The Second Husband

The Second Husband
Night (Bab.67)



Kedua pasangan itu kemudian memutuskan untuk beristirahat.


Namun selang beberapa jam tiba2 Malaika terbangun karna merasakan tubuhnya sangat menggigil.


Di ambilah sebuah badcover tebal dari almari, untuk sesaat itu cukup menghangatkannya, namun tak lama kemudian selimut tebal itu tak juga meredakan rasa dinginnya.


Wanita dengan setelan baju tidur panjang itu kembali membuka almari dan mengambil jaket tebal miliknya, tak lupa topi santa untuk menutupi area kepalanya juga kaus kaki beserta sarung tangan.


Ia kembali ke tempat tidur dan bermaksud untuk melanjutkan tidurnya, namun siapa sangka rasa dingin itu masih juga menjalari kulitnya.


Dengan langkah yg sedikit tertatih ia kembali turun dari tempat tidur dan keluar dari kamarnya.


"Aduhhh ! Ada apa denganku ? Kenapa seperti ini ??" (Keluhnya dengan sedikit merintih).


Melihat Adam yg masih terlelap, ia mencoba untuk tak menimbulkan suara saat menutup pintu kamar.


"Tidak biasanya aku seperti ini ! (Gumamnya), bahkan ini di dalam ruangan tp kenapa rasanya aku seperti tertimbun potongan es ? Astaga ? Apa jangan2 bayiku tidak suka hawa dingin ?" (Hatinya terus bertanya tanya)


Malaika terus merintih mengeluhkan tubuhnya, ia mencoba untuk duduk di sofa ruang tengah dan berpikir bagaimana caranya agar seluruh tubuhnya bisa kembali menghangat.


Bibirnya gemetar, tubuhnya melengkung menahan rasa dingin yg menyiksanya.


Beberapa saat kemudian ia teringat akan sebuah ide.


"Lilin ! (Celetuknya), benar ! Aku akan menyalakan beberapa lilin untuk membuat api, karna apartemen ini tidak mungkin ada perapian." (Tuturnya lalu bergegas mengambil berpuluh puluh lilin untuk ia nyalakan)


Dengan tenangnya Malaika kemudian terduduk di sudut dapur sambil di temani berpuluh puluh lilin menyala yg mengelilingi tubuhnya.


Kali ini ia sedikit legah lantaran tubuhnya mulai menghangat walau itu juga pasti tidak akan lama, karna ketika lilin habis maka rasa dingin itu akan kembali menyiksanya.


Di satu sisi, Adam yg semula terlelap kini tersentak ketika mendapati Malaika tak lagi ada di sampingnya, tangan nya semula meraba bermaksud untuk memeluk sang istri, namun kenyataannya tak ada siapa pun disana.


Mata itu sontak terbelalak, dan mulai melihat sekeliling.


Merasa tak ada siapa2 disana, Adam kemudian memutuskan untuk bangun dan turun dari tempat tidur.


Di bukalah pintu kamarnya dan keluar untuk mencari Malaika, langkahnya terus menyusuri ruangan, mulai dari ruang tamu, ruang keluarga, ruang santai, ruang olahraga, bahkan kolam renang, sama sekali tak ada siapa2 disana.


"Malai ? (Panggilnya), Malai ? (Sekali lagi dengan mengamati seluruh ruangan), dimana dia !" (Gumamnya bingung)


Adam kembali melanjutkan pencariannya, khawatir terjadi sesuatu yg buruk pada sang istri, ia kemudian mencoba keluar apartemen untuk memeriksanya.


Namun sebelum itu, baru saja ia membuka pintu untuk keluar, tiba2 ia terhenti ketika melihat sendal dan juga sepatu milik Malaika masih lengkap di rak yg tertata.


"Apa ini ? Dia tidak kemana mana, tp dia sama sekali tidak ada ?" (Adam kembali bertanya tanya dengan pemandangan itu)


Pria itu kemudian memutuskan untuk kembali masuk dan tidak jadi keluar.


Langkahnya kembali menyusuri ruangan hingga sampailah ia ke sebuah dapur dengan maksud untuk mengambil air mineral.


"Cahaya apa itu?" (Langkahnya terhenti ketika sebuah cahaya menarik perhatiannya)


Adam lantas menghampirinya.


"Astaga ! (Seru Adam terkejut ketika melihat Malaika terlelap dengan di kelilingi banyak lilin), malai ? Apa yg kau lakukan ? (Ucapnya panik), ini akan membahayakanmu sayank !" (Seru Adam sembari mematikan semua lilin itu dan membopong Malaika)


Pria itu kemudian membawa Malaika keluar dari dapur dan menidurkannya di atas sofa.


Dengan setengah sadar Malaika membuka mata dan menatap Adam yg penuh kepanikan.


"Apa yg kau lakukan ? Kau tau ini akan membahayakanmu ! Bagaimana jika terjadi kebakaran ? Hahh ?? (Ucap Adam dengan sedikit meninggikan nada bicaranya), dan ini ? (Memperhatikan pakaian yg di kenakan Malaika), apa ini malai ? Kenapa kau memakai semua ini ? Di luar tidak sedang turun salju, kenapa kau memakai pakaian setebal ini ? Dan selimut ini (menunjuk beberapa selimut), untuk apa kau gunakan selimut sebanyak ini ?" (Cecarnya dengan kesal)


"Pliss Adam, kau jangan marah padaku ? Tolong jangan matikan lilin2 itu, atau aku akan mati ?" (Pintanya dengan lirih)


"Hey ! Jaga bicaramu nona ! Kenapa kau membual tidak karuan ?" (Adam semakin kesal)


"Tolong kali ini saja dengarkan aku ? (Pinta Malaika dengan lirih), tolong ambil semua lilin2 itu dan nyalakan ! Aku benar2 tidak tahan dengan suhu disini, aku menggigil Adam, rasa dingin ini sangat menyiksaku, ku mohon ?" (Pinta Malaika dengan lemas)


Melihat nada bicara Malaika yg begitu mengkhawatirkan, semakin membuat Adam merasa panik dan terpaksa menuruti kemauan istrinya.


"Baiklah baiklah ! Kau tunggu disini ! Aku akan segera mengambil lilin2 itu dan menyalakannya disini untukmu !" (Ucap Adam dengan cemas)


Dengan sigapnya, pria besar itu akhirnya menuruti kemauan istrinya dan kembali menyalakan lilin2 itu di hadapannya.


"Sudah ! Bagaimana sekarang ? Apa lebih baik ?" (Tanya Adam masih dengan kekhawatirannya)


Malaika masih terbaring di sofa dengan kondisi yg cukup lemas karna efek dingin yg menyiksanya.


Adam kembali duduk di sampingnya dan menjamah wajah lesuh itu.


"Apa yg terjadi ? Kau sakit ?" (Tanya Adam dengan tatapan teduhnya)


Malaika lantas menggeleng.


"Bahkan ini belum turun salju, kenapa kau menggigil seperti ini ? Kau tidak biasanya seperti ini, malai ? Ada apa denganmu sayank?" (Tanya Adam lirih)


"Aku tidak tau, tiba2 aku terbangun karna rasa dingin ini semakin menyiksaku Adam ! Aku mohon kau jangan marah ?" (Pinta Malaika dengan pasrah)


"Hey ! Tenanglah ! (Jawab Adam mencoba menenangkannya), kapan aku marah padamu malai ? Bahkan aku pun susah untuk marah pada mu !" (Tuturnya lembut sembari menatap wajah itu)


"Entahlah ! Aku sangat takut jika kau marah !" (Jawab Malaika berusaha mengalihkan pandangan)


"Dengarkan aku ! (Pinta Adam perlahan lalu berusaha merangkulnya), besok kita akan pergi ke dokter untuk memeriksa tentang kondisimu, aku tidak mau istriku sakit sedikit pun !" (Tuturnya)


Wanita itu kemudian menatap Adam dengan sedikit ragu.


"Aku tidak sedang sakit, Adam !" (Jawab Malaika menegaskan)


"Plisss !!" (Sahut Malaika dengan membungkam bibir Adam dengan satu jarinya)


Dengan sigapnya Malaika lantas meraih tubuh suaminya dan memeluknya dengan erat, entah karna rasa takut atau kecemasan yg berlebihan.


"Hey ! (Ucap Adam sembari mengelus punggung sang istri), tenanglah aku tidak akan marah sedikitpun padamu !"(Pungkasnya)


Pelukan itu semakin erat terasa, Malaika terus di dera ketakutan saat mencoba ingin menjelaskan yg sesungguhnya, bibirnya terkunci tak kuasa untuk mengungkapkan.


Sebuah kecupan hangat juga menyambar pipi mungil itu, Adam terus berusaha untuk menenangkannya.


"Sayank ! (Panggilnya), jangan menyimpan sendiri masalahmu ? Aku ada disini untukmu !" (Ucapnya dengan lembut)


Masih tak mau bicara, Malaika kembali menenggelamkan wajahnya dibalik dada yg bidang itu.


"Baiklah ! Aku akan menemanimu disini hingga kau merasa lebih baik !" (Tutur Adam terus mengusap rambut gelombang itu)


"Adaaaaam !" (Panggilnya lirih)


"Yah !" (Jawab Adam jelas)


Dengan sedikit memberanikan diri, Malaika kemudian menatap suaminya dengan sangat.


"Hmmm apa ?" (Sahut Adam lalu membalas tatapannya)


"Aku !" (Ucapan Malaika terhenti)


Ia kembali menundukkan pandangannya, namun dengan segera Adam meraih dagunya sehingga membuat ibu satu anak itu kembali menatap Adam dengan spontan.


"Ak kuh !" (Lagi2 ucapannya terhenti)


Seolah terkunci dengan rapat, rasa takut itu rupanya lebih besar dari egonya.


Jantungnya berdebar kencang membuat Malaika semakin tertekan akan keadaannya.


"Akuh !" (Ucapanya selalu terhenti ketika tatapan teduh itu seolah mengultimatumnya)


Sejenak terdiam untuk beberapa menit, masih dengan tatapan indah itu Adam mencoba untuk menenangkannya, tp entah mengapa tatapan itu seolah semakin membuatnya merasa takut hingga tak terasa tiba2 matanya mulai berkaca kaca.


Detak jantung yg tak karuan, serta gemetar tangan yg ia rasakan semakin menyiksanya.


Sekali lagi Malaika mencoba untuk memberanikan diri di sela ketegangan yg ia rasakan.


"Akkuh !" (Ucap Malaika dengan tatapan penuh)


Merasa tak berhasil dengan kondisi itu, ia kemudian mencoba untuk membuang muka dan menghindari tatapan suaminya.


"Aku hamil, Adam !" (Ucap Malaika dengan mengalihkan pandangannya ke samping)


Tak terasa pipi itu mulai basah ketika ia sedikit merasa legah lantaran berhasil mengungkapkannya.


Wanita itu berusaha untuk menyeka air matanya dan kembali memeluk Adam dengan eratnya, berharap agar pria besar itu tidak marah padanya.


Tanpa bersua sedikit pun, Adam pun meneteskan air mata haru lantaran pengakuan Malaika yg mengejutkan.


Meski basah oleh air mata, Adam lantas tersenyum lalu mencium kening sang istri.


"Hey ! Lihat aku !" (Pintanya sembari meraih wajah itu)


Pria besar itu kemudian tersenyum bahagia saat mencoba memandang wajah Malaika yg sangat ketakutan.


"Hey ! (Panggilnya lagi sambil menatap wajah yg basah itu), bagaimana bisa kau menyimpan rahasia yg membahagiakan ini dariku ? Bagaimana mungkin aku akan marah dengan berita seperti ini ?" (Tanya Adam sembari menyeka pipi yg basah itu)


Mendengar hal itu lantas membuat Malaika terkejut, dan wajah yg ketakutan itu kini berubah menjadi datar.


"Apa ? (Malaika terkejut dengan reaksi sang suami), kau tidak marah ? (Tanyanya sekali lagi), Danthe masih kecil Adam ! Aku pikir kau akan sangat murka padaku karena jarak yg terlalu dekat !" (Tuturnya)


"Siapa yg peduli tentang jarak ? Aku bisa bayar mahal rumah sakit untuk memberikan pelayanan terbaik pada ibu dan bayinya ! (Seru Adam dengan bahagianya), lagi lagi kau memberikan karunia besar pada hidupku, malai i love u so much !" (Timpalnya)


Sebuah ciuman mesra pun mendarat di keningnya, dan rasa takut itu tak lagi menjalari pikirannya, Malaika tersenyum legah saat mengetahui bahwa Adam sangat bahagia dengan berita itu.


Keduanya saling berpelukan haru.


"Wait wait !" (Sahut Malaika sejenak menghentikan moment haru itu)


"Ahaaa ?" (Balas Adam)


"Lilin lilin ini akan segera habis, dan api akan padam ! Aku akan merasa kedinginan dan menggigil seperti tadi ! (Tutur Malaika), dia tidak suka suhu dingin Adam, please !" (Malaika memohon)


Mengerti dengan isyarat istrinya, Adam segera berlari keluar untuk mencari lilin2 yg lainnya.


"Tunggulah sebentar, aku akan kembali dalam lima menit !" (Pinta Adam)


Pria itu segera berlari dengan semangatnya, ia keluar dari apartemen untuk mencari sebuah lilin.


5 menit kemudian, terlihat ada banyak lilin dalam bungkusan yg ia bawa.


"What ??? Tidak perlu sebanyak ini ?" (Seru Malaika saat melihat Adam dengan banyak lilin yg di kedua tangannya)


"Setidaknya ini cukup sampai besok pagi, aku sudah pesankan tiket untuk terbang ke Turki, kita akan merubah rute perjalanan kali ini, dan aku pastikan tidak akan ada salju ataupun suhu dingin yg menyiksamu disana !" (Jawab Adam dengan antusiasnya)


Malaika pun tersenyum haru atas sikap Adam.


"Thank u !" (balas Malaika dengan senyum haru)


Pria itu lantas mencium perut Malaika yg masih terlihat rata, ia sangat bahagia dengan moment itu.