
Keheningan itu masih mencekam suasana, tatapan sendu malaika masih menyisakan trauma, tak ubahnya sebuah gelas yg tengah berdiri di atas patahan kayu, yg bisa saja terjatuh karna hembusan angin.
Tubuh mungilnya sama sekali tak merespon ketika laki laki tampannya sekuat tenaga memeluknya dan berusaha meyakinkan.
Meski air mata itu sudah mengering, namun ia tak ingin berharap lagi, ia mencoba berbesar hati untuk tidak menuntut sesuatu yg ia inginkan, wanita itu sangat paham akan karir suaminya, sangat mengerti dan tidak ingin menghancurkan reputasinya.
Walau sudah panjang lebar mengutarakan isi hatinya, ia tetap bersikap biasa dan mencoba untuk meredam amarahnya.
"Kembalilah Adam ! Mereka membutuhkanmu !" (Bisiknya perlahan)
Suara sendu itu kembali menampar batinnya.
"Tidak Malai ! Aku sudah tidak peduli dengan itu !" (Pungkasnya)
"Jangan egois ! Kau adalah orang yg sangat penting Adam, jangan biarkan seorang wanita mematahkan perjuanganmu begitu saja ! (Jawabnya perlahan), pergilah ! Aku akan baik baik saja disini, dan aku akan kembali jika aku mau !" (Timpalnya)
"Lihat aku ! Lihat mataku sayank ! (Pintanya sembari menusukkan pandangan tajam pada wanita itu), pekerjaan, karir, teman2, client, mereka semua memang penting untukku, tp kau ! Kau yg memberikan nyawa dalam kehidupanku, kau yg menghidupkan kembali keluargaku ! (Cecarnya dengan tatapan itu), bahkan sekarang aku sangat berterima kasih padamu ! Kau membuatku tersadar, kau yg membuatku mengerti bahwa semua perkataanmu adalah benar ! Selama ini aku terlalu sibuk, terlalu menggebu dengan pekerjaanku, padahal sebenarnya aku bisa melemparkan semua pekerjaanku pada setiap manager, dan hanya memantau dari komputer rumah saja, yah aku bisa lakukan itu, dan betapa bodohnya aku selama ini, kenapa aku tidak melakukan itu sehingga berimbas pada keluarga kecilku ! (Tuturnya dengan penuh kesungguhan), Malai ! (Panggilnya) ku mohon ! Teruslah katakan apa yg menjadi beban dalam pikiranmu, teruslah bicara jika itu membuatmu legah, teruslah menegurku sampai aku benar2 mengerti, dan teruslah marah padaku jika itu perlu !" (Tegasnya lagi dengan kesungguhannya)
Wanita itu membisu dengan pipi basah, menundukkan wajahnya hingga tak sadar jika air matanya juga jatuh ke lantai.
"Jangan katakan apa apa lagi, aku mengerti sekarang, biarkan aku terus belajar memahami setiap air matamu yg turun." (Pungkasnya)
Tatapannya cemas seolah sedang menghawatirkan nasib hubungannya, pria bertubuh besar itu kembali memeluk istrinya dengan begitu erat.
Keesokan paginya, dering panggilan mulai membising di telinga, hingga membangunkan Malaika.
Mata yg sulit terbuka mencoba untuk meraba sekitar, berharap menemukan ponsel yg berdering.
Di ambilah ponselnya, seketika mata itu terbuka ketika ponsel miliknya sama sekali tak bersua.
"Ehmmmm ! Bukan milikku ? Lalu ?" (Gumamnya kaget)
ia kembali memperhatikan sekitar, mencari cari dimana sumber dari suara dering ponsel itu.
Dan rupanya suara itu berasal dari ponsel milik sang suami yg terletak di meja.
Dengan segera, ibu satu anak itu mengambil ponsel tersebut dan memberikannya pada Adam yg masih terlelap di tempat tidur.
Jari mungilnya kembali mengusap pipi berbulu halus itu seraya berkata :
"Bangunlah Adam, ponselmu berdering !" (Pintanya perlahan)
Sekali lagi tak ada reaksi, Malaika kembali memaksanya untuk membuka mata.
"Adam, please ! Dering ini cukup menggangguku ! Angkat dulu teleponmu !" (Pintanya dengan nada tinggi)
Seketika mata itu perlahan terbangun dan berkata :
"Matikan saja jika itu mengganggumu nona !" (Pungkasnya lirih)
Tanpa merubah posisi sedikitpun, Adam kembali terpejam lantaran masih ingin menikmati waktu tidurnya, namun istri kecilnya itu semakin geram lantaran ia tak merespon panggilan itu.
"Ini ! (Melemparkan ponsel ke arahnya, selesaikan dulu pekerjaanmu tuan !" (Jawab Malaika kesal)
Mendengar ocehan kecil istrinya, ia lantas membuka mata dan kembali meraih ponselnya.
"Hmmm, tinggal matikan saja apa susahnya !" (Ucap Adam sembari menonaktifkan ponselnya)
Kemudian melemparkan ponsel itu ke sembarang tempat, pria itu kembali mendekati istrinya dan memeluknya dengan erat.
Mendapati perlakuan itu, Malaika membalikkan tubuhnya dan menatap suami tampannya.
Masih dengan pandangan yg kabur, Adam mencoba menatap Malaika.
"Kau juga melakukan hal yg sama kan saat datang kemari ? Kau tidak ingin siapa pun mengganggu kesenanganmu kan ? (Pertanyaan itu seolah menyindir Malaika), aku juga ingin melakukan hal yg sama ! So, let's enjoy the time together !" (Bisiknya dengan lirih)
Mendengar hal itu, Malaika pun tersenyum kecil.
Selimut putih kembali menutupi keduanya, lampu redup kembali dipadamkan.
Adegan ranjang pun kemudian berlangsung.
Hingga tak terasa dua jam berlalu, keduanya nampak tertidur pulas tanpa sehelai pun, hanya selimut yg masih menutupi sebagian tubuh sensitif mereka.
Malam pun tiba
Nampaknya rambut basah itu masih terlihat jelas dalam kegelapan malam, ia berjalan ke bawah mengitari beberapa gazebo yg ada disana, sebuah rok selutut dan juga setelan kemeja yg senada membuat ibu satu anak itu masih terlihat layaknya anak muda, dengan rambut sedikit basah yg terurai, ia terus berjalan di sekitaran tempat itu.
"Kau ?" (Suara Gino tiba tiba mengejutkannya dari belakang)
Malaika lantas menoleh dengan terkejut.
"Hahhh ? Astaga ? Aku pikir siapa?" (Celetuknya)
"Lagi pula, kenapa keluyuran malam malam seperti ini ?" (Tanya Gino heran)
Pria itu lantas memperhatikan rambut Malaika yg masih terlihat basah.
"Apa kau baru saja memenangkan hatinya ?" (Sindirnya seolah mengejek)
Gino pun terkekeh melihat itu, sementara Malaika hanya diam tersipu.
"Ashhhh ! Kenapa kau ini ? Dasar jalank !" (Tuturnya kesal)
"Hmm, sepertinya kau berhasil meluluhkan hati suamimu ? Jika tidak, kau tidak akan melakukan keramas semalam ini ? Hehehe !" (Gino kembali terkekeh)
"Hufffft ! Apa lah kau ini ! Menyebalkan sekali !" (Gumamnya)
"Lalu kenapa kau di luar sendirian ? Dimana dia ?" (Tanya Gino)
"Ada, dia sedang meeting di atas !" (Jawab Malaika singkat)
"Hmmmm, masih tidak bisa lepas dari pekerjaannya." (Sahut Gino)
"Aku membebaskan dia, sekarang aku sama sekali tidak peduli, terserah dia mau berbuat apa, aku sudah mengatakan segalanya." (Tuturnya)
"Mungkin bukan seperti itu maksudnya !" (Celetuk Gino)
"Lalu ?" (Sahut Malaika )
"Dia hanya membatasi waktu, bukan nonstop 24 jam !, Mana mungkin dia bisa lepas dari pekerjaannya, kau tau suamimu orang penting bukan ?, Dia hanya sedang membatasi waktunya, dia berusaha membagi waktu denganmu, percayalah dia laki laki hebat, dia benar2 tulus mencintaimu, hanya saja dia seringkali tidak mengerti bagaimana cara membahagiakanmu !, Kau harus lebih sabar lagi !" (Tutur Gino)
Sejenak terdiam dengan perkataan Gino.
"Kenapa kau sok tau sekali ?" (Seru Malaika)
"Aku tidak sok tau ! Itulah kenyataannya ! Laki laki memang seperti itu ! Wanita selalu menginginkan prianya lebih peka ! Tp pada dasarnya, pria itu tidak suka di kode kode !" (Balas Gino kesal)
"Omong kosong saja kau ini !" (Sahut Malaika)
"Terserah kau saja lah !" (Timpalnya lagi)