
Cahaya redup menemaninya saat itu, sebuah buku di hadapannya seperti lolongan anjing yg tak berguna, ia membolak balikkan setiap halaman, seolah tidak tau apa yg sedang ia baca, pandangannya terus mengarah pada lembaran itu namun pikirannya kacau tak terkira.
ia duduk di sebuah meja kerjanya, dengan sebuah lampu sorot yg seadanya.
"Uhukkk Uhukkk !" (Tenggorokannya mulai tidak stabil).
Dengan segera Malaika datang menghampiri suaminya.
"Adam ? (Panggilnya tatkala membuka pintu ruangan itu), are u okay ?" (Tanya wanita itu cemas)
ia segera melangkah ke arah suaminya yg sedang duduk di meja kerja itu, di sibaklah satu tangan besar itu, kemudian ia duduk di pangkuan suaminya.
"What happened ? (Tanya Malaika sambil menjamah wajah lelah itu), kau sedang tidak baik2 saja, kau terlihat lelah ! (Malaika memperhatikan wajah itu), kau harus beristirahat Adam, ayo hentikan dulu pekerjaanmu !" (Pinta Malaika)
"No malai ! Aku hanya sedikit pusing ! Kau tak perlu cemas !" (Ucap Adam kemudian menggenggam tangan mungil itu)
"Tidak Adam ! Kau tak akan bisa berbohong padaku !" (Ucap Malaika bersikeras)
"Hey please ! I'm okay !" (Ucap Adam perlahan kemudian mengecup jemari mungil itu)
"Kau terlihat sedang tidak sehat Adam, jangan memaksakan diri !" (Tuturnya)
"Okay okay ! Aku akan istirahat ! (Ucap Adam dengan lembut), aku rindu teh jahe buatanmu, tenggorokanku sedikit sakit !" (Pinta Adam dengan tatapan teduhnya)
"Baiklah ! Kau tunggu disini akan ku buatkan !" (Balas Malaika)
Wanita itu kemudian beranjak dari pangkuannya, namun sebelum itu Adam lebih dulu menahannya.
"Wait !" (Pintanya)
Malaika kemudian menoleh.
"Bawa saja ke kamar, aku ingin mengatakan sesuatu padamu !" (Pinta Adam)
"Ya sudah !" (Balasnya singkat)
Singkat cerita, Adam kini sudah berada di atas ranjang tempat tidurnya, ia duduk bersandar pada dinding dan hanya mengenakan hotpants yg menutupi separuh tubuhnya.
Dengan segelas teh jahe buatannya, Malaika datang menghampiri suaminya dan memberikan padanya.
Di seruputlah air hangat itu, kemudian diletakkan kembali pada meja kecil disana.
Wanita itu kemudian mendekati suaminya, dan tidur dalam dekapannya.
"Apa yg ingin kau katakan ? (Tanya Malaika kemudian mendongak ke arah wajah tampan itu)
Belum juga menjawab pertanyaan itu, Adam kemudian mengecup keningnya.
"Aku tidak tau, kau akan menyukai ini atau tidak, atau bahkan kau mau atau tidak, tp aku harus mengatakan ini padamu sayank !" (Ucap Adam dengan lembut)
"Kenapa kau terkesan seperti ketakutan ?" (Malaika bingung)
"Aku hanya tidak ingin jauh darimu dan juga Danthe." (Ucap Adam penuh keraguan)
"Katakanlah ! Aku tidak akan marah, jika itu yg terbaik maka lakukan !" (Balas Malaika dengan lembut)
"Aku sudah menduga pasti kau akan menjawab seperti ini." (Ucap Adam penuh datar)
"Hey ! Kenapa sepertinya kau patah semangat ? Come on ! Jangan cengeng !" (Godanya sambil mengusap dada yg penuh bulu itu)
"Separuh aset milik ayahku telah lenyap, semuanya habis untuk membayar semua hutang dan tagihan kakakku, dia kalah judi hutangnya dimana mana, 10 perusahaan milik ayahku di kelola olehnya semenjak ayah memutuskan untuk pensiun dari perusahaannya, dan kini hanya 2 yg tersisa, sekarang entah dia bersembunyi dimana, semua orang mencarinya, bahkan dia tidak pernah datang ke kantor untuk sekedar basa basi, semuanya berantakan, ayah menghubungiku dengan penuh Isak tangis, ia meminta bantuanku untuk menyelamatkan 2 perusahaan yg tersisa, bahkan aku sendiri tidak tau harus berbuat apa (ucap Adam dengan kesedihan yg mendalam)
malai bisakah kita kembali untuk menetap disana ? Aku tau ini pasti berat untukmu sayank, aku minta maaf, tp sungguh aku benar2 tidak punya cara lain untuk itu." (Pinta Adam dengan sangat)
Mendengar ceritanya, Malaika semakin erat memeluk suaminya, di usaplah wajah penuh bulu halus itu, sesekali ia menciumnya dengan cukup lama.
"Kenapa baru sekarang kau mau membantu ayahmu, 5 tahun yg lalu kau juga mengatakan ini padaku, tp kau tidak mau pergi, dan sekarang lihat ! Perusahaan ayah benar2 turun, tidak ada tawaran lagi Adam, kau harus ke sana ! Please !" (Ucap Malaika dengan binar tatapannya)
"Bagaimana bisa aku meninggalkanmu sendirian disini malai ? Aku tidak bisa !" (Ucap Adam dengan kesungguhannya)
"Hey ! (Ucap Malaika perlahan), pergilah ! Aku dan Danthe akan segera menyusulmu, dia ada kelas ujian, biar dia selesaikan dulu ujiannya, baru setelah itu kami akan menyusulmu." (Tuturnya)
Mendengar pengakuan istrinya Adam sangat terkejut dan tidak menyangka bahwa Malaika akan bersedia datang ke sana.
"Are u sure ?" (Adam masih tidak menyangka)
"Yahh !" (Jawab Malaika singkat)
Keesokan harinya
Pria dengan satu ikatan rambut di kepalanya itu terlihat rapi dengan setelan t-shirt silver dan juga kemeja hitam yg terbuka semakin cool dengan jeans yg senada.
Dengan membawa satu koper besar miliknya ia berpamitan pada kedua belahan jiwanya, mereka tersenyum riang melepas kepergian pria besar itu.
"Take care !" (Ucap Malaika kemudian memeluk pria besar itu sesekali ia juga mencium pipi suaminya)
"Bye Daddy !" (Ucap Danthe)
"Bye sweatheart ! (Balasnya), segera hubungi aku jika kalian sudah siap !" (Pinta Adam)
"Of course !" (Jawab Malaika dengan senyuman hangat)
Ibu dan anak itu lalu melambaikan tangan.
Singkat saja penerbangan Adam, tibalah ia di bandara Melbourne Tullamarine Airport.
Sebuah rangerover telah menantinya disana, terlihat seorang sopir suruhan sang ayah berdiri menyambut kedatangannya.
"Welcome sir !" (Sapa sang sopir sedikit menundukkan badannya)
Di bukalah pintu mobil itu, kemudian ia segera masuk.
Dengan kaca mata hitam yg ia kenakan, serta beberapa aksesoris seperti cincin antik melingkari beberapa jarinya, juga kalung manik manik yg ia kenakan.
Bertempat di Melbourne, Victoria
kedua orang tua Adam menetap disana sejak ia masih kecil.
Dengan penampilannya yg sangat bertolak belakang dari yg dulu, ia kemudian masuk ke dalam rumah orang tuanya.
Seperti kedatangan orang asing yg tak di kenal, seisi rumah itu nampak bingung memperhatikan kedatangan pria dengan satu ikatan rambut di kepalanya.
Hampir tidak ada yg mengenali, mereka semua bertanya tanya.
"Siapa dia ?" (Bisik sang ibu)
"Entahlah !" (Jawab pria tua dengan satu koran di tangannya)
"Apa kau membuat janji dengan seseorang ?" (Tanya sang ibu)
Pria tua itu kemudian menggeleng.
Melihat keheningan itu, Adam kemudian membuka kaca matanya, dari sanalah akhirnya mereka semua mengenalinya.
"Astaga !" (sang ayah terkejut)
Siapa pun pasti tidak akan mengira bahwa itu adalah putra bungsu mereka, Adam yg dulu dengan penampilan rapi dan selalu terlihat formal dalam setiap kesempatan kini berubah menjadi lebih santai, casual, dan sporty.
"Kau kah itu ? (Tanya sang ibu dengan bingung)
Adam kemudian mengangguk.
Kedua orang tua itu kemudian mendekat dan berkata.
"Benar2 tidak bisa ku percaya !" (Gumam sang ibu), tp ini lebih menarik, kau terlihat 10 tahun lebih muda dari umurmu." (Goda wanita itu)
"Jangan membual ibu, kau tahu kau akan menyinggungku !" (Balasa Adam dengan candaannya)
"Oh ya dimana Malaika ? Kenapa kau sendirian ?" (Tanya sang ayah)
"Sedang ada urusan ayah, Danthe masih harus mengikuti beberapa ujian, jika tidak, maka dia harus mengulang pelajarannya tahun depan." (Tuturnya)
"Danthe ? jadi mlalaika melahirkan seorang putra ?" (Tanya sang ibu dengan bahagia)
Adam kemudian mengangguk.
"Benarkah ? Laki laki ?" (Cecar wanita tua itu?)
"Yes mom !" (Perjelas Adam)
"Kapan ? Kapan kau akan membawanya kemari ?" (Tanya sang ibu tidak sabar)
"Sesegera mungkin !" (Jawab Adam)