
Ia berjalan dengan perasaan kesal yg menguasai pikirannya, berharap ada sebuah taksi yg lewat, namun sayang sekali hari sudah mulai gelap dan jalanan sedikit sepi, membuat Malaika semakin tidak semangat.
Tak berlangsung lama, tiba2 suara klakson dari arah belakang menghentikannya, perlahan mobil itu menghampirinya.
Terbukalah kaca mobil itu, rupanya Adam di balik mobil tersebut.
Senyum yg khas, paras yg rupawan sedikit menenangkan hati Malaika saat ia memandang suaminya sejenak.
"Masuklah !" (Pinta Adam dengan lembut)
Sengaja mengabaikan ucapan Adam, Malaika nampaknya masih sedikit gengsi saat mendengar tawarannya.
"Malai ! Please ! Kesampingkan dulu amarahmu, kau bisa memarahiku di rumah, atau bahkan kau bisa membunuhku bila perlu, come on ! Hari sudah mulai gelap !" (Pinta Adam dengan lembut)
Dengan terpaksa akhirnya wanita itu bersedia masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan pun ia masih diam membisu, meski begitu pria dengan paras rupawan itu tetap bersikap manis padanya.
Di raihlah sebuah tangan mungil itu, lalu menggenggamnya dengan mesrah, sesekali ia juga mencium punggung tangan itu dengan lembut.
Sesampainya di villa.
Baru ingin menjejakkan langkah ke kamar mandi, tiba2 Adam menghentikannya.
"Wait wait !!!" (Pinta Adam)
"What !!!" (Malaika terkejut)
"Tunggulah beberapa menit, akan ku siapkan air hangat untukmu ! Kau tidak boleh mandi dengan menggunakan air dingin di jam2 seperti ini !" (Ucap Adam kemudian memasuki kamar mandi)
Melihat sikap Adam, Malaika semakin gugup di buatnya, pasalnya ia masih kesal pada suaminya namun Adam tetap perhatian padanya.
"Sudah ! Kau bisa pakai kamar mandi itu sekarang !" (Ucap Adam mempersilahkan)
Selesai dari aktifitas itu, Malaika segera menuju tempat tidur untuk beristirahat, tanpa berkata kata wanita itu menarik selimut lalu menutupi tubuhnya.
Seolah sengaja menghindari percakapan dengan suaminya, ia pun memejamkan kedua mata, agar Adam mengira bahwa ia benar2 sudah terlelap.
Adam yg semula membaca buku di ruang keluarga, dengan segera menghampiri istrinya.
Di bukalah selimut yg menutupi tubuh mungil itu, lalu di pandanglah wajah kalem istrinya.
"Malai ! (Panggilnya), kau masih marah padaku ? Katakan sesuatu malai, jangan membisu seperti ini !" (Pintanya)
Di usaplah wajah itu dengan perlahan. Seketika matanya terbuka, keduanya saling memandang.
Sebuah pelukan hangat mendarat di tubuh mungil itu, namun Malaika enggan untuk mengucapkan sesuatu.
Wanita dengan rambut sebahu itu kemudian mengalihkan pandangannya saat Adam memberikan tatapan teduh padanya.
"Harus berapa kali ku katakan padamu, tidak ada siapa2 di hatiku kecuali engkau ! Mereka semua teman2 ku, bahkan setelah mengenalmu 8 tahun yg lalu aku tidak pernah menjalin hubungan dengan siapa pun ! (Ucapnya lirih) lihat aku malai !! Lihat aku !" (Pinta Adam)
Pria itu lantas memaksanya untuk menatapnya, sekali lagi Malaika coba menghindari tatapan itu.
Tanpa basa basi, Adam segera meraih bibir mungil itu kemudian mengecupnya begitu mesrah.
"Berapa wanita yg sudah mendapatkan ini darimu ? Bahkan kau melakukan ini pada setiap wanita yg datang menghampirimu !" (Ucap Malaika tegas namun dengan nada rendah)
Mendengar hal itu, Adam kemudian menundukkan wajahnya pada dada istrinya.
"Kau tau Adam, itu sangat menyakitiku ! (Ucap Malaika dengan mata berkaca kaca), Tp sudahlah, aku sangat memaklumi karna kau adalah orang yg cukup penting di kalangan mereka, apalagi dengan parasmu yg yaah mereka bilang kau sangat tampan dan siapa saja pasti akan jatuh cinta saat melihatmu, tp ketahuilah satu hal, aku bukan wanita seperti itu, aku bukan wanita yg mudah jatuh cinta dengan paras rupawan seperti itu ! Mereka mungkin tergila gila karna parasmu, tp aku tidak ! Aku tidak seperti itu ! Maaf Adam, jika kau terus seperti itu aku akan semakin meragukan kesetiaanmu !" (Ucapnya sambil mengusap lembut rambut suaminya).
Pria itu masih menyembunyikan wajahnya di balik leher istrinya, meski ia tak memandangnya namun ia selalu mendengarkan setiap ucapan yg di lontarkan Malaika.
"Kau sangat lelah, istirahatlah ! Ada banyak pekerjaan yg harus kau selesaikan besok pagi !" (Pinta Malaika)
Mendengar ucapannya, Adam kemudian mengangkat kepalanya lalu kembali berbaring di samping istrinya.
"I'm sorry ! I'm sorry malai ! Berjanjilah satu hal padaku ! terus bicaralah seperti ini walaupun kau sedang marah padaku !" (Pinta Adam)
Malaika mencoba tersenyum menanggapi perkataannya.
Kedua pasangan itu kemudian terlelap dalam pelukan hangat.
Keesokan paginya.
Laki laki itu bangun terlebih dahulu, menikmati secangkir teh panas di halaman kolam renang.
Tatapannya selalu teduh, selalu ramah pada siapa saja, bahkan pada semua wanita sekalipun, sehingga membuat Malaika salah paham karena itu.
"Kenapa masih berdiam diri ? Kau tidak ada acara hari ini ?" (Tanya Malaika yg semula berlalu di hadapannya)
"Hmm itu tidak terlalu penting sayank !" (Jawab Adam dengan senyuman khasnya)
"Ada apa denganmu ?" (Sahut Malaika)
Masih tak beranjak dari tempat duduknya, Adam mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Hey sudahlah ! Kau ingin pergi kemana hari ini, akan ku temani ?" (Tanya Adam kemudian mengalihkan pembicaraan)
"Selesaikan dulu pekerjaanmu ! Aku tidak ingin mengganggu pekerjaanmu !" (Jawab Malaika singkat)
Adam kemudian beranjak dari tempat duduknya, di hampirilah wanita kesayangannya yg sedang berdiri disana.
"Tidak ada yg lebih penting darimu malai !" (Ucapnya sambil mengusap rambut istrinya).
"Oh no ! Kau tidak bisa seperti ini Adam ! Aku sangat tidak suka !" (Wanita itu menggelengkan kepala)
"Hanya sebuah event kecil, lagi pula pasti ada banyak wanita seksi disana, kau akan marah lagi padaku, aku tidak ingin bertengkar lagi denganmu sayank !" (Timpalnya sambil mengecup kening itu)
Sejenak terdiam, pandangan tajam itu seolah menakuti Adam.
"Tidak ! Kau harus datang ! Pergilah !" (Pinta Malaika dengan mendorong tubuh besar itu)
"Malai come on ! Biarkan aku menghabiskan waktu bersamamu !" (Ucap Adam kemudian memeluk istrinya)
"Kau harus datang Adam, lagi pula mereka mengundangmu secara eksklusif, kau akan mengecewakan mereka jika kau tidak datang !" (Pinta Malaika terus memaksanya)
"No ! Tidak ada yg lebih penting darimu !" (Jawab Adam masih bersikeras)
"Baiklah ! Baiklah !, Datanglah ke acara itu, akan ku temani !" (Ucap Malaika lalu melepaskan pelukan suaminya itu)
Mendengar perkataan itu, Adam tersenyum dengan bahagianya, ia tidak menyangka bahwa Malaika akan bersedia menemaninya.
Dengan segera di raihlah wajah istrinya, lalu di kecuplah bibir indah itu.
Lagi2 Malaika terkejut dengan sikapnya yg selalu spontan itu.
"Sekarang pergilah ke kamar mandi, bersiaplah !" (Ucap Malaika yg sedikit salah tingkah)
Pria itu masih tak beranjak dari sana, bahkan ia mengisyaratkan pada Malaika untuk mengajaknya mandi bersama.
"Apa ?" (Sahut Malaika)
Adam tersenyum, lalu menarik tubuhnya.
"Adam please ! Jangan seperti ini !" (Gerutu Malaika berusaha melepaskan genggaman tangan suaminya)
Sementara Adam masih terus menggelandangnya untuk segera masuk ke kamar mandi.
Masuklah keduanya ke dalam kamar mandi, dan menikmati sensasi mandi berdua di sana.
30 menit kemudian
Keluarlah Malaika dari sana, ia terlihat kesakitan saat melangkahkan kakinya, sementara Adam tersenyum puas dengan moment itu.
"Ahw ! Aduhh ! (Seru Malaika yg sedang menahan rasa sakit), lihat saja aku akan menghubungi ibu setelah ini !" (Gerutu Malaika)
"Coba saja sayank, ibu tidak akan bisa memarahiku, karna dia sedang tidak ada disini !" (Jawab Adam dengan senyuman khasnya)
Dengan ekspresi kesal, Malaika mencoba membuang muka dari hadapannya.
"Kau !" (Sahut Malaika kesal)
Pria yg masih mengenakan handuk setengah badan itu lalu mengusap wajah istrinya yg kesal, di ciumlah pipi mungil itu.
"Kalau kau masih kesakitan, sebaiknya kita tidak usah datang." (Pinta Adam dengan suara lembut)
"Aku baik baik saja, akan ku temani !" (Ucap Malaika mencoba meredam emosi)
Adam mengangguk perlahan.