The Second Husband

The Second Husband
Mall (Bab.82)



Beberapa hari kemudian, Adam tiba2 menghentikan waktu liburannya lantaran sebuah pekerjaan yg memaksa.


"Aku tau ini pasti sulit untukmu ! Tp percayalah malai ! Tidak ada alasan lain untuk ini !" (Ucapnya seraya memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper sedang miliknya)


Wanita yg terduduk di sudut tempat tidur itu pun nampak santai menanggapinya.


"Baiklah ! Aku sangat mengerti itu ! Kau boleh pergi !" (Ucap Malaika dengan santainya)


Mendengar penuturan sang istri Adam pun sontak terkejut, ia berhenti sejenak dari aktifitasnya dan kembali menatap ke arah wanita kesayangannya itu.


"Maksudmu ? Kau tetap tinggal disini ?" (Tanya Adam mencoba menegaskan)


Malaika pun berdiri lalu beranjak menghampirinya.


"Jangan mempersulit pekerjaanmu hanya karna aku, Adam ! (Tuturnya seraya menepuk bahu kekar itu), seluruh dunia membutuhkanmu kapan pun ! Kau tak perlu bersikap egois seperti ini ! Ingat ! Kau membangun perusahaanmu dengan begitu keras, apa kau akan mengabaikannya begitu saja ? Aku tau kau memiliki banyak asisten pribadi yg bisa kau percaya ! Tp percayalah ! Tanda tangan tidak akan pernah bisa dipalsukan oleh siapa pun !" (Tegasnya lagi)


Ucapan itu seolah menampar dirinya, pria yg awalnya duduk seraya merapikan pakaian itu kini turut berdiri dan memandangi sang istri.


"Mana mungkin aku mengesampingkanmu hanya untuk sebuah pekerjaanku malai ? Kau istriku ! Apalagi sekarang kau sedang hamil ! Mana mungkin aku mengabaikanmu begitu saja ?" (Tuturnya seraya mengecup tangan mungil itu)


"No Adam ! No ! Kau tidak sedang mengabaikanku , percayalah aku baik2 saja disini !" (Malaika kembali menegaskan)


Keheningan mulai tergambar dari situasi itu, yg membuat pria besar itu sejenak berpikir.


"Huhhhh !!!" (Membuang nafas)


"Pergilah Adam ! I'm okay !" (Pinta Malaika dengan tatapan penuh)


Setelah cukup lama berpikir akhirnya pria besar itu benar2 tidak punya pilihan lain untuk menyangkal.


"Baiklah ! Tp aku harap kau jangan terlalu lama disini ! Atau aku benar2 akan merindukanmu !" (Pungkasnya)


Malaika pun tersenyum menanggapi ucapan sang suami.


Tak lama kemudian pria besar itu akhirnya meninggalkan Indonesia dan kembali ke negeri kangguru tempat asalnya.


Sementara Malaika, ia nampak bersorak ketika Adam berlalu darinya.


Seolah music DJ menggema di seluruh kamarnya, ibu satu anak itu nampak senang ketika suami tampannya tidak lagi mengawasinya, bukan lantaran tidak suka akan keberadaan Adam, namun ia sedikit tertekan ketika sang suami mulai melarang ini itu saat ia ingin melakukan sesuatu.


"Hmmm aku sedikit bosan disini ! Sepertinya aku harus merubah rute lagi !" (Pungkasnya seraya berpikir)


Dan keesokan paginya,


Sampailah ia disebuah bandara, untuk menunggu jadwal keberangkatannya.


Yaa kali ia akan terbang ke Jakarta untuk sejenak mencari keramaian.


2 jam kemudian, tibalah ia di jakarta.


Tempat dimana segala kesibukan, keramaian, kemacetan, serta aktifitas padat yg lainnya, sehingga cuaca panas selalu menyelimuti kota itu.


" Wowww !!! Ini cukup seru !" (Gumamnya seraya mengamati hiruk pikuk sekitar)


Malaika nampak tercengang ketika melihat keindahan dan kepadatan kota jakarta yg sangat berbeda jauh dari tempat sebelumnya yg ia kunjungi.


Tak terasa rasa lapar mulai mengusik pencernaannya, masuklah ia ke sebuah pusat perbelanjaan terbesar disana, dimana ia akan menghabiskan makan malamnya disana.


Bukan restoran cepat saji maupun restoran eropa, Malaika justru memilih untuk makan di food court dimana ia bisa menikmati makanan lokal dari sana.


Ibu satu anak itu terlihat kalap saat melihat nasi Padang tersaji didepannya, dengan cepat ia segera melahap habis makanan itu.


"Ini benar2 surganya makanan, untung burung gagak itu tidak ada disini ! Dia pasti akan membunuhku jika tau aku memakan makanan pedas seperti ini !" (Gumamnya dengan mulut penuh makanan)


30 menit berlalu.


Setelah cukup kenyang dengan hidangan lokal itu, Malaika nampaknya masih belum puas untuk bermain main di istana besar itu.


"Hmmm rasanya aku masih ingin ngemil ! (Gumamnya seraya berpikir), apa ya ? (Lagi lagi ia bertanya), ah !! Sepertinya ngopi cantik disana enak !" (Tuturnya seketika melihat lambang Starbucks yg tak jauh dari sana).


Masuklah ia ke tempat tersebut dan memesan jenis kopi yg ia sukai.


"Hot Americano !" (Pintanya seraya menunjuk satu jari yg menandakan ia hanya meminta satu cup saja)


10 menit kemudian


Kopi panas telah berada dalam genggamannya, wanita itu duduk santai sambil memperhatikan orang2 yg lalu lalang disana.


Dengan setelah jaket tebal yg melekat di tubuhnya, ia cukup terlihat aneh di mata orang2 yg ada disana, pasalnya jakarta sangatlah panas sedangkan Malaika masih mengenakan pakaian tebal di tubuhnya.


Meski demikian, hal itu tak membuatnya pusing lantaran apa yg kau rasakan cukuplah berbeda dengan mereka.


Ruangan berAC cukup membuat Malaika sedikit terganggu, lantaran ia mengalami sindrom kehamilan yg sedikit berbeda dari orang biasanya.


Ia kerap kali menggigil ketika suhu ruangan tiba2 menjadi turun, namun itu tak menjadi penghalang baginya, beberapa pakaian tebal telah tersedia dalam tas besarnya, ia tak akan merasa tersiksa lagi ketika cuaca dingin tiba2 menyentuh tubuhnya.


Sampai suatu ketika ia mendapati seseorang yg sepertinya sangat ia kenal.


Wanita berseragam pelayan, mengenakan topi sedang membereskan beberapa meja karna sebentar lagi tempat tersebut akan closing.


Perlahan Malaika berjalan dan mendekati wanita itu, bahkan semakin dekat.


Seperti tidak asing dengan wajahnya, namun ia lupa pernah bertemu dimana, yg jelas ia sangat mengenal gadis pelayan itu.


Seketika pelayan itu menoleh dan menatap Malaika.


Tatapan sejenak itu semakin membuat Malaika penasaran, pasalnya gadis itu sepertinya juga mengenalinya.


Seolah ingin menghindari tatapan Malaika, gadis pelayan itu mencoba mengalihkannya.


"Maaf nona ! Kami sudah tutup !" (Pungkasnya seraya bergegas masuk ke pantry)


Namun sebelum itu, langkahnya tiba2 berhenti ketika dengan cepatnya Malaika meraih tangan gadis itu, sehingga membuatnya terdiam dan duduk sejenak.


Seolah mengerti akan kemauan Malaika, gadis itu kemudian mengisyaratkan untuk menyelesaikan sejenak pekerjaannya.


"Aku akan selesaikan ini dulu !" (Pintanya seraya masuk ke dalam)


Singkat kemudian.


Kedua wanita itu lalu memutuskan untuk mencari tempat untuk saling bicara.


"Apa yg kau inginkan ?" (Tanya gadis itu dingin)


Mencoba mengenali gadis itu, malai terus memperhatikan wajahnya.


"Tunggu ! Aku seperti mengenalmu ! Tp dimana ?" (Tuturnya)


"Tuhan sangat adil, bahkan kau pun hampir tidak mengenaliku !" (Jawabnya datar)


"Astaga ! Bukan begitu ! Bahkan kau sendiri, sepertinya mengenaliku dengan baik ? Lantas apa ? Kenapa kau seolah menghindariku ? Tolong jelaskan aku benar2 lupa !" (Pinta Malaika dengan sangat)


"Sudahlah kak malai ! Jangan berpura pura ! Tuhan sudah menghukum ku dan keluargaku ! Sekarang apalagi ? Kau masih ingin menertawakanku ?" (Pungkasnya kesal)


"Kak malai ? (Masih bertanya tanya), tunggu !!! Aku akan coba mengingatnya !" (Pungkasnya)


"Sudahlah ! Jangan mengingat sesuatu yg menyakitkan, itu akan semakin menyiksaku ! Tolong ! Sekarang pergilah dari sini ku mohon !" (Pinta gadis itu dengan sopan)


Beberapa saat kemudian, terbesitlah dalam pikiran Malaika sehingga membuatnya mengingat siapa gadis yg ada bersamanya saat ini.


"Adeline ?" (Tebaknya)


Sontak membuat gadis itu semakin lemas.


"Kau Adeline ! Adik dari harsha ? Alm. Suamiku dulu ? (Terus menegaskan), astaga ! Kau sudah sebesar ini ! Dan aku benar2 tidak bisa mengenalimu ! (Tuturnya dengan haru), bagaimana kabarmu sekarang ?" (Tanya Malaika dengan santainya)


Sementara gadis itu terlihat sinis saat melihat penuturan Malaika.


"Sudahlah ! Jangan basa basi ! Aku tau kau sangat senang melihat keadaanku yg sekarang ! Kau ingin menertawakanku bukan ! Sudahlah ! Sebaiknya kau pergi dari sini !" (Pintanya dengan paksa)


Mengetahui sikap gadis itu yg sedikit kasar padanya, Malaika tetap berusaha ramah menanggapinya, bahkan ia segera merangkulnya dan mengusap rambut gadis itu, meski ia berusaha untuk berontak.


"Lepaskan ! Jangan beracting seperti ini didepanku !" (Ucap gadis itu mencoba melepaskan pelukan kecil itu)


"Hey !! Kau ini kenapa ? Tenanglah ! Aku tidak seburuk yg kau pikir !" (Ucap Malaika menegaskan)


Seketika tubuhnya mengendur ketika mendengar penuturan ibu satu anak itu.


"Kau tinggal dimana ? Aku akan mengantarmu !" (Ucap Malaika)


Masuklah kedua perempuan itu ke dalam mobil taksi yg mereka pesan.


Keheningan mulai mencekam, tak ada yg mencoba untuk mengawali pembicaraan, Adel terlihat membisu dengan tatapan kosong tatkala Malaika mencoba menanyakan beberapa hal padanya.


Berkali kali ia bertanya tentang dimana gadis itu tinggal, namun tak jua ada jawaban.


Hingga sopir taksi kembali bertanya.


"Kemana kita nyonya ? Sudah hampir satu jam kita berkeliling ?" (Tanya sang sopir)


"Aku tidak punya rumah !" (Sahut Adel yg tiba2 melontarkan kata2 tak terduga)


Mendengar ucapan Adel, kini berganti Malaika yg menjawab.


"Hotel Senayan !" (Jawabnya singkat)


Seketika mobil itu melaju ke tempat tujuan.