistrot d'Orsay
Sebuah restoran steak ala Perancis yg sengaja di pilih oleh Adam untuk menikmati makan malam bersama sang istri.
Kedua pasangan itu nampak duduk di sebuah kursi yg telah tersedia.
Tak lama kemudian seorang pelayan menghampiri mereka.
"Pesanlah ! Aku akan makan apapun pilihanmu !" (Pinta Adam sambil menatap jam pada pergelangannya)
Seperti sedang menunggu seseorang, Adam terlihat cukup gelisah.
Melihat hal itu Malaika hanya bisa membatin dan tak berani bertanya sedikitpun. ia terus membaca daftar menu dan coba memilih beberapa makanan untuk Adam.
Pelayan itu kemudian berlalu setelah pasangan tersebut memesan beberapa makanan padanya.
"Makanlah yg banyak sayank, kau terlihat kurus !" (Pinta Adam sambil mencubit pipi istrinya)
Meski begitu Adam masih celingukan melihat kesana kemari seperti sedang menunggu kedatangan seseorang.
Melihat gelagat suaminya, Malaika hanya bisa terdiam dan bergumam.
"Apalagi yg dia lakukan ?" (Gerutu Malaika dalam hati)
Tak berapa lama kemudian, datanglah seorang wanita cantik blasteran jerman menghampiri Adam sambil berpelukan.
"Hay ! Sorry ! Kau pasti sudah lama menungguku !" (Sapa wanita itu kemudian mencoba untuk bercipika cipiki dengan pria besar itu)
Melihat pemandangan itu sontak membuat Malaika terkejut, dan seketika raut wajah itu berubah menjadi murung kesal penuh amarah.
Bagaimana tidak, rupanya wanita itu adalah Agatha, mantan kekasih adam tempo dulu, dan dia juga wanita yg pernah bertemu dengan Adam di bar kala itu, yg pada akhirnya membuat kedua pasangan itu sempat memanas.
Amarah yg kembali memuncak itu seketika membuat Malaika ingin segera beranjak dari sana, langkahnya mulai terdengar, namun dengan segera Adam meraih tangannya dan memberikan isyarat untuk tetap disana.
"Ada apa ? Kenapa kau tiba2 memintaku datang kemari ?" (Tanya Agatha penasaran)
"Ah kenalkan ! Dia istriku !" (Ucap Adam coba memperkenalkannya)
"Hmmm okey ! (Wanita itu mengangguk dengan tersenyum, kemudian mengulurkan tangan pada Malaika), Agatha ! Agatha Veronica !" (Ucap wanita itu)
"Malaika !" (Jawab Malaika datar)
"By the way ! Kau menikah tanpa memberitahuku ? Bisa2nya kau lakukan itu, hah ?" (Tanya Agatha dengan sedikit menggodanya)
"Hey dengar nona !, Aku disini hanya ingin meluruskan !" (Ucapannya terhenti)
"What ?" (Agatha bingung)
"Dengar sayank ! Sekarang kau lihat ! Dia ada disini ! Aku tidak ada hubungan apa2 dengan wanita jalank ini !" (Ucap Adam coba menjelaskan pada Malaika)
"Hmmm ! Rupanya dia salah paham padaku ? Baiklah ! Emmm Malaika ? (Panggilnya), ah ya ! Aku dulu pernah berada di posisimu ! Memang tidak mudah menjadi pasangan seorang pria dengan paras dewa ! Kau harus punya kesabaran dan kelapangan hati yg sangat besar ! Tp percayalah ! Dia yg terbaik diantara pria tampan lainnya ! Aku bisa jamin itu ! Dan, jika aku dengar dia sampai menyakitimu maka aku sendiri yg akan turun tangan, dengar Malaika ! Aku pernah menjalin hubungan dengannya bukan berarti aku juga ingin kembali padanya, aku hanya coba berteman baik dengan suamimu, lagi pula aku juga sudah berkeluarga ! Jadi kau jangan khawatir tentang itu ! Dan yah ! Perlu kau ketahui ! Kemanapun Adam melangkahkan kakinya, dia akan selalu di kelilingi wanita cantik ! Kau harus siapkan mentalmu untuk itu !" (Tuturnya dengan melontarkan senyuman)
Mendengar hal itu, Malaika nampak malu dan salah tingkah, ia tidak menyangka bahwa Adam akan mempertemukannya dengan wanita masa lalunya.
"Baiklah ! Aku rasa aku sedikit sibuk ! Jadi aku tidak bisa berlama lama dengan kalian ! So, enjoy this moment ! (Ucap Agatha), See you !" (Timpalnya)
"Key ! Take care !" (Balas Adam dengan ramah)
Wanita itu kemudian beranjak pergi dari sana, kini tinggalah kedua pasangan itu yg masih menikmati kebersamaannya.
"Kau mengajakku kemari hanya untuk mempertemukanku dengannya ? (Tanya Malaika sedikit kesal)
"Malai, aku tidak ingin kau salah paham dengannya itu saja ! Aku tidak ingin bertengkar denganmu sayank ! Come on ayolah !" (Pinta Adam terus membujuknya)
Wanita itu masih cemberut dengan sikap Adam.
"Kau membuatku terlihat payah di depan para wanita yg mendekatimu !" (Ucap Malaika semakin kesal)